Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju membelah jalanan Jakarta yang masih basah karena sisa hujan semalam. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kayu cendana mewah itu, Arini duduk dengan punggung kaku, hampir tidak berani menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang terasa begitu lembut. Ia meremat jemarinya yang dingin di atas pangkuan, sesekali melirik pria di sampingnya yang tampak seperti patung es yang bernapas.
Devan Alister tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Baginya, kehadiran Arini di sana seolah-olah hanyalah sebuah ornamen baru yang tidak sengaja ia beli dalam sebuah pelelangan. Arini merasa seperti debu di tengah kemewahan ini—kecil, kotor, dan tidak berarti. Pikirannya melayang pada ibunya yang kini berada di ruang ICU terbaik, sebuah keajaiban yang harus ia bayar dengan seluruh kebebasannya.
"Ganti pakaianmu setelah sampai," suara Devan memecah keheningan, rendah dan otoriter tanpa sedikit pun beralih dari layar tabletnya. "Malam ini pengacaraku akan datang membawa detail klausul kontrak. Aku tidak ingin melihatmu memakai pakaian pelayan kafe yang terlihat lusuh itu di depan mereka. Citra adalah segalanya bagi Alister."
Arini menunduk, menatap kemeja flanelnya yang sudah agak pudar di bagian siku. Ia merasa pipinya memanas karena malu. "Baik, Tuan," bisiknya nyaris tak terdengar.
"Panggil aku Devan saat kita hanya berdua, dan 'Sayang' saat ada orang lain atau media. Jangan sampai kau mempermalukan namaku dengan keraguanmu," tambahnya dingin, kali ini menatap tajam ke arah Arini. Tatapan itu begitu menusuk, seolah Devan bisa melihat setiap ketakutan yang Arini sembunyikan di balik dadanya yang bergemuruh.
Mobil berhenti dengan mulus di depan sebuah mansion megah di kawasan elit. Dinding kacanya yang menjulang memberikan kesan transparan namun angkuh, mencerminkan pemiliknya. Saat pintu mobil dibuka oleh pelayan berseragam, Arini merasa udara di sekitarnya mendadak menipis. Langkah kakinya terasa berat saat ia menapakkan kaki di atas lantai marmer yang mengkilap—lantai yang sepertinya terlalu bersih bahkan untuk sekadar dipijak oleh sepatunya yang sudah lama tidak diganti.
"Bi Inah, antar dia ke kamar utama. Pastikan dia mandi dan memakai sesuatu yang pantas," perintah Devan singkat kepada seorang wanita paruh baya yang menyambut mereka dengan tunduk hormat.
Arini mengikuti Bi Inah menaiki tangga melingkar yang tampak seperti karya seni. Kamar utama di lantai dua itu lebih luas dari seluruh rumah kontrakan Arini dan ibunya. Arini terpaku di ambang pintu. Ada aroma melati dan vanilla yang menenangkan, namun ia justru merasa tercekik. Ranjang king size itu tampak begitu asing. Ia berjalan menuju balkon, menatap taman luas yang tertata rapi. Di sana, ia menyadari bahwa mulai hari ini, dunianya telah menyempit menjadi sangkar emas yang indah namun mematikan.
Setelah mandi dengan air hangat yang beraroma mewah, Arini mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang sudah disiapkan. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, membuatnya terlihat seperti bangsawan, namun di dalam hati, ia tetap merasa seperti Arini si gadis penjual bunga yang sedang menyamar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berlapis emas. Matanya tidak bisa berbohong—di sana terpancar ketakutan seorang gadis yang merasa sedang mencuri hidup orang lain. Ia meraba lehernya yang polos, teringat kalung perak murah milik ibunya yang tadi ia lepaskan. Kehangatan kalung itu adalah satu-satunya hal nyata yang ia miliki, berbeda dengan semua kemewahan dingin di mansion ini.
Ia turun ke ruang kerja Devan yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Di sana, dua pria berjas rapi—para pengacara Devan—sudah menunggu. Devan duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kaki dengan angkuh, memutar-mutar pena emas di jemarinya.
"Silakan duduk, Nyonya Alister," ucap salah satu pengacara. Sebutan itu membuat jantung Arini mencelos.
"Bacakan bagian intinya saja. Arini tidak punya banyak waktu untuk memahami bahasa hukum yang bertele-tele," ujar Devan dengan nada meremehkan.
Pengacara itu berdeham. "Baik. Kontrak ini berlaku selama 365 hari. Selama masa ini, pihak kedua—Nyonya Arini—wajib mendampingi Tuan Devan dalam setiap acara publik, pertemuan bisnis, dan acara keluarga. Pihak kedua dilarang keras menjalin hubungan romantis atau komunikasi pribadi dengan pria mana pun. Setiap pelanggaran akan dianggap sebagai wanprestasi dan Anda wajib mengembalikan seluruh biaya pengobatan ibu Anda dalam waktu 24 jam."
