‘Baanngguunn wooii baangguunn, atau maau dibangunin malaikat mauutt, Woooiiiiiiiiii!’
‘Baanngguunn wooii baangguunn, atau maau dibangunin malaikat mauutt, Woooiiiiiiiiii!’
Teriak alarm beiyin membangunkan pemilik rumah yang masih terlelap. Azkia yang bangun terlebih dulu langsung mematikan alarm dari ponsel Beiyin.
Azkia tidak sampai hati membangunkan Beiyin yang terlihat masih nyenyak dan tidak terganggu sama sekali, “Kemaren harinya pasti berat…” gumam Azkia melihat Beiyin yang pulas tertidur.
Azkia memulai membuat adonan kue-kuenya terlebih dahulu tanpa menunggu Beiyin.
Beiyin yang sudah terbiasa bangun jam tiga pagi setiap harinya merasa hari ini waktu tidurnya lebih panjang, Beiyin membuka paksa matanya, pandangannya bahkan masih belum jelas. Ia meraba-raba meja meja di samping tempat tidurnya, saat jari-jarinya menyentuh ponsel, ia segera melihat jam dan “Apa? hampir jam empat pagi?” Beiyin dengan segera meloncat dari tempat tidur, ia berlari dengan langkah besar menuju dapur.
“Kiaaa, maaf aku ketiduran…” ucap Beiyin merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, itu sayur-sayurnya udah aku potong, segera ditumis gih…” ucap Kia.
Proses packingan kue-kuenya jadi lebih cepat siap, karena mereka mengerjakannya berdua. Seperti biasa Azkia dan Beiyin pergi mengantar kue dengan sepeda masing-masing. Beiyin bertugas mengantarkan gorengan kewarung-warung, dan Azkia mengantarkan keripik-keripik di mini market sekitar.
“Hampir jam delapan, aku harus segera ke kantor nih…” gumam Beiyin.
Sedangkan Azkia, ia langsung pulang dan kembali memproduksi kripik-kripik dan menjualnya secara online. Untuk makan siang, Azkia juga yang memasaknya. Mereka makan apa adanya, kadang mereka hanya makan dengan kripik-kripik yang mereka produksi sebagai pengganti lauk untuk nasi mereka.
Di Perusahaan Cakrawala Group, berbagai stand untuk menyambut bazar sehari sedang di siapkan. Semua devisi selain sibuk dengan pekerjaan, juga sibuk memikirkan ide untuk bazar yang akan mereka lakukan. Ini adalah bazar pertama yang diadakan di perusahaan induk Cakrawala Group.
Para CS dan OB juga berkumpul untuk menentukan ide mereka.
“Aku malas mau ikut-ikutan, habis kerja mau langsung pulang saja…” sahut Hanum, seorang wanita berumur empat puluh tahun yang bekerja sebagai CS.
Ratna, seorang wanita yang berumur tiga puluh tahun sang kepala CS dan OB angkat bicara, “Begini saja, bagaimana kalau CS dan OB kita bagi tugas? SC yang ikut memeriahkan bazar, di bebaskan dari tugas, dan yang tidak ikut berpartisipasi harus mengerjakan tugasnya dan juga tugas para CS dan OB yang dibebas tugaskan. Dan untuk hasil penjualan, kita bagi dua? Bagaimana?”
“Bagaimana kalau kita tidak untung sama sekali? Apa yang mau dibagi? Kami sudah capek bekerja, tidak dapat utung, malah modal untu bazar jadi habis. Rugi berkali lipat dong kami…” sahut Ida, salah satu OB di perusahaan itu.
“Apa ada ide untuk menjual sesuatu yang pasti laku dan pasti untung?” tanya Ratna lagi.
Ghea, salah satu OB tercantik di perusahaan itupun angkat bicara, “Makanan! Kita jual makanan saja, saya aja yang sebagai OB hampir puluhan kali disuruh untuk membuat kopi. Jadi kalau kita menjual makanan atau minuman, sudah pasti akan laku, walaupun keuntungannya belum bisa di jamin…”
“Iyaa, aku juga setuju dengan syarat kantin harus di tutup? Sudah pasti stand kita akan laku keras!” sahut Mira yang merupakan OB juga.
Dari sekian banyak CS dan OB, hanya sepuluh orang yang berminat untuk berpartisipasi. Sementara yang lainnya menolak untu ikut.
