Salsa tidak meretas apa pun. Ia antre di loket informasi kepolisian dengan muka guru yang sudah hafal antrean rapor, lalu menelepon kenalan lama — petugas administrasi yang dulu bantu urus surat kehilangan murid. 'Saya tidak minta rahasia negara,' kata Salsa datar di telepon. 'Saya minta salinan laporan yang sudah pernah beredar ke media. Atas nama keluarga korban? Tidak. Atas nama orang yang namanya dijejalkan ke berita tanpa kelas. Fotokopi. Materai. Resmi.'
Dua hari kemudian amplop cokelat sampai di tangan Anisa di warung kopi — dilaporkan ke satpam dulu: *ketemu Salsa, satu jam.* Di dalam: cetakan ulang laporan kecelakaan, stempel buram, nama Anisa di kolom pengemudi, BAC yang “rapi”, jam kejadian. Anisa membuka di meja plastik, pulpen siap. Salsa duduk seberang, teh manis, mata tajam.
'Bandingkan dengan notamu,' kata Salsa. 'Jangan emosional dulu. Guru cek kunci jawaban.'
Anisa cek. Timeline hotel vs jam di laporan: selisih. Bukan selisih remeh orang terlambat makan — selisih yang membuat “mabuk di lokasi” mustahil tanpa mesin waktu. Jam di berita portal dulu juga beda tipis dengan jam di cetakan ini, seolah ada yang mengedit cerita sampai “pas”. Anisa lingkari dua jam dengan tinta merah. Tangan tidak gemetar. Guru terbiasa merah.
'Inkonsistensi jam,' gumamnya. 'Damar bilang bau. Ini bau yang bisa digenggam.'
'Saya sudah salin,' kata Salsa. 'Satu di flashdisk kos. Satu di email draft tidak terkirim. Jangan taruh semua di mansion.'
Anisa angguk. 'Saya bawa ke map kuning. Saya bilang ke Naufal — rem. Ke Damar — data. Bukan kemenangan.'
Sore di ruang tamu mansion, map kuning bertambah lembar. Naufal datang “mengantar dokumen”, lihat cetakan, bersiul pelan tanpa senyum. 'Ini bukan hack. Bagus. Lo dapat lewat jalur yang tidak bikin kita masuk penjara. Jam ini — saya cocokkan dengan log tol dan nota hotel. Bos!'
Damar masuk dari pintu samping, jas di lengan. Ia tidak duduk dekat. Anisa sodorkan lembar tanpa pidato. 'Cetak ulang resmi. Bukan curian. Lihat jam. Bandingkan dengan nota hotel di map. Saya tidak minta percaya. Saya minta Anda lihat lubang.'
Damar baca. Rahang bergerak. Ia bandingkan. Lama. 'Bisa salah ketik.'
'Bisa,' kata Anisa. 'Salah ketik yang sama di tiga tempat? Berita, laporan, ringkasan internal yang Naufal punya? Atau suntingan?'
Naufal: 'Saya taruh opsi suntingan di atas opsi salah ketik. Statistik kejam. Lo mau marah ke saya atau ke kertas?'
Damar melempar kertas ke meja — tidak ke wajah Anisa. 'Aku bawa ini ke orang yang bisa baca forensik dokumen. Diam dari board. Diam dari Ibu. Anisa — dari mana?'
'Salsa. Kenalan administrasi. Bukan preman,' kata Anisa. 'Kalau Anda marah karena saya bergerak — marah. Jangan sita cetakan. Salsa punya salinan.'
'Dalam kepala aku kau semakin berbahaya,' kata Damar pelan. 'Berbahaya karena mungkin benar. Itu lebih menyebalkan daripada tipu.'
'Saya terima menyebalkan,' kata Anisa. 'Tambah lembar enam: inkonsistensi jam. Rem pertama dapat teman kertas.'
Malam Damar di ruang kerja dengan cetakan dan nota. Ia hitung menit dengan pensil. Angka tidak membela dendamnya. Naufal chat: *Forensik dokumen: antre. Sementara: jam tol exit vs laporan — saya dapat log kasar. Cocok ke hotel Anisa, tidak cocok ke “mabuk lama di jalan”.* Damar: *Jangan bilang cocok ke dia. Bilang cocok ke log.* Naufal: *Lo takut kata. Saya takut lo buta. Tidur.*
Anisa di kamar menulis: *cetak ulang. jam bolong. Damar bilang berbahaya karena mungkin benar. jangan rayakan. Harto aman? cek besok.* Ia chat Salsa: `Masuk map. Dia lihat. Belum percaya. Terima kasih antreanmu.` Salsa: `Antrean biasa. Kabur tetap cadangan.` Di koridor Damar berpapasan dengan Anisa. 'Masih tinggal?' 'Masih. Jam saya tidak mabuk.' Damar hampir tersenyum pahit — tidak. 'Tidur. Besok CCTV.' Pintu. Jarak. Lubang di berkas sekarang punya tinta merah guru.
Sebelum tidur Anisa menaruh cetakan di amplop kuning, bukan di bawah bantal bersama rekaman — terlalu banyak bom di satu tempat. Ia latihan kalimat untuk Damar yang belum siap: *Saya tidak minta Anda mencintai saya karena jam cocok. Saya minta Anda berhenti menikahi hukuman di atas kertas bolong.* Kalimat itu belum diucapkan. Malam ini cukup jam yang digaris merah. Di foto Dita di koridor ia lewat tanpa bicara. Duka Damar tetap sah. Vonis Anisa tidak. Dua hal itu mulai bisa hidup di kepala yang sama — setidaknya di kepalanya. Di kepala Damar, masih perang.
Pagi berikutnya Anisa fotokopi lembar jam di toko kecil, laporkan: *fotokopi, 30 menit.* Penjaga toko tidak kenal wajah “istri CEO”. Leganya tipis. Di rumah ia tempel sticky di map: *JAM ≠ MABUK.* Damar lihat dari jauh saat lewat, tidak komentar. Naufal kirim PDF forensik antrean: *watermark cetakan konsisten kepolisian — bukan palsu printer gelap. Isi boleh bohong; kertasnya “resmi”. Lebih jahat.* Damar balas: *Present malam. Anisa boleh dengar ringkas.*
Malam ringkas itu di ruang tamu: tiga kursi jauh. Naufal: 'Kertas resmi. Jam bolong. Lo punya dua musuh potensial: orang yang nulis bohong, orang yang menikahi bohong tanpa cek. Saya tidak sebut nama kedua.' Damar: 'Sudah cukup.' Anisa: 'Saya terima ringkas. Saya tambah ke map. Terima kasih rem.' Setelah Naufal keluar Damar bilang, 'Jangan biasa bilang terima kasih ke orang saya.' Anisa: 'Saya bilang ke kerja, bukan ke milik Anda.' Damar undur. Cetak ulang sudah jadi batu di sepatu dendam — setiap langkah bunyi.