Pernyataan resmi bukan cuplikan HP di meja kayu sempit. Kali ini: ruang kecil sewa Naufal, kamera tripod sederhana, materai, saksi administrasi yang netral, Pak Harto dengan kemeja rapi yang sedikit longgar di bahu. Anisa duduk di luar dulu — supaya tidak dituduh “melatih” — lalu masuk hanya untuk menyapa. Damar di ruang sebelah dengan earphone monitor; Naufal mengatur tombol. Zona: tidak di depan foto Dita. Kerja.
'Pak Harto, atas kemauan sendiri, tanpa paksaan, ceritakan apa yang Bapak lihat malam kecelakaan di tol,' kata Naufal datar, seperti rem yang merekam notulen.
Pak Harto menatap kamera. Suara tua, teguh. Ia ulangi: bunyi rem, mobil ngebut, Anisa berhenti, orang datang terlalu cepat dengan cerita tunggal, berita yang salah. 'Anisa tidak mabuk di mata saya. Anisa tidak menabrak di mata saya. Yang ngebut — lain. Saya takut dulu. Sekarang saya bilang karena cucu saya tidak boleh besar di dunia yang memaksa orang tua lupa.'
Anisa di luar pintu menggigit bibir sampai hampir sakit. Tidak masuk frame. Damar di monitor — retak kelihatan di rahang, di cara jarinya berhenti di atas meja. Cuplikan dulu sudah menusuk; versi resmi menusuk lebih dalam karena ada materai dan mata yang tidak lari.
Selesai. Pak Harto minum air. Anisa masuk, pegang tangan lansia itu sebentar. 'Terima kasih. Hidup dulu. Benar belakangan yang aman.'
'Dua-duanya,' kata Pak Harto. 'Yang dingin di sebelah — suruh dengar sampai habis. Jangan potong seperti CCTV.'
Damar muncul di ambang, tidak masuk penuh. 'Saya dengar. Sampai habis. Saya belum…' Ia cari kata. 'Saya belum bilang istri saya bersih. Saya bilang pernyataan Bapak masuk arsip ujian. Naufal — salin. Amankan. Jangan board. Jangan Ibu.'
Naufal angguk. 'Retak lo kelihatan. Bagus. Jangan tutup dengan algojo.'
Di mobil kembali ke mansion Anisa diam. Damar mengemudi sendiri — jarang. 'Kau tidak melatih dia.'
'Saya tidak melatih,' kata Anisa. 'Saya minta dia hidup dan bicara. Bedanya di materai dan di rasa takut yang sudah dia lawan.'
Damar menekan setir. 'Suara itu… membuat saya ingin menghancurkan seseorang. Saya belum tahu siapa yang paling pantas dihancurkan. Itu yang menakutkan.'
'Saya pantas turun dari altar, bukan dihancurkan,' kata Anisa. 'Simpan kehancuran untuk yang menggunting empat menit dan membayar lab.'
Di mansion file resmi masuk harddisk terenkripsi Naufal + salinan prinsip ke Salsa tanpa video penuh. Anisa tulis lembar tiga belas: *pernyataan resmi Harto. Damar retak kelihatan. jangan rayakan.* Malam Damar putar ulang sendiri di ruang kerja — volume rendah, tidak di depan foto; laptop membelakangi bingkai. Kompromi zona. Ia berhenti di kalimat *yang ngebut — lain*, mengulang tiga kali. Chat Naufal: *Resmi. Bau makin keras. Faris?* Naufal: *Mata on. Jangan ledak ke rekaman dulu — rekaman = perisai, bukan peluru liar.* Damar: *Perisai. Simpan.*
Anisa ketuk ruang tamu, bukan kerja. 'Anda dengar sampai habis?'
'Sampai habis,' kata Damar. Retak masih di suara. 'Tidur. Besok saya putuskan apa yang dilakukan pada file ini — hapus atau simpan. Jangan panik. Itu ujian saya, bukan ancaman ke Harto.'
Anisa menatap lama. 'Kalau Anda hapus — Salsa tetap punya cuplikan lama. Saya tidak bodoh. Tapi kalau Anda hapus versi resmi, saya baca sebagai takut benar tingkat tinggi.'
'Dalam antrean keputusan — malam ini belum,' kata Damar. 'Tidur.'
Anisa undur. Di ranjang ia tidak tidur segera. Retak di wajah Damar menempel lebih dari hinaan Ibu. Retak bukan maaf. Retak = lubang yang bisa diisi kerja atau diisi dendam baru. Salsa chat: `Resmi?` Anisa: `Resmi. Dia retak. Besok hapus/simpan — ujiannya.` Salsa: `Kalau hapus, kabur ke kos. Serius.` Anisa: `Hafal cadangan.` Di luar, file resmi ada di dunia. Di dalam, hakim yang retak belum memilih apakah perisai itu akan ia pakai atau ia bunuh sebelum Faris sempat tersentuh.
Sebelum pulang dari ruang sewa, Pak Harto pegang lengan Anisa. 'Kalau suami mu hapus ini, kau telepon aku. Aku bilang lagi. Aku tidak mau lupa dua kali.' Anisa: 'Saya telepon. Anda hidup dulu.' Naufal antar lansia itu kembali ke unit aman; cucu menyambut di pintu dengan susu. Adegan kecil itu membuat Damar, yang melihat dari mobil jauh, memalingkan muka — terlalu manusiawi untuk hakim yang ingin tetap sederhana.
Di mansion Anisa cuci muka lama. Di cermin ia latihan: tidak menang di muka Damar. Salsa video-call 20 detik: muka Anisa, jempol, tutup. Cukup. Damar masuk kamar mandi lain, cuci tangan seolah menghapus retak — gagal. Ia tulis di notes HP: *Harto resmi = perisai. Wipe = pengecut. Simpan = takut benar yang produktif.* Lalu hapus notes — terlalu jujur. Sticky fisik lebih aman karena tidak cloud.
Malam pembantu tanya menu. Anisa: 'Dua porsi jauh. Bukan lilin.' Damar makan di ruang kerja dengan laptop pernyataan; Anisa di dapur. Bunyi hujan tidak ada; bunyi kipas saja. Mereka berpapasan. 'Retak Anda kemarin — jangan ditutup dengan kasar ke saya malam ini,' kata Anisa. Damar: 'Saya tidak kasar. Saya memutuskan. Tidur.' Anisa: 'Saya tunggu keputusan tanpa scroll media.' Saat itu media belum meledak. File masih hangat. Pilihan hapus/simpan sudah duduk di brankas sebelum api Twitter datang — urutan yang Naufal syukuri diam-diam.