Salsa membalas chat Anisa dalam tiga menit: `Kopi biasa. Bukan mall. Aku bawa telinga.` Mereka ketemu di warung dekat sekolah lama — tempat Anisa dulu antre makan siang guru. Bau minyak dan teh manis. Salsa rambut pendek, mata tajam, tas besar seperti orang yang siap kabur atau siap bantu.
'Kamu kurus,' kata Salsa tanpa basa-basi. 'Suami CEO atau penjara mewah?'
'Keduanya terasa sama kalau tidak didengar,' kata Anisa. 'Saya tidak minta ceramah. Saya minta satu siang: temani ke Pak Harto. Dia saksi. Ada yang ancam. Damar tidak ikut — saksi takut. Naufal — asisten Damar — tahu. Rem, katanya.'
Salsa menyedot teh. 'Rem suamimu. Bahaya. Tapi aku ikut. Aku benci orang yang bikin guru jadi monster di berita tanpa kelas.' Ia mencondongkan tubuh. 'Kosku masih ada kamar kecil. Kunci cadangan. Kalau suatu malam kamu perlu keluar tanpa jadi mayat di mansion — datang. Tidak perlu izin pangeran.'
Anisa menggeleng pelan. 'Terima kasih. Saya belum ambil. Kalau saya minggat sekarang, Damar bilang saya kabur perang. Bukti saya belum cukup di mejanya. Saya tinggal karena perang bukti — dan karena…' Ia berhenti.
'Saya tahu karena apa,' kata Salsa kasar lembut. 'Kamu cinta orang yang salah waktu. Cinta tidak membatalkan bukti. Tapi cinta bisa bikin kamu telat kabur. Ingat itu.'
'Saya ingat,' kata Anisa. 'Hari ini: Pak Harto. Besok: map. Minggat — cadangan, bukan rencana utama.'
Mereka ke pinggiran kota dengan ojek dan angkot — Anisa menolak mobil mansion. Rumah Pak Harto sempit, bersih, foto cucu di dinding. Lansia itu menyambut, mata ke Salsa, lega ada perempuan lain.
'Ini teman saya, Salsa. Guru. Bukan preman,' kata Anisa.
Pak Harto angguk. Di meja kayu ia mengulang: malam tol, bunyi rem, mobil yang ngebut, Anisa yang berhenti, orang yang berteriak, lalu “resmi” yang datang terlalu cepat dengan cerita tunggal. Anisa rekam dengan izin, suara jelas. Di akhir Pak Harto bilang, 'Kalau aku mati duluan, kau punya ini. Aku tidak mau lupa dipaksa.'
Di perjalanan balik Salsa pegang lengan Anisa. 'Kamu punya bom kecil. Jangan taruh di brankas suami dulu. Salin. Kasih aku satu. Kasih notaris kecil kalau perlu. Suamimu pantau — bagus. Jangan naif.'
Anisa salin ke HP Salsa terenkripsi sederhana. 'Kalau saya hilang, buka.'
'Drama,' ceplas Salsa. 'Tapi oke.' Di depan mansion Salsa berhenti. 'Kos tetap terbuka. Kamu tolak minggat hari ini — saya hormati. Jangan tolak selamanya karena cinta. Cinta yang benar tidak minta kamu jadi terdakwa abadi.'
Anisa masuk. Laporkan ke satpam: *ketemu teman, urusan keluarga.* Naufal telepon. 'Lokasi pinggiran. Saya tidak susul. Bos gelisah. Lo hidup?'
'Hidup. Rekaman ada. Salinan aman,' kata Anisa. 'Jangan sita.'
Malam Damar menunggu di ruang tamu, jas masih, mata gelap. 'Kau ketemu saksi.'
'Ya. Dengan Salsa. Teman guru. Rekaman ada. Saya tidak serahkan asli malam ini — saya serahkan salinan cuplikan kalau Anda siap dengar tanpa memotong. Hafal aturan: mendengar ≠ percaya. Percaya ≠ maaf. Saya tidak minta maaf palsu dari Anda.'
Damar mengulurkan tangan. 'Cuplikan.'
Anisa putar tiga menit. Suara Pak Harto. Damar diam batu. Di akhir ia bilang, 'Bisa dilatih.'
'Bisa,' kata Anisa. 'Semua bukti bisa dilatih di kepala orang yang ingin tetap dendam. Karena itu saya tidak minta Anda percaya malam ini. Saya minta Anda jangan menghancurkan orang tua itu. Salsa punya salinan. Kalau Anda “amankan” saya dengan menyita — salinan tetap hidup.'
Damar menarik napas panjang. 'Salsa. Kos. Kau mau kabur?'
'Cadangan. Bukan rencana malam ini,' kata Anisa jujur. 'Saya tinggal. Saya tidak tebus dengan badan. Saya tidak minggat supaya Anda tenang. Saya minggat hanya jika cage. Kita belum cage. Jangan bikin.'
Damar berdiri, jarak satu meter — hampir sentuh, tidak. 'Aku dengar cuplikan. Aku belum percaya. Aku perintah Naufal: gali pihak yang ancam saksi. Kau… tetap di sini.'
'Saya tinggal,' kata Anisa. 'Cincin status. Surat di meja. Jarak di ranjang. Salsa di luar sebagai rem kedua. Naufal rem pertama. Anda — masih dinding. Saya tidak menjatuhkan dinding malam ini. Saya menaruh bukti di kakinya.'
Damar pergi ke ruang kerja. Sticky baru: *cuplikan Harto. bisa dilatih? gali. jangan sita. Salsa = rem luar. jangan cage.* Anisa kirim satu baris ke Salsa: `Balik. Dia dengar. Belum percaya. Kos tetap cadangan.` Salsa: `Good. Tidur. Besok map.` Anisa tidur di sisi jauh, rekaman di bawah bantal dalam amplop — bukan romansa; arsip. Pernikahan yang salah masih salah. Perang bukti baru saja punya suara lansia yang tidak mau lupa.
Sebelum lampu mati Anisa berdiri di depan cermin kamar mandi, latihan wajah datar. Guru dulu memakai wajah itu untuk anak yang menangis. Sekarang untuk suami yang ingin menangis adiknya lewat hukuman orang lain. Ia bilang pelan ke cermin: 'Saya tinggal. Saya tidak tebus. Saya tidak minggat malam ini.' Lalu ke kamar.
Damar tidak tidur segera. Ia putar ulang cuplikan sekali lagi dengan earphone, volume rendah. Suara Pak Harto menusuk lebih dalam saat tidak ada Anisa menatap. *Mobil yang ngebut — lain.* Kalimat itu menempel. Damar membuka chat Ibu — draft: *Ma, jangan datang dulu.* Dihapus. Terlalu banyak perang di satu minggu.
Naufal kirim tengah malam: *Telinga di sekitar Harto: motor lewat pelan dua kali. Belum turun. Saya catat plat. Lo tidur.* Damar: *Tidur mustahil. Kerja.* Ia kerja sampai angka di layar kabur, lalu ke ranjang. Anisa sudah terpejam, tangan dekat amplop. Damar hampir geser amplop — berhenti. Sita malam ini = takut benar. Sticky terakhir sebelum mata berat: *Salsa cadangan. Harto suara. pihak ketiga. jangan cage. jangan hakim buta. tinggal = ujian, bukan hadiah.* Di luar, mansion Wijaya diam. Di dalam, dua orang di satu ranjang memegang perang yang baru saja mendapat saksi dan rem — dan belum saling menyerahkan nama bersih maupun maaf.