Ibu Wijaya datang sore tanpa antre di satpam — nama di daftar emas. Gaun gelap, rambut rapi, mata yang sudah menangisi Dita terlalu sering untuk masih lembut ke orang yang ia percaya pembunuh. Anisa di ruang tamu dengan baju biasa; Damar belum pulang dari closing. Naufal kirim chat panik kecil: *Ibu di rumah. Saya nyetir bos. Tahan 20 menit.*
Anisa tidak lari. 'Selamat sore, Ibu.'
Ibu menatapnya seperti noda. 'Jangan panggil Ibu. Kau tidur di rumah anakku dengan muka polos. Dita tidak bisa tidur di mana pun.'
Anisa menelan. 'Saya tidak membunuh Dita. Saya tahu Ibu tidak percaya. Saya tetap bilang.'
'Berani,' kata Ibu, pahit. 'Damar menikahimu sebagai hukuman. Hukuman harus terasa. Kau kelihatan terlalu utuh.'
'Saya tidak utuh,' kata Anisa tenang. 'Saya kehilangan kerja, rumah, nama. Saya tinggal untuk bukti, bukan untuk merebut tempat Dita.'
Ibu melangkah mendekat. 'Jangan sebut namanya. Kau tidak pantas.'
Damar masuk tepat saat kalimat itu jatuh — napas pendek, Naufal di belakang. 'Ma. Sudah.'
'Belum,' kata Ibu. 'Kau simpan pembunuh adikmu di ranjang. Board bicara. Orang bicara. Aku bicara. Usir dia. Atau aku yang bicara ke koran.'
'Dita tidak akan jadi konten,' kata Damar keras. 'Anisa tidak diusir hari ini. Ada proses.'
'Proses?' Ibu tertawa pendek. 'Proses membela dia?'
'Proses menggali berkas yang bau,' kata Damar, dan Anisa melihat betapa mahalnya kalimat itu di mulutnya di depan Ibu. 'Aku belum bilang dia bersih. Aku bilang aku tidak buta. Ma — pulang. Jangan hina di rumah ini seperti pasar.'
Ibu menatap Anisa lagi. 'Suatu hari kau akan pecah. Aku tunggu. Damar — jangan jadi lemah karena perempuan yang pandai menangis tanpa air mata.'
Anisa tidak meledak. 'Saya tidak menangis hari ini. Saya sedih Ibu kehilangan anak. Kesedihan itu sah. Vonis ke saya tidak. Maaf Ibu marah. Saya tidak minta dimanja.'
Ibu terdiam sepersekian — lalu undur, dingin. 'Aku ke makam. Lebih bersih dari rumah ini.' Pintu. Mobil. Habis.
Naufal bersiul pelan. 'Lo salah di dua arah: Ibu sakit, istri dihina, lo diam terlalu lama sebelum masuk.'
'Diam,' kata Damar ke Naufal. Lalu ke Anisa, kaku: 'Kau tidak meledak.'
'Saya guru. Anak marah lebih keras dari itu — tanpa makna yang sama,' kata Anisa. Suara sedikit serak. 'Anda diam di dua arah. Saya catat. Saya tidak minta Anda bela saya di depan Ibu seperti pahlawan. Saya minta Anda jangan biarkan saya jadi sasaran tanpa batas hanya karena Anda takut duka Ibu. Hafal bedanya.'
Damar mengusap wajah. 'Aku antar Ibu ke makam. Kau — tinggal. Jangan ikut.'
'Saya tidak ikut,' kata Anisa. 'Dita bukan panggung saya.'
Setelah Damar pergi, Anisa duduk di tangga. Tidak menangis besar. Hanya napas. Chat Salsa: `Ibu datang. Hina. Aku tahan. Damar diam lalu proses bau. Berat.` Salsa: `Tahan = menang hari ini. Kos. Bubur. Aku online.` Naufal menaruh teh di anak tangga tanpa duduk. 'Rem bilang: lo bagus. Bos jelek tapi belajar. Jangan kabur malam ini — Ibu bisa baca kabur sebagai mengaku.'
'Saya tinggal,' kata Anisa. 'Terima teh.'
Malam Damar pulang dari makam dengan bau bunga dan muka hancur yang disembunyikan. Di koridor: 'Ma tidak akan berhenti. Aku tidak usir kau. Aku juga tidak bisa buang duka Ma. Kau… tetap di ujian.'
'Saya tahu,' kata Anisa. 'Saya tinggal. Tidak berdosa. Akan buktikan. Selamat malam, hakim yang salah di dua arah.'
Damar hampir menyentuh bahunya — berhenti. 'Tidur.' Pintu. Sticky di ruang kerja: *IBU. MAKAM. BAU. JANGAN USIR. JANGAN BUTA. JANGAN LEMAH DI KORAN.* Di bawah, kecil: *Anisa tahan. Aku hutang kalimat bela yang tidak saya kasih.* Tidak disobek. Disimpan. Di ranjang jarak tetap. Arc tinggal-dengan-jarak retak di lab, di CCTV, di ancaman, di saksi pindah — dan di suara Ibu yang membuat rumah lebih dingin dari meja makan. Anisa tidur dengan telinga tebal. Damar tidur dengan dua salah yang tidak saling membatalkan.
Pagi Ibu kirim pesan ke Damar: *Aku tidak masuk rumah itu lagi sebelum kau sadar.* Damar balas: *Aku menggali. Jangan koran.* Ibu tidak balas. Anisa lihat bahu Damar di meja makan — lebih berat. 'Makam?' tanya Anisa pendek. 'Kemarin,' kata Damar. 'Jangan tanya apa yang aku bilang ke batu nisan.' 'Saya tidak tanya,' kata Anisa. 'Saya makan. Lalu map. Lembar sembilan: Ibu menolak rumah. Bukan data lab — data perang keluarga.'
Naufal hadir dengan ringkas. 'Board belum dengar kedatangan Ibu. Bagus. Kalau Ibu ke koran — legal siap tanpa mengorbankan Dita jadi klikbait. Anisa — lo tahan kemarin. Saya naikkan skor rem ke kamu.' Anisa: 'Saya tidak butuh skor. Saya butuh tidak diusir.' Damar: 'Tidak usir. Ujian lanjut. Gali lanjut. Ma… aku urus.' Ia berdiri, ragu, lalu menambah, 'Maaf soal diam terlalu lama di ruang tamu.' Anisa menatap. 'Maaf itu untuk timing. Bukan untuk nikah hukuman. Saya terima timing. Sisanya — kerja.' Damar angguk. Maaf kecil tersimpan di catatan Anisa tanpa hati-hati dibesar-besarkan. Di luar, Ibu di rumahnya sendiri dengan foto Dita. Di mansion, dua orang lanjut perang bukti dengan telinga yang masih berdenging hinaan — dan dengan satu kalimat *proses bau* yang sudah terlanjur terdengar oleh ibu yang berduka.