Damar Wijaya tidak langsung menghancurkan Anisa dengan cara yang kasar. Ia tidak langsung menghancurkan Anisa dengan cara yang tidak bisa disangkal. Ia menghancurkan Anisa dengan cara yang licik, dengan cara yang tidak bisa dibantah, dengan cara yang tidak bisa Anisa lawan.
Damar menggunakan kekuasaannya sebagai CEO Mahesa Group untuk membuat Anisa kehilangan pekerjaan sebagai guru di sekolah dasar terbaik di kota. Ia menggunakan koneksinya untuk membuat sekolah itu memecat Anisa tanpa alasan yang jelas, tanpa pemberitahuan yang layak, tanpa kesempatan untuk membela diri.
Anisa tidak tahu mengapa ia dipecat. Ia tidak tahu mengapa sekolah itu memecatnya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
'Aku tidak mengerti mengapa saya dipecat,' kata Anisa dengan suara yang pelan ketika kepala sekolah memberitahunya bahwa ia dipecat. 'Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku selalu bekerja dengan baik. Aku selalu menjadi guru yang baik untuk murid-muridku.'
Kepala sekolah tidak bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Saya tidak bisa menjelaskan, Nona Anisa. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa Anda dipecat. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah keputusan dari atas, dan saya tidak bisa mengubahnya.'
Anisa tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap kepala sekolah, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa kepala sekolah tidak bisa membantunya. Kepala sekolah tidak bisa menjelaskan mengapa ia dipecat. Kepala sekolah tidak bisa mengubah keputusan itu.
Anisa keluar dari kantor kepala sekolah dengan langkah yang gemetar, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur. Ia tidak tahu mengapa ia dipecat. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
Tapi Damar tidak berhenti di situ. Damar tidak berhenti hanya dengan membuat Anisa kehilangan pekerjaan. Damar juga menggunakan kekuasaannya untuk membuat Anisa kehilangan apartemennya, untuk membuat Anisa kehilangan tabungannya, untuk membuat Anisa kehilangan segalanya.
Anisa tidak tahu mengapa apartemennya mengusirnya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa banknya membekukan rekeningnya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
'Aku tidak mengerti mengapa saya diusir dari apartemen saya,' kata Anisa dengan suara yang pelan ketika pemilik apartemen memberitahunya bahwa ia harus pergi. 'Aku selalu membayar sewa tepat waktu. Aku selalu merawat apartemen dengan baik. Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.'
Pemilik apartemen tidak bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Saya tidak bisa menjelaskan, Nona Anisa. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa Anda harus pergi. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah keputusan dari atas, dan saya tidak bisa mengubahnya.'
Anisa tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap pemilik apartemen, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa pemilik apartemen tidak bisa membantunya. Pemilik apartemen tidak bisa menjelaskan mengapa ia diusir. Pemilik apartemen tidak bisa mengubah keputusan itu.
Anisa keluar dari apartemennya dengan langkah yang gemetar, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur. Ia tidak tahu mengapa ia diusir. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
Tapi Damar tidak berhenti di situ. Damar tidak berhenti hanya dengan membuat Anisa kehilangan pekerjaan dan apartemennya. Damar juga menggunakan kekuasaannya untuk membuat Anisa kehilangan tabungannya, untuk membuat Anisa kehilangan kartu kreditnya, untuk membuat Anisa kehilangan segalanya.
Anisa tidak tahu mengapa banknya membekukan rekeningnya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa kartu kreditnya tidak bisa digunakan tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
'Aku tidak mengerti mengapa rekening saya dibekukan,' kata Anisa dengan suara yang pelan ketika petugas bank memberitahunya bahwa rekeningnya dibekukan. 'Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku selalu membayar tagihan tepat waktu. Aku selalu menggunakan rekeningku dengan baik.'
Petugas bank tidak bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Saya tidak bisa menjelaskan, Nona Anisa. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa rekening Anda dibekukan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah keputusan dari atas, dan saya tidak bisa mengubahnya.'
Anisa tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap petugas bank, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa petugas bank tidak bisa membantunya. Petugas bank tidak bisa menjelaskan mengapa rekeningnya dibekukan. Petugas bank tidak bisa mengubah keputusan itu.
Anisa keluar dari bank dengan langkah yang gemetar, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur. Ia tidak tahu mengapa rekeningnya dibekukan. Ia tidak tahu mengapa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas.
Anisa tidak tahu bahwa Damar Wijaya yang menghancurkan hidupnya. Anisa tidak tahu bahwa Damar Wijaya yang membuatnya kehilangan pekerjaan, kehilangan apartemennya, kehilangan tabungannya, kehilangan segalanya. Anisa tidak tahu bahwa Damar Wijaya adalah pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam.
Anisa hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas. Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Damar merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.