“Bagaimana, Alicia? apa kamu sanggup dengan perjanjian kontraknya?” tanya Faisal.
“Masih ada beberapa poin yang belum aku baca. Tapi aku rasa ini tidak akan sulit. Bukan aku yang akan datang ke arahnya, tapi dia yang akan lari ke arahku…” ucap Alicia.
Faisal mengerutkan alisnya, ‘Apa aku sudah membawa wanita yang tepat untuk Pak Hadi?’
Faisal kemudian kembali ke mobilnya. Ia duduk di samping sopir pribadinya Hadi.
“Kenapa, Faisal? Wajahmu seperti umm asam kecut gitu,” ujar Hadi pada sekretarisnya itu.
“Asam kecut? apa tuan tahu bentuknya seperti apa?” tanya Faisal lagi.
“Hmm tidak, tapi sepertinya sasa aku tepat. Jadi kamu kenapa?” tanya Hadi lagi.
“Aku… Aku hanya takut telah membawa wanita yang salah untukmu, Pak!” jawab Faisal.
“Wanita yang tadi? ada apa dengannya? Apa menurutmu dia licik?” tanya Hadi lagi dengan mencari kebenaran di balik manik sekretaris yang sudah dianggapnya sebagai sahabat itu.
“Entahlah, saya belum yakin, Pak. saya akan mengawasi gerak-gerik gadis itu,” ucap Faisal.
Hadi sungguh beruntung memiliki orang yang tulus melayaninya, sebaliknya Faisal juga merasa sangat berhutang budi pada Hadi yang telah banyak membantu hidupnya.
Mobil mewah milik Hadi memasuki halaman luas kediaman Keluarga Rahadi. Jalan kearah pintu masuk yang sepanjang tiga ratus meter dengan di kelilingi tanaman tetebuya yang sedang mekar sepanjang jalan.
Seratus meter pertama disuguhkan oleh warna mewah muda yang sangat lembut membuat teduh setiap mata yang melihat. seratus meter berikutnya akan di suguhkan oleh warna merah merona menyala seakan membuat semangat dan kebahagian pagi pengagumnya. Seratus meter selanjutnya dihiasi warna pohon yang bewarna warni.
“Sangat indah ya pak, seperti pelangi…” ujar Faisal sang sekretaris dengan menatap teduh pohon bunga tetebuya itu.
“Sudah jelas-jelas itu pohon bunga! Masa dibilang pelangi,” ketus Hadi yang duduk dibelakang.
Sang sekretaris dan Nanang sang pengawal pribadi yang sekali gus merangkup jadi sopir itu menahan tawa mendengar ucapan bos besar mereka.
Begitu sampai di depan pintu utama, Hadi mengernyitkan matanya lalu ia menyadari sesuatu. “Nang, putar balik!” perintah Hadi dengan cepat.
Nanang yang sangat sudah paham dengan situasi itu dengan sigap langsung bersiap berbalik arah.
“Hadiiiiiii! Hadi! Jangan lari kamu!” teriak Rosa sambil berlari dari dalam rumah.
“Cepat putar balik!” pinta Hadi sambil menepuk pundak pengawal pribadinya itu.
Namun sang sopir seperti biasa terhenti dengan aksi Rosa yang langsung memanjat dibagian depan mobil.
“Sampai kapan mau seperti ini, Hadi?” sergah Rosa yang emosi mengahadapi anak bungsunya.
“Kamu sengajakan? Biar saya ditangkap sama mommy saya?” bentak Hadi pada pengawal pribadinya.
“Maaf tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin…” jawab Pengawalnya itu dengan wajah memelas menatap Hadi.
“Ulangi saja terus jawaban itu sampai kesejuta kali!” ucap Hadi sambil menutup keras pintu mobil mewahnya.
“Makanya cepetan kamu itu nikah, biar dengar jawaban yang lain dari Nanang!” ketus Rosa yang mendengar ucapan dari anak bungsunya itu.
“Ayo, mommy, Hadi gendong!” sahut Hadi yang melihat ibunya masih duduk di atas mobilnya.
