Sampai di ruangan CEO dari Cakrawala Group, Hadi langsung bertanya pada Faisal, “Faisal, apa saya ada jadwal meeting hari ini?”
Dengan sigap Faisal menjawab, “Tadi Anita melaporkan satu jam lagi anda punya jadwal meeting penting, Pak. lalu meeting lagi di jam tiga sore…”
Hadi memiliki dua sekretaris, yaitu Faisal dan Anita. Tapi Anita hanya mengurusi segala urusan kantor, dan wajib melaporkannya pada Faisal, lalu Faisal akan melaporkannya kembali pada Hadi sebagai sekretaris dan asisten pribadi Hadi.
“Pak, saya izin ingin mengambil beberapa berkas yang ketinggalan di mobil…” ujar Faisal.
“Oke baiklah!” jawab Hadi sambil memijit alisnya, hari ini terasa sangat berat sekali. Mencari seorang wanita baik-baik untuk di jadikan istri kontrak membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Faisalpun melangkah keluar menuju parkiran mobilnya. Di parkiran perusahaan, yang berlainan sisi dari tempat parkirnya, dia melihat Beiyin yang baru saja membuka gembok sepedanya.
“Sepeda? Hei! CS!” teriak Faisal memanggil Beiyin.
Beiyin yang di panggil merasa terkejut, “Oh tidak! Habislah aku!”
Faisal berlari kearah Beiyin, saat Faisal mendekat, Beiyin langsung menyapa, “Maaf, Pak. saya parkir di sini, karena tempat parkiran sepeda motor di luar sudah penuh, dan di sini saya lihat kosong dan aman untuk sepeda saya dan tidak mengganggu mobil yang lain juga…” ujar Beiyin.
“Oh, jadi setiap hari kamu bekerja pakai sepeda ini?” tanya Faisal lalu menunjuk kea rah sepeda Beiyin.
“Iya pak…” jawab Beiyin sambil mengangguk.
“Berapa jauh jarak antara rumahmu dan kantor ini?” tanya Faisal lagi.
“Hmm hanya dua kilo meter, Pak…” jawab Beiyin.
“Apa kamu tidak punya motor? Kenapa tidak naik ojek online saja?” tanya Faisal lagi.
“Untuk menghindari kemacetan dan menghemat ongkos jadi menggunakan sepeda lebih aman, Pak…” jawab Beiyin sambil tersenyum.
Faisal mengangguk kecil beberapa kali, “Kamu asli Jakarta?” tanya Faisal lagi.
“Ahhh bukan, saya asli Bagansiapiapi…” jawab Beiyin.
“Api-api apa?” tanya Faisal yang bngung karena baru pertama kali ia mendengar nama tersebut.
“Bagansiapiapi, Pak. Negeri Seribu Kubah, di kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau…” jawab Beiyin dengan bangga.
“Ohhh nama yang menarik. Saya belum pernah mendengar kota api-api itu…” ujar Faisal.
“Bagan si api api, Pak…” sahut Beiyin.
“Dulu di tahun 1928 menurut beberapa sumber dan salah satunya adalah surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia,” jelas Beiyin yang seketika naluri cinta dan bangga akan kota kelahirannya keluar.
“Ohhh….” Faisal mengangguk beberapa kali mendengar penjelasan Beiyin.
“Sepertinya saya harus berkunjung ke sana, siapa tahu ada peluang bisnis yang menjanjikan di kota itu…” ujar Faisal lagi.
Beiyin lalu tersenyum, “Pak, maaf, kalau tidak ada hal yang penting lagi, saya mau pamit pulang…” tutur Beiyin.
“Ohh, Okay. Apa setelah ini kamu ada kegiatan lain?” tanya Faisal lagi.
“Huh? Hmm ada, Pak, habis ini saya harus mengajar Private…” jawab Beiyin.
“Kalau malam?” tanya Faisal lagi.
“Saya mengajar private dari jam satu sampai jam delapan malam, Pak…” jawab Beiyin.
“Ohhh, okay…” ucap Faisal yang seperti memikirkan sesuatu.
“Umm Kalau begitu saya pulang dulu, Pak…” ujar Beiyin yang merasa tidak enak hati menghentikan pembicaraan karena atasannya sepertinya masih ingin mengobrol dengannya.
“Hmm Okay…” sahut Faisal.
Lalu Beiyin mendorong sepedanya sedikit menjauh, lalu mengayuhnya. Faisal hanya terdiam di tempat memperhatikan punggung Beiyin yang makin menghilang dari pandangannya.
“Hidupnya produktif sekali…” gumam Faisal.
Beiyin mengayuhkan sepedanya dengan semangat empat lima. Sesampainya di kontrakannya, ia melihat pintu rumah sudah terbuka.
“Siapa yang membuka pintu? Apa maling? Atau jangan-jangan Azkia sudah pulang?” Beiyin bermonolog.
Beiyin melangkah ke halaman rumah, sesampainya di depan pintu, ia bingung, “Pintukan terbuka? Apa aku harus mengucapkan salam? Apa nanti maling akan menjawab salamku? Inikan rumahku? Ahh terserahlah… Assalammualaikum….” teriak Beiyin dari luar.
“Waalaikumsalam….” jawab seorang wanita cantik dari dalam rumah.
