Anisa menelepon dari warung kopi dua kilometer dari mansion — bukan karena romansa kabur, karena ia tidak percaya dinding rumah. Ia laporkan ke satpam sebelum keluar: *kopi, satu jam, kembali.* Naufal dapat notifikasi; tidak menyusul. Rem yang menepati janji kerja.
Nomor Pak Harto tersimpan tanpa nama cantik — hanya inisial. Dua nada. Suara lansia, hati-hati.
'Nona Anisa?'
'Pak Harto. Saya Anisa. Maaf mengganggu. Saya masih butuh bantuan Bapak — pernyataan tertulis atau rekaman. Bukan untuk viral. Untuk orang yang belum mau mendengar.'
Diam sebentar. 'Orang itu suamimu?'
'Saya tidak minta Bapak ikut urusan rumah tangga,' kata Anisa pelan. 'Saya minta Bapak mengulang apa yang Bapak lihat malam itu. Saya tidak mabuk. Saya tidak menabrak. Saya berhenti karena ada benturan. Bapak bilang Bapak melihat.'
'Aku melihat,' kata Pak Harto, teguh meski pelan. 'Mobilmu bukan yang ngebut gila. Yang ngebut — lain. Lalu orang-orang datang. Lalu berita bilang kau. Aku tua, tapi mata malam itu tidak tua.'
Anisa menelan. 'Boleh saya datang besok dengan alat rekam sederhana? Atau Bapak tulis di kertas bermaterai — saya bantu urus. Saya bayar transport Bapak kalau perlu. Saya tidak kaya seperti dulu, tapi saya punya sisa.'
'Datang,' kata Pak Harto. 'Siang. Jangan malam. Rumahku sepi. Ada yang telepon kemarin tanya “masih ingat kecelakaan” dengan suara tidak ramah. Aku bilang lupa. Aku tidak lupa. Aku takut.'
Anisa kaku di kursi plastik. 'Siapa?'
'Tidak bilang nama. Bilang aku sebaiknya tenang. Aku tenang di mulut. Di kepala tidak.' Pak Harto napas. 'Kau datang siang. Bawa orang yang tidak mengintimidasi aku. Kalau bawa suami yang mata dingin itu — jangan. Aku pernah lihat fotonya di koran.'
'Saya datang sendiri atau dengan teman guru,' kata Anisa. 'Bukan dengan dia. Terima kasih, Pak.'
Setelah tutup, Anisa duduk lama. Ancaman ke saksi berarti ada pihak yang takut. Bukan hanya Damar — Damar menahan dan menguji; pihak ini menghapus. Ia catat di HP lalu kunci. Kembali ke mansion tepat waktu. Satpam angguk. Di dalam, Damar belum pulang; Naufal telepon singkat ke Anisa pertama kali.
'Lo keluar ke kopi. Balik. Baik,' kata Naufal. 'Ada yang perlu saya tahu supaya saya tidak bodoh?'
Anisa ragu. Lalu: 'Saksi saya dapat telepon tidak ramah. Saya akan ketemu dia siang. Saya tidak sebut lokasi di telepon rumah. Kalau Pak Damar tanya — bilang saya urus bukti. Jangan “amankan” saksi dengan cara menghilangkannya.'
Naufal diam dua detik. 'Saya catat. Saya tidak hilangkan. Kalau perlu pengamanan diam-diam tanpa kabur ke media — itu beda. Lo tolak?'
'Saya tolak kabur ke media. Saya tidak tolak orang tua itu selamat,' kata Anisa. 'Tapi izin dan cara harus jelas. Jangan tipu saya.'
'Malam saya laporkan ke bos: saksi diganggu. Lo siap digertak dia?' tanya Naufal.
'Saya siap,' kata Anisa.
Malam Damar masuk ruang tamu saat Anisa menaruh tas. 'Kau ke mana?'
