Bau karbol yang tajam dan dingin menusuk indra penciuman Arini, menciptakan rasa mual yang terus tertahan di kerongkongannya. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit yang berkedip-kedip seolah mengejek nasibnya yang sedang berada di ujung tanduk. Di tangannya, selembar kertas tagihan dengan nominal lima ratus juta rupiah terasa lebih berat daripada beban dunia. Kertas itu sudah sangat lecek karena remasan jemarinya yang berkeringat dingin selama berjam-jam di ruang tunggu yang sunyi.
"Tolong, Pak... Ibu saya butuh operasi malam ini juga. Saya janji akan melunasinya, beri saya waktu seminggu lagi. Saya akan bekerja lembur, saya akan meminjam ke mana pun, tolong jangan hentikan perawatannya," suara Arini bergetar hebat, nyaris hilang tertelan isak tangis yang tertahan. Suaranya serak, sisa dari tangisannya sejak tiga jam yang lalu saat dokter mengabarkan bahwa katup jantung ibunya mengalami kebocoran akut.
Petugas administrasi di balik kaca tebal itu bahkan tidak mendongak. Matanya terpaku pada layar komputer, jemarinya lincah mengetik tanpa rasa empati sedikit pun. "Peraturan tetap peraturan, Mbak Arini. Tanpa deposit lima puluh persen, dokter bedah tidak akan masuk ke ruang operasi. Kami sudah memberikan toleransi selama dua hari. Silakan selesaikan pembayarannya di kasir atau kami terpaksa memindahkan pasien ke ruang perawatan umum kelas tiga malam ini juga."
Ruang perawatan umum kelas tiga. Arini tahu persis apa artinya itu. Ibunya akan dipindahkan dari ruang observasi intensif yang tenang ke bangsal yang penuh sesak, panas, dan tanpa peralatan penunjang nyawa yang memadai. Bagi pasien dengan kondisi jantung kritis, itu adalah vonis mati secara halus yang diucapkan dengan nada birokratis yang dingin.
Arini mundur perlahan, punggungnya menabrak dinding semen yang dingin. Dia merosot ke lantai koridor yang kusam, menutup wajah dengan kedua tangan yang gemetar. Ke mana lagi dia harus pergi? Pikirannya melayang pada rumah kecil mereka di pinggiran kota yang kumuh. Rumah petak sempit dengan atap seng yang selalu bocor setiap kali hujan deras turun. Ia teringat bagaimana ibunya selalu meletakkan ember-ember plastik di lantai yang retak untuk menampung tetesan air, sambil tersenyum lembut dan berkata bahwa mereka harus bersyukur masih memiliki tempat berteduh.
Rumah itu hanya terdiri dari satu ruang tamu yang merangkap dapur, dan satu kamar tidur kecil tempat ibunya kini menghabiskan sebagian besar waktunya di atas kasur tipis yang sudah tidak empuk lagi. Ayahnya telah pergi meninggalkan tumpukan hutang judi yang tak masuk akal lima tahun lalu, menghilang seperti ditelan bumi dan meninggalkan Arini serta ibunya dalam jeratan kemiskinan yang mencekik. Arini sudah bekerja di tiga tempat berbeda—sebagai pelayan kafe di pagi hari, staf administrasi paruh waktu di siang hari, dan tukang cuci piring di malam hari—tapi semua gajinya habis hanya untuk menebus obat jantung harian ibunya yang harganya selangit.
“Tuhan, jika Kau memang ada, berikan aku jalan keluar. Aku akan memberikan apa pun, asal Ibu selamat,” batin Arini dalam keputusasaan yang gelap. “Rumah itu akan menjadi kuburan kenangan jika Ibu pergi malam ini.”
Tiba-tiba, suasana koridor yang tadinya hanya diisi suara gesekan langkah kaki pasien dan suster berubah drastis. Sebuah suara langkah kaki yang berat, mantap, dan berirama tegas bergema, seolah mendominasi seluruh ruangan dan membungkam suara-suara lain. Aroma parfum maskulin yang sangat mahal—perpaduan kayu cendana yang hangat dan citrus yang segar—tiba-tiba menggantikan bau obat-obatan yang menyesakkan.
