Sisa ketegangan dari perjamuan malam bersama keluarga Alister masih terasa seperti lapisan debu yang menyesakkan di paru-paru Arini. Meskipun Devan sudah menyuruhnya untuk segera beristirahat, mata Arini menolak untuk terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali melihat kilatan penghinaan di mata Shila dan tatapan mengintimidasi dari Kakek Abraham yang seolah bisa menembus kulitnya.
Arini bangkit dari ranjangnya yang terlalu luas, menyampirkan jubah tidur sutranya, dan melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Mansion itu terasa seperti labirin yang hidup di malam hari; sunyi, dingin, dan penuh dengan rahasia yang berbisik dari balik dinding-dinding marmernya yang kokoh. Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya menuju sayap kiri bangunan, tempat yang selama ini dilarang untuk ia masuki tanpa izin: wilayah pribadi Devan Alister.
Ia melihat seberkas cahaya tipis yang keluar dari celah pintu kayu mahoni yang tidak tertutup rapat. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, Arini mengintip ke dalam ruangan yang berbau maskulin—campuran aroma tembakau mahal, kayu cendana, dan sesuatu yang pahit.
Di sana, Devan tidak sedang mengerjakan laporan keuangan atau memeriksa pergerakan saham seperti yang biasa ia lakukan. Pria itu duduk di lantai, bersandarkan pada kaki meja jati besarnya yang dipenuhi tumpukan berkas. Di sampingnya, terdapat sebuah botol wiski yang hampir kosong. Di tangannya, ia memegang sebuah bingkai foto tua yang kacanya sudah sedikit retak di bagian sudut. Penampilan Devan sangat berantakan; kemejanya tidak terkancing di bagian atas, dan rambutnya yang biasa rapi kini tampak kacau, seolah ia baru saja bertarung dengan pikirannya sendiri.
"Masuklah, Arini. Aku tahu kau di sana sejak kau melewati lukisan kakek di lorong tadi," suara Devan terdengar serak, hampir seperti geraman rendah yang dipenuhi kelelahan.
Arini tersentak, namun ia tidak melarikan diri. Ia mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk dengan ragu. "Maaf, aku tidak bermaksud mengintip. Aku hanya tidak bisa tidur karena kepalaku terus memutar kejadian di meja makan tadi."
Devan tidak menoleh. Ia hanya menatap foto di tangannya dengan pandangan yang sangat hampa, seolah seluruh jiwanya tersedot masuk ke dalam gambar tersebut. "Duduklah. Di rumah ini, tidur adalah kemewahan yang jarang bisa kita nikmati tanpa mimpi buruk yang datang menyergap."
Arini duduk di kursi beludru di dekat Devan, jarak mereka cukup dekat sehingga ia bisa mencium aroma alkohol yang kuat. Ia memberanikan diri untuk melirik ke arah foto tersebut. Di sana, tampak seorang wanita cantik dengan senyum yang sangat lembut—jenis senyum yang tidak pernah Arini lihat pada siapa pun di keluarga Alister—sedang memeluk seorang anak laki-laki kecil yang tampak sangat bahagia. Anak itu adalah Devan, sebelum dunia merenggut binar matanya.
"Itu ibuku," bisik Devan tanpa diminta. "Satu-satunya orang di dunia ini yang pernah memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti mesin pencetak keuntungan atau bidak catur keluarga Alister."
"Dia sangat cantik," sahut Arini pelan, teringat pada ibunya sendiri yang kini sedang berjuang untuk hidup. "Ke mana dia sekarang, Devan? Kenapa dia tidak ada di mansion ini?"
Devan tertawa getir, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca yang menyakitkan di telinga Arini. "Dia pergi saat aku berumur sepuluh tahun. Bunuh diri tepat di ruangan ini. Kakek menyebut tindakannya sebagai 'kelemahan genetik' yang memalukan. Baginya, ibuku hanyalah penghambat yang terlalu emosional bagi ahli waris tunggal Alister. Sejak hari itu, aku dilarang menangis, dilarang merasa, dan dipaksa untuk menjadi monster yang sama seperti mereka."
Arini merasakan hatinya mencelos. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki Devan, terdapat luka menganga yang tidak pernah sembuh selama puluhan tahun. "Itu sebabnya kau selalu bersikap dingin seperti es? Karena kau tidak ingin dianggap lemah oleh kakekmu?"
Devan akhirnya menoleh, menatap Arini dengan mata yang memerah bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena luka yang selama ini ia kunci rapat. "Di rumah ini, Arini, emosi adalah racun yang mematikan. Jika kau menunjukkan bahwa kau peduli pada sesuatu atau seseorang, mereka akan menggunakan hal itu sebagai senjata untuk mengendalikanmu atau menghancurkanmu. Aku harus menjadi es agar aku tidak bisa lagi dipatahkan."
Tiba-tiba, Devan meletakkan foto itu dan bergerak mendekat ke arah Arini dengan gerakan yang cepat dan tidak terduga. Ia mencengkeram lengan kursi tempat Arini duduk, memerangkap wanita itu di antara tubuhnya. Bau alkohol kini terasa sangat pekat, membuat Arini sedikit pusing namun detak jantungnya menggila.
"Lalu bagaimana denganmu?" desis Devan, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Arini. "Kau masuk ke sini dengan membawa seluruh emosimu yang mentah. Kau menangis untuk ibumu, kau berani marah pada Shila demi harga dirimu... kau adalah ancaman terbesar bagiku, Arini."
"Kenapa aku ancaman?" tanya Arini dengan napas yang memburu, matanya terpaku pada bibir Devan.
"Karena kau membuatku teringat bagaimana rasanya menjadi manusia yang bisa merasakan detak jantungnya sendiri," jawab Devan lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan pengakuan dosa.
Wajah Devan perlahan semakin mendekat. Arini bisa merasakan panas yang memancar dari kulit pria itu, kontras dengan hawa dingin AC di ruangan tersebut. Untuk sesaat, semua kebencian, kontrak pernikahan yang kaku, dan perbedaan kasta di antara mereka seolah menghilang ditiup angin. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, Devan tiba-tiba menarik diri dengan kasar, seolah tersengat listrik.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin yang gelap gulita di bawah sinar bulan. "Pergilah, Arini. Jangan pernah datang ke ruangan ini lagi tanpa izinku. Jangan mencoba menggali lebih dalam ke dalam lukaku, atau kau akan ikut terseret ke dalam kegelapan yang akan mengubur kita berdua."
Arini berdiri, tubuhnya masih bergetar hebat karena sisa emosi yang baru saja meledak di antara mereka. Ia menyadari satu hal penting malam itu: Devan bukan hanya sekadar pria kaya yang sombong dan manipulatif. Devan adalah seorang pria yang sedang tenggelam dalam kesepian yang teramat dalam, dan secara tidak sadar, Arini mulai merasa ingin mengulurkan tangan untuk menariknya keluar dari sana.
"Aku tidak takut pada kegelapanmu, Devan. Karena aku tahu, di bawah lapisan es itu, masih ada anak laki-laki yang merindukan pelukan ibunya," ucap Arini dengan suara tegas dan penuh keberanian sebelum ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tegar.
Malam itu, saat Arini kembali ke kamar tidurnya yang megah, ia tahu bahwa permainan sandiwara mereka telah berubah secara permanen. Ini bukan lagi sekadar kontrak bisnis untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, dan mungkin lebih indah yang sedang tumbuh di antara mereka—sebuah rahasia yang bisa menghancurkan fondasi keluarga Alister atau justru menjadi satu-satunya jalan keselamatan bagi mereka berdua untuk bebas dari sangkar emas ini.