Suasana di ruang makan utama mansion Alister malam itu terasa begitu mencekam, meski puluhan lilin kristal menyala dengan terang dan aroma hidangan kelas dunia memenuhi udara yang dingin. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamar ganti, menatap gaun hitam backless yang melekat sempurna di tubuhnya. Gaun itu sangat elegan, membalut lekuk tubuhnya dengan sopan namun menggoda, namun Arini merasa seolah-olah ia sedang mengenakan baju zirah sebelum menuju medan perang yang mematikan.
"Berhenti meremas tanganmu, Arini. Kau akan merusak riasan kuku yang sudah dikerjakan Bi Lastri selama dua jam penuh," suara Devan terdengar dingin dari balik punggungnya.
Arini menoleh perlahan. Devan tampak sangat tampan, hampir tidak nyata, dengan tuksedo hitam pekat yang dijahit khusus untuk tubuh atletisnya. Namun, seperti biasa, matanya tetap sedingin es, tanpa ada binar kehangatan meski mereka akan tampil sebagai pasangan pengantin baru.
"Aku takut, Devan. Dadaku sesak. Bagaimana jika aku salah bicara? Bagaimana jika mereka tahu aku hanya staf administratif yang kau sewa dari jalanan?" bisik Arini dengan suara bergetar.
Devan melangkah mendekat, langkah sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer. Ia berdiri tepat di belakang Arini, menatap pantulan wanita itu di cermin. Ia meletakkan tangannya di bahu Arini yang terbuka, sentuhannya terasa hangat namun penuh dengan peringatan yang tidak terucapkan.
"Mereka bukan hanya akan mencari kesalahan bicaramu, Arini. Mereka akan mencoba membedah masa lalumu sampai ke akar-akarnya. Sepupu-sepupuku, terutama Evan dan Shila, adalah predator yang lapar akan kekuasaan. Mereka membenciku karena aku memegang kendali perusahaan, dan mereka akan membencimu karena kau adalah variabel yang tidak bisa mereka prediksi. Ingat: kau adalah wanita mandiri, cerdas, dan penuh rahasia yang aku temui di gala amal setahun lalu. Jangan pernah tunjukkan setitik pun kelemahan, atau mereka akan menghancurkanmu dalam sekali gigit."
Arini menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa mengecil. Ia mengangguk pelan, mencoba menegakkan punggungnya. Devan kemudian mengulurkan lengannya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Arini melingkarkan lengannya di sana. Mereka berjalan keluar kamar, menyusuri lorong sunyi yang dipenuhi patung-patung marmer kuno yang seolah-olah mengawasi setiap langkah dusta mereka.
Begitu mereka memasuki ruang makan besar, percakapan ringan yang tadinya terdengar tiba-tiba terhenti seketika. Kesunyian itu begitu tajam hingga Arini bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Di sana, sudah duduk Abraham Alister di kursi utama, didampingi oleh dua pria dan dua wanita yang tampak sangat glamor namun memiliki tatapan yang sekeras baja.
"Ah, ini dia pengantin baru kita yang sangat misterius," suara seorang pria dengan rambut klimis yang disisir ke belakang—Evan—memecah keheningan. Senyumnya tampak ramah, namun matanya yang kecil terus mengamati Arini dengan tatapan menyelidik yang tidak nyaman.
Devan menarik kursi untuk Arini dengan sangat sopan, sebuah gerakan sandiwara yang sudah mereka latih berkali-kali. "Maaf membuat kalian menunggu. Istriku butuh waktu sedikit lebih lama untuk memastikan semuanya sempurna."
"Tentu saja. Menjadi seorang Alister memang membutuhkan usaha ekstra yang melelahkan, bukan?" sahut Shila, wanita bergaun merah darah yang duduk tepat di seberang Arini. Ia menyesap wine-nya sambil menatap Arini dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Jadi, Arini... Devan bilang kau adalah seorang konsultan independen yang sangat sibuk? Aneh sekali, aku sudah bertanya pada semua kolegaku di lingkaran bisnis elit, tapi tidak ada satu pun yang pernah mendengar namamu. Kau seperti muncul begitu saja dari lubang kelinci."
Arini merasakan tangannya mendingin di bawah meja. Ia teringat latihan keras dari Bi Lastri tadi siang. Ia harus tetap tenang. Ia tidak boleh membiarkan Shila menang di babak pertama.
