Map itu benar-benar kuning — amplop besar dari toko alat tulis dekat sekolah lama, dibeli Salsa pagi-pagi dengan chat: `Kuning biar tidak kelihatan “berkas CEO”.` Anisa menaruhnya di meja ruang tamu. Isi berlapis: timeline malam tol (jam kira-kira, tempat berhenti, apa yang dilihat), ringkasan kata Pak Harto, daftar pertanyaan yang belum terjawab (siapa potong cerita, siapa lab, siapa telepon ancaman), foto yang ia ambil dulu dari kejauhan sebelum HP-nya “hilang” seminggu setelah berita — fotokopi buram yang Salsa cetak ulang dari cloud Anisa yang nyaris mati.
Damar datang siang dengan jas masih, Naufal di belakang dengan tablet. Damar duduk di kursi jauh seperti janji. Naufal di sofa samping, rem yang tidak pura-pura netral.
'Mulai,' kata Damar.
Anisa tidak standing ovation. Ia buka lembar satu: timeline. 'Malam itu saya dari pelatihan guru di hotel dekat pintu tol. Saya tidak pesta. Saya tidak minum. Nota hotel ada — Salsa bantu minta ulang ke resepsionis yang masih kenal saya. Jam keluar hotel. Jam saya di tol. Selisih tidak cukup untuk “mabuk gila” seperti berita.'
'Dokumen hotel bisa diatur,' kata Damar.
'Bisa,' aku Anisa. 'Semua bisa diatur — termasuk laporan yang Anda pakai menghukum saya. Karena itu ada lembar dua.' Ia putar cuplikan lebih panjang dari semalam. Suara Pak Harto mengisi ruang tinggi mansion yang biasa diam. Naufal mencatat. Damar tidak memotong — rahang bergerak, tangan mengepal di lutut.
Lembar tiga: foto buram. 'Saya ambil sebelum HP saya “hilang”. Ada mobil lain di frame. Plat tidak kebaca. Tapi ada. Berita hanya menampilkan mobil yang dikaitkan ke saya.'
Naufal mencondong. 'Kirim ke saya. Saya coba enhance diam-diam. Bukan untuk media.'
Damar: 'Jangan sebar. Dalam lingkaran kita dulu.'
Anisa menatapnya. 'Lingkaran kita — baru. Jangan jadikan ini jebakan supaya Anda tahu di mana server saya.'
'Aku pantau. Aku tidak sita map kuning hari ini,' kata Damar. 'Lanjutkan.'
Lembar empat: pertanyaan. Anisa baca datar. 'Siapa yang tipu toksisitas? Siapa yang potong CCTV? Siapa yang sewa motor ke rumah Harto? Kalau jawaban mengarah ke orang Anda — saya tetap tinggal sampai bersih. Kalau mengarah ke orang lain — Anda harus pilih: dendam ke saya atau ke mereka.'
Damar berdiri, jalan ke jendela, punggung kaku. 'Dita mati. Aku tidak butuh pilihan cantik.'
'Anda butuh pilihan benar,' kata Anisa. 'Map ini bukan rayuan. Ini kerja. Saya guru — saya biasa bikin rubrik. Rubrik ini: bukti vs dendam. Skor Anda belum saya kasih.'
Naufal batuk kecil. 'Bos, saya usul: salinan map di safety box atas nama Nyonya + satu salinan di legal internal yang hanya saya dan lo akses. Bukan board.'
'Disetujui,' kata Damar tanpa menoleh. 'Anisa — kau setuju?'
'Saya setuju asal asli rekaman tidak masuk brankas yang Anda bisa bakar marah,' kata Anisa. 'Salsa tetap pegang salinan luar. Itu rem. Hafal?'
'Hafal,' kata Damar pahit. 'Rem di mana-mana. Aku dikelilingi rem sementara aku bilang hakim.'
'Hakim buta tidak butuh rem,' kata Naufal. 'Hakim yang mulai lihat butuh. Saya kerja enhance.'
Sore map kuning ditutup. Damar berdiri di ambang, jarak dua meter dari Anisa. 'Kau susun ini cepat.'
'Saya susun ini sejak Anda menolak mendengar di malam itu,' kata Anisa. 'Cepat di mata Anda. Lambat di hidup saya.'
Damar hampir bilang *maaf* — diganti: 'Aku baca ulang semuanya malam ini. Sendirian. Jangan ikut ke ruang kerja.'
'Baik. Jarak,' kata Anisa. 'Saya makan sendiri. Tidak masak untuk Anda sebagai tebus.'
Malam Damar di ruang kerja dengan map kuning terbuka, lampu meja, foto Dita menghadap. Ia baca timeline dua kali. Ia putar Harto dengan earphone. Ia benci keraguan yang tumbuh seperti jamur. Naufal kirim: *Enhance jalan. Plat masih jelek. Lab footer: progress.* Damar: *Jangan bela dia di chat. Laporkan fakta.* Naufal: *Fakta: berkas lo makin bau. Tidur.*
Anisa di kamar menulis di catatan: *map disampaikan. tidak disita. Damar baca malam. jangan harap percaya.* Ia tidur dengan map kosong di meja — isinya sudah dibagi, tubuhnya masih di sisi jauh. Satu atap. Dua skor. Rubrik belum selesai.
Sebelum tidur ia chat Salsa: `Map masuk. Dia bilang bisa diatur soal hotel. Dia tidak sita. Naufal enhance foto.` Salsa: `Bagus. Salinan luar tetap di aku. Besok aku kirim nota hotel PDF.` Anisa menaruh HP. Di langit-langit ia bayangkan kelas dulu: anak yang menyontek, anak yang dituduh menyontek. Ia pernah salah menuduh sekali di tahun kedua mengajar — minta maaf di depan kelas. Damar belum di situ. Damar masih di kursi jauh dengan dendam yang lebih besar dari satu PR.
Di ruang kerja Damar menandai timeline dengan pensil — bukan pulpen; pensil bisa dihapus, seperti keyakinannya yang mulai bisa dihapus. Ia benci metafora itu. Ia tulis di pinggir: *CEK NOTA HOTEL. CEK LAB. CEK PLAT.* Lalu memandang foto Dita. 'Aku tidak mengkhianatimu dengan mendengar,' bisiknya. 'Aku mengkhianatimu jika aku salah orang dan tetap menghukum.' Foto tidak menjawab. Naufal chat larut: *Nota hotel Anisa konsisten. Belum bukti surga. Sudah lubang di berita mabuk.* Damar: *Jangan kata surga. Kata lubang.* Ia matikan lampu meja, bawa map ke brankas sementara — tidak mengunci dari Anisa; mengunci dari staf iseng. Di ranjang ia bilang ke gelap, cukup keras untuk Anisa yang belum tidur: 'Map-mu tidak jelek.'
'Tidak jelek ≠ percaya,' sahut Anisa.
'Benar,' kata Damar. 'Tidur.' Jarak. Amplop kuning di brankas terasa lebih berat daripada emas. Perang bukti punya bentuk sekarang — kertas, suara, foto buram — dan Damar tidak bisa lagi pura-pura hanya ada sumpah di jendela malam kematian Dita.