Demam datang tanpa izin board. Sore Anisa gemetar di sofa ruang tamu, buku jatuh, dahi panas. Pembantu panik; menelepon Naufal karena SOP “Nyonya sakit — jangan dramaturgi, hubungi asisten”. Naufal hubungi Damar di tengah meeting: *Istri lo demam. Saya panggil dokter ke rumah. Lo pulang atau tidak — putuskan tanpa ego.*
Damar pulang. Bukan lari romantis — langkah cepat, jas belum dilepas. Dokter sudah di kamar tamu: virus ringan, istirahat, minum, jangan dipaksa bicara panjang. Anisa di ranjang sisi jauh, pipi merah, mata waspada meski lemah.
'Saya tidak teater,' katanya serak. 'Jangan bilang saya tipu sakit supaya Anda lunak.'
'Aku tidak bilang,' kata Damar. Ia berdiri di kaki ranjang, tangan di saku supaya tidak melakukan sesuatu yang tidak ia izinkan pada dirinya sendiri. 'Obat. Air. Tidur. Map ditunda.'
'Map tidak demam,' gumam Anisa. 'Saya demam.'
Damar menuang air, menyodorkan gelas tanpa menyentuh jari lebih lama dari perlu — tetap jari tersentuh. Panas kulit orang lain. Ia menarik tangan terlalu cepat. Anisa melihat itu; tidak mengejek.
'Dokter bilang istirahat,' kata Damar. 'Salsa dilarang datang malam ini — kerumunan. Naufal di bawah. Aku… di kursi.'
'Jarak,' kata Anisa. 'Kursi jauh.'
Damar duduk di kursi jauh. Lampu redup. Ia membalas email dengan satu tangan, mata sering ke ranjang. Anisa tidur-bangun. Sekali ia menggigil; Damar berdiri, hampir ke selimut — hampir menaruh tangan di dahi seperti orang normal. Berhenti di udara. Menaruh punggung tangan sebentar, mengukur panas, lalu undur seolah tersentuh api.
'Panas,' katanya kaku.
'Saya tahu,' bisik Anisa. 'Jangan kasar nanti hanya karena Anda takut kelihatan lemah. Saya catat hampir sentuh. Saya tidak tagih sebagai cinta.'
Damar mundur ke kursi. Malam larut ia bilang ke gelap, lebih ke diri sendiri: 'Dita demam dulu sering. Aku biasa pegang dahi. Ini bukan Dita.'
'Tidak,' kata Anisa pelan, masih sadar. 'Saya Anisa. Terduga. Demam. Bukan pengganti adik Anda.'
Diam panjang. Damar ke kamar mandi, cuci tangan seolah menghapus lembut yang tidak ia izinkan. Saat kembali, Anisa sudah terlelap lebih dalam. Ia taruh termos di nakas, tulis di sticky fisik: *obat jam 6. jangan marah pagi.* Lalu, karena takut dirinya jadi manusia, ia kirim chat ke Naufal: *Besok saya ke kantor biasa. Jangan sebut saya “peduli” ke staf.*
Naufal: *Staf sudah lihat dokter. Lo tidak bisa hapus fakta. Bisa hapus narasi. Sleep di kursi jauh — noted.*
Pagi Anisa lebih baik. Damar di ambang dengan wajah yang sudah dikembalikan ke dinding. 'Kau kuat untuk makan? Pembantu siapkan bubur. Bukan karena tebus — karena dokter.'
'Bubur dokter saya terima,' kata Anisa. 'Tangan di dahi semalam — saya tidak sebut di map. Tapi saya ingat. Jangan balas dengan hinaan supaya seimbang.'
Damar kaku. Lalu, sengaja kasar kecil: 'Jangan harapkan itu terjadi lagi. Aku bukan perawatmu. Aku hakim yang sedang menguji. Sakit tidak membersihkan tuduhan.'
Anisa menatapnya lama, lelah tapi tajam. 'Baik. Hakim. Kursi jauh. Saya catat juga kekasaran pagi sebagai penyeimbang rasa takut Anda kelihatan lemah. Kita sama-sama punya catatan.'
Damar keluar sebelum kalimat itu menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari demam. Di mobil Naufal bilang, 'Lo hampir manusia semalam. Pagi lo bayar dengan dingin. Classic. Jangan ulangi pola itu ke saksi — saksi butuh stabil, bukan moodswing.'
'Fokus,' kata Damar. Sticky: *hampir sentuh. jangan ulang. map. lab. board. jangan lemah.* Di rumah Anisa minum obat, menulis: *demam. dahi. kasar pagi. tetap tinggal. jangan baca sebagai roman.* Amplop rekaman masih di laci. Perang bukti menunggu tubuh yang kembali tegak.
Salsa menelepon siang, melanggar “jangan kerumunan” dengan suara saja. 'Kamu demam. Aku boleh antar bubur dari luar?'
'Sudah ada bubur dokter,' kata Anisa. 'Jangan datang. Damar mode hakim lagi. Semalam dia hampir pegang dahi. Pagi dia bayar dengan kalimat tajam. Classic, kata Naufal — tanpa Naufal bilang ke saya; saya duga sendiri.'
'Saya benci classic itu,' kata Salsa. 'Kos tetap ada. Kalau demam plus hinaan jadi pola — kabur dulu, bukti menyusul dari luar.'
'Saya belum cage,' kata Anisa. 'Saya masih bisa rekam. Saya masih bisa map. Kabur sekarang = dia bilang saya tipu sakit. Saya tunggu tubuh naik. Terima kasih.'
Sore Damar pulang sebentar “cek obat”, berdiri di ambang lagi. Termos penuh. Ia tidak sentuh dahi. 'Suhu?'
'Turun,' kata Anisa. 'Hakim boleh kembali ke kantor. Pasien tidak minta perawat.'
Damar angguk, lega dan kesal sekaligus. Di mobil ia bilang ke Naufal, 'Dia tajam meski lemah. Menyebalkan.'
'Orang bersih sering menyebalkan bagi orang yang ingin mereka kotor,' kata Naufal. 'Atau orang bersalah yang pandai akting. Makanya gali lab — jangan gali dahi.' Damar tidak menjawab. Di kepala, panas kulit Anisa masih tersimpan di saraf yang tidak ia izinkan berbicara. Ia matikan saraf itu dengan angka closing. Angka patuh. Dahi orang lain tidak.
Malam itu Anisa tidur lebih awal. Damar cek termos dari ambang — tidak masuk ke jarak tangan. 'Kalau suhu naik lagi, panggil pembantu. Jangan heroik.'
'Saya guru, bukan pahlawan,' kata Anisa dari bantal. 'Selamat malam, hakim jauh.'
Damar memadamkan lampu koridor. Hampir sentuh kemarin tetap tinggal di catatan keduanya — satu sebagai data tubuh, satu sebagai dosa kecil yang tidak boleh berulang sebelum lab selesai bicara.