Ruang privat restoran bisnis. Om Adinata senyum hangat, jas mahal, mata tidak hangat. 'Damar, anak. Lama tidak makan. Kontrak properti kita — ada isu. Saya dengar lo menggali hal yang tidak perlu. Keluarga lo berduka. Jangan buka luka dengan teori. Kalau lo terus, mitra lain ikut gelisah. Kontrak bisa… ditinjau.'
Damar tidak makan. 'Dalam bahasa lurus: jangan gali, atau bisnis putus.'
Om tersenyum lebih lebar. 'Bahasa lurus kasar. Saya bilang: damai lebih menguntungkan. Istri lo sudah ribut di media. Buang sirkus itu. Fokus angka. Faris sering sampaikan salam — anak itu baik.'
Nama Faris di mulut Om seperti umpan. Damar tidak gigit. 'Dita mati. Saya gali apa yang kotor di sekitar kematiannya. Kalau kontrak putus karena itu — putus. Saya tidak jual adik saya untuk properti.'
Om hapus senyum. 'Jangan main api. Ada polisi yang masih ingat berkas lama. Ada lab yang sudah tutup mulut. Lo buka, mereka bisa buka lagi ke arah yang menyakitkan perempuan di rumahmu. Pikir.'
Damar berdiri. 'Ancaman diterima sebagai data. Makanan — tidak. Naufal bayar bil. Sampai jumpa di perang yang lebih jujur.'
Di mobil Naufal: 'Lo bagus. Dia ancam Anisa lewat polisi lama. Kita siapkan. Jangan pulang lembut lalu kasar ke istri — pola classic.'
Damar pulang, laporkan ke Anisa di ruang tamu tanpa basabasi. 'Om ancam: kontrak putus + polisi lama bisa diarahkan ke kau. Aku tidak bunuh gali. Kau siap interogasi tipu. Legal siap. Saya… akan hadir jika mereka panggil. Dingin. Hadir.'
Anisa kaku lalu angguk. 'Hadir saya catat. Terima kasih untuk tidak menjual saya ke kontrak. Bukan roman — prioritas. Saya telepon Salsa: prinsip ancaman. Harto aman?'
'Aman,' kata Naufal dari pintu. 'Om bergerak = kita dekat. Hati-hati dekat.'
Malam Damar di sticky: *OM ANCAM. KONTRAK BOLEH PUTUS. ANISA JANGAN SENDIRI.* Board sudah mulai bisik soal Adinata gelisah. Chandra telepon: 'Jangan perang mitra.' Damar: 'Saya perang dusta. Mitra yang dusta — bukan mitra.' Tutup. Anisa di kamar latihan napas. Chat Salsa: `Om ancam polisi. Besok bisa dipanggil. Damar bilang hadir.` Salsa: `Aku siap jemput kalau dicekal. Kos. Legal.` Anisa: `Hafal.`
Damar ketuk ambang. 'Kalau mereka panggil kau seperti pelaku, aku tidak diam di mobil. Aku masuk. Bukan karena percaya kau suci. Karena Om tidak boleh menang dengan tipu dua kali.' Anisa: 'Cukup. Tidur. Hakim yang hadir lebih berguna dari hakim yang menghukum di rumah.' Pintu. Om sudah membuka kartu. Perang nama di balik laporan naik kelas dari invoice ke ancaman langsung — dan Anisa tidur dengan tas kecil siap di bawah meja, bukan untuk kabur dari Damar; untuk kabur dari cage polisi tipu jika Naufal bilang lari.
Pagi Chandra di ruang Damar. 'Adinata gelisah. Saham sensitif. Lo gila?' Damar: 'Saya waras. Kontrak dusta lebih mahal jangka panjang.' Chandra keluar marah. Naufal: 'Lo konsisten. Anisa — briefing singkat kalau dipanggil: jawaban pendek, minta pengacara, jangan marah ke Rudi di rekaman.' Anisa di telepon speaker: 'Hafal. Guru mode.'
Damar ke makam tidak — terlalu terlihat. Ia kirim bunga lewat orang, tanpa kartu perang. Di catatan pribadi: *Om ancam. Saya tidak jual Dita. Saya tidak jual gali.* Anisa di rumah mengulang timeline ke Salsa sekali — latihan mulut. Salsa: 'Kalau dicekal, aku tembak legal dan kos. Jangan tanda tangan aneh.' Malam Damar cek tas kecil Anisa di bawah meja, kaku. 'Cadangan. Bukan kabur dari saya.' Anisa: 'Benar. Cadangan dari Om.' Damar angguk, tinggalkan tas itu — progress dari sita. Om sudah main; rumah menjawab dengan siap tanpa panik teater.
Di chat terenkripsi Naufal kirim ke Damar dan Anisa: *Rudi bergerak pagi. Siap. Jawaban pendek. Damar hadir. Saya luar.* Anisa balas: `Siap.` Damar: `Siap.` Mereka sarapan roti tanpa basabasi. 'Kalau dicekal,' kata Anisa, 'Salsa tahu kos. Anda jangan buat circus di depan kamera tipu.' Damar: 'Tidak circus. Saya ancam balik dengan hukum, bukan dengan pukul.' Anisa angguk. Om ingin mereka takut. Takut ada — terarah. Kontrak Adinata di kepala Damar sudah digaris merah *boleh putus*; di kepala Om masih dianggap tali. Tali itu akan putus di meja restoran kemarin secara lisan; pagi ini diuji di ruang interogasi.
Naufal cek pagar dua kali. Salsa kirim lokasi live singkat ke Anisa saat berangkat ke “klarifikasi” — protokol. Damar di mobil tidak memegang tangan Anisa; ia memegang folder legal. 'Rudi akan senyum. Jangan senyum balik. Jawab. Saya hadir.' Anisa: 'Hafal.' Kota lewat. Om di suatu kantor menunggu kabar pencekalan yang tidak akan datang jika perang pagi ini berhasil. Damar menatap Anisa sesaat. 'Titik setengah berlaku di dalam ruangan itu juga.' Anisa: 'Berkas kotor. Belum bersih. Kerja.' Doa perang singkat sebelum pintu interogasi.
Di luar pintu Naufal bisik terakhir, 'Rudi senyum = bohong. Om bayar senyum itu. Lo berdua — jangan beli.' Damar angguk. Anisa angguk. Pintu terbuka. Ancaman Om berubah jadi kursi, meja, pertanyaan tipu — dan untuk pertama kali sejak nikah hukuman, Anisa tidak masuk ruangan seperti itu sendirian. Hadir dingin di belakangnya terasa seperti dinding yang menghadap keluar, bukan ke arah lehernya.