Arini mendongak dengan mata yang masih basah dan memerah. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya, dikelilingi oleh dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam. Pria di tengah itu mengenakan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan yang mematikan dan keangkuhan yang nyata. Garis rahangnya tegas seolah dipahat dari batu pualam, dan sepasang mata setajam elang itu kini menatap rendah ke arah Arini yang duduk bersimpuh di lantai.
Dia adalah Devan Alister. Pria yang namanya identik dengan kekuasaan dan kekayaan tanpa batas. Pewaris tunggal Alister Group yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan tanpa ampun dalam dunia bisnis. Bagi Arini, Devan hanyalah sosok dari dunia lain, dewa yang turun dari Olympus yang mustahil dijangkau oleh manusia biasa seperti dirinya.
Tanpa sengaja, kertas tagihan di tangan Arini terlepas karena tiupan angin dari pintu otomatis yang terbuka. Kertas itu melayang dan mendarat tepat di depan sepatu kulit mengkilap milik Devan yang harganya mungkin setara dengan gaji Arini selama setahun. Asisten di sampingnya hendak mengambilnya, namun Devan mengangkat satu tangan, memberi isyarat pelan agar asistennya tetap di tempat.
Devan membungkuk perlahan, sebuah gerakan yang sangat anggun namun terasa sangat menekan secara psikologis. Dia memungut kertas itu dengan dua jari, membacanya sekilas dengan ekspresi datar. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah seringai yang tidak mencapai matanya yang sedingin es kutub.
"Lima ratus juta rupiah," ucap Devan dengan suara bariton yang berat dan berwibawa. "Harga yang sangat murah untuk membeli sebuah nyawa, tapi tampaknya merupakan gunung yang tak sanggup kau daki dengan tangan kosong."
Arini merasa harga dirinya hancur berkeping-keping, hancur menjadi debu di bawah tatapan pria itu. Dengan sisa tenaga dan harga diri yang tersisa, dia berdiri perlahan, menyeka air matanya dengan kasar, dan menyambar kertas itu dari tangan Devan. "Anda tidak tahu apa-apa tentang perjuangan saya, Tuan. Jika Anda hanya datang ke sini untuk menghina orang yang sedang berada di titik terendah hidupnya, sebaiknya Anda pergi ke tempat yang lebih mewah, yang lebih pantas untuk orang setingkat Anda."
Bukannya marah karena dibentak, Devan justru menunjukkan ketertarikan yang janggal. Kilatan di matanya berubah, lebih intens. Dia melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga Arini bisa merasakan panas tubuh pria itu dan aura dominan yang menyesakkan napasnya. "Aku tidak sedang menghina. Aku sedang menilai kualitas aset. Dan menurut penilaianku, kau adalah orang yang cukup putus asa untuk melakukan apa saja demi menyelamatkan satu-satunya hal yang kau miliki."
"Apa maksud Anda?" tanya Arini ketus, meski jantungnya berdegup kencang karena takut sekaligus bingung.
"Ikut ke mobilku. Aku tidak suka bernegosiasi di koridor sempit yang berbau kematian dan kemiskinan ini," ucap Devan dingin sebelum berbalik tanpa menunggu persetujuan Arini, seolah dia sudah tahu pasti bahwa Arini akan mengikutinya.
Seolah ada kekuatan yang menariknya, atau mungkin karena rasa putus asa yang sudah mencapai puncaknya, Arini melangkah mengikuti punggung lebar pria itu. Mereka melewati lobi rumah sakit yang bising dan menuju sebuah mobil Rolls-Royce hitam yang terparkir gagah tepat di depan pintu utama, dijaga oleh sopir berseragam.
