Malam setelah Ibu pergi dengan hinaan, Damar tidak ke ranjang. Ia di ruang kerja, lampu meja, foto Dita di bingkai kayu yang sudah dipegang terlalu sering. Dita tersenyum di toga latihan — belum wisuda resmi, sudah pergi. Damar menatap sampai mata perih. Bau bunga makam masih di jas yang digantung. Kalimat *proses bau* yang ia ucapkan di depan Ibu berputar seperti pengkhianatan. Ia bilang ke foto, pelan, 'Aku tidak mengkhianatimu dengan menggali. Aku mengkhianatimu kalau salah orang.'
Ketukan. Anisa di ambang dengan map kuning tipis — hanya lembar jam dan sketsa CCTV, bukan seluruh bom. Rambut terikat, wajah datar. 'Saya ketuk karena lampu Anda nyala terlalu lama. Saya tidak masuk tanpa izin. Saya tawar: lihat lembar ini sekali lagi di samping foto Dita. Bukan untuk menyingkirkan duka. Untuk memastikan duka tidak dibayar dengan orang salah.'
'Diam,' kata Damar tanpa menoleh. 'Keluar.'
'Saya belum masuk,' kata Anisa. 'Saya di ambang. Kalau Anda usir suara — usir. Kalau Anda usir data — data tetap di Salsa.'
Damar berdiri, ambil bingkai, belakangnya menghadap Anisa seperti perisai. 'Jangan bawa kertas ke sini malam ini. Malam ini milik Dita. Kau — terduga. Jangan campur.'
'Saya tidak minta jadi milik malam ini,' kata Anisa tenang, meski dada sesak. 'Saya minta Anda tidak memakai malam Dita sebagai alasan menutup mata pada empat menit kosong. Besok map. Malam ini — saya undur jika Anda bilang undur.'
'Undur,' kata Damar. Tajam. Hampir kasar. 'Jangan ketuk lagi. Jangan tawar bukti di depan fotonya. Aku masih bisa jadi algojo kalau kau paksa.'
Anisa angguk sekali. 'Saya catat: usir. Bukan sita. Selamat malam, Dita — dari orang yang tidak pantas menurut Ibu Anda. Saya pergi.' Ia tutup pintu pelan. Di koridor ia napas. Chat Salsa: `Diusir dari depan foto adik. Wajar. Berat. Tetap tinggal.` Salsa: `Wajar ≠ boleh digilas. Tidur. Jangan ketuk lagi malam ini.`
Damar sendirian lagi. Ia menyesal nada algojo — tidak cukup untuk memanggil Anisa kembali. Ia taruh foto, buka laci, lihat print timestamp CCTV, tutup. 'Besok,' bisiknya ke Dita. 'Besok aku gali. Malam ini aku… milikmu.' Foto tidak bilang apakah menggali adalah milik yang benar. Naufal chat: *Ibu diam. Harto aman. Lo jangan mabuk duka sampai buta.* Damar: *Anisa diusir dari ruang kerja. Jangan ceramah.* Naufal: *Ceramah besok. Sleep.*
Anisa di ranjang sisi jauh, map di dada sebentar, lalu ke meja. Ia tulis: *lembar sepuluh — Damar usir di depan foto Dita. jangan paksa malam duka. jangan baca sebagai benci total — baca sebagai batas.* Ia hampir menangis — ditahan. Guru hafal: air mata di waktu salah dibaca sebagai tipu. Lampu padam. Pintu ruang kerja masih tertutup. Satu atap. Dua altar: foto adik dan map kuning. Belum bisa satu meja.
Pagi Damar di dapur lebih dulu. Anisa masuk, siap dingin. Damar bilang tanpa melihat, 'Semalam aku usir. Batas. Hari ini kau boleh taruh lembar di ruang tamu. Bukan di depan foto. Hafal zona.'
'Hafal,' kata Anisa. 'Saya tidak marah pada duka Anda. Saya marah jika duka jadi kunci cage. Zona — oke.'
Damar angguk. Naufal masuk dengan kopi ganda. 'Zona sehat. Lab present siang. Anisa ikut ringkas — di kantor atau di sini?'
'Di sini,' kata Damar. 'Saya tidak bawa dia ke board. Ringkas saja.' Ia pergi sebelum Anisa bilang terima kasih. Di mobil ia pegang setir terlalu kuat. Foto Dita di kepala. Anisa di ambang di kepala. Dua gambar yang ia usahakan tidak bertumpuk — dan gagal.
Sebelum lab datang Anisa tidak mendekati pintu ruang kerja. Ia duduk di tangga dengan teh, mengulang batas: foto = altar duka; map = meja perang; jangan campur malam. Pembantu lewat, ragu. Anisa: 'Jangan masuk ke Pak Damar kecuali Naufal. Zona.' Pembantu angguk, lega ada instruksi jelas di rumah yang penuh perang tanpa nama.
Salsa telepon siang pendek. 'Diusir semalam. Kamu okay?'
'Okay cukup untuk tidak minggat,' kata Anisa. 'Dia kasih zona pagi: ruang tamu boleh, depan foto tidak. Itu… rem kecil dari orang yang kemarin algojo. Saya tidak peluk rem kecil. Saya pakai.'
'Pakai,' setuju Salsa. 'Jangan ketuk altar. Ketuk data.'
Di ruang kerja Damar mengelap kaca bingkai Dita — gerakan yang terlalu lembut untuk CEO. 'Ma hina dia. Aku diam. Aku usir dia dari sini. Aku jelek di dua arah. Besok lab. Jangan buat aku memilih antara kau dan kebenaran yang mungkin menyinggung nama lain.' Foto diam. Damar taruh print CCTV di laci lagi. Zona juga untuk dirinya: jangan campur air mata dengan invoice sebelum Naufal siap. Sticky baru di tepi meja: *ZONA. JANGAN ALGOJO MALAM. LAB SIANG.* Ia hampir tulis maaf untuk Anisa — coret. Maaf besar belum. Zona dulu.
Siang sebelum Naufal datang, Damar keluar ruang kerja hanya untuk bilang satu kalimat di ruang tamu: 'Semalam aku takut kau menyingkirkan Dita dengan kertas. Itu tidak adil. Tetap — jangan ketuk foto.' Anisa: 'Saya tidak menyingkirkan orang mati. Saya menyingkirkan vonis palsu. Zona saya patuhi.' Damar angguk, undur. Kalimat itu bukan maaf penuh; cukup membuat usiran semalam tidak menjadi batu abadi di koridor.