Pagi setelah cuplikan Pak Harto, meja panjang itu terisi dua orang untuk pertama kalinya sejak aturan jarak. Bukan damai — tes. Pembantu menyiapkan roti, telur, kopi hitam. Anisa duduk di ujung; Damar di ujung lain. Jarak kayu lebih jujur daripada basabasi.
Damar tidak membuka laptop. Itu saja sudah aneh. Matanya ke piring, ke Anisa, ke cincin status di jari istri yang ia hukum. Cuplikan semalam masih berputar di kepala: *mobil yang ngebut — lain.* Ia hampir bertanya keras: *kalau kau tidak mabuk, kenapa berita bilang kau mabuk?* Pertanyaan itu ditelan bersama kopi. Menelan bukan berarti hilang — menelan berarti belum siap mendengar jawaban tanpa meledak.
Anisa mengoles selai tanpa melihatnya. 'Anda minta sarapan bersama sebagai pantau atau sebagai tipu hangat?'
'Pantau,' kata Damar. 'Aku ingin tahu apakah kau masih di sini karena bukti atau karena kau menghitung kelemahan aku setelah cuplikan.'
'Saya di sini karena bukti. Kelemahan Anda — bonus yang tidak saya tagih pagi ini,' kata Anisa. 'Cuplikan sudah Anda dengar. Anda bilang bisa dilatih. Saya tidak marah. Saya catat. Hari ini saya susun map. Anda boleh lihat dari jauh. Jangan sita.'
Damar mengiris telur terlalu dalam. 'Salsa. Kos. Kau chat dia tadi pagi?'
'Saya chat: masih hidup. Masih tinggal. Map menyusul.' Anisa angkat muka. 'Anda pantau chat?'
'Naufal pantau metadata, bukan isi — untuk sekarang,' kata Damar. 'Kalau kau kirim rekaman penuh ke media…'
'Saya kirim ke Salsa sebagai salinan, bukan ke portal,' potong Anisa. 'Hafal bedanya. Media membunuh nama Dita jadi konten. Saya tidak jual adik Anda.'
Nama Dita di meja makan membuat udara lebih dingin. Damar meletakkan pisau. 'Jangan sebut dia seperti kau mengenalinya.'
'Saya tidak mengenalinya. Saya mengenal malam tol yang membuat Anda menikahi saya sebagai hukuman,' kata Anisa pelan. 'Saya hormati orang mati. Saya tidak hormati vonis palsu.'
Damar hampir melempar pertanyaan mabuk itu lagi. Hampir. Ia ganti: 'Kenapa kau berhenti di tol malam itu? Berita bilang kau pelakunya. Kau bilang kau berhenti. Pilih satu kalimat yang tidak dibungkus menangis.'
Anisa tidak menangis. 'Saya lihat benturan. Saya berhenti. Saya bukan pahlawan — saya manusia yang tidak bisa gas terus. Lalu orang datang dengan cerita tunggal. Saya jadi nama di berita sebelum saya sempat bilang jam berapa saya makan malam.' Ia menatap Damar. 'Anda mau detail di map, atau mau interogasi sarapan yang membuat telur dingin?'
'Map,' kata Damar setelah diam. 'Siang. Di ruang tamu. Aku tidak duduk di sampingmu. Aku di kursi jauh. Aku dengar. Aku belum percaya.'
'Cukup,' kata Anisa. 'Mendengar ≠ percaya. Kita sudah tulis itu di udara rumah ini.'
Mereka makan tanpa basabasi lagi. Bunyi sendok. Bunyi cangkir. Naufal masuk tanpa ketuk — kebiasaan kerja yang Anisa belum protes. 'Selamat pagi. Berita: plat motor semalam sekitar Harto milik rental. Nama penyewa palsu. Uang tunai. Profesional kecil. Bukan preman kampung.'
Damar angguk. 'Gali.'
Anisa menatap Naufal. 'Pak Harto aman?'
'Belum diganggu fisik. Telinga kami masih di luar,' kata Naufal. 'Nyonya, sarapan bersama — progress atau teater?'
'Pantau,' kata Anisa dan Damar hampir bersamaan. Naufal mengangkat alis, tidak senyum. 'Rem senang. Teater melelahkan.' Ia keluar.
Damar berdiri lebih dulu. 'Aku ke kantor sebentar. Siang kembali untuk map. Jangan keluar tanpa laporan. Jangan ke Harto sendirian.'
'Saya ke Salsa kalau perlu fotokopi. Laporkan,' kata Anisa. 'Jangan bilang “istri baik” ke staf. Saya bukan itu.'
'Dalam kepala aku kau masih terduga,' kata Damar di ambang. 'Dalam cuplikan — ada keraguan. Jangan rayakan keraguan sebagai cinta.'
'Saya tidak rayakan,' kata Anisa. 'Saya kerja.'
Setelah mobil pergi, Anisa duduk lagi di meja dingin. Ia tulis di catatan: *hampir ditanya mabuk — ditelan. map siang. pihak ketiga profesional. jangan teater.* Ia bilas piring sendiri — bukan tebus; tangan perlu gerak. Di foto Dita di dinding koridor ia berhenti sejenak, angguk singkat seperti ke orang asing yang berhak atas duka, bukan atas darah Anisa. Lalu ke kamar, ke amplop rekaman, ke kertas kuning yang akan jadi map.
Sebelum menyusun apa pun ia telepon Salsa singkat dari dapur, suara rendah. 'Sarapan bersama. Dingin. Dia hampir tanya soal berita mabuk — ditelan. Siang map. Kamu siap fotokopi kalau saya butuh?'
'Saya di sekolah sampai siang. Sore bisa,' kata Salsa. 'Jangan masak buat dia. Jangan baca dingin sebagai romansa gelap. Dingin kadang cuma dingin.'
'Saya tahu,' kata Anisa. 'Saya catat pertanyaan yang ditelan. Itu lubang di kepalanya. Lubang bisa diisi bukti — atau racun. Saya pilih bukti.'
Siang menjelang, pembantu bertanya apakah menyiapkan kopi untuk Pak Damar yang akan pulang. Anisa: 'Siapkan di ruang tamu. Dua cangkir jauh. Bukan lilin. Bukan suasana.' Pembantu bingung, patuh. Anisa menaruh amplop kuning masih kosong di meja rendah, menatapnya seperti guru menatap lembar ujian sebelum dibagikan. Ujian ini untuk Damar. Juga untuk dirinya: apakah ia bisa bicara tanpa memohon dicintai.
Di kantor Damar menolak makan siang bersama klien. Naufal masuk. 'Lo kosong.'
'Saya penuh cuplikan orang tua dan pertanyaan yang tidak saya lempar ke meja makan,' kata Damar. 'Siang saya pulang dengar map. Kalau dia tipu timeline — saya sita. Kalau tidak — saya pantau lebih dalam.'
'Sita = takut,' ulang Naufal. 'Lo sudah hafal. Jangan lupa di ambang rumah.' Damar angguk. Di mobil pulang ia latihan napas. Meja makan dingin sudah lolos tanpa ledakan. Map adalah ujian berikutnya. Sticky di kepala: *jangan tanya mabuk dengan marah. tanya dengan data. Dita bukan slide. Anisa bukan teater.*