Naufal bukan orang yang suka masuk urusan ranjang bos. Ia masuk urusan angka, jadwal, dan api yang bisa membakar saham. Pagi itu di lantai tiga puluh ia meletakkan dua map di meja Damar: satu biru (operasional), satu abu-abu tanpa label.
'Dua map,' kata Naufal. 'Biru: rapat. Abu-abu: istri lo. Lo bilang pantau. Pantau butuh mata. Saya bukan CCTV rumah — saya baca ulang berkas kecelakaan yang lo pakai waktu menghancurkan hidup dia. Kalau lo bilang jangan — saya berhenti. Tapi lo kelihatan seperti orang yang takut salah sasaran dan tidak mau mengaku.'
Damar menatap map abu-abu seperti benda menyala. 'Siapa suruh?'
'Lo. Semalam. “Pantau. Jangan sita.” Pantau tanpa baca = pura-pura.' Naufal duduk tanpa izin. 'Saya sudah skim. Ada yang janggal. Belum kesimpulan. Mau dengar atau mau pukul meja?'
'Dengar. Singkat,' kata Damar.
'Laporan toksisitas Anisa terlalu rapi untuk malam kacau di tol,' kata Naufal. 'Jam di berita dan jam di berita polisi selisih tipis yang orang biasa tidak peduli — orang yang biasa bohong peduli. CCTV: saya belum dapat segmen penuh. Nama lab: bukan lab rumah sakit yang biasa dipakai kepolisian di kasus itu. Itu saja dulu. Saya tidak bela istri lo. Saya bela lo supaya tidak bunuh orang salah dua kali — sekali dengan dendam, sekali dengan malu.'
Damar berdiri, ke jendela. Kota di bawah tidak menjawab. 'Dita mati. Anisa hidup. Itu yang aku pegang.'
'Itu fakta kasar,' kata Naufal. 'Fakta kasar bukan vonis. Lo nikahi dia sebagai hukuman. Hukuman butuh terdakwa yang benar. Kalau salah — lo bukan hakim. Lo penjahat berkemeja.'
'Hati-hati,' kata Damar pelan.
'Saya hati-hati setiap hari,' balas Naufal. 'Makanya saya masih di sini. Instruksi hari ini: pantau Anisa — keluar masuk, kontak. Jangan sita HP. Jangan intimidasi saksi kalau dia punya. Kalau lo mau saya jadi algojo, bilang sekarang supaya saya resign lebih cepat.'
Damar lama diam. 'Pantau. Laporkan. Jangan bela dia di depan saya dengan kata “penjahat”. Saya belum selesai.'
'Belum selesai = masih ada ruang,' kata Naufal, berdiri. 'Bagus abu-abu saya bawa pulang salinan. Asli di brankas legal lama — saya cek siapa yang “rapi”-kan. Nama yang sering muncul di footer: Rudi. Inspektur. Mau saya gali?'
'Dalam diam,' kata Damar. 'Kalau Ibu tanya, jangan sebut Anisa.'
'Ibu lo akan tanya sendiri,' gumam Naufal. 'Saya siapin obat kepala.'
Siang Naufal ke mansion “mengantar dokumen”. Alasan resmi. Anisa di ruang tamu dengan buku; ia mengangkat wajah, waspada.
'Nyonya,' sapa Naufal netral. 'Saya Naufal. Asisten Pak Damar. Instruksi: Anda boleh keluar dengan laporan tujuan ke saya atau ke satpam yang sudah diganti SOP. Bukan digiring. Bukan dikunci. Kalau ada yang melanggar SOP itu — telepon saya, bukan dramaturgi ke media.'
Anisa menatapnya lama. 'Anda di pihak siapa?'
'Saya di pihak agar bos saya tidak bodoh,' kata Naufal jujur. 'Itu kadang menolong Anda. Kadang tidak. Jangan anggap saya teman. Anggap saya rem.'
'Rem saya terima,' kata Anisa. 'Saksi saya jangan disentuh. Kalau Anda “amankan” dia dengan cara menghilangkannya — saya anggap perang.'
Naufal angguk. 'Catat. Saya tidak hilangkan saksi tanpa perintah tertulis — dan saya akan tolak perintah bodoh. Itu janji kerja, bukan janji hati.'
Sore Damar panggil Naufal lagi. 'Dia keluar?'
'Belum. Dia menulis. Saya tidak baca isi tanpa alasan,' kata Naufal. 'Lo mau kamera di rumah? Saya sarankan tidak. Kamera = lo takut benar.'
'Ditolak,' kata Damar cepat. 'Pantau cukup. Baca berkas. Laporkan janggal. Jangan bilang ke Anisa soal lab.'
'Malam Naufal kirim satu baris ke chat terenkripsi Damar: *Footer Rudi + lab swasta. Besok saya tarik. Jangan mabuk dendam di rapat.* Damar membalas: *Fokus.* Di rumah, Anisa melihat Damar pulang dengan wajah lebih keras dari kemarin — bukan karena Anisa masak (ia tidak masak untuknya), tapi karena map abu-abu mulai hidup. Mereka berpapasan di tangga.
'Masih tinggal?' tanya Damar.
'Masih,' kata Anisa. 'Naufal sudah memperkenalkan diri. Rem, katanya. Saya tidak tipu rem.'
'Dia bukan pahlawanmu,' kata Damar.
'Saya tidak butuh pahlawan. Saya butuh ruang bukti.' Anisa lewat. Di ranjang jarak sama. Sticky Damar di kepala: *Naufal gali. jangan sita. jangan kamera. jangan bodoh.* Sticky Anisa: *rem = Naufal. saksi jangan hilang. surat masih di meja. tinggal.*
Sebelum tengah malam Naufal kirim lagi: *Rudi pernah terima “konsultasi” dari holding yang sering kerja sama Om seseorang. Belum nama lengkap. Jangan ledak di board.* Damar membalas satu kata: *Gali.* Lalu menatap gelap kamar. Anisa bernapas teratur di sisi jauh — atau pura-pura. Ia hampir bilang *aku dengar Naufal sebut lab* — ditahan. Informasi adalah senjata; senjata belum saatnya ditembakkan ke istri yang mungkin bersih atau mungkin pembohong ulung.
Anisa, mata terpejam, mendengar getar ponsel Damar. Ia tidak curi lihat. Ia tulis di kepala: *besok telepon saksi dari luar rumah. mansion berdinding telinga.* Ia ingat wajah murid-murid dulu yang percaya guru tidak bohong. Dunia luar lebih kejam dari kelas tiga SD. Tetap: ia tidak akan mengaku dosa yang tidak ia lakukan hanya supaya suami tidur nyenyak.
Pagi berikutnya Naufal di lobby dengan dua kopi. 'Satu untuk lo. Satu saya buang kalau lo bilang tidak butuh manusia.' Damar ambil. 'Laporan Anisa?' Naufal: 'Tidur. Tidak kabur. Saya ke lab nama di footer — diam. Lo ke rapat — jangan sebut istri. Board lapar gosip.' Damar: 'Fokus.' Di mobil ia ulang sticky: *pantau. gali. jangan bodoh. jangan suami tipu. jangan hakim buta.*