"Itu karena saya lebih banyak menangani klien privat dari luar negeri yang sangat menghargai diskresi, Shila," jawab Arini, suaranya terdengar jauh lebih stabil dan berwibawa dari yang ia bayangkan sebelumnya. "Devan adalah salah satu orang yang sangat menghargai privasi dan hasil kerja yang nyata, bukan sekadar reputasi di atas kertas. Mungkin itu sebabnya kami bisa berhubungan begitu lama tanpa terendus oleh media yang haus berita."
Evan tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan penuh keraguan. "Sangat rapi. Jawaban yang sangat terlatih. Tapi biasanya, wanita yang dinikahi Devan secara mendadak dan sembunyi-sembunyi seperti ini adalah wanita yang 'bermasalah' atau... wanita yang sangat ambisius mengejar harta. Yang mana tipemu, Arini? Apakah kau seorang penyelamat, atau hanya pemburu harta yang beruntung?"
Ketegangan di meja makan meningkat drastis hingga ke titik didih. Arini melirik Abraham yang hanya diam membisu sambil terus menyantap hidangannya, seolah sedang menikmati pertunjukan singa-singa muda yang mencoba mengoyak mangsa barunya.
"Tipe saya?" Arini tersenyum tipis, sebuah senyum dingin yang tanpa sadar ia tiru dari Devan. "Saya adalah tipe wanita yang tahu persis apa yang saya inginkan, dan tahu bagaimana cara menjaga apa yang sudah menjadi milik saya. Sama seperti Devan. Kami saling melengkapi dalam hal itu."
Devan meletakkan tangannya di atas tangan Arini di atas meja, menggenggamnya dengan erat di depan mata semua orang. "Sudahlah, Evan. Berhenti menginterogasi istriku seolah kau sedang melakukan audit pajak. Kita di sini untuk makan malam keluarga, bukan untuk sidang dewan direksi."
Makan malam pun berlanjut dengan percakapan yang penuh dengan ranjau darat dan sindiran halus. Setiap kata yang keluar dari mulut Evan dan Shila adalah jebakan yang dirancang untuk menjatuhkan Arini. Mereka bertanya tentang gelar pendidikannya di luar negeri, hobinya yang mewah, hingga pendapatnya tentang fluktuasi saham perusahaan Alister. Beruntung, Devan telah memaksa Arini menghafal berkas tebal semalam sebelumnya.
Namun, bom yang sebenarnya meledak ketika hidangan penutup disajikan. Shila tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas. "Oh, aku hampir lupa menunjukkan ini. Aku menemukan foto yang sangat menarik secara tidak sengaja. Ada seorang gadis yang sangat mirip denganmu, Arini, sedang menangis histeris di depan loket administrasi rumah sakit kelas tiga minggu lalu. Bukankah itu sangat kontradiktif? Seorang 'konsultan internasional sukses' menangis seperti orang kehilangan arah karena tagihan rumah sakit yang tidak seberapa?"
Jantung Arini seolah berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya terasa tersedot keluar dari wajahnya. Ia menatap foto di layar ponsel Shila—itu memang dirinya, saat ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, berlutut memohon agar operasi ibunya tidak dibatalkan.
Seluruh meja makan menjadi sangat sunyi. Abraham Alister meletakkan garpunya dengan denting yang keras, menatap Arini dengan mata yang menyipit tajam. Devan di sampingnya tetap diam, namun Arini bisa merasakan otot lengan Devan mengeras seperti batu.
"Apa itu benar, Arini? Apakah itu kau?" suara Abraham terdengar berat dan sangat mengancam.
Arini mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu membantunya untuk tidak pingsan karena malu. Ia teringat ibunya yang kini sudah berada di paviliun mewah berkat Devan. Ia tidak boleh hancur sekarang. Jika ia hancur, ibunya akan kembali ke lorong rumah sakit yang dingin itu.
"Benar," jawab Arini dengan suara lantang yang mengejutkan semua orang, termasuk Devan. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Shila dengan keberanian yang muncul dari rasa benci yang murni. "Itu memang saya."
