Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden sutra setinggi lima meter memaksa Arini membuka matanya dengan berat. Untuk sejenak, ia merasa linglung, mengira dirinya masih berada di kursi plastik keras koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam dan pengap. Namun, aroma kayu cendana yang mewah, maskulin, dan sangat dominan—aroma khas Devan Alister—segera menyapa indra penciumannya. Aroma itu seolah menjadi pengingat paksa yang menariknya kembali pada kenyataan yang menyesakkan.
Ia menoleh ke samping. Sofa panjang di sudut ruangan itu sudah kosong, hanya menyisakan sedikit tekanan pada bantal dan selimut yang terlipat dengan tingkat presisi yang sangat kaku. Devan sudah bangun. Pria itu benar-benar menepati ucapannya; ia menghabiskan malam di ruangan yang sama namun dalam jarak yang membentang sejauh langit dan bumi. Arini menyentuh sisi ranjang yang kosong, merasakan dinginnya seprai sutra yang terasa begitu halus di kulitnya, namun di saat yang sama terasa mengejek kesepiannya di tengah kemewahan ini.
Arini bangkit dengan tubuh yang terasa kaku dan pegal. Setiap sendinya seolah memprotes ketegangan yang ia rasakan sepanjang malam. Ia melangkah menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan taman labirin yang sangat luas di halaman belakang mansion. Air mata kembali menggenang di sudut matanya saat ia teringat kejadian beberapa jam lalu. Kemarin, ia hanya seorang gadis yang nyaris berlutut di depan bagian administrasi rumah sakit demi tagihan lima ratus juta rupiah. Pagi ini, ia adalah istri dari sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Alister. Perubahan status yang begitu instan ini tidak membuatnya merasa beruntung; ia justru merasa seperti barang pajangan yang baru saja dibeli dari sebuah pelelangan gelap.
Ia menatap pakaiannya yang masih kusut akibat dipakai selama berjam-jam di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi. Rasanya sangat kontras dengan kamar ini. Di sini, segala sesuatunya tampak sempurna, sementara hidupnya sedang hancur berkeping-keping. Arini merasa seperti debu yang tersesat di istana raja.
"Kenapa kau masih berdiri di sana dengan wajah menyedihkan itu?"
Suara bariton yang dingin itu mengejutkan Arini hingga ia berjengit. Devan muncul dari arah ruang ganti, sudah mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku. Jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya berkilau tertimpa cahaya pagi, mengingatkan Arini bahwa harga benda itu mungkin cukup untuk membiayai operasi ibunya berkali-kali lipat tanpa perlu mencicil.
"Aku... aku baru saja terbangun," bisik Arini lirih, tidak berani menatap langsung ke dalam mata elang pria di hadapannya.
Devan tidak menyahut. Ia melangkah menuju meja rias mewah yang terbuat dari kayu mahoni dan meletakkan sebuah map kulit hitam yang tampak sangat formal di sana. "Mandilah. Pelayan sudah menyiapkan pakaian di ruang ganti. Setelah itu, tanda tangani kontrak di atas meja. Aku tidak suka menunggu lama, dan aku sangat benci pengulangan."
Arini menatap map itu seolah-olah itu adalah surat vonis mati bagi kebebasannya. "Tuan Devan, apakah... apakah ibuku benar-benar sudah ditangani?"
Devan berhenti tepat di depan pintu, membelakangi Arini dengan sikap yang begitu angkuh. "Tim dokter terbaikku sudah melakukan observasi sejak subuh tadi. Operasi katup jantungnya sedang dipersiapkan. Aku sudah melunasi semuanya. Sekarang, berhentilah bertanya dan mulailah bersikap seperti wanita yang memiliki harga diri tinggi. Jangan mempermalukanku di depan pelayan."
Selama di kamar mandi yang luasnya hampir menyamai rumah kontrakannya dulu, Arini menangis tanpa suara di bawah kucuran shower. Air hangat yang membasuh tubuhnya tidak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Ia merasa telah menjual jiwanya pada seorang pria yang mungkin tidak memiliki hati. Namun, setiap kali ia ingin menyerah, bayangan wajah pucat ibunya yang berjuang untuk napas terakhir selalu menguatkan tekadnya. Lima ratus juta adalah harga untuk nyawa ibunya, dan ia telah membayarnya dengan dirinya sendiri.
