Naufal masuk ke ruang CEO tanpa map biru. Hanya map abu-abu yang lebih tebal. Wajahnya bukan rem yang bercanda.
'Angka toksisitas di berkas Anisa terlalu rapi,' katanya langsung. 'Malam tol kacau. Ambulans. Polisi. Orang teriak. Hasil lab yang “sempurna” di footer Rudi + lab swasta yang invoice-nya tidak lewat jalur biasa kepolisian — itu bukan keberuntungan. Itu rapi. Rapi = dikerjakan.'
Damar berdiri. 'Kau bela dia.'
'Saya bela lo supaya tidak jadi penjahat berkemeja,' kata Naufal datar. 'Dengar fakta: BAC tercetak dengan format yang sama dengan tiga kasus “rapi” lain yang saya temukan jejaknya — dua di antaranya terkait holding yang sering muncul nama Adinata di pinggir. Belum vonis. Sudah bau. Kalau lo marah karena bau ini menolong Anisa, itu masalah ego, bukan masalah Dita.'
'Dita mati,' kata Damar, suara rendah berbahaya. 'Jangan pakai nama Adinata seolah aku harus berterima kasih ke istri saya.'
'Lo tidak perlu terima kasih. Lo perlu gali,' kata Naufal. 'Instruksi: saya tarik invoice. Saya jangan tipu Anisa soal ini dulu — atau lo mau dia ikut? Dia punya map kuning. Bau ini cocok ke pertanyaan lembar empatnya.'
Damar memukul meja — bukan hancur; cukup untuk rasa sakit di telapak. 'Jangan bela dia di depan saya dengan nada itu. Dia masih terduga. Cuplikan bisa dilatih. Demam tidak membersihkan. Board lapar. Aku…'
'Aku tahu,' potong Naufal. 'Lo takut salah. Takut salah membuat lo marah ke orang yang membawa fakta. Saya rem. Rem pertama resmi: angka toksisitas terlalu rapi untuk jadi fondasi nikah hukuman. Kalau lo lanjut menghukum tanpa gali — saya resign setelah saya pastikan Harto tidak mati konyol. Pilih.'
Damar menatapnya lama. 'Tidak resign. Gali. Diam dari board. Diam dari Ibu. Anisa… beri dia versi singkat malam ini: berkas bau. Bukan “kau bersih”. Bau. Hafal bedanya.'
'Hafal,' kata Naufal. 'Lo pulang sendiri atau saya ikut sebagai saksi rem?'
'Sendiri,' kata Damar.
Malam mansion sunyi. Anisa sudah lebih sehat, duduk di ruang tamu dengan map kuning tertutup. Damar berdiri jauh, jas di lengan, mata gelap.
'Naufal bilang angka toksisitas di berkasmu terlalu rapi,' katanya tanpa basabasi. 'Aku belum bilang kau bersih. Aku bilang berkas yang aku pakai menghukummu… bau. Aku gali. Kau tidak rayakan. Kau tidak menang. Kau tetap di ujian. Hafal?'
Anisa berdiri, tidak mendekat. 'Hafal. Bau ≠ bersih. Bersih saya buktikan; bau Anda gali. Saya tidak peluk Anda karena rem. Saya tanya: Pak Harto?'
'Aman untuk hari ini. Motor rental masih digali,' kata Damar. 'Map kuning — tambah satu lembar pertanyaan: siapa yang rapi-kan lab. Jangan ke media. Jangan ke Salsa soal nama holding sebelum Naufal kunci.'
'Salsa dapat prinsip, bukan nama,' kata Anisa. 'Saya tinggal. Saya tidak tebus. Rem pertama — saya catat sebagai kerja, bukan sebagai cinta.'
Damar mengangguk kaku. Di ruang kerja ia tulis sticky besar: *RAPAT. JANGAN BELA. GALI. BAU. BUKAN BERSIH.* Lalu di bawahnya, lebih kecil, hampir tidak mau ia akui: *kalau salah sasaran — aku berhutang nyawa yang tidak bisa dibayar dengan cerai.* Ia sobek kalimat kecil itu, buang. Tinggal yang besar.
Anisa kirim ke Salsa: `Berkas bau. Belum bersih. Tetap tinggal. Kos cadangan.` Salsa: `Rem bagus. Jangan lemes karena dahinya kemarin.` Anisa hampir tersenyum — tidak. Ia tulis di catatan map: *lembar lima — lab rapi. Rudi. holding? tunggu Naufal.*
Di koridor malam mereka berpapasan. Damar: 'Masih tinggal?' Anisa: 'Masih. Tidak berdosa. Akan buktikan. Anda masih dinding?' Damar: 'Masih. Tapi dinding mulai retak di lab — bukan di hati. Jangan salah baca.' Anisa: 'Saya baca sebagai lab. Selamat malam, hakim.' Damar lewat. Pintu. Jarak. Rem pertama sudah berbunyi; mobil dendam belum berhenti — hanya berbunyi peringatan di dasbor yang Damar benci dan tidak bisa matikan.
Naufal tidak pulang ke rumah dulu; ia ke kafe 24 jam dengan laptop, menarik jejak invoice. Nama Adinata muncul sebagai “sponsor pengujian” di catatan internal lab yang bocor tipis lewat mantan pegawai yang hutang jasa. Belum cukup ke pengadilan. Cukup ke rem. Ia kirim ke Damar: *Adinata di pinggir. Jangan ledak ke Om siapa pun. Jangan ledak ke Anisa lengkap. Bau dikunci dulu.* Damar balas jam tiga dini hari: *Dikunci. Besok lo present ke saya. Jangan ke board.*
Anisa bangun minum air, lihat lampu ruang kerja masih nyala. Ia tidak masuk. Ia tulis di lembar lima map: *Naufal marah ke bos = bau benar-benar bau. Saya tidak rayakan. Saya siapkan pertanyaan tanpa nama holding.* Di bawah: *Rem pertama. Dinding retak di lab. Hati — bukan urusan malam ini.*
Pagi Damar di meja makan — tidak penuh hangat; ada kopi dan wajah kurang tidur. 'Naufal present siang. Kau tidak ikut. Hasil yang boleh kau tahu tetap sama: bau. Detail — belakangan.'
'Saya terima antrean informasi,' kata Anisa. 'Asalkan antrean itu tidak berubah jadi cage.'
'Dalam antrean ini kau tetap tinggal,' kata Damar. 'Dalam antrean ini aku belum minta maaf. Hafal dua-duanya.'
'Hafal,' kata Anisa. Ia makan roti. Dingin. Kerja. Rem sudah berbunyi; langkah berikutnya bukan pelukan — gali. Dan Anisa, yang demamnya turun dan mapnya hidup, siap digali bersamaan dengan berkas yang dulu dipakai untuk menikahinya sebagai hukuman.