Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah awan kelabu turut merasakan beban yang menggelayuti hati Arini. Di dalam kamar apartemen yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempat persembunyiannya, sebuah koper besar berbahan kulit mahal sudah berdiri tegak di depan pintu. Koper itu berisi deretan pakaian bermerek yang dibelikan Devan—semuanya indah, semuanya berkelas, namun bagi Arini, pakaian-pakaian itu tak lebih dari seragam narapidana di penjara yang sangat mewah.
Arini berdiri di tengah ruangan, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan terusan berwarna biru tua yang simpel namun elegan. Ia mencoba mencari jejak "Arini yang lama" dalam pantulan itu—gadis yang hanya memikirkan cara membayar tunggakan listrik atau mencari diskon makanan di supermarket—namun sosok itu seolah mulai memudar, digantikan oleh wanita asing yang terperangkap dalam kemewahan yang menyesakkan. Ia menyentuh lehernya yang polos, teringat kalung perak murah hadiah ulang tahun dari ibunya yang kini ia simpan rapat di dasar tas, karena ia tahu perhiasan murahan itu tidak akan pernah diizinkan bersinar di bawah lampu kristal keluarga Alister.
"Sudah selesai bernostalgia? Kita tidak punya waktu untuk meratapi dinding apartemen ini," suara bariton yang dingin memecah keheningan.
Devan Alister berdiri di ambang pintu, tampak sangat sempurna dengan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan celana hitam formal. Tangannya sebelah masuk ke saku celana, sementara matanya menatap Arini dengan tatapan menilai yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka bertemu.
"Aku hanya tidak menyangka semuanya akan berjalan secepat ini, Devan," bisik Arini. "Pindah ke mansion utama... itu terasa seperti menyerahkan leherku ke sarang singa."
"Di duniaku, kecepatan adalah segalanya. Jika kau lambat sedikit saja, kau akan tergilas oleh ambisi orang lain. Dan jangan sebut itu sarang singa. Itu adalah rumah kakekku, tempat di mana kau akan belajar menjadi seorang Alister yang sesungguhnya," jawab Devan pendek. Ia memberi isyarat kepada dua orang pelayan pria yang segera masuk untuk mengambil koper Arini tanpa suara, seolah-olah mereka adalah bayangan yang tidak memiliki hak untuk bernapas terlalu keras.
Perjalanan menuju kediaman utama keluarga Alister di kawasan elit Menteng terasa sangat panjang bagi Arini. Sepanjang jalan, ia hanya menatap keluar jendela Rolls-Royce yang kedap suara, melihat gedung-gedung pencakar langit yang perlahan berganti menjadi kawasan perumahan dengan pagar-pagar beton yang menjulang tinggi, seakan-akan penghuninya berusaha menyembunyikan dosa mereka dari dunia luar. Arini merasa seolah-olah oksigen di dalam mobil itu semakin menipis setiap kali mereka melewati gerbang-gerbang besar yang dijaga ketat.
Begitu mobil memasuki gerbang utama kediaman Alister yang terbuat dari besi tempa hitam dengan inisial "A" besar di tengahnya, Arini menahan napas. Mansion itu berdiri megah dengan gaya kolonial yang dipertahankan keasliannya. Pilar-pilar putih besar menopang atap yang tinggi, sementara taman labirin yang sangat luas mengelilingi bangunan utama. Ini bukan sekadar rumah; ini adalah simbol kekuasaan yang telah dibangun selama beberapa generasi di atas keringat dan mungkin air mata orang lain.
Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer. Begitu pintu dibuka, Arini disambut oleh barisan pelayan yang berdiri dengan posisi sempurna. Di tengah mereka, berdiri seorang wanita paruh baya berwajah kaku dengan rambut yang disanggul sangat rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya.
"Selamat datang, Tuan Muda Devan. Nyonya Muda," ucap wanita itu dengan suara datar dan intonasi yang sangat formal. "Saya adalah Bi Lastri, kepala pelayan di kediaman ini. Tuan Besar sudah menunggu di ruang perpustakaan pribadi. Beliau sangat menghargai ketepatan waktu."
Devan melingkarkan tangannya di pinggang Arini, sebuah gerakan yang terasa begitu protektif bagi orang luar, namun bagi Arini, itu adalah peringatan agar ia tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun. "Ayo. Tunjukkan pada mereka bahwa kau bisa menjadi istriku, meski itu hanya pura-pura," bisik Devan sangat rendah di dekat telinga Arini, aroma parfumnya yang mahal bercampur dengan udara dingin Menteng.