Saat pintu mobil dibuka, Arini terpana. Di dalamnya begitu mewah. Jok kulit berwarna krem yang sangat lembut menyambutnya, bau cerutu mahal yang samar bercampur wangi kulit asli, serta keheningan kabin yang seolah memisahkan Arini dari hiruk-pikuk dunia luar. Di sana ada kulkas kecil yang berisi botol-botol air mineral berlabel asing. Arini merasa seperti kuman yang tersesat di dalam istana berjalan.
Devan menyandarkan tubuhnya dengan santai sambil menatap Arini yang duduk kaku di ujung kursi, tangannya meremas rok kainnya yang sudah mulai pudar warnanya.
"Aku membutuhkan seorang istri," ucap Devan tanpa basa-basi, memecah keheningan kabin.
Arini tersedak ludahnya sendiri, matanya membelalak lebar hingga terasa perih. "Apa? Anda bercanda? Dengan uang Anda, Anda bisa membeli ribuan model atau artis paling cantik di negeri ini untuk menjadi istri Anda."
"Aku tidak butuh model yang hanya mengincar hartaku atau artis yang haus publikasi dan drama. Kakekku memberiku syarat gila: menikah dalam waktu tiga puluh hari atau seluruh hak warisku atas Alister Group akan dialihkan ke sepupuku yang tidak berguna," Devan menjeda, menatap Arini seolah sedang menguliti jiwanya lapis demi lapis. "Aku butuh wanita yang tidak punya koneksi dengan duniaku. Wanita yang bisa kukontrol sepenuhnya karena dia berhutang nyawa padaku. Dan kau... kau adalah kandidat paling sempurna yang kutemui di saat yang tepat."
Arini meremas ujung kemejanya. "Jadi, Anda ingin menyewa saya? Seperti sebuah properti?"
"Tepat sekali. Aku akan menyewamu selama satu tahun. Tanda tangani kontrak pernikahan ini, dan malam ini juga, seluruh biaya rumah sakit ibumu akan lunas. Aku bahkan akan memindahkan ibumu ke rumah sakit terbaik di Singapura dengan jet pribadi agar dia mendapatkan perawatan dari dokter spesialis jantung nomor satu di Asia," Devan mengeluarkan sebuah map kulit hitam dari laci mobil dan membukanya.
Mata Arini terpaku pada satu baris: Pihak kedua akan mendapatkan tunjangan bulanan sebesar seratus juta rupiah selama masa kontrak. Angka itu bisa membeli seluruh hidupnya berkali-kali lipat.
"Apa syaratnya?" tanya Arini lirih, suaranya nyaris menyerupai bisikan kematian.
Devan memajukan tubuhnya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Arini, membuat napas Arini tercekat. "Satu, kau harus tinggal di mansionku dan berperan sebagai istri yang patuh di depan kakekku dan publik. Dua, kau tidak boleh memiliki hubungan dengan pria lain—bahkan komunikasi sekecil apa pun. Dan tiga..." Suara Devan merendah, terdengar seperti bisikan iblis yang manis namun mematikan. "...jangan pernah melakukan kesalahan terbesar dengan jatuh cinta padaku. Kau hanyalah aset bisnis bagiku. Setelah satu tahun, kita bercerai, dan kau bebas pergi dengan membawa sisa uangmu."
Arini menatap bolpoin berlapis emas yang disodorkan Devan. Pikirannya melayang ke ruang ICU, ke wajah ibunya yang pucat, lemah, dan terpasang berbagai selang. Di satu sisi ada kehormatan dan kebebasannya, di sisi lain ada napas ibunya yang akan berhenti jika ia menolak.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arini meraih bolpoin itu. Dia menempelkan ujungnya di atas kertas putih tersebut. Satu goresan tanda tangan, dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
"Saya setuju," bisik Arini sebelum menorehkan tanda tangannya dengan cepat sebelum keberaniannya hilang.
Devan menarik kembali dokumen itu dengan kilat puas yang mengerikan di matanya. "Pilihan yang cerdas, Arini. Sekarang, hapus air matamu. Mulai detik ini, kau adalah milikku—sampai kontrak ini berakhir."