Salsa tidak dicari di sekolah. Faris menemukannya di parkiran minimarket dekat kos — senyum pantai yang sama, jaket mahal, tangan di saku. Kamera CCTV minimarket menyala; Salsa berdiri di bawah lampu, tidak mundur ke gang gelap.
'Kau teman Anisa,' kata Faris ramah. 'Bilang ke dia: mundur. Saksi, lab, diagram — stop. Orang yang terlalu penasaran sering celaka. Kau juga. Kosmu nyaman. Sayang kalau rusak.'
Salsa tidak gemetar di muka. 'Saya guru. Ancaman ke guru biasanya dari orang tua murid yang malu rapor. Kau bukan orang tua. Kau sampah berkemeja. Saya rekam.'
Faris lihat HP Salsa yang terangkat. Senyum menipis. 'Baik. Pesan tersampaikan. Anisa mundur — kau aman. Anisa maju — kau jadi contoh.' Ia pergi dengan motor yang terlalu pelan, plat yang Naufal nanti cocokkan dengan rental lama.
Salsa menelepon Anisa di mobil ojek, suara datar yang tegang. 'Faris usik aku. Mundur atau aku jadi contoh. Aku tidak minta kau mundur. Aku minta kau maju lebih rapi — dan naikkan pengamanan. Sekarang.'
Anisa di mansion memutihkan jari di meja. 'Di mana kau? Pulang ke sini lewat Naufal. Jangan ke kos dulu.'
Naufal sudah gerak sebelum Damar selesai mendengar laporan. 'Salsa ke unit aman sementara — bukan isolasi; twin Harto. Faris plat dicatat. Lo — jangan kejar Faris malam ini dengan amarah. Jerat.'
Damar di ruang tamu, rahang keras. 'Dia usik temanmu karena aku terlambat menaruhnya di pusat. Maaf ke Salsa — bilang. Ke kau… aku tidak minta kau mundur. Aku minta kau tidak pergi sendirian ke mana pun.'
Anisa menatapnya. 'Saya makin maju. Bukan karena ego. Karena Faris takut. Orang takut menggigit orang dekat — berarti kita dekat ke tulang. Salsa: saya tidak mundur. Saya naikkan map. Anda naikkan pengamanan. Titik.'
Salsa tiba lewat belakang, tas kecil, muka perang. Anisa peluk. Damar berdiri jauh. 'Nyonya Salsa — maaf. Pengamanan naik. Faris akan kami jerat. Jangan balas sendiri.'
'Saya guru, bukan preman,' kata Salsa. 'Anisa — jangan mundur karena aku. Mundur = dia menang dua kali.'
'Maju,' kata Anisa. 'Lembar sembilan belas: Faris ancam Salsa. Bukti CCTV minimarket — Naufal ambil. Saya tinggal. Saya tidak tebus dengan mundur.'
Malam Naufal dapat cuplikan CCTV: Faris jelas. Damar melihat tanpa meledak — rem menang tipis. Sticky: *FARIS USIK SALSA. JERAT. JANGAN KEJAR MENTAH.* Anisa dan Salsa di sofa jauh dari Damar, teh, telinga tebal bergiliran. Chat Harto: aman. Om belum telepon. Faris sudah kehilangan pantai; ia masuk kota dengan ancaman. Ancaman itu, di tangan perang bukti, menjadi bahan bakar — bukan rem. Anisa tidur di sisi jauh dengan keputusan maju yang lebih keras dari sebelum interogasi. Damar di ruang kerja bilang ke foto Dita, 'Temannya digigit. Aku tidak mundurkan Anisa. Aku kejar yang gigit.' Foto diam. Perang nama di balik laporan sekarang menyentuh orang di luar altar — dan itu membuat Anisa lebih berbahaya bagi Faris, bukan lebih kecil.
Pagi Salsa di dapur mansion dengan roti. 'Aku tidak tinggal selamanya di sini. Seminggu. Lalu kos dengan pengamanan. Kau jangan rasa bersalah. Faris yang sampah.' Anisa angguk. Damar lewat: 'Seminggu setuju. Naufal atur. Anisa — maju dengan diagram, bukan dengan hadapi Faris di parkiran.' Anisa: 'Hafal. Saya diagram. Saya tidak parkiran.' Maju. Rapi. Gigitan Faris gagal jadi mundur; ia jadi garis baru di map kuning.
Naufal putar CCTV ke Damar sekali lagi di ruang kerja — Anisa tidak masuk zona foto; ia dengar ringkas di ruang tamu. 'Wajah Faris. Suara ancaman dari laporan Salsa. Cukup untuk jerat awal, belum vonis tabrak,' kata Naufal. Damar: 'Jerat. Amankan Salsa. Jangan lepas Anisa ke parkiran siapa pun.'
Anisa menulis surat pendek tangan ke Salsa (bukan chat): *Maaf namamu kena. Saya tidak mundur. Saya berhutang keamanan.* Salsa balas di kertas yang sama: *Hutang diterima sebagai perang. Bayar dengan Faris jatuh — bukan dengan menangis.* Mereka tertawa pendek — jarang.
Malam Damar hampir keluar mobil ke alamat Faris — Naufal kunci kunci mobil secara remote protokol gila yang sudah disepakati. 'Lo tidak kejar mentah. Lo tidur.' Damar marah ke Naufal, lalu patuh. Anisa di ambang: 'Patuh rem = skor. Salsa tidur di kamar tamu. Saya di sisi jauh. Anda — jangan jadi Faris kedua dengan amarah.' Damar: 'Tidur.' Di luar, Faris kirim pesan ke nomor bakar yang tidak dijawab Salsa. Di dalam, map kuning bertambah garis: *ancaman teman = takut = maju.* Ancaman yang dimaksudkan meredam justru mengencangkan perang. Om belum tahu anaknya sudah di CCTV minimarket; segera saja — Naufal sudah menyalin ke brankas kedua.
Siang Anisa ke legal bersama Naufal — laporkan — membuat laporan formal ancaman ke Salsa tanpa menyebut strategi Faris publik. Kertas. Stempel. Jalur. Damar tanda sebagai suami yang “berkepentingan keamanan rumah”. Bukan roman; prosedur. Salsa di ruang tunggu membaca majalah yang tidak ia lihat. 'Aku tidak suka jadi korban administratif. Aku suka jadi rem.' Anisa: 'Kau rem. Faris sampah. Saya maju.' Di mobil balik Damar bilang, 'Maju diterima. Hadapi Faris di parkiran — ditolak selamanya.' Anisa: 'Hafal selamanya.' Pengamanan malam: dua orang di kos Salsa, satu di mansion. Faris kirim bunga ke sekolah Salsa — ditolak satpam. Naufal foto kartu kosong. 'Dia main teater. Kita main bukti.' Anisa tidur dengan keputusan maju yang tidak goyah oleh bunga palsu. Damar tidur dengan CCTV di kepala — wajah Faris di bawah lampu minimarket lebih jelas dari wajah di pantai.