Pagi Naufal tidak bawa kopi damai. Ia bawa print guest list dan muka rem yang sudah habis sabar. Pintu ruang CEO ditutup. Anisa tidak hadir — antrean bom.
'Faris Adinata di guest list pesta malam kecelakaan. Dita juga,' kata Naufal tanpa basabasi. 'Lo mau marah ke saya karena menaruh nama ini, atau marah ke Om yang senyum di acara lo selama ini?'
Damar berdiri. 'Dita tidak…'
'Dita manusia berumur dua puluh dua. Manusia pergi ke pesta,' kata Naufal. 'Lo sucikan adik sampai buta. Saya tidak hina Dita. Saya bilang: kalau salah orang — lo bunuh dua kali. Sekali Dita dengan dusta yang lo pelihara sebagai vonis. Sekali Anisa dengan nikah hukuman. Dua mayat metafora. Satu sudah nyata di makam. Satu masih bernapas di rumah lo. Pilih mau jadi apa.'
Damar memukul meja. Gelas bergetar. 'Hati-hati.'
'Saya hati-hati tiap kali menahan lo dari jadi penjahat berkemeja,' kata Naufal. 'Rem pertama: lab rapi. Rem ini: Faris di pesta yang sama. Ancaman Harto. CCTV bolong. Jam bolong. Lo masih bilang Anisa “bisa dilatih”? Bisa. Semua bisa. Statistik kejam bilang lo harus gali Faris, bukan mengunci istri di zona foto.'
Damar napas pendek. 'Ma tidak tahan nama Faris.'
'Ma tahan atau tidak — kebenaran tidak minta izin duka,' kata Naufal. 'Saya kasih Anisa versi ringkas hari ini: guest list ada nama yang harus digali. Bukan “kau bersih”. Lo setuju atau saya bilang sendiri dan lo marah belakangan?'
'Dalam ringkas — saya yang bilang,' kata Damar serak. 'Jangan resign. Gali Faris diam-diam. Jangan board. Jangan Ibu dulu.'
'Deal,' kata Naufal. 'Lo hampir pukul meja ke muka saya. Progress: lo pukul kayu, bukan orang. Jangan naik kelas ke orang.'
Siang di mansion Damar panggil Anisa ke ruang tamu. Kursi jauh. 'Guest list malam Dita… ada nama Faris Adinata. Anak Om. Naufal gali. Kau tidak detektif liar. Kau tidak hadapi Faris. Kau tetap map dan napas. Aku… belum bilang kau bersih. Aku bilang sasaran dendam saya mungkin lebih dari satu orang — dan mungkin selama ini salah urutan.'
Anisa menelan. 'Salah urutan sudah menghancurkan hidup saya. Saya tidak minta pidato. Saya minta Anda jangan pukul Naufal. Rem jarang. Saya tinggal. Saya catat lembar dua belas: Faris di pesta. Om di lab. Saya bukan pusat cerita — saya kambing. Kambing ingin turun dari altar.'
Damar menutup mata sebentar. 'Aku hampir pukul meja karena Naufal bilang aku bunuh dua kali. Kalimat itu… nempel.'
'Biar nempel,' kata Anisa. 'Kalimat yang nempel lebih berguna dari ciuman yang tidak kita lakukan. Kerja.'
Damar angguk. Naufal di pintu, sudah mendengar cukup. 'Harto aman. Faris di kota. Saya pasang mata. Lo berdua — jangan teater hujan jadi roman. Bom belum selesai.'
Malam Damar di depan foto Dita lebih lama. 'Faris,' katanya ke bingkai. 'Kalau kau sembunyikan…' Tidak selesai. Anisa tidak ketuk. Zona. Ia kirim chat satu baris ke Damar — jarang: `Saya tidak pergi malam ini. Bukan karena Anda hampir bilang jangan. Karena Faris. Kerja.` Damar membalas: `Hafal. Tidur.` Lalu ke Naufal: *Kalau salah orang — dua kali. Jangan biarkan jadi tiga.* Naufal: *Rem on. Sleep, hakim retak.*
Anisa di catatan map: *Naufal vs Damar. bunuh dua kali. Faris. tinggal. jangan cinta dulu — turun dari altar.* Hujan kemarin sudah reda. Ledakan nama baru duduk di meja perang. Dinding Damar retak di lab, di CCTV, di invoice, di guest list — belum di hati yang siap minta maaf. Anisa tidak menagih hati. Ia menagih turun dari altar kambing. Di ranjang jarak tetap. Di kota, Faris Adinata masih bebas bersenyum. Rem sudah bilang cukup keras. Bab ini ditutup dengan kayu meja yang bergetar — dan dengan dua orang yang masih di ujian, masih di satu atap, masih belum saling menyerahkan bersih maupun maaf, hanya nama baru yang harus digali sebelum Ibu, board, atau koran memutus lebih dulu.
Salsa dapat prinsip malam itu: `Ada nama di pesta yang sama dengan Dita. Digali. Aku bukan detektif.` Balasan Salsa: `Turun dari altar. Jangan hadapi nama itu sendiri. Aku serius.` Anisa: `Hafal.`
Damar ke makam tidak — terlalu jelas untuk mata Ibu. Ia ke ruang kerja, berdiri lama. 'Naufal bilang bunuh dua kali. Kalau Faris bersalah dan aku tetap menghukum Anisa — tiga.' Ia benci angka itu. Chat Ibu draf: *Ma, ada yang digali. Jangan koran.* Dihapus. Diganti: *Ma, aku baik. Jangan ke rumah dulu.* Kirim. Ibu centang biru tanpa balas.
Naufal malam larut di kafe: mata ke Faris lewat sosmed publik, pesta, senyum, Dita di background satu foto lama yang hampir dihapus album. Simpan. Kirim folder ke Damar: *Jangan ledak. Jangan ke Anisa foto Dita+Faris malam ini — zona. Besok ringkas.* Damar buka satu foto, menutup seolah terbakar. Di ranjang ia bilang ke gelap, cukup untuk Anisa yang belum tidur: 'Aku tidak pukul Naufal.'
'Bagus,' sahut Anisa. 'Rem jarang. Pukul kayu saja.'
Damar hampir tertawa pahit — tidak. 'Tidur. Faris… antre.'
'Antre,' kata Anisa. 'Saya tinggal. Tidak di altar dengan sukarela. Turunkan saya dengan kerja — bukan dengan ciuman hujan yang tidak terjadi.' Damar diam. Kerja. Nama baru. Meja yang masih bergetar di ingatan. Rem menang argumen hari ini; dendam belum kalah perang — hanya kehilangan hak istimewa untuk buta.