Panggilan itu datang pagi: “klarifikasi berkas lama”, nama Inspektur Rudi di tembusan, ruang yang “ramah”. Anisa laporkan ke Naufal dalam tiga detik. Damar membatalkan rapat. 'Saya ikut. Bukan pengacara di luar — hadir di dalam sejauh diizinkan.'
Ruang interogasi berbau kopi dan cat lama. Rudi senyum. 'Bu Damar, hanya memperjelas. Ada isu baru. Ada yang bilang saksi Anda dilatih. Ada yang bilang Anda masih… bermasalah.'
Anisa duduk tegak. 'Saya tidak mabuk. Saya tidak menabrak. Saya punya pernyataan. Saya tidak dilatih. Saya siap diwakili.'
Damar di kursi belakang — diizinkan sebagai suami setelah Naufal tekan prosedur. Dingin. Mata ke Rudi, bukan ke Anisa. 'Dalam pertanyaan — jangan jebakan. Saya tahu Om Adinata senang telepon orang lama. Kalau ini telepon Om, bilang. Saya rekam apa yang legal.'
Rudi kaku. 'Ini prosedur.'
Naufal di luar sudah gerak: pengacara, surat, ancaman balik administratif. Di dalam, pertanyaan berputar ke BAC, ke “mengapa menikah”, ke “mengapa saksi pindah”. Anisa jawab pendek, guru mode, tidak meledak. Sekali Rudi mengangkat “pencekalan sementara untuk memudahkan”. Damar berdiri. 'Coba. Saya pastikan media yang Anda takutkan — saya yang buka soal tekanan mitra ke polisi. Pilih.'
Rudi tidak mencekal. Ia undur dengan senyum palsu. 'Lain kali.' Anisa keluar dengan lutut yang baru gemetar di koridor. Damar tidak pegang tangannya. Berjalan di samping. 'Pulang. Salsa di rumah. Oksigen.'
Di mobil Anisa bilang, 'Anda hadir. Dingin. Berguna. Saya hampir dicekal sebagai hadiah Om. Titik setengah — masih? Berkas kotor. Belum bersih?'
'Dalam masih,' kata Damar. 'Ditambah: Rudi kotor. Om kotor. Kau… tidak saya tinggalkan di ruangan itu sendirian. Jangan baca sebagai cinta. Baca sebagai perang.'
Anisa mengangguk, mata basah yang tidak jatuh. 'Perang diterima. Nama saya hampir masuk cage lagi. Saya tinggal di perang Anda yang berubah arah — masih ujian, sudah bukan altar tunggal.'
Naufal di HP: *Rudi mundur. Om akan marah. Faris masih pantai. Bimo diam. Lo berdua pulang. Skor hari ini: tidak dicekal.* Damar: *Hafal. Naikkan pengamanan Anisa dan Salsa.*
Di mansion Salsa peluk Anisa singkat. Damar berdiri jauh. Ibu chat marah soal “pergi ke polisi dengan perempuan itu” — Damar tidak balang panjang. Anisa tulis lembar 18: *interogasi tipu. Damar hadir. tidak dicekal. Rudi-Om.* Malam Damar di koridor: 'Masih tinggal?' Anisa: 'Masih. Tidak berdosa. Akan buktikan. Terima kasih sudah hadir — sebagai perang.' Damar: 'Jangan biasa. Tidur.' Sticky: *OM. RUDI. FARIS. JANGAN LEPAS ANISA SENDIRI.* Arc nama di balik laporan sudah bergigi. Faris masih tersenyum di pantai — tidak lama lagi, senyum itu akan diminta bayar. Untuk malam ini, Anisa tidur dengan tas kecil dikembalikan ke lemari: tidak jadi kabur. Damar tidur dengan keputusan kontrak Adinata yang boleh putus. Satu interogasi tipu gagal mencekal guru. Satu CEO hadir tanpa melembut. Cukup untuk bilang perang terbuka makin dekat — dan altar kambing sudah retak cukup untuk cahaya masuk, belum cukup untuk maaf.
Salsa menaruh teh. 'Kamu hampir dicekal. Damar hadir. Skor.' Anisa: 'Skor perang. Saya gemetar di koridor — jangan bilang ke dia.' Salsa: 'Gemetar sehat.' Naufal di dapur dengan tablet: 'Rudi dapat “teguran” internal palsu dari jalur kita — cukup membuat dia pikir dua kali. Om akan cari jalur lain. Faris — masih santai; santai = sombong atau tipu. Mata on.'
Damar di ruang kerja menulis surat pendek ke legal: prioritaskan Anisa jika dipanggil lagi; kontrak Adinata boleh exit. Tanda tangan. Berat. Benar. Anisa ketuk ruang tamu. 'Saya kembalikan tas ke lemari. Saya tinggal. Saya tidak ingin cadangan jadi kebiasaan takut.' Damar di ambang: 'Cadangan boleh ada. Takut — kita arahkan ke Om. Tidur.' Mereka berpapasan. Hampir sentuh bahu — tidak. Interogasi tipu sudah gagal hari itu. Senyum Faris di pantai belum gagal — antrean berikutnya akan menjemputnya lebih dekat, lewat Salsa yang belum tahu ia akan diusik, lewat Ibu yang belum dengar Harto, lewat perang yang sudah tidak bisa kembali ke altar tunggal.
Malam Damar menaruh selimut di sofa ruang tamu — bukan undangan tidur bersama; kalau Anisa gemetar lagi, ada kain. Anisa lihat, bilang, 'Kain perang. Terima kasih.' Damar: 'Jangan biasa.' Ia ke ruang kerja menulis sticky terakhir hari itu: *TIDAK DICEKAL. RUDI MUNDUR. OM MARAH. FARIS NEXT.* Di bawahnya kecil: *hadir = perang.* Anisa chat Salsa sebelum tidur: `Tidak dicekal. Dia hadir. Aku tinggal.` Salsa: `Besok kita waspada Faris ke orang dekat. Aku siap.` Anisa tidak tahu itu firasat tepat. Ia tidur. Damar tidur. Interogasi tipu gagal; perang nama di balik laporan menang skor kecil — dan skor kecil di tangan orang yang pernah lapar dendam terasa lebih berharga dari closing properti Adinata.
Anisa cuci muka, lihat cermin: masih gemetar tipis. 'Guru mode off,' gumamnya. Damar di belakang — tidak masuk kamar mandi — bilang dari koridor, 'Gemetar boleh. Mengaku dosa yang tidak kau lakukan — jangan.' Anisa: 'Tidak mengaku. Tidur.' Mereka ke ranjang jarak. Sticky di kepala Anisa: *hadir. tidak dicekal. Faris next. Salsa waspada.* Sticky Damar: *Om gagal hari ini. Besok dia cari jalan lain. Jangan lengah.* Lengah adalah barang yang tidak mereka beli lagi setelah dossier Bimo. Malam itu altar kambing retak; cahaya masuk; maaf besar belum. Cukup.