Jantung Arini berdegup kencang, suaranya seolah beradu dengan deru mesin Rolls-Royce yang meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang mulai dipadati lampu-lampu kota. Di sampingnya, Devan Alister duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Pria itu sibuk dengan ponselnya, cahaya layar menyinari garis rahangnya yang tegas dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Seolah-olah pernikahan kontrak ini tak lebih dari sekadar jadwal rapat rutin di agenda bisnisnya yang padat.
Arini meremas jemarinya sendiri yang terasa sedingin es. Pakaian mahal yang melekat di tubuhnya terasa seperti kulit asing yang tidak pas. Ia terus memikirkan ibunya di rumah sakit, berharap peralatan medis tercanggih yang dibayar oleh pria di sampingnya ini benar-benar sedang bekerja menyelamatkan nyawa satu-satunya keluarga yang ia miliki. Rasa bersalah karena membohongi dunia dengan pernikahan ini terus menghantui pikirannya.
"Hentikan," suara Devan memecah keheningan dengan tajam.
Arini tersentak, bahunya berjengit kecil. "Apa?"
"Gemetarmu. Kau meremas gaunmu sampai kusut. Kau tahu berapa harga kain itu?" Devan menoleh, matanya yang tajam menatap jemari Arini yang memutih karena cengkeraman kuat pada rok gaunnya. "Kakekku, Abraham Alister, bisa mencium bau ketakutan dari jarak satu kilometer. Jika kau masuk ke rumahnya dengan mentalitas korban seperti ini, kita berdua akan hancur sebelum hidangan pembuka disajikan. Kau bukan sedang melamar kerja, Arini. Kau adalah istriku. Mulailah bersikap seolah kau pantas berada di sini."
Arini menarik napas panjang, berusaha menenangkan badai di dalam dadanya. "Aku tidak pernah berada di situasi seperti ini, Devan. Aku hanya seorang gadis yang kemarin masih memikirkan bagaimana cara membayar biaya rawat inap ibu, dan sekarang aku harus berpura-pura menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Bagaimana mungkin aku tidak takut? Aku bukan aktor sepertimu."
Devan menyimpan ponselnya ke dalam saku jas. Ia condong ke arah Arini, membuat aroma woodland dan musk yang mahal kembali menguasai indra penciuman Arini. "Dengarkan aku baik-baik. Di depan Kakek, aku tidak menyewamu. Aku mencintaimu. Kita bertemu di sebuah gala amal setahun lalu, kau menarik perhatianku dengan kecerdasanmu, dan kita menjalin hubungan rahasia karena kau ingin privasimu terjaga. Hafalkan itu seolah itu adalah namamu sendiri."
Arini mengangguk pelan, bibirnya bergerak tanpa suara, menghafal skenario dusta tersebut. "Setahun lalu... gala amal... hubungan rahasia... aku mengerti."
Kediaman Utama Keluarga Alister
Mobil berhenti di depan sebuah gerbang hitam menjulang yang terbuka otomatis menuju bangunan kolonial megah. Ini bukan sekadar rumah; ini adalah pusat kekuatan keluarga Alister. Begitu pintu mobil dibuka oleh pelayan berseragam, Devan turun dan, secara mengejutkan, mengulurkan tangannya pada Arini dengan sikap yang sangat ksatria.
Arini menatap telapak tangan besar itu sejenak. Ia tahu ini adalah awal dari panggung sandiwaranya. Ia meletakkan tangannya di sana. Kulit Devan terasa hangat, namun sentuhannya terasa posesif dan kuat. Begitu kaki Arini menginjak lantai marmer teras, Devan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Arini, menariknya begitu rapat hingga Arini bisa merasakan panas tubuh pria itu melalui kain gaunnya yang tipis.
"Akting dimulai sekarang. Jangan permalukan aku," bisik Devan tepat di telinga Arini, hembusan napasnya membuat bulu kuduk Arini meremang.
Mereka melangkah masuk ke ruang makan utama yang diterangi lampu kristal raksasa. Di ujung meja kayu panjang yang berusia puluhan tahun, duduklah Abraham Alister. Pria tua itu menatap mereka dengan mata yang sangat mirip dengan mata Devan: dingin, tajam, dan mampu menembus pertahanan siapa pun.
"Jadi, ini wanita yang membuat pewarisku kehilangan akal sehatnya sampai menikah diam-diam?" suara Abraham menggelegar, berwibawa namun penuh selidik.
Devan tersenyum—sebuah senyum yang tampak begitu tulus dan penuh kasih, sesuatu yang sangat asing bagi Arini. "Namanya Arini, Kek. Dan aku tidak kehilangan akal sehat. Aku justru menemukannya saat bersamanya."
Arini merasa perutnya mulas mendengar kebohongan yang begitu lancar. Ia dipaksa duduk di samping Devan, berhadapan langsung dengan sang Kakek yang terus memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghakimi.
"Katakan padaku, Arini," Abraham memulai, nadanya mulai menginterogasi. "Apa yang membuatmu merasa layak bersanding dengan seorang Alister? Aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Seorang yatim yang hanya bekerja sebagai staf administratif dengan ibu yang penyakitan. Apa ini hanya caramu mencari donatur untuk biaya rumah sakit?"