Setelah selesai, ia melangkah ke ruang ganti dengan perasaan waswas. Di sana berderet gaun-gaun indah dari desainer ternama yang harganya tidak berani ia bayangkan dalam mimpi sekalipun. Ia memilih sebuah gaun sederhana berwarna soft beige yang meskipun simpel, tetap memancarkan keanggunan yang elegan. Saat ia duduk di depan meja rias, tangannya gemetar hebat saat membuka map kontrak tersebut.
Ia membaca setiap poinnya dengan teliti, meski setiap kata di sana terasa seperti sembilu yang menyayat:
Pihak Kedua wajib tinggal di kediaman Alister selama satu tahun penuh.
Pihak Kedua harus berperan sebagai istri yang setia dan penuh kasih di depan publik dan keluarga besar.
Pihak Kedua dilarang keras jatuh cinta atau melibatkan perasaan pribadi kepada Pihak Pertama.
"Dilarang jatuh cinta," gumam Arini dengan senyum getir. Ia mengambil pena mahal yang terletak di samping map itu. Dengan satu goresan tinta di atas materai, kebebasannya resmi berakhir. Arini belajar satu hal pagi ini: dalam pernikahan kontrak ini, jatuh cinta adalah kesalahan yang paling mematikan.
Ia turun ke ruang makan dengan langkah berat, dipandu oleh seorang pelayan yang menatapnya dengan pandangan dingin dan menilai. Di sana, Devan sudah menunggunya di ujung meja marmer panjang yang dipenuhi hidangan mewah dari berbagai negara. Suasana sarapan itu terasa sunyi, hanya ada denting sendok porselen yang memecah keheningan yang mencekam. Arini merasa sangat kecil.
"Mulai hari ini, jangan pernah panggil aku dengan sebutan 'Tuan' jika kita sedang berada di luar kamar ini," ucap Devan tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari iPad di tangannya.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Arini ragu, suaranya hampir hilang tertelan suasana sunyi.
"Devan. Panggil namaku seolah kita adalah pasangan yang sudah lama saling mengenal dan berbagi cinta," Devan akhirnya meletakkan iPad-nya dan menatap Arini tajam, seolah sedang menembus pikiran gadis itu. "Sore ini kita akan ke rumah sakit untuk memastikan ibumu stabil, setelah itu kita langsung menuju kediaman Kakek. Beliau adalah orang yang sangat teliti dan tidak mudah tertipu. Jika ia mencium bau kebohongan sedikit saja dari aktingmu, maka kontrak ini batal detik itu juga."
Arini menelan ludah dengan susah payah. Ancaman itu terasa seperti pedang yang menggantung tepat di atas lehernya. Ia membayangkan ibunya yang kembali ditelantarkan jika ia gagal memenuhi ekspektasi pria kejam ini. "Aku akan berusaha semampuku, Devan."
Devan bangkit dari kursinya, melangkah mendekat dengan perlahan hingga aroma parfumnya yang maskulin menguasai udara di sekitar Arini. Ia memegang dagu Arini dengan jari-jarinya yang kuat, memaksa gadis itu mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es dan tak tersentuh.
"Bukan sekadar berusaha, Arini. Kau harus berhasil," bisik Devan dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Jangan berikan aku alasan untuk menghancurkan apa yang sudah aku selamatkan. Karena di dunia Alister, kegagalan berarti kehancuran total. Dan kau tentu tidak ingin melihat ibumu kehilangan fasilitas medisnya hanya karena kau tidak bisa berperan sebagai istri yang baik, bukan?"
Arini hanya bisa terdiam, meremas jemarinya yang dingin di bawah meja marmer. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan Rolls-Royce dan mansion ini, ia hanyalah seorang tawanan yang harus mengenakan topeng setiap harinya. Pagi itu, sarapan mewah di hadapannya terasa sepahit empedu, mengingatkannya bahwa harga sebuah kehormatan ternyata bisa dibeli dengan lembaran rupiah, asalkan nominalnya cukup besar untuk membuat seseorang menyerahkan jiwanya.
Arini menatap punggung Devan yang menjauh, menyadari bahwa perjalanan satu tahunnya di neraka yang indah ini baru saja dimulai. Ia harus belajar tersenyum meski hatinya menangis, dan ia harus mencintai pria yang sangat ia benci, demi satu alasan tunggal: keselamatan sang ibu.