Surat cerai datang dari Damar, bukan dari Om — kertas di meja ruang tamu sore itu, dua salinan, pulpen. Anisa membacanya tanpa gemetar. Salsa di belakang dengan muka 'ini apa lagi'.
'Dalam kendali,' kata Damar kaku. 'Kalau perang meledak, Om bisa mainkan statusmu. Cerai bisa jadi perisai hukum — atau tali. Aku sodorkan sebagai opsi kendali. Tanda tangan kalau kau mau keluar dari nama Wijaya sebelum Faris dibakar. Atau…'
Anisa tutup kertas. 'Tanda tangan kalau kau dengar bukti saya dulu — penuh. Bukan cuplikan. Timeline saya. Tiga puluh menit tanpa memotong. Setelah itu, kalau masih mau cerai sebagai kendali, kita bicara. Sekarang — kertas ini senjata. Saya tidak tanda di bawah senjata tanpa didengar. Hafal?'
Damar terdiam. Naufal di pintu bersiul pelan. 'Dia nego. Lo sodor tali. Dia minta telinga. Telinga lebih murah dari pengacara cerai. Duduk.'
Salsa: 'Aku keluar. Ini bukan tontonan.' Pintu.
Damar tarik kertas kembali ke tengah — tidak merobek. 'Baik. Besok telinga. Tiga puluh menit. Ruang tamu. Tanpa foto Dita. Tanpa Ibu di sofa. Tanpa memotong. Setelah itu cerai tetap di meja sebagai opsi, bukan sebagai hukuman baru. Setuju?'
'Setuju,' kata Anisa. 'Hari ini saya tidak tanda. Hari ini saya siapkan mulut. Anda siapkan telinga yang tidak jadi algojo di menit kelima.'
Damar angguk. Malu tipis: ia menyodor cerai seperti orang yang masih ingin memegang remote. Anisa membacanya sebagai remote — dan menawar telinga. Sticky Damar: *CERAI = OPSI. DENGAR DULU.* Anisa: *lembar 21 — cerai ditahan. dengar 30 menit.* Chat Salsa: `Dia sodor cerai. Aku minta didengar dulu. Besok.` Salsa: `Bagus. Jangan tanda karena takut Om. Tanda karena pilihan.`
Malam Damar hampir merobek surat — tidak. Menyimpan di laci sebagai ujian kedua setelah brankas. Anisa di ranjang sisi jauh latihan timeline berbisik, seperti guru mengulang RPP. Damar mendengar bisikan samar dari koridor, tidak masuk. Telinga sudah mulai kerja sebelum jam resmi. Cerai sebagai senjata kendali gagal ditembakkan hari itu; ia berubah jadi tiket masuk ke tiga puluh menit yang seharusnya sudah diberikan sejak malam surat pergi di meja. Anisa tidur dengan map di dada sebentar. Damar tidur dengan kertas di laci. Satu atap. Satu undangan mendengar yang tidak bisa diundur lagi tanpa jadi pengecut baru.
Pagi Damar di meja: 'Masih setuju telinga?' Anisa: 'Setuju. Surat cerai tetap di laci sampai selesai tiga puluh menit. Jangan sodor di menit kedua sebagai ancaman.' Damar: 'Tidak. Naufal jaga pintu — rem kalau saya memotong.' Naufal angkat tangan dari dapur: 'Rem on. Mulai jam sembilan. Timer.' Perang bukti punya janji telinga. Faris tidak diundang. Ibu di rumahnya. Salsa di unit aman. Hanya Damar, Anisa, dan waktu yang dulu ditolak.
Sore Anisa latihan di kamar dengan timer HP sendiri — dua puluh menit dulu, lalu tiga puluh. Damar lewat pintu terbuka, mendengar sepenggal soal rekening dibekukan, undur tanpa masuk. Naufal chat: *Lo sudah mulai dengar dari koridor. Bagus. Jangan potong besok.* Damar: *Hafal.*
Salsa telepon: 'Cerai sebagai kendali — klasik CEO takut Om. Kau nego telinga. Aku bangga secara non-dramatis.' Anisa: 'Bangga diterima. Saya takut tanda tangan karena lelah. Karena itu saya tidak tanda malam ini.' Salsa: 'Benar. Lelah bukan pena.'
Malam Damar buka laci, lihat surat cerai, tutup. 'Senjata yang tidak saya tembakkan hari ini,' gumamnya ke kayu. Anisa di ruang tamu menyusun urutan bicara dengan sticky kecil berwarna — guru. Damar isi gelas air, taruh jauh di mejanya. 'Untuk besok. Bukan tebus.' Anisa: 'Air. Hafal. Tidur. Telinga butuh tidur.' Mereka undur. Surat cerai tidur di laci; timeline tidur di kepala Anisa; Damar tidur dengan takut mendengar dan takut tidak mendengar — dua takut yang lebih jujur dari tali cerai.
Naufal pagi menaruh timer fisik di meja — digital merah. 'Teater kecil supaya lo patuh.' Damar kesal; setuju. Anisa menaruh air di sisi Damar dan map di sisinya. 'Kalau Anda memotong, saya stop. Kita ulang besok. Saya tidak jual telinga saya ke cerai.' Damar: 'Tidak memotong. Mulai.' Sebelum timer, ia geser surat cerai dari pandangan — ke laci yang sama. Simbol. Anisa lihat, tidak komentar. Salsa chat terakhir: `Jangan tanda apa pun hari ini kecuali catatan map.` Anisa: `Hafal.` Pintu ruang tamu ditutup. Tiga puluh menit dimulai. Cerai sebagai senjata sudah dilucuti jadi opsi diam di laci; yang bersenjata sekarang adalah suara Anisa yang dulu ditolak di malam surat pergi.
Setelah sesi, Naufal matikan timer. 'Lo tidak potong. Ajaib.' Damar: 'Jangan ejek. Cerai tetap opsi — tanpa cambuk.' Anisa: 'Opsi dicatat. Cambuk ditolak selamanya.' Ia minum air yang Damar taruh. 'Air perang. Bukan tebus.' Damar angguk. Surat di laci tidak ditandatangani; telinga sudah menandatangani sesuatu yang lebih mahal — waktu. Salsa dapat berita: `Didengar. Tidak tanda cerai.` Balasan: `Queen.` Anisa: `Bukan queen. Sekutu paksa yang lelah.` Lelah jujur. Fondasi.
Damar tulis di sticky sebelum present Faris: *DENGAR SUDAH. CERAI LACI. JANGAN CAMBUK.* Anisa lihat sticky di meja ruang tamu, angguk. Satu atap. Satu telinga yang baru dibayar. Cukup untuk hari itu.