“Maaf, Istri kontrak?” tanya Aurellia tidak percaya.
“Iyaa, saat ini saya membutuhkan seorang calon menantu yang baik untuk Mommy saya!” jawab Hadi dengan ekpresi wajah yang datar.
“Tapi… kenapa harus istri kontrak, Pak?” tanya Aurellia mencoba terlihat tenang padahal suasana hatinya bagaikan gerimis di siang bolong.
“Bukankah tadi saya sudah bilang, saya mau mencarikan calon menantu untuk Mommy saya!” jawab Hadi menatap kesal pada Aurellia.
“Yaaa, maksud saya kenapa tidak menikah beneran?” tanya Aurellia lagi tanpa terintimidasi dengan tatapan tajam Hadi.
“Yaaa kita akan menikah beneran! Siapa bilang saya mau nikah main-main!” jawab Hadi dengan ketus.
“Lalu kenapa harus ada kontrak?” tanya Aurellia dengan alis yang bertaut.
“Ahm...” Faisal berdehem, ia merasa akan terjadi masalah kalau dia tidak menjadi penengah diantara dua orang insan ini.
“Maaf, Nona. Sebenarnya Tuan muda kami belum ingin menikah, tapi karena ia sangat menghormati dan menyayangi Momminya, maka dia menuruti permintaan sang Mommy yang memintanya untuk segera menikah…” jelas Faisal dengan santai dan tenang.
Lalu Faisal melanjutkan, Nah kenapa harus ada kontrak? Itu karena ada beberapa hal yang harus diatur sesuai kesepakatan dan perjanjian kontrak dalam pernikahan ini…”
“Hal-hal seperti apa?” tanya Aurellia.
“Saya akan menunjukkan isi perjanjian kontraknya jika kamu bersedia menjadi Istri kontrak Tuan Muda…” jawab Faisal.
“Huh? Bagaimana saya bisa bersedia kalau isinya perjanjiannya saja saya tidak tahu!” ujar Aurellia dengan tetap tenang.
“Jika anda bersedia, saya akan menunjukkan isi perjanjiannya, setelah itu anda bisa mempertimbangkannya kembali, apakah anda ingin tetap menikah atau menolak untuk menandatangani kontrak.”
Mendengar ucapan Faisal, Aurellia kembali menatap Hadi.
“Pak, sebelumnya saya minta maaf, saya memang bukan wanita kolongmerat yang sempurna. Tapi saya tidak pernah berfikir untuk menyerahkan dirinya dalam sebuah pernikahan kontrak yang tentunya akan merugikan saya sebagai wanita!” jawab Aurellia tegas.
“Merugikan wanita? Memangnya merugikan apa?” tanya Hadi yang terlihat semakin kesal.
“Bukankah pernikahan kontrak itu hanya sebatas kontrak dengan limit waktu tertentu? Jika sudah sesuai batas waktu yang di tentukan maka pernikahan akan berakhir,” jawab Aurellia.
Hadi menyeringai tajam, “Kamu pikir kontrak pernikahan yang saya buatkan ini kontrak sembarangan? Kamu berbicara bahkan tanpa membaca atau melihat isi kontraknya dan membuat kesimpulan sendiri! hemp kamu tidak secerdas yang saya kira!” ketus Hadi dengan seringai meremehkan.
Hadi lalu berdiri dari duduknya, Aurellia yang tadinya duduk juga ikut berdiri, “Ayo Faisal, dia bukanlah menantu yang cocok untuk Mommiku!” tegas Hadi.
“Pak, Maaf… lalu bagaimana dengan kerja sama perusahaan?” tanya Aurellia dengan wajah yang sedikit cemas.
Faisal yang tadinya baru berjalan selangkah, kembali menoleh kearah Aurellia, “Keputusan tetap ada di tangan Direktur perusahaan ini, tapi saya akan merekomendasikan kerja sama ini untuk di setujui…” jawab Hadi.
Mata Aurellia membulat mendengar penuturan Hadi, ia tadinya telah berpikir bahwa Hadi akan menolak kerja sama perusahaan.
“Terima kasih, Pak! tadinya saya pikir anda akan menolak untuk bekerja sama…” jawab Aurellia pelan.
“Menolak? Kenapa?” tanya Hadi yang kini menghadap kearah Aurellia.
“Karena saya…. menolak tawaran bapak untuk pernikahan kontrak itu…” seketika lidah Aurellia kelu ketika hendak mengucapkan kata menolak tawaran bapak.
Lagi-lagi Hadi tersenyum kecut, “Jika saya melibatkan urusan pribadi kedalam bisnis, maka saya tidak akan menjadi seorang Billionaire seperti sekarang!” ujar Hadi, tanpa menunggu respon dari Aurellia, Hadi melangkah meninggalkan Aurellia di ruangan itu.
Saat Hadi keluar diiringi Faisal, Hussain langsung menyambut mereka begitu juga dengan rekan Aurellia yang menunggu di luar, semua orang berdiri menyambut Hadi.
“Bagaimana, Pak? apa kerjasamanya….” ucapan rekan Aurellia terpotong oleh Hadi, “Kalian seperti keluarga pasien yang menunggu dokternya keluar saja!” ketus Hadi yang melihat tatapan khawatir setiap orang yang berdiri.
“Pak Hussain, urusanku di sini sudah selesai, keputusan kerjasama saya serahkan kepada bapak, tapi saya merekomendasikan kerjasama ini untuk di setujui!” ujar Hadi, lalu tersenyum kecil, Hussain mengangguk mengerti lalu berjabat tangan Hadi.
