Telepon gelap itu tidak ke Anisa dulu — ke Pak Harto. Siang, Anisa dapat suara lansia yang pecah di ujung garis. 'Nona. Mereka bilang diam atau rumahku. Mereka tahu aku rekam. Aku takut. Cucu saya main di depan. Aku…'
'Pak, di mana Anda sekarang?' Anisa sudah berdiri, tas, tangan dingin. 'Kunci pintu. Jangan buka. Saya datang — tidak sendiri kalau perlu.'
'Saya di rumah. Motor itu lagi. Pelat beda.' Pak Harto napas. 'Aku tidak mau mati karena bilang benar.'
Anisa laporkan keluar terburu: *darurat saksi.* Satpam ragu; Naufal override lewat telepon. 'Go. Saya nyusul. Bos — dengar.' Di speaker mobil Damar yang kebetulan satu jalur dengan Naufal, suara Anisa masuk tanpa izin romansa: takut, teguh, bukan teater.
Damar di CEO: 'Putar ke saya.' Ia dengar cuplikan Anisa ulangi ancaman. Diam. Lalu: 'Naufal — telinga jadi tangan. Jangan culik. Amankan perimeter. Anisa jangan masuk kalau ada orang di pagar.'
'Anda peduli?' tanya Naufal kasar.
'Aku tidak mau saksi mati sebelum aku selesai menguji,' kata Damar dingin. 'Itu bukan puisi. Kerja.'
Anisa tiba lebih dulu dengan ojek — lebih cepat dari mobil mansion. Rumah sepi, pintu terkunci. Pak Harto buka sedikit, muka pucat. 'Mereka bilang aku sudah tua untuk heroik.'
'Saya tidak minta heroik. Saya minta Anda hidup,' kata Anisa. Di dalam, ia duduk di lantai supaya tidak lebih tinggi dari rasa takut orang tua. 'Saya telepon Naufal. Rem. Bukan preman — semoga.'
Naufal datang dengan dua orang berjas sederhana, bukan rompi drama. 'Pak, kami jaga luar. Tidak masuk kamar Anda tanpa izin. Ancaman telepon — saya lacak. Nyonya, Anda pulang setelah Pak tenang. Bos pantau dari jauh; dia tidak masuk karena Anda bilang Pak takut mukanya.'
Pak Harto menatap Anisa. 'Suamimu aneh.'
'Saya tahu,' kata Anisa. 'Hari ini anehnya berguna. Maaf.'
Sore Anisa kembali ke mansion. Damar sudah di ruang tamu, jas masih, mata gelap. 'Harto?'
'Hidup. Takut. Ancaman jelas: diam atau rumah,' kata Anisa. 'Salinan rekaman makin penting. Kalau Anda “peduli” hanya supaya ujian tidak batal — bilang. Saya tetap terima bantuan perimeter. Saya tidak butuh Anda pura-pura lembut.'
Damar berdiri dekat — hampir, tidak sentuh. 'Aku tidak lembut. Aku tidak mau mayat baru di cerita Dita. Mayat baru membuat kebenaran lebih kotor. Naufal kerja. Kau — tidak ke Harto sendirian lagi. Hafal.'
'Hafal,' kata Anisa. 'Anda dengar ancaman itu. Di kepala hakim, apa artinya?'
'Artinya ada orang yang takut Harto bicara,' kata Damar pelan. 'Artinya cuplikan “bisa dilatih” makin mahal untuk dilatih. Aku belum bilang kau bersih. Aku bilang perangmu punya musuh selain aku. Itu… mengubah peta.'
Anisa menelan. 'Terima kasih untuk peta. Bukan untuk cinta.'
Damar hampir membalas sesuatu yang lebih berbahaya dari peta — ditahan. 'Tidur. Jangan chat panjang soal lokasi Harto. HP bisa bocor.'
Malam Naufal lapor: *Telepon gelap dari nomor bakar. Pola sama rental. Om belum muncul di muka — di bayangan. Harto aman malam ini.* Damar: *Pertahankan. Jangan kasih Anisa nama Adinata lengkap.* Naufal: *Lo pelit info. Oke. Rem tetap.*
Anisa di kamar menulis: *ancaman nyata. Damar bantu sebagai ujian bukan belas kasih. tetap tinggal. Salsa — update prinsip.* Chat Salsa: `Harto diancam. Perimeter ada. Aku takut. Aku tidak minggat malam ini.` Salsa: `Takut sehat. Kos siap. Jangan heroik bodoh.` Anisa matikan lampu. Di sisi lain ranjang Damar belum datang. Ia di ruang kerja menatap foto Dita. 'Aku tidak bisa kehilangan saksi sebelum tahu,' bisiknya ke adik yang tidak menjawab. Bukan doa. Perintah ke diri sendiri. Ancaman ke Pak Harto memindahkan dendam dari satu sasaran ke peta yang lebih kotor — dan Damar, yang belum meminta maaf, sudah tidak bisa pura-pura hanya ada Anisa di seberang meja.
Sebelum tengah malam Anisa hampir pergi lagi ke rumah Harto — ditahan chat Naufal: *Perimeter ok. Lo tidur. Heroik bodoh = blunder board.* Anisa: `Hafal.` Ia minum air di dapur, jumpa Damar yang ambil minum sama. Dua gelas. Satu wastafel.
'Kau gemetar,' kata Damar.
'Saya manusia. Saksi saya diancam. Gemetar bukan pengakuan dosa,' kata Anisa.
Damar mengangguk kaku. 'Besok kita bicara pindah. Malam ini — tidak ada yang masuk rumah itu.' Ia hampir bilang *aku takut kehilangan bukti* — terdengar seperti *aku takut kehilanganmu* di telinga yang lapar. Ditahan. 'Tidur.'
Anisa: 'Anda juga. Hakim insomnia jelek untuk gali.' Damar hampir tersenyum — mati di tengah. Mereka undur ke sisi ranjang masing-masing. Di luar, motor rental tidak lewat malam itu. Naufal bilang di chat dini hari: *Sepi. Terlalu sepi. Saya tidak percaya sepi. Tetap jaga.* Damar: *Tetap.* Anisa membaca notifikasi Naufal yang di-CC tipikal kerja: sepi mencurigakan. Ia peluk bantal bukan tubuh suami. Perang bukti sekarang berbau takut orang tua — lebih tajam dari demam, lebih jujur dari board.
Pagi Pak Harto kirim SMS pendek ke Anisa: `Masih hidup. Cucu minta susu.` Anisa balas: `Baik. Naufal jaga. Saya menyusul urusan pindah.` Damar melihat notifikasi di wajah Anisa dari seberang meja — tidak sita HP. 'Pindah hari ini,' katanya. 'Kendali saya. Syaratmu kemarin berlaku.' Anisa: 'Hafal. Terima kasih untuk hidupnya — label Anda belakangan.' Damar tidak berdebat label di pagi hari. Ancaman sudah cukup mengubah jadwal closing menjadi jadwal nyawa.