CCTV bukan milik Anisa. Naufal yang menarik lewat jalur legal abu-abu: permintaan “audit internal terkait klaim asuransi keluarga” yang Damar tanda tangani dengan muka masam. 'Jangan bilang ini untuk membela istri,' kata Damar di ruang CEO.
'Saya bilang untuk menutup lubang yang bisa digugat balik ke Mahesa kalau suatu hari berkas palsu meledak,' kata Naufal. 'Branding: mitigasi. Isi: empat menit hilang. Lihat.'
Di layar, rekaman tol malam itu. Lalu loncat. Empat menit kosong — bukan noise, bukan hujan di lensa: potongan. Timestamp melompat seperti seseorang memegang gunting. Naufal putar ulang. Damar berdiri kaku. Anisa diundang siang itu ke kantor — bukan ke board, ke ruang meeting kecil tanpa jendela cantik. Laporkan keluar: *kantor Mahesa, Naufal, CCTV.* Pertama kali ia masuk gedung suami sebagai orang yang diminta melihat, bukan sebagai bayangan hukuman.
'Empat menit,' kata Naufal. 'Di menit itu, menurut saksi Harto, ada mobil ngebut dan ada yang berhenti. Rekaman resmi yang dipakai dulu — loncat. Siapa yang potong? Orang yang takut menit itu bicara.'
Anisa menatap layar sampai mata perih. 'Saya ada di menit itu. Saya berhenti. Saya tidak ngebut. Kalau menit itu dihapus, cerita tunggal lebih mudah.'
Damar: 'Bisa rusak server.'
'Bisa,' kata Naufal. 'Rusak yang rapi di menit paling penting — statistik kejam lagi. Saya lacak siapa akses. Nama lama muncul: orang di sekitar Rudi. Belum vonis. Sudah pola: lab rapi, jam bolong, CCTV bolong.'
Anisa menoleh ke Damar. 'Anda bilang bau. Sekarang bau punya gambar kosong. Saya tidak rayakan. Saya tanya: apakah hukuman nikah berdiri di atas empat menit yang tidak ada?'
Damar mematikan layar dengan remote seolah layar itu bersalah. 'Aku belum lepaskan hukuman. Aku gali siapa yang menggunting. Kau — jangan sebar cuplikan kosong ini. Orang baca “kosong” sebagai tipu kalian.'
'Saya tidak sebar,' kata Anisa. 'Saya taruh di map: lembar tujuh — CCTV hilang 4 menit. Salsa dapat prinsip. Naufal gali akses.'
Naufal: 'Bos, Ibu lo chat saya tadi — mau datang. Saya tunda dengan alasan closing. Tidak selamanya bisa. Siapkan mulut.'
Damar mengusap wajah. 'Anisa pulang dulu. Saya… kerja.'
Di mobil ke mansion Anisa duduk di belakang, sopir diam, kota lewat. Empat menit. Hidupnya diganti dengan loncatan timestamp. Ia telepon Salsa: 'CCTV bolong. Empat menit. Saya lihat sendiri.'
'Sialan rapi,' kata Salsa. 'Catat. Jangan menangis di mobil suami. Menangis di kos kalau perlu — cadangan.'
Anisa tidak menangis. Di rumah ia tulis lembar tujuh dengan tangan stabil. Malam Damar pulang terlambat, masuk ruang tamu. 'Akses CCTV: dua akun. Satu Rudi. Satu “tamu teknis” yang namanya palsu seperti penyewa motor. Pola pihak ketiga. Bukan saya yang gunting.'
'Saya tidak menuduh Anda menggunting,' kata Anisa. 'Saya menuduh Anda membangun nikah di atas guntingan orang lain tanpa cek. Bedanya penting.'
Damar diam lama. 'Bedanya… saya catat. Jangan ulangi dengan nada menang. Nada itu membuat saya ingin tetap buta.'
'Saya ganti nada,' kata Anisa datar. 'Tolong gali. Tolong jangan cage. Tolong jangan bilang Dita dibela oleh empat menit kosong.'
Damar pergi ke ruang kerja. Sticky baru: *4 MENIT. RUDI. PALSU. JANGAN BUTA.* Ia putar lagi file sebelum tidur, sendiri, volume mati, hanya gambar yang melompat. Di lompatan itu ia bayangkan Dita — dan marah ke bayangan yang tidak punya wajah pengemudi. Marah tanpa sasaran yang jujur lebih melelahkan daripada marah ke Anisa. Ia benci kelelahan itu. Chat Naufal: *Present Ibu ditunda. Gali tamu teknis. Jangan sleep.* Naufal: *Sleep. Lo jelek kalau insomnia hakim.*
Anisa di ranjang sisi jauh: *CCTV bolong. Damar tidak mengaku gunting — masuk akal. pihak ketiga. Ibu mau datang — siap hinaan.* Ia tidur dengan map di meja. Empat menit hilang di tol; di rumah, menit-menit jarak tetap lengkap dan dingin.
Salsa balas chat pagi: `4 menit = seseorang punya gunting. Jangan tuduh suami di grup guru. Tuduh sistem.` Anisa: `Hafal. Map lembar tujuh.` Di kantor Naufal pasang print screenshot timestamp di meja Damar tanpa bingkai dramatis. 'Lo lihat tiap pagi. Biar dendam punya rival visual.' Damar tidak membuang. Ia taruh di laci — keluar tiap kopi pertama.
Anisa minta izin ke lokasi tol “siang, satu jam, tidak sendirian”. Naufal ikut dari jauh. Di pagar pembatas ia berdiri, angin kotor, bayangkan empat menit yang dihapus. Tidak ada ziarah. Ada pengukuran: dari mana bunyi, ke mana lari. Ia catat di HP. Damar telepon: 'Kau di TKP?' 'Saya di lubang cerita,' kata Anisa. 'Pulang.' 'Pulang,' perintah Damar, lebih takut tipu media daripada tipu hati. Anisa pulang. Di mansion ia cuci tangan lama. Empat menit tidak kembali karena digosok. Tapi lembar tujuh bertambah sketsa. Damar lihat sketsa malam, bilang, 'Kau kerja seperti orang digaji.' 'Saya kerja seperti orang dituduh,' balas Anisa. 'Bedanya: gaji saya nama bersih.' Damar tidak menjawab. Layar di kepala masih melompat.
Sebelum rapat pagi Damar buka laci, lihat print timestamp sekali, tutup. 'Empat menit,' gumamnya ke kopi. Naufal di pintu: 'Lo bicara ke kopi sekarang. Progress.' Damar: 'Gali tamu teknis. Jangan ke Anisa dulu soal nama.' Naufal: 'Pelit. Oke. Jangan buta — juga oke.' Di rumah Anisa menambah satu kalimat di lembar tujuh: *Kosong di tol bukan kosong di hidup saya.* Lalu ke dapur, makan, kerja. Lubang empat menit sudah jadi tetangga tetap di map kuning.