Damar Wijaya tidak pernah melupakan malam itu. Malam ketika ia menerima telepon yang mengubah segalanya, malam ketika ia mengetahui bahwa adiknya, Dita, meninggal dalam kecelakaan yang disebabkan oleh seorang wanita bernama Anisa.
Damar sedang bekerja di kantornya di lantai tiga puluh gedung Mahesa Group ketika teleponnya berdering. Ia tidak mengangkatnya pada awalnya karena ia sedang sibuk dengan laporan keuangan yang harus ia selesaikan sebelum pagi. Tapi telepon itu terus berdering, terus berdering, terus berdering, sampai Damar akhirnya mengangkatnya dengan kesal.
'Ada apa?' tanya Damar dengan suara yang kesal, dengan tatapan yang masih terpaku pada layar komputernya.
Suara di ujung telepon itu adalah suara yang tidak pernah Damar inginkan untuk mendengar. Suara itu adalah suara dari rumah sakit, suara yang mengatakan bahwa Dita, adiknya yang baru berumur dua puluh dua tahun, adiknya yang baru saja lulus kuliah, adiknya yang baru saja memulai kehidupannya, meninggal dalam kecelakaan mobil di jalan tol.
Damar tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihatnya, dengan telepon masih di tangannya, dengan kata-kata itu masih menggema di kepalanya: Dita meninggal. Dita meninggal dalam kecelakaan mobil. Dita meninggal karena seorang wanita bernama Anisa yang mengemudi dalam keadaan mabuk.
Damar tidak ingat bagaimana ia sampai ke rumah sakit. Ia tidak ingat bagaimana ia melihat tubuh Dita yang sudah tidak bernyawa di kamar jenazah. Ia tidak ingat bagaimana ia menangis di samping tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa, dengan tangan yang gemetar, dengan hati yang hancur.
Yang Damar ingat adalah bahwa seorang wanita bernama Anisa yang mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan yang membunuh Dita. Yang Damar ingat adalah bahwa Anisa tidak terluka sama sekali dalam kecelakaan itu, bahwa Anisa hanya mendapatkan luka ringan, bahwa Anisa masih hidup sementara Dita sudah tidak bernyawa.
Yang Damar ingat adalah bahwa Anisa yang membunuh adiknya.
Damar tidak tidur selama tiga hari setelah pemakaman Dita. Ia tidak makan, tidak minum, tidak berbicara dengan siapa pun. Ia hanya duduk di kamar kerjanya di mansion besar itu, dengan foto Dita di tangannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Ia tidak bisa menerima bahwa Dita sudah tidak ada. Ia tidak bisa menerima bahwa Dita sudah tidak akan pernah kembali. Ia tidak bisa menerima bahwa Dita sudah tidak akan pernah bisa melihat kehidupan yang sudah ia bangun dengan susah payah untuk adiknya.
Dan ia tidak bisa menerima bahwa seorang wanita bernama Anisa yang mengambil semua itu dari Dita.
Damar bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan balas dendam pada Anisa. Ia akan membuat Anisa menderita seperti Dita menderita. Ia akan membuat Anisa hancur seperti Dita hancur. Ia akan membuat Anisa membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada Dita.
Damar tidak tahu bahwa Anisa tidak bersalah. Damar tidak tahu bahwa Anisa tidak mengemudi dalam keadaan mabuk. Damar tidak tahu bahwa Anisa hanya menjadi kambing hitam untuk kecelakaan yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Damar hanya tahu bahwa Anisa yang membunuh adiknya. Dan ia akan balas dendam.
Damar berdiri dari kursinya di kamar kerja itu dan berjalan ke jendela besar yang menghadap kota. Ia menatap keluar ke kota yang berkilau di malam hari, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar, dengan keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
Ia akan balas dendam pada Anisa. Dan ia tidak akan berhenti sampai Anisa hancur seperti Dita hancur.