'Kopi. Sudah dilaporkan. Saya telepon saksi,' kata Anisa tanpa berdandan bohong. 'Dia masih mau bersaksi. Ada yang mengancamnya supaya “lupa”. Saya ketemu dia besok siang. Saya tidak bawa Anda. Dia takut mata Anda di koran.'
Damar berdiri kaku. 'Siapa yang ancam?'
'Tidak bilang nama. Suara tidak ramah.' Anisa menatapnya. 'Kalau itu orang Anda — bilang sekarang.'
'Bukan,' kata Damar cepat, terlalu cepat untuk orang yang biasanya hemat kata. 'Aku belum perintah siapa pun menghapus saksi. Aku… pantau kau. Bukan dia.'
'Kalau begitu ada pihak ketiga,' kata Anisa. 'Itu seharusnya membuat Anda ingin mendengar, bukan makin mengunci saya.'
Damar mengusap wajah. 'Aku ikut.'
'Tidak. Dia bilang jangan,' kata Anisa. 'Naufal boleh tahu. Anda pantau saya dari jauh kalau perlu — jangan masuk rumah orang tua itu dengan wajah vonis. Hafal?'
Damar lama. 'Hafal. Naufal — siapkan opsi pengamanan tanpa menculik. Kalau kau tipu lokasi…'
'Saya tipu dendam, bukan tipu lokasi demi kabur,' potong Anisa. 'Saya tinggal. Saya bawa bukti. Surat di meja masih ada. Cincin di jari. Jangan ubah ini jadi cage karena takut pihak ketiga.'
Damar angguk sekali, keras. Di ruang kerja ia panggil Naufal. 'Saksi diganggu. Gali siapa. Jangan sentuh Anisa. Jangan sita HP-nya malam ini — dia sedang jadi umpan kebenaran dan aku benci itu.'
'Benci itu bagus,' kata Naufal di telepon. 'Berarti lo belum sepenuhnya algojo. Saya kerja.'
Anisa di kamar menulis: *Pak Harto siang. ancaman ada. Damar bilang bukan dia. percaya 40%. tetap tinggal.* Ia tidur di sisi jauh. Damar di sisi lain, mata ke langit-langit, sticky baru: *pihak ketiga. Rudi. lab. jangan cage. jangan bodoh.*
Sebelum tidur Anisa cek ulang tas: HP penuh baterai, power bank, buku catatan, uang tunai kecil. Bukan kabur — siap rekam. Ia kirim pesan singkat ke nomor yang hanya ia hafal sebagian: Salsa, teman guru, belum dikabari lengkap. `Besok siang butuh teman. Bukan mall. Balas pagi.` Lalu kunci HP.
Damar di ruang kerja membuka folder digital kecelakaan yang dulu ia anggap cukup untuk menghukum dunia. Ia scroll nama Anisa berulang seperti mantra dendam. Malam ini mantra retak: ada pihak lain yang takut saksi berbicara. Orang bersih jarang punya musuh yang menelpon lansia di malam hari. Orang kotor punya. Atau orang yang dijadikan kotor punya. Damar membenci opsi ketiga karena itu menuntut ia meninjau dosanya sendiri.
Naufal chat: *Saya pasang telinga di sekitar alamat Harto tanpa masuk rumah. Bukan culik. Lo approve?* Damar: *Approve. Jangan ketahuan Anisa sebagai preman saya. Kalau ketahuan, bilang pengamanan saksi.* Naufal: *Honest branding. Rare. Noted.*
Anisa mendengar Damar kembali ke ranjang larut. 'Anda tidak tidur,' katanya ke gelap.
'Aku menghitung kemungkinan aku salah,' jawab Damar. 'Itu lebih buruk daripada insomnia biasa.'
'Salah sasaran lebih buruk daripada insomnia,' kata Anisa. 'Tidur. Besok saya bawa suara orang tua yang tidak mau lupa. Anda boleh bilang “bisa dilatih”. Saya tetap merekam.'
Damar tidak menjawab. Napasnya lama tidak rata. Di antara mereka jarak bantal cukup untuk perang, cukup untuk keraguan, belum cukup untuk percaya.