Mereka berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi dengan lantai granit yang berkilau. Di dinding-dindingnya tergantung lukisan minyak para leluhur keluarga Alister yang seolah-olah sedang menatap Arini dengan pandangan menghakimi dari balik bingkai emas. Saat memasuki perpustakaan, aroma kertas tua dan kayu mahoni menyapa mereka. Abraham Alister duduk di balik meja kerja raksasa, wajahnya tampak seperti patung yang tak tersentuh waktu.
"Duduklah," perintah Abraham tanpa sedikit pun keramahan. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Arini. "Arini, mulai hari ini hidupmu bukan lagi milikmu sepenuhnya. Kau adalah wajah dari keluarga ini. Bi Lastri akan mengurus pelatihannya. Kau harus belajar etika makan, cara berbicara, tata krama kelas atas, dan sejarah keluarga Alister. Aku tidak ingin ada celah sedikit pun saat media mulai mengintaimu. Seorang Alister tidak lahir dari kebetulan, tapi dari pembentukan yang keras."
Arini merasa darahnya mendidih. "Pelatihan? Tuan Besar, saya rasa saya sudah cukup dewasa untuk tahu cara bersopan santun."
Abraham sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan tekanan psikologis yang membuat Arini merasa seperti semut yang siap diinjak. "Sopan santun rakyat jelata tidak berlaku di sini. Di sini, kau makan dengan aturan, kau tersenyum dengan aturan, bahkan kau bernapas pun harus mengikuti protokoler. Jika kau gagal dalam satu minggu ini, maka kontrakmu dengan Devan akan dianggap batal. Dan kau tahu apa konsekuensinya bagi ibumu di rumah sakit, bukan? Dia akan kehilangan akses ke fasilitas medis terbaik kami detik itu juga."
Mendengar ancaman langsung itu, Arini terdiam. Ia mengepalkan tangannya di balik rok gaunnya hingga kuku-kukunya memutih. Ia melirik Devan, namun pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah pembicaraan tentang nyawa ibu Arini hanyalah bagian dari kontrak bisnis yang membosankan.
"Saya mengerti," jawab Arini akhirnya dengan suara bergetar yang ia usahakan tetap stabil.
Setelah pertemuan singkat yang mencekam itu, Bi Lastri segera membawa Arini ke sebuah kamar di sayap kanan mansion. Kamar itu sangat luas, didominasi warna emas dan putih, dengan tempat tidur king-size bertiang kelambu sutra. Namun bagi Arini, kemewahan itu terasa memuakkan. Ia tidak diberi waktu sedetik pun untuk istirahat. Bi Lastri segera memulai "pelatihan" pertamanya: etika makan formal.
"Punggung tegak, Nyonya Muda. Jangan menyentuh sandaran kursi. Letakkan serbet di pangkuan dengan satu gerakan halus yang tidak menimbulkan suara," suara Bi Lastri terdengar seperti cambuk yang tidak terlihat.
Selama berjam-jam, Arini dipaksa untuk mengulang cara menggunakan garpu salad, pisau daging, hingga sendok sup yang berbeda-beda. Ia harus belajar memotong daging tanpa mengeluarkan suara denting pada piring porselen mahal. Setiap kali ia melakukan kesalahan kecil, Bi Lastri menyuruhnya mengulang dari awal.
"Nyonya Muda, perhatikan siku Anda. Jangan terlalu lebar. Dan ingat, jangan pernah menundukkan kepala untuk menjemput makanan. Makananlah yang harus menuju ke mulut Anda," tegur Bi Lastri dengan nada yang sangat menjengkelkan.
Arini merasa lelah luar biasa. Keringat dingin mengucur di punggungnya. Ia teringat kembali pada masa-masa di mana ia dan ibunya makan nasi bungkus dengan duduk lesehan di lantai kontrakan yang bocor. Saat itu, makanan terasa sangat nikmat meski hanya dengan lauk tempe. Di sini, di tengah piring-piring berlapis emas, makanan itu justru terasa sepahit racun.
Saat air mata mulai menggenang di sudut matanya karena rasa frustrasi yang memuncak, pintu kamar terbuka. Devan masuk, melepaskan dasinya dan tampak sedikit terkejut melihat Arini yang pucat dan gemetar.
"Cukup untuk hari ini, Bi Lastri. Biarkan dia istirahat," ucap Devan dengan nada perintah yang mutlak.
Bi Lastri membungkuk hormat dan segera keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Arini langsung menjatuhkan sendok di tangannya dan menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya yang kemerahan.
"Ini gila, Devan! Aku bukan robot yang bisa kau ubah dalam semalam!" seru Arini dengan suara serak.