Shila tersenyum penuh kemenangan, melirik ke arah kakeknya. "Jadi kau mengakuinya? Kau hanyalah wanita dari kalangan bawah yang menjual diri demi—"
"Saya menangis bukan karena saya tidak punya uang, Shila," potong Arini dengan tajam, suaranya kini bergetar karena amarah yang meluap. "Saya menangis karena saat itu ibu saya sedang kritis, dan prosedur administrasi rumah sakit sangat berbelit-belit meskipun dana sudah siap di tangan saya. Apakah di keluarga Alister yang terhormat ini, menunjukkan rasa cinta dan kesedihan kepada orang tua yang sedang sekarat dianggap sebagai sebuah kejahatan? Ataukah kalian sudah begitu kaya hingga nurani kalian mati dan lupa rasanya menjadi manusia yang memiliki perasaan?"
Skakmat. Seluruh ruangan itu seperti membeku. Shila tertegun, wajahnya memerah padam karena malu dan tidak menyangka akan mendapat serangan balik yang begitu telak di depan Abraham. Devan memberikan tatapan yang sangat tajam dan dingin pada sepupunya itu.
"Cukup!" suara Abraham menggelegar, membuat piring-piring di meja bergetar. "Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini lagi di meja makanku. Shila, simpan ponselmu dan belajar untuk memiliki martabat. Dan Arini... kau punya nyali yang besar untuk berbicara seperti itu di rumah ini. Aku akan melihat apakah nyalimu itu benar-benar berguna atau hanya sekadar omongan kosong."
Makan malam berakhir dengan suasana yang sangat kaku dan tidak nyaman. Begitu mereka berhasil kembali ke dalam kamar mereka yang luas, Arini langsung ambruk di depan pintu yang tertutup. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Sandiwara ini jauh lebih melelahkan secara mental daripada bekerja lembur sebulan penuh di kantor lamanya.
Devan mendekatinya, berjongkok di depan Arini. Kali ini, ia tidak membantu Arini berdiri, tapi ia menatapnya dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari biasanya—ada sedikit kilatan kekaguman yang tersembunyi. "Kau melakukan hal yang sangat berbahaya tadi, Arini. Menantang Shila dan menyindir moralitas keluarga ini di depan Kakek bisa membuatmu menjadi target utama mereka selamanya."
"Lalu aku harus bagaimana? Diam saja dan membiarkan mereka meludah di wajahku?" Arini mendongak, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. "Aku muak dengan semua ini, Devan! Aku muak harus berpura-pura menjadi wanita sombong agar bisa diterima di rumah hantu ini! Aku hanya ingin ibuku sembuh!"
Devan terdiam cukup lama, hanya menatap Arini yang menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangannya dan menghapus air mata di pipi Arini dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat. Sentuhannya kali ini tidak terasa seperti paksaan dalam kontrak.
"Di dalam gedung ini, hanya ada dua pilihan, Arini: kau menjadi penindas yang kejam, atau kau menjadi korban yang tertindas hingga hancur. Tidak ada jalan tengah. Aku hanya ingin kau selamat sampai kontrak ini selesai," bisik Devan dengan suara yang sangat rendah.
Untuk sesaat, dunia di luar kamar itu seolah menghilang. Jarak di antara mereka sangat dekat, Arini bisa merasakan panas tubuh Devan dan mencium aroma alkohol tipis dari napasnya. Mereka adalah dua jiwa yang sama-sama terperangkap dalam sangkar yang berbeda, dipaksa memakai topeng setiap hari demi bertahan hidup.
"Terima kasih... karena tidak membiarkan mereka menyeretku keluar tadi," bisik Arini lirih.
Devan menarik tangannya kembali dengan cepat, seolah-olah ia baru saja menyentuh api. Wajahnya kembali mendingin dalam sekejap. "Jangan pernah berterima kasih padaku. Aku melakukannya hanya agar kontrak ini tidak berantakan dan posisiku di perusahaan tetap aman. Sekarang pergilah mandi dan tidur. Besok pelatihanmu dengan Bi Lastri akan dimulai dua jam lebih awal karena kejadian tadi."
Saat Devan berjalan menuju balkon dan menyalakan rokoknya, Arini menatap punggung suaminya yang tegak namun tampak sangat kesepian. Ia menyadari satu hal yang menakutkan malam itu: musuhnya bukan hanya Shila atau Abraham, tapi hatinya sendiri yang mulai merasa bahwa Devan Alister mungkin bukan sekadar pria dingin yang menyewanya, melainkan seseorang yang juga butuh diselamatkan dari kegelapan yang sama.