Rapat board Mahesa pagi itu seharusnya tentang ekspansi. Yang mengisi jeda kopi: nama Anisa. Bukan di slide — di bisik. *Istri yang…* *Adik…* *Mabuk…* Damar mendengar dari nada orang yang pura-pura batuk. Ia tidak meledak di meja. Meledak = konten.
Direktur senior, Pak Chandra, mengetuk pulpen. 'Sebelum angka, Damar — pasar sensitif. Ada isu rumah tangga yang menempel ke merek. Kami butuh kepastian: istri Anda tidak menjadi headline. Kalau perlu… jarak publik. Atau langkah hukum yang menenangkan investor.'
'Dita bukan produk,' kata Damar dingin. 'Anisa bukan slide. Agenda hari ini ekspansi. Isu pribadi tidak masuk notulen.'
'Pribadi yang membakar saham bukan pribadi,' kata Chandra. 'Kami tidak minta sidang moral. Kami minta mitigasi. Beberapa opsi: pernyataan singkat, pisah rumah sementara, atau…'
'Atau buang dia ke media sebagai pengakuan,' potong anggota lain, terlalu santai. 'Biar bersih.'
Damar menatap orang itu sampai senyumnya mati. 'Siapa yang bilang “buang” di meja ini lagi — keluar dari proyek ekspansi. Saya tidak lempar nama adik saya ke konten, dan saya tidak lempar nama istri saya sebagai umpan penenang saham. Legal sudah diinstruksikan: privasi keluarga. Titik.'
Naufal di kursi belakang mencatat, wajah datar, mata bilang *bagus — bela merek, efek samping Anisa selamat publik dulu.*
Chandra angguk pelan. 'Baik. Mitigasi tanpa circus. Tapi Damar — jangan biarkan rumah tangga mengganggu closing. Investor bertanya.'
'Closing jalan,' kata Damar. 'Rumah tangga urusan saya. Jangan ikut tidur di ranjang saya lewat gosip.'
Rapat kembali ke angka. Damar bicara tajam, fokus, kejam pada proyeksi yang lemah. Setelah selesai, di ruang CEO, Naufal tutup pintu.
'Lo tidak bela Anisa. Lo bela kontrol narasi,' kata Naufal. 'Cukup untuk hari ini. Kalau board desak lagi, saya siapkan opsi “pisah rumah” sebagai teater — lo tolak atau terima nanti. Jangan terima karena panik.'
'Ditolak dari sekarang,' kata Damar. 'Pisah rumah = dia ke kos Salsa = aku kehilangan pantau + dia menang simbol.'
'Atau dia selamat dari cage tuduhan,' kata Naufal. 'Lo pikir simbol. Saya pikir oksigen. Bedain.'
Damar mengusap wajah. 'Laporan enhance?'
'Masih jelek. Tapi bau lab makin kuat. Saya tidak present ke board.' Naufal duduk. 'Anisa di rumah. Map kuning. Lo mau bilang ke dia soal board?'
'Sebagian,' kata Damar. 'Dia perlu tahu orang ingin membuangnya. Bukan supaya dia takut — supaya dia tidak salah langkah ke media.'
Sore di mansion Damar temukan Anisa di ruang tamu dengan buku, bukan map. Ia berdiri jauh.
'Board bicara namamu,' katanya. 'Ada yang usul melemparmu ke publik sebagai penenang. Aku tolak. Bukan karena aku percaya kau bersih. Karena aku tidak jual Dita dan tidak jual perang ini ke headline. Hafal: jangan hubungi media. Kalau ada wartawan — putar ke Naufal.'
Anisa menutup buku. 'Anda bela merek. Efek samping: saya belum dikorbankan hari ini. Saya terima efek samping itu tanpa bilang terima kasih romantis.'
'Dalam rapat aku hampir disebut lemah karena menahanmu di rumah,' kata Damar. 'Jangan buat aku menyesal dengan tipu.'
'Saya tidak tipu board. Saya tidak masuk board,' kata Anisa. 'Saya susun bukti. Anda tahan headline. Itu kerja berurutan, bukan cinta. Kalau suatu hari Anda lepas saya ke media demi saham — bilang dulu supaya saya ke Salsa sebelum diincar.'
Damar lama diam. 'Aku bilang kalau sampai di situ. Hari ini belum.'
Naufal kirim chat ke berdua (grup kerja dingin): *Legal kirim cease letter ke dua akun gosip. Alasan: privasi keluarga Dita. Anisa jangan reply sendiri.* Anisa membalas: `Hafal.` Damar: `Fokus.`
Malam Anisa makan sendiri. Damar di ruang kerja dengan notulen yang bersih dari nama istri — ia pastikan sendiri. Sticky: *board lapar. jangan lempar. jangan media. map kuning. pantau.* Di koridor berpapasan, Anisa bilang, 'Terima kasih untuk tidak membuang saya hari ini — sebagai strategi, bukan sebagai suami.'
Damar: 'Jangan biasakan kata terima kasih. Aku masih terduga-mu sebagai hakim.'
Anisa: 'Saya tidak biasakan. Saya catat.' Pintu. Jarak. Rapat selesai di kantor; di rumah perang belum closing.
Sebelum tengah malam Chandra kirim email pribadi: *Damar, investor bertanya off-record. Pastikan tidak ada kejutan.* Damar balas: *Tidak ada circus. Fokus closing.* Ia tidak sebut Anisa. Di rumah Anisa mendengar bunyi notifikasi dari ruang kerja — tidak mengintip. Ia tulis di catatan map: *board lapar. Damar tahan headline hari ini. cadangan Salsa tetap. jangan sombong.*
Pagi berikutnya Naufal ringkas ke Damar di lift. 'Gosip internal turun satu tingkat karena lo galak di meja. Habis itu orang diam. Diam bukan damai — diam tunggu blunder. Lo dan istri jangan kasih blunder.'
'Anisa tidak ke media,' kata Damar.
'Lo jangan ke minibar dendam di depan staf,' balas Naufal. 'Kemarin lo hampir manusia soal kontrol narasi. Pertahankan sebagai strategi. Jangan tiba-tiba lempar dia karena satu kolom opini.'
Damar masuk ke ruangannya. Di layar, slide ekspansi bersih. Di laci, fotokopi cuplikan Harto. Dua dunia. Ia telepon Anisa singkat — jarang. 'Jangan terima tamu wartawan. Kalau ada yang mengaku investor di rumah — tolak. Putar ke Naufal.'
'Saya hafal,' kata Anisa di telepon. 'Anda hafal jangan jual saya diam-diam?'
'Hari ini hafal,' kata Damar, lalu tutup sebelum kalimat itu jadi janji lebih panjang dari strategi. Anisa menatap HP. Strategi bukan cinta. Hari ini strategi cukup untuk bernapas.