Arini menelan ludah. Itu bukan sekadar kontrak; itu adalah rantai. "Dua ratus juta... saya tidak akan punya uang sebanyak itu jika kontrak ini batal," batinnya dengan rasa cemas yang memuncak.
"Dan mengenai hak," lanjut pengacara itu, "Pihak kedua tidak diperbolehkan menuntut hak waris atau harta gono-gini. Sebagai gantinya, Anda akan menerima tunjangan bulanan sebesar lima puluh juta rupiah, dan setelah satu tahun, sebuah apartemen atas nama Anda. Ada pertanyaan?"
Arini menarik napas panjang. "Tentang... kontak fisik. Anda bilang di rumah sakit ini hanya akting. Apakah itu berarti... kita akan tidur di ranjang yang sama?"
Devan menyeringai tipis. "Aku tidak punya nafsu untuk menyentuh wanita yang menjual harga dirinya demi uang, Arini. Jangan terlalu percaya diri. Kita akan berbagi kamar untuk menjaga laporan para pelayan kepada kakekku, tapi aku punya sofa yang cukup nyaman. Kau aman, selama kau tahu batasanmu."
Setelah para pengacara pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Devan melirik jam tangan Rolex-nya yang berkilau. "Turunlah ke ruang makan dalam sepuluh menit. Jangan membuat koki pribadiku menunggu," perintahnya dingin.
Sepuluh menit kemudian, Arini melangkah ke ruang makan. Sebuah meja kayu jati panjang yang bisa menampung dua puluh orang kini hanya disiapkan untuk mereka berdua. Berbagai hidangan mewah tertata rapi, namun Arini bingung harus mulai dari mana. Devan sudah duduk di ujung meja, memegang pisau dan garpu dengan gerakan yang sangat anggun.
Arini duduk dengan canggung. Ia mencoba mengambil sendok sup, namun tangannya sedikit gemetar hingga sendok itu berdenting pelan saat berbenturan dengan piring porselen. Bunyi kecil itu terasa seperti ledakan di ruangan yang sunyi tersebut. Setiap suapan sup itu terasa hambar di lidah Arini. Pikirannya melayang ke dapur rumah kontrakannya yang sempit, di mana ia biasanya hanya makan nasi dengan telur dadar dibagi dua bersama ibunya. Di sana ada tawa. Di sini, hanya ada suara denting logam dan desah napas yang berat.
"Apa kau selalu sekaku ini?" tanya Devan tiba-tiba.
"Saya... saya hanya tidak terbiasa dengan semua ini, Tuan," jawab Arini jujur.
"Biasakanlah. Mulai besok, kau akan sering menghadiri jamuan makan malam dengan rekan bisnisku. Aku tidak ingin mereka melihatmu seperti kelinci ketakutan yang tersesat di sarang serigala. Kau adalah istri Devan Alister sekarang. Bertindaklah seperti itu."
Arini mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kenapa Anda memilih saya? Dengan kekuasaan Anda, bukankah Anda bisa mendapatkan wanita mana saja yang jauh lebih pantas?"
Devan bersandar di kursinya. "Karena wanita 'pantas' biasanya memiliki agenda tersembunyi. Mereka ingin cintaku, hartaku, atau posisi keluargaku. Tapi kau... kau hanya butuh uang untuk ibumu. Kau transparan, Arini. Dan dalam bisnis, rekan yang transparan jauh lebih mudah dikendalikan daripada mereka yang penuh topeng."
Jawaban itu seperti tamparan bagi Arini. Ia diingatkan kembali bahwa ia tidak lebih dari sebuah alat yang "mudah dikendalikan". Devan bangkit dan berjalan menuju jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan.
"Ibumu sudah selesai menjalani observasi awal. Tim dokter terbaikku sudah menanganinya," ucap Devan tanpa menoleh. "Jangan buat aku menyesali keputusan ini, Arini. Aku membeli waktumu, kesetiaanmu, dan namamu. Jangan berikan aku alasan untuk menghancurkan apa yang sudah aku selamatkan."
Malam itu, Arini berbaring di sisi ranjang yang sangat empuk, namun matanya sulit terpejam. Di sudut ruangan, ia bisa melihat punggung Devan yang membelakanginya, masih berkutat dengan laptopnya di sofa panjang. Arini menatap langit-langit kamar, air mata setetes jatuh ke bantal. Ia telah menyelamatkan ibunya, tapi ia telah kehilangan dirinya sendiri. Di dalam sangkar emas ini, Arini belajar satu hal: dalam pernikahan kontrak ini, jatuh cinta adalah kesalahan yang paling mematikan.