“Woahhh Azkia! Kapan kamu sampai? Kenapa tidak memberitahu aku, kan bisa aku, aku belum masak apa-apa nih…” jawab Beiyin merasa bersalah karena dia tidak menyiapkan apapun untuk makan siang.
“Aku sengaja pulang tanpa memberi kabar, nanti khawatirnya kamu repot-repot menyiapkan tumpeng sama pesta penyambutan untuk aku…” gurau Azkia pada Beiyin.
“Yaaah, mana mungkin aku membuat pesta penyambutan, ini aja udah kalang kabut ngatur waktunya…” gerutu Beiyin sambil tersenyum kikuk.
“Hahahaha, sudah aku hanya bercanda! Ayo makan, aku udah siapin makan siang kita!” tutur Azkia.
“Maaf ya, Kia, kamu pasti capek banget, baru pulang udah harus masak-masak…” ucap Beiyin dengan wajah kesal.
“Ihh apaan sih, biasa aja kali!” jawab Azkia.
“Baiklah, kalau begitu ayo makan, aku sudah lapar sekali, Kia!” sahut Beiyin tanpa basa-basi langsung menyantap makan siang mereka dengan menu sambal goreng telur ayam dan sup ayam ala Azkia juga tumis brokoli kesukaan Beiyin.
“Kia, tadi saat aku mau pulang, aku ketemu sama atasanku, dia bertanya apa aku pakai sepeda setiap hari ke kantor, kenapa tidak ojek online, terus apa aku tidak punya motor..”
“Terus? Kamu jawab apa?” tanya Azkia yang antusias mendengar cerita Beiyin.
“Yaa aku jawab apa adanya, untuk menghemat ongkos dan menghindari kemacetan…” jawab Beiyin.
“Jangan-jangan dia mau ngasi kamu motor, Bei?” sahut Azkia lagi.
“Ahh serius? Bagus sih kalau begitu, jadi ngantar kuenya jadi lebih cepat. Tapi tadi dia juga tanya apa kegiatanku setelah pulang kantor dan saat malam hari…” tutur Beiyin lagi.
“Huh? Serius?” tanya Azkia yang sedikit terkejut.
“Iyaa, memangnya kenapa?” tanya Beiyin lagi sambil menguyah brokoli.
“Jangan-jangan dia mau mengajak kamu ngedate, Bei?” sahut Azkia antusias.
“Huh? Mana mungkin, seorang seperti Pak Faisal mengajak seorang CS untuk ngedate…” sahut Beiyin yang sedikit terkejut.
“Ingat, Bei. Jangan sampai tergoda hanya karena pangkat, tampang dan rayuan. Jika dia mau sama kamu, minta dia untuk mendapatkan restu orangtuamu. Jangan mau diajak pacaran, nanti kamu cuma kebagian sakitnya doing!” tutur Azkia pada sahabatnya.
“Ihhh siapa yang mau pacaran! Haram Kia, haram!” sahut Beiyin lalu menyunggingkan bibir atasnya.
“hehe Siapa tahukan, wajah tampan sang atasan membuat prinsip Beiyin goyah!” ejek Azkia.
Beiyin tersenyum getir, “Entahlah, Kia. Aku merasa tidak mungkin lagi tertarik pada seorang pria…”
Mendengar ucapan sahabatnya, Kia yang tadinya ingin menyuap nasi, jadi menghentikan suapannya. “Bei, anggap saja itu cara Allah memisahkan kamu dengan yang bukan jodohmu. Untuk itu kamu harus belajar mengikhlaskan dan melupakan lelaki itu….” ucap Azkia.
Beiyin hanya tersenyum getir lalu lanjut memasukkan suapan nasi kemulutnya.
“Bei, masa depanmu mungkin akan berbeda. Mungkin Allah mempersiapkan seorang lelaki baik-baik dan yang terbaik untuk kamu. Kamu meninggalkan masa lalu untuk tetap menjaga cinta, kesucian dan nama baik keluargamu. Mungkin saja Allah mempersiapkan seseorang yang juga selama ini menjaga kesucian dan nama baik keluarganya untuk masa depanmu…” tutur Azkia.
Beiyin meneguk segelas air putih setelah menelan makanannya, setiap mengingat masa lalunya, ada nyeri yang terasa di hatinya, “Entahlah Kia, dengan luka yang seperti itu, aku tidak yakin bisa percaya lagi dengan laki-laki. Aku tidak berharap ada laki-laki di masa depanku, aku hanya ingin fokus memikirkan keluargaku. Jika suatu saat orang tuaku menginginkan aku menikah, dan mereka menemukan lelaki yang tepat. Aku akan menerimanya tanpa syarat...” ujar Beiyin.
“Beiyin… jangan seperti ini, tak semua lelaki itu seperti dia yang ada di masa lalumu. Jika orang jahat masih ada di dunia ini, maka percayalah, orang baikpun pasti masih ada. Jika wanita baik-baik masih ada, maka lelaki baik-baikpun pasti masih ada. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, memperbaiki diri dan mempersiapkan diri hingga saat itu tiba..” ujar Azkia.
Beiyin merasa matanya mulai memanas dan mengembun, “Entahlah Kia, setiap kali membahas tentang dia, disini rasanya nyeri sekali…” ungkap Beiyin sambil menunjuk kearah dadanya.