Hadi beserta rombonganpun meninggalkan Cakrawala Global Paper. Di dalam mobil Hadi memasang wajah masam, tidak tersenyum sama sekali. Melihat hal itu Faisal angkat suara, “Pak, kalau bapak langsung main tolak seperti tadi, akan sulit bagi bapak menemukan seseorang yang setuju untuk dinikah kontrak!”
Hadi menatap tajam ke arah Faisal, mengerti arti tatapan Hadi, Faisalpun lanjut bicara, “Begini, Pak. semua wanita itu menginginkan membina rumah tangga yang bahagia, penuh cinta dan kasih sayang. Kalau Bapak mencari wanita yang hanya mau di jadikan istri kontrak seumur hidup, jangankan wanita baik-baik, wanita mata matrealistispun akan berpikir ribuan bahkan jutaan kali.”
“Jadi maksud kamu saya tidak akan menemukan istri kontrak? Begitu?” ketus Hadi.
“Saya belum yakin, Pak. Tapi yang saya tahu untuk mencari wanita baik-baik yang bisa di ajak berkompromi seperti itu, harus membutuhkan usaha yang maksimal, karena yang bapak cari adalah wanita baik-baik. Kecuali wanita matrealistis, Bapak hanya tinggal menjanjikan uang dan kemewahan, mungkin mereka akan berpikir untuk setuju. Aurellia tadi gadis baik-baik, Pak. karena itu dia menolak meskipun dia tahu bapak seorang Billioner CEO muda.”
Mendengar penjelasan Faisal, Hadi mengangguk beberapa kali. Semua yang dikatakan Faisal ada benarnya, “Untuk urusan selanjutnya, saya serahkan padamu saja, Faisal. Aku lelah!” ujar Hadi.
Sementara di perusahaan utama Cakrawala Group, David berjalan menuju Pantry yang sebelumnya harus melewati musholla di lantai satu. Sekilas David melihat seseorang sedang shalat menggunakan mukena yang putih bersih tanpa corak.
“Sepertinya belum masuk waktu dzuhur?” gumam David melihat jam tangan. Saat wanita itu menoleh mengucapkan salam ke kiri dan kanan untuk menyelesaikan shalatnya, David tersenyum, “Rizani…”
Setelah mengetahui siapa yang shalat, Davidpun melangkahkan kakinya lagi menuju pantry.
Beiyin yang baru saja menyelesaikan shalatnya, lalu menengadahkan tangannya, “Ya Allah, Hamba percaya bahwa engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hamba tidak minta ujian atau cobaan ini dikurangi, tapi hamba memohon untuk kekuatan iman, taqwa, sabar, kekuatan fisik dan mental agar hamba dan keluarga hamba bisa menghadapi ujian ini secara maksimal…”
Beiyin kembali merapikan mukena perusahaan, dan meletakkannya kembali pada lemari kaca yang dihiasi ganggang Kristal. “Perusahaan ini sangat sempurna dari segala sisi…” gumam Beiyin.
Beiyin membuka pintu mushalla, dan tanpa sengaja menabrak David yang kebetulan juga lewat. “Awww panas!” pekik David saat kopi hitam panas yang baru ia buat menyiram bagian perutnya.
Beiyin yang terkejut dengan cepat meminta maaf, “Maaf, Pak. Maaf, saya tidak sengaja!” ucap Beiyin dengan raut wajah yang sangat khawatir.
“Ahh tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya!” jawab David dengan lembut tapi wajahnya meringis.
Beiyin tertunduk melihat David yang menarik kemeja hitamnya agar kain itu tak menyentuh kulit tubuhnya.
“Ohh ya tadi kamu shalat dzuhur ya?” tanya david tiba-tiba.
“Huh? Tidak, Pak, saya tadi shalat dhuha…” jawab Beiyin.
“Ohhh…” Lengkungan indah teukir di bibir David.
“Sekali lagi saya minta maaf, Pak…” ujar Beiyin yang masih tertunduk.
“Iya, tidak apa-apa. lain kali hati-hati ya?” sahut David lalu di jawab anggukan tertunduk oleh Beiyin.
“Oh ya, tolong bawakan ini ke pantry ya, aku mau cari baju ganti,” ucap David tersenyum menampilkan lesung pipinya, lagi-lagi Beiyin hanya mengangguk. Setelah itu ia melangkah meninggalkan Beiyin yang masih mematung dan tertuntuk di tempat.
“Kenapa aku ceroboh sekali sih!” Beiyin bermonolog sambil mencubit bahunya sendiri.
David berjalan ke arah pintu luar, namun ia bertemu dengan Ghisella, “kamu kenapa Vid? Kenapa bajunya basah basah begitu?” ucap Ghisella sambil menunjuk bekas tumpahan kopi pada kemeja hitam yang dikenakan David.
“Ohhh, ini tadi tidak sengaja kesenggol dengan Rizani…” jawab David singkat.
“What? Rizani? Seperti pernah dengar namanya tapi dimana ya?” jawab Ghisella dengan memutar bola matanya berusaha mengingat nama itu.
“Ahhhh itu? si CS itu kan?” pekik Ghisella, lalu seketika ia melihat ke kiri dan kanan menyadari ucapannya membuat perhatian terpusat padanya.
“Kamu tidak main gilakan sama tuh CS?” tanya Ghisella menyelidik.
“Akukan sudah bilang, tadi tidak sengaja tersenggol…” jawab David lalu menyintil kening Ghisella.
Saat David menyentil kening Ghisella, dari kejauhan Hadi sudah melihatnya karena posisi mereka memang lurus dengan pintu utama, yang kebetulan juga terbuka karena kedatangan Hadi.
Melihat kedatangan Hadi, Ghisella dan Davidpun menepi, Hadi sekilas melirik kearah mereka, dan tersenyum getir, “Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya!”