Anisa tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang membunuh Dita Wijaya. Anisa tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa ia mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan itu. Anisa tidak tahu apa-apa tentang mengapa Damar Wijaya membencinya dengan dendam yang sudah mengakar.
Anisa hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas. Ia kehilangan pekerjaan sebagai guru di sekolah dasar terbaik di kota. Ia kehilangan apartemennya di kawasan yang nyaman. Ia kehilangan tabungannya di bank. Ia kehilangan segalanya tanpa alasan yang jelas.
Anisa tidak tahu mengapa semua itu terjadi padanya. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi dengan cara yang tidak bisa ia lawan.
Anisa mencoba mencari pekerjaan baru, tapi tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Anisa mencoba mencari apartemen baru, tapi tidak ada pemilik apartemen yang mau menyewakannya. Anisa mencoba membuka rekening bank baru, tapi tidak ada bank yang mau menerimanya.
Anisa tidak tahu mengapa semua itu terjadi padanya. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi dengan cara yang tidak bisa ia lawan.
Suatu malam, ketika Anisa sedang berjalan di jalanan kota dengan tas kecil berisi semua barangnya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur, ia berhenti di sebuah taman kecil dan duduk di bangku di bawah pohon.
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Ia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Ia hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Anisa tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya duduk di bangku itu, dengan tas kecil berisi semua barangnya di pangkuannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Mungkin satu jam. Mungkin dua. Ia hanya tahu bahwa ketika ia akhirnya mengangkat kepala, ada seorang pria berdiri di depannya, memayunginya dengan payung hitam besar, dan menatapnya dengan mata yang dalam dan gelap.
Damar Wijaya.
Anisa membeku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menatap pria itu, CEO Mahesa Group, pria yang tidak ia kenal, dan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya berdiri di sana, memayunginya, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu, akhirnya, ia berbicara, suaranya rendah dan tenang.
'Kau Anisa. Wanita yang membunuh adikku.'
Anisa menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang pria itu bicarakan. Ia tidak tahu apa-apa tentang adik pria itu. Ia tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang membunuh adik pria itu.
'Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan,' kata Anisa dengan suara yang pelan, dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang adik Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang membunuh adik Anda.'
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Kau tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang membunuh adikku? Kau tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa kau mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan yang membunuh adikku?'
Anisa tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
'Saya tidak tahu apa-apa tentang itu,' kata Anisa dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang adik Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang tuduhan itu.'
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Kau tidak tahu apa-apa tentang itu? Kau tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang membunuh adikku? Kau tidak tahu apa-apa tentang tuduhan bahwa kau mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan yang membunuh adikku?'
Anisa menggeleng, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan itu. Saya tidak tahu apa-apa tentang adik Anda. Saya tidak tahu apa-apa tentang tuduhan itu.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Anisa tidak seperti wanita yang ia bayangkan. Anisa tidak seperti wanita yang bersalah, wanita yang kejam, wanita yang membunuh adiknya dengan mabuk. Anisa tidak seperti wanita yang ia bayangkan.
Anisa tidak seperti itu. Anisa tidak seperti itu sama sekali.
Tapi Damar tidak peduli dengan itu. Damar hanya peduli dengan balas dendamnya. Damar hanya peduli dengan menghancurkan Anisa dari dalam.
'Aku tidak peduli apakah kau tahu apa-apa tentang itu atau tidak, Anisa. Aku tidak peduli apakah kau bersalah atau tidak. Aku hanya peduli dengan balas dendamku untuk adikku. Aku hanya peduli dengan menghancurkanmu dari dalam untuk membuatmu menderita seperti adikku menderita.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti adikku hancur.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia katakan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Anisa hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Damar merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.