Hadi tersenyum simpul, ia melingkarkan lengan di leher momminya yang hanya setinggi dadanya, “Tadinya Aku mau pergi sama-sama dengannya ke rumah sakit, lalu membuat dia sadar seperti wanita-wanita sebelumnya bagaimana mereka terlihat dimataku.”
Rosa dengan kasar menghempaskan tangan hadi yang melingkar di lehernya, “Hmm apa Ajeng juga terlihat menjijikkan? Kali ini menjijikkan kenapa lagi?” ketus Rosa yang terdengar lirih sambil melangkahkan kakinya kembali menduduki sofa mewah yang bewarna merah marun kesukaanya.
“Wajahnya yang dengan cepat memerah membuat aku teringat dengan kepiting rebus yang mommy masak dua tahun lalu, aku bahkan belum melupakan rasa asinnya sampai sekarang! iiiiii” jawab Hadi dengan kening mengkerut, mata tertutup sembari membuka mulut dengan lidah yang sedikit terjulur.
“Hehh raut wajahmu itu kecut sekali, bukannya keasinan..” cibir Rosa yang tak kalah kesal.
Hadi lalu berjalan mendekati Momminya, ia berlutut dan menggenggam tangan sang Mommi, “Tapi walaupun begitu, Aku tetap suka apapun yang Mommy masak, buktinya Daddy dan Aku malah rebutankan makan kepitingnya? Karena rasa cinta yang mommy punya untuk kami sangat terasa pada kepiting itu, bahkan rasa garamnya juga kalah.” rayu Hadi pada Rosa yang sudah berwajah masam.
“Haalahh… kamu sama Daddimu sama-sama tukang gombal!” jawab Rosa yang menepiskan tangan putra bungsunya itu lalu dengan cepat Rosa memiringkan tubuh dan wajahnya kearah lain.
Rosa melirik dengan ke arah Hadi yang masih berlutut di hadapannya, dengan masih dengan nada ketusnya Rosa berkata, “Lalu kenapa kamu tidak bisa menerima Ajeng sama seperti kepiting itu? Apa cinta yang Mommy beri tidak terasa pada Ajeng?” ujar Rosa yang memperhatikan manik mata anaknya yang terlihat sedih.
“Terasa, Mommy! Sangat terasa. Karena itu aku tidak suka dengan Ajeng, aku khawatir akan rebutan dengan Daddy!” jawab Hadi dengan tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang putih tersusun rapi.
“Haadiiiiii!” teriak Rosa kesal dengan mata yang melotot pada putra bungsunya.
“Hahaha… Mommy, rilex mommy, jangan marah-marah ya!” jawabnya sambil terkekeh melihat ekspresi kesal Momminya.
“Mommy hanya mau kamu menikah Hadi, itu saja! apa itu terlalu sulit? Huh?” lirih Rosa pada putra bungsunya yang masih berlutut dihadapannya.
“Mommy… Hadi ingin mommy bahagia… Mommy juga ingin Hadi bahagiakan?” jawab Hadi dengan menatap lekat manik mata Momminya.
“Mommy, akukan sudah janji akan membawakan pilihanku pada Mommy dalam waktu enam bulan ini, tolong percaya padaku Mom… Kali ini aku benar-benar mencari, mom. Mencari orang yang pantas untuk menjadi istri aku dan menantu mommy!” jawab Hadi dengan keseriusan tergambar jelas dimatanya.
“Percayakan saja pada putramu, sayang…” sahut suara bariton seorang pria yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu memperhatikan drama ibu dan anak itu.
“Daddy, udah pulang? Kok tidak terdengar suara mobilnya?” tanya Hadi yang langsung berdiri menyambut Daddinya.
“Kapan kalian bisa dengar kalau kalian sudah menganggap dunia ini hanya milik kalian berdua…” jawab Tomi yang melangkah masuk, ia langsung duduk dan menggenggam tangan istrinya.
“Siapa yang berani membuat permaisuriku terlihat masam seperti ini?” ujar Tomi sambil melirik kearah Hadi…
Hadi langsung membungkuk ala kesatria, “Maafkan hamba yang mulia, Ibu Suri mulai menuntut calon menantu lagi dari hamba…” ucapan Hadi terputus karena ia yakin Daddinya sudah mengetahui apa yang terjadi. Karena kejadian itu terjadi secara berulang-ulang di rumah itu.
“Masa dia bilang Ajeng itu seperti kepiting rebus yang Mommy masak dua tahun yang lalu, kan makin aneh saja anakmu ini…” ketus Rosa kesal.
“Yaahh ini kan artinya ada progress yang baik ma..” mendengar jawaban itu Rosa langsung melotot ke arah suami tercintanya.
Tomi merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya melihat kedua bola mata istrinya yang seakan ingin meloncat keluar. “Dari pada sebelumnya dia bilang seperti ulat hijau pada daun lalapannya!” sahut Tomi lagi yang ke arah istrinya.