Ratna sebagai kepala CS dan OB akhirnya memutuskan, “Untuk keuntungan penjualan di bazar hanya di bagikan kepada peserta yang berpartisipasi saja, dan peserta yang berpartisipasi harus tetap melaksanakan tugas mereka di shift malam, dan CS dan OB yang tidak ikut, harus melaksanakan kewajiban seperti biasa, dan kantin tidak akan ditutup…”
Ghea, Risti, Ratna, Beiyin, Bayu, Riko, Ardian, Anto, samsul dan Kristi akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam bazar sehari itu.
Beiyin memutuskan untuk membawa kripik yang mereka produksi, tentu saja dia tidak mengatakan itu bukan kripik miliknya, “Aku tau agen kripik termurah, aku akan membawa banyak, jika tidak laku maka akan dikembalikan ke agennya, jadi kita tidak perlu memikirkan kerugian,” ucap Beiyin dan semua menyetujuinya.
Beiyin melangkah sedikit menjauh dari teamnya, lalu menelpon Azkia, “Hallo, Azkia. Hari ini kita harus produksi keripik dalam jumlah yang lebih banyak, aku berencana menjualnya besok di bazar sehari perusahaan…”
Azkia langsung menyetujuinya, “Okay, aku belanja dulu, nanti pulang dari kelas Private kita langsung action…” jawab Azkia, lalu sambungan panggilan itu terputus.
Beiyin kembali ke lingkaran teman-temannya untuk mengumpulkan ide dan persiapan untuk bazar besok.
Matahari sudah meninggi, cuaca panas terik terasa sangat membakar kepala dan membuat kering kerongkongan. Semua orang gerah kepanasan tak terkecuali Ghisella, sang karyawati cantik.
“Vid, cuba deh kamu periksa di atas sana, mana tahu langit lagi bocor…” ujar Ghisella dengan kode mata menunjuk ke langit, sambil mengipas selembar kertas HVS ke arahnya.
David tersenyum mendengar ucapan Ghisella, lalu mengambil remote dan mengatur suhu AC menjadi lebih dingin, “Sell, kalau langit bocor, itu yang akan turun air hujan ya? bukannya panas terik?” ejek David.
“Terserah lah, Vid. Lagi malas berdebat!” jawab Ghisella singkat sambil tetap mengipaskan kertas HVS ke arahnya.
“Itu udah ada beberapa tenda yang datang di halaman perusahaan, acaranya di lapangan ya? bukan di hall?” tanya Ghisella yang memandang dari jendela lantai dua.
“kalau pakai tenda seperti itu, acaranya mungkin di lapangan…” sahut David.
“Hmm pasti seru kalau bisa ikut, tapi sayangnya devisi kita memilih untuk tidak jadi peserta…” ketus Ghisella dengan jawah muram
“Siapa bilang devisi kita tidak jadi peserta?” sahut David dan berhasil mengalihkan pandangan Ghisella ke arahnya.
“Maksud kamu, kita ikut serta? Tapi Kenapa kepala devisi tidak mengajak kita mempersiapkan apapun? Woahh aku merasa tidak dianggap di sini,” ketus Ghisella dengan memaksa tertawa kecil.
David lagi-lagi tersenyum menampilkan lesung pipinya yang sangat menentramkan mata, “Ghisella, Devisi kita memutuskan untuk ikut serta sebagai pembeli atau konsumen saja di bazar ini…”
“Haah apaan! Cuma konsumen, sama saja tidak ikut serta…” ketus Ghisella.
David tertawa kecil menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapi, “Sell, justru konsumen itu perannya sangat penting dan sangat berpengaruh. Coba deh kalau kamu bayangin semua orang jadi produsen di bazar ini, terus siapa yang mau membeli? Bagaimana cara mencari pemenangya?” ujar David.
Ghisella mengangguk kecil beberapa kali, “Iyaa juga sih, artinya para produsen itu harus menarik perhatian kita agar kita mau membeli barang-barang mereka, iya kan? Hmmm keren juga…” sahut Ghisella.
David hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menunduk kebawah. Diam-diam Ghisella mencuri pandang pada senyuman David, ‘Manis sekali senyummu, Vid. Andai saja kamu bukan buaya…’ gumam Ghisella di dalam hati.