Devan berjalan mendekat, menatap Arini dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia duduk di pinggir meja, tepat di depan Arini. "Dunia ini tidak peduli kau robot atau manusia. Yang mereka pedulikan hanyalah kesempurnaan di permukaan. Jika kau terlihat cacat sedikit saja, musuh-musuh bisnisku akan menggunakanmu sebagai celah untuk menghancurkanku."
"Aku melakukan ini untuk ibuku, tapi bukan berarti kau bisa memperlakukanku seperti binatang sirkus yang dipaksa menari!" Arini berdiri, menantang mata Devan. "Kau bilang kau menyelamatkanku, tapi rasanya kau hanya memindahkanku dari satu neraka ke neraka yang lebih mahal!"
Tiba-tiba, Devan bangkit dan mencengkeram kedua bahu Arini dengan kuat. Jarak mereka begitu dekat hingga Arini bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang bercampur dengan aroma ketegangan. Mata Devan yang biasanya sedingin es kini tampak menyala dengan emosi yang tertahan.
"Kau pikir aku suka berada di rumah ini?" desis Devan dengan nada rendah yang menakutkan. "Kau pikir aku menikmati setiap detik harus melaporkan setiap gerak-gerikku pada kakekku? Aku sudah menjalani 'pelatihan' ini sejak aku berumur lima tahun, Arini! Aku tidak punya masa kecil, tidak punya teman, dan tidak punya pilihan hidup! Jadi jangan berani-berani menganggap kau satu-satunya orang yang menderita di sini!"
Cengkeraman Devan di bahunya terasa kuat namun bergetar. Arini terdiam, ia melihat ada luka yang sangat dalam dan gelap di balik topeng es pria itu. Untuk sejenak, ia tidak melihat Devan Alister sang penguasa bisnis, melainkan seorang anak kecil yang jiwanya telah dibunuh secara perlahan oleh nama besar keluarga Alister.
Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain—sebuah gaya tarik-menarik yang berbahaya. Arini bisa merasakan panas tubuh Devan yang menjalar ke bahunya. Detak jantungnya berdegup sangat kencang, bukan lagi karena marah, melainkan karena ada percikan aneh yang mulai merayap di dadanya. Keheningan di ruangan itu terasa begitu berat, hanya ada suara napas mereka yang saling beradu di antara lampu kristal yang berkilau.
"Aku akan memastikan ibumu dipindahkan ke paviliun VVIP besok pagi," ucap Devan dengan suara yang tiba-tiba melunak, hampir menyerupai bisikan yang tulus. "Dia akan mendapatkan perawatan terbaik, perawat pribadi dua puluh empat jam, dan ketenangan yang dia butuhkan. Jadi, tolong... bertahanlah sedikit lagi demi dia."
Sentuhan Devan di bahu Arini perlahan mengendur, namun tangannya tetap di sana selama beberapa detik tambahan sebelum akhirnya ia menarik diri dengan kaku, seolah-olah ia baru saja menyadari bahwa ia telah menunjukkan sedikit kelemahannya.
"Mandilah. Pakai gaun hitam yang sudah disiapkan di ruang rias. Kita akan makan malam keluarga besar dalam satu jam. Dan kali ini, semua sepupuku akan hadir. Mereka jauh lebih kejam daripada Bi Lastri. Mereka akan mencoba mengulitimu dengan pertanyaan tentang masa lalumu. Pastikan kau tetap pada skenario kita: kita adalah pasangan yang saling mencintai lebih dari apa pun," ucap Devan sambil melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi.
Setelah Devan pergi, Arini jatuh terduduk di kursi. Ia menyentuh bahunya yang tadi dicengkeram Devan, masih merasakan sisa panas yang ditinggalkan tangan pria itu. Ia menatap ke jendela, melihat matahari yang mulai tenggelam di balik taman labirin, menyisakan langit berwarna merah darah yang menyeramkan.
Arini teringat klausul utama dalam kontrak hitam di atas putih itu. Dilarang melibatkan perasaan.
Ia tertawa getir dalam kesunyian kamar yang terlalu luas itu. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada pria yang begitu dingin, manipulatif, dan penuh rahasia? Tapi di sisi lain, bagaimana mungkin ia bisa benar-benar membenci pria yang ternyata juga sama-sama terperangkap dalam penjara yang sama dengannya? Malam pertamanya di mansion utama Alister baru saja dimulai, dan Arini tahu bahwa mulai detik ini, setiap kata, setiap tatapan, dan setiap sentuhan akan menjadi bagian dari permainan yang bisa menghancurkan hidupnya selamanya.