Pertanyaan itu menghantam Arini seperti tamparan keras. Wajahnya memanas, rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. Ia melirik Devan, namun pria itu hanya diam, membiarkannya menghadapi ujian ini sendiri seolah ingin melihat sejauh mana ia bisa bertahan.
Arini mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia teringat wajah ibunya yang pucat di ICU, teringat semua penderitaan yang telah mereka lalui untuk bertahan hidup di kontrakan sempit. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Abraham dengan keberanian yang muncul dari rasa sakit.
"Saya tidak pernah merasa layak, Tuan Besar Alister," suara Arini terdengar stabil meski pelan. "Tapi kasih sayang tidak pernah memilih tempat untuk tumbuh. Jika Anda menganggap keberadaan saya di sini hanya untuk uang, Anda benar bahwa saya butuh bantuan untuk menyelamatkan ibu saya. Tapi jika Devan hanya ingin mencari wanita yang bisa dibeli, dia bisa memilih ribuan model di luar sana yang jauh lebih cantik dari saya. Namun, dia memilih saya. Mungkin Anda harus bertanya pada cucu Anda, apa yang dia lihat dari seorang 'debu' seperti saya."
Keheningan menyergap ruangan itu. Para pelayan bahkan menahan napas. Devan menatap Arini dengan kilat aneh di matanya—mungkin terkejut, atau mungkin bangga karena Arini tidak hancur di bawah tekanan Abraham yang terkenal kejam.
Tiba-tiba, Abraham tertawa kecil. Suara tawanya kering namun tajam. "Setidaknya kau punya tulang punggung, gadis kecil. Aku benci wanita yang hanya bisa menangis saat ditekan."
Makan malam pun dimulai dengan ketegangan yang sedikit mencair, namun Arini tahu ini baru permulaan. Di tengah makan malam, Devan terus melakukan kontak fisik yang membuat Arini kesulitan bernapas—mengelus punggung tangannya di atas meja, membisikkan kata-kata manis yang palsu, bahkan sesekali mengecup pelipisnya di depan Abraham.
"Kau melakukannya dengan baik," bisik Devan saat Abraham sedang berbicara dengan kepala pelayan.
"Aku membencimu karena membiarkanku dihina seperti tadi," balas Arini tanpa menoleh, suaranya hampir tak terdengar di balik denting sendok porselen.
"Itu bagian dari tes, Arini. Dan kau baru saja lulus level pertama," Devan kembali merapatkan duduknya, seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.
Namun, kejutan sebenarnya datang saat santap malam hampir usai. Abraham meletakkan serbetnya dan menatap mereka berdua dengan sangat serius. "Karena kalian sudah menikah secara hukum, aku tidak ingin menunggu lama. Aku ingin pengumuman resmi dilakukan di pesta ulang tahun perusahaan bulan depan. Dan satu lagi..."
Sang Kakek menjeda kalimatnya, memberikan tekanan yang luar biasa pada suasana ruangan.
"...aku ingin kalian tinggal di mansion utama ini bersamaku selama tiga bulan ke depan. Aku ingin memastikan cucu menantuku ini benar-benar dididik dengan cara Alister. Aku tidak ingin ada celah saat media mulai menggali siapa wanita ini."
Dunia Arini seolah runtuh. Tinggal di mansion utama berarti berada di bawah pengawasan Abraham Alister 24 jam sehari. Itu berarti sandiwara ini harus dilakukan tanpa henti, tanpa ada ruang untuk bernapas sebagai dirinya sendiri. Ia melirik Devan dengan tatapan memohon, berharap pria itu menolak, namun Devan justru mengangguk patuh dengan wajah tenang.
"Tentu, Kek. Kami akan pindah akhir pekan ini," jawab Devan tanpa keraguan.
Di balik meja, Devan menggenggam tangan Arini dengan sangat erat, seolah memberi peringatan bahwa jalan keluar sudah tertutup rapat. Arini menyadari satu hal pahit malam itu: ia tidak hanya terjebak dengan Devan sang pria dingin, ia kini terjebak di dalam labirin keluarga Alister yang jauh lebih gelap, penuh aturan, dan mematikan.
Saat mereka melangkah keluar menuju mobil setelah jamuan selesai, Arini melepaskan tangannya dari genggaman Devan dengan kasar. "Kau gila? Pindah ke sini? Kita tidak pernah membicarakan ini dalam kontrak awal kita!"
Devan menatapnya dengan pandangan yang kembali mendingin, tidak ada lagi jejak kehangatan palsu seperti saat di depan kakeknya tadi. "Kontrak itu menyebutkan kau harus melakukan apa pun untuk menjaga posisi pewarisku. Menolak keinginan Kakek adalah cara tercepat untuk kehilangan segalanya. Termasuk nyawa ibumu."
Arini terdiam, air mata kemarahan menggenang di matanya. Ia menyadari bahwa di mata Devan, ia hanyalah pion yang bisa dipindahkan ke mana saja sesuai kebutuhan papan catur bisnisnya. Malam itu, di bawah cahaya bulan yang pucat, Arini tahu bahwa ia baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya dalam hidupnya. Sangkar emasnya baru saja diperketat.