Rosa berdiri dari duduknya, dengan wajah jutek ia berkata “Harusnya bertahun-tahun lalu aku tidak mencoba memasak ataupun memetik lalapan sendiri!” ketus Rosa kesal dan menghentakkan kakinya meninggalkan dua orang lelaki tercintanya di ruang tamu.
Dua lelaki tampan itu hanya melihat punggung Rosa yang semakin melangkah jauh dari mereka.
Tomi mendekati putra bungsunya yang hanya berdiri sedari tadi. “Hadi… jangan buat Mommimu kesal terus ya, Daddy tidak mau Mommy mengidap hipertensi!” saran Tomi sambil menepuk pundak putra bungsunya lalu melangkah pergi menyusul Rosa yang lebih dulu ke kamar.
Hadi menghembuskan napas kasar dan menghempaskan tubuhnya di sofa mewah di kesayangan momminya.
“Setiap hari seperti ini dengan Mommy, sepertinya berbahaya juga! Sabar ya Mommy nanti aku bawakan menantu yang terbaik untuk Mommy…” Hadi bergumam pelan memperhatikan langit-langit ruangan yang terdesign indah oleh perusahaan yang ia pimpin sekarang.
Hadi lalu merogohkan ponselnya kembali, berselacar bebas hingga ia menemukan satu nama untuk di hubungi, “Hallo, Faisal, tolong carikan aku wanita baik-baik lagi, dan terus pantau gerak-gerik Alicia!” telepon itupun dimatikan sepihak oleh Hadi.
Hadi melangkahkan kaki menuju kamarnya. Nanang sang Body guard tiba-tiba memanggil, “Tuan, saya mau melaporkan sesuatu!”
“Nanti saja ya, Nang! Saya mau menuju tempat peristirahatan saya dulu…” jawabnya dengan terus melangkah tanpa menoleh kebelakang.
“Iy yaa Tuan…” jawab Nanang tergagap.
Nanang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Tidak salah sih, kamarkan memang tempat istirahat, tapiii… Ahhh sudahlah” Nanang bermonolong sendiri lalu meninggalkan ruangan itu.
Nanang langsung mengirimkan data-data laporannya pada Hadi lewat email, supaya bisa di cek oleh Hadi saat ia punya waktu luang di ‘tempat peristirahatannya’ itu.
Hadi telah selesai membuat tubuhnya Fresh dengan berendam di bak mandi. “Kenapa berendam selalu saja membuatku tenang…” gumam Hadi.
Masih menggunakan jubah mandinya, mengambil benda pipihnya yang terletak di atas meja dekat lampu tidurnya.
“Hmm… jadi wanita itu sekarang sedang makan siang bersama pria lain! Aku sudah mengira hal ini pasti terjadi…” gumam Hadi sambil tersenyum miring.
Ia lalu melakukan panggilan ke Sekretarisnya “Hallo Faisal, batalkan kontrakku dengan Alicia!” perintah Hadi.
“Apa karena foto itu, Pak? tapi kami belum mengkonfirmasi siapa Pria itu!” jawab Faisal.
“Aku tidak mau tahu, cari wanita yang lain, yang tidak tersentuhkan!” sahut Hadi lalu mematikan Panggilan itu sepihak.
Di sisi lain, Faisal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Tidak tersentuhkan? Apa maksudnya? Ada-ada aja bosku ini.”
Faisal yang masih di kantor pergi menuju kantin kantor untuk makan siangnya. Tanpa sengaja Faisal menabrak Beiyin hingga Beiyin jatuh ke lantai.
“Ohh maaf, Mbak!” ucap Faisal sopan sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya.
“Ahhh tidak apa-apa, Pak. Maaf…” sahut Beiyin.
Beiyin mengabaikan uluran tangan Faisal, Ia lalu berdiri dan membungkuk, “Terima kasih, Pak…”
“Ohh okay…” jawab Faisal sambil menggenggam jari-jarinya yang menggantung di udara.
Beiyin lalu berbalik meninggalkan Faisal. “Heii CS, maaf siapa namamu?” panggilan dari Faisal tiba-tiba membuat Beiyin berhenti.
Beiyin berbalik lagi kea rah Faisal, “Nama saya Rizani Daud, Pak!” jawab Beiyin sambil membungkukkkan badan sedikit.
“Rizani, kenapa kamu menolak uluran tangan saya…” tanya Faisal.
“Maaf, Pak.. saya tidak bisa menyentuh yang bukan muhrim saya! lagi pula saya mau shalat pak, kalau saya sentuh nanti wudhu saya batal…” jawab Beiyin.
“Ohhh, apa itu artinya kamu tidak tersentuhkan?” tanya Faisal lagi.
“Huh? Iy iyaa paak…” jawab Beiyin ragu dengan kalimat Faisal.
“Hmm baiklah, kamu boleh pergi!” ucap Faisal Lalu berbalik arah, Ia tersenyum penuh kemenangan. “Sepertinya aku tahu wanita seperti apa yang di cari bosku.”