Rosa lalu di gendong oleh Hadi ala bridal style. “Selanjutnya mommy ingin istri kamu yang kamu gendong seperti ini!” ucap Rosa dengan santainya.
“Ohhh no Mommy, no! aku akan gendong dia seperti monyet dibelakang punggungku!” ketus Hadi dengan kesal.
Rosa langsung menepuk pelan wajah Hadi, yang membuat Hadi terlonjak kaget.
“Mommy… Apaan sih, mom!” ujar Hadi manja.
“Jangan bicara yang tidak-tidak, nanti mereka dengar!” sahut Rosa yang langsung memanyunkan mulutnya menunjuk seorang gadis cantik yang duduk bersama ibunya diruang tamu.
“Aku sudah menebaknya! Mommy tidak bosan apa? kan sudah aku sudah janji akan mencari gadis pilihanku...” jawab Hadi setengah berbisik, menghargai momminya di depan tamu mereka.
‘Yaa tuhan… Dengan mamanya saja dia lembuh dan penuh kasih sayang begitu, apalagi sama istrinya. Pasti anakku akan bahagia…’ kata wanita yang seumuran momminya Hadi itu didalam hati.
‘Udah genteng, tajir, penyayang lagi. Aku harus bisa mendapakan hatinya…’ gadis itu terposona dan menatap Hadi dengan terkagum-kagum.
“Udah mom, turun! Mommy makin berat nih…” ujar Hadi sambil mengejek Momminya.
“Wahh, beruntung sekali Jeng punya anak seperti nak Hadi. Tampan, baik, penyayang lagi,” ujar wanita itu sambil tersenyum simpul kearah Hadi.
Hadi memperhatikan wajah ibu dan anak itu yang terpesona kearahnya, ‘Menjijikkan’ ketus Hadi dalam hatinya.
“Ayo sayang, duduk disini!” perintah Rosa pada anak bungsunya. Hadi menurut dan langsung duduk.
“Kenalin, ini Ajeng, anaknya bu Bu Lasti!” tutur Rosa memperkenalkan Ajeng dan Hadi. Ajengpun menguluran tangannya.
Seperti biasa Hadi tidak menerima uluran tangan gadis itu, “Maaf tanganku kotor, tadi habis mempersihkan toilet…” ujar Hadi dengan wajah datarnya.
“Ha?” serentak suara wanita itu.
Rosa tahu itu adalah alasan Hadi untuk menghindari Ajeng, dengan cepat Rosa berkata, “Apa di kantor kamu tidak ada CS atau OB, Di? Kenapa harus kamu yang membersihkan?” lalu tersenyum kaku menatap kedua tamunya.
“Banyak sih mom, tapi yang aku bersihkan toilet umum! Kotor banget Mom, jadi… yaa bersihkan, udah kebelet soalnya!” jawab Hadi tersenyum menang melihat wajah terkejut ketiga wanita itu.
“Kenapa bisa ke toilet umum? Apa kamu sakit perut?” tanya Ajeng meneliti wajah Hadi yang sangat rupawan.
Raut wajah Hadi tiba-tiba berubah mendengar ucapan Ajeng, wajahnya jadi meringis, “Iyaa, sangat sakit malahan, sekarang saja masih sakit. Aku harus beristiraha sekarang!” ujarnya berbohong.
Rosa tak kehabisan akal, ia yakin sekali bahwa anak bungsunya itu pasti berbohong. Rosa lalu melirik kea rah Ajeng yang sepertinya prihatin dengan kondisi Hadi.
“Ajeng, bisa bantu tante? Kamu temani Hadi ke rumah sakit ya, karena tante dengan mama kamu mau membicarakan hal yang penting!” ujar Rosa yang sukses membuat mata Hadi melotot ke arahnya.
Ajeng lalu tersenyum antara malu dan mau, wajahnya yang berubah menjadi merona itu membuat Hadi merasa jijik. ‘Apaan sih mommy, gadis ini pasti berpikiran m***m sampai-sampai wajahnya merona begitu!’
“Bagaimana Ajeng, kamu mau kan?” tanya Rosa lagi sambil melirik ke arah Hadi.
‘Rasain kamu! Berani lagi berbohong dengan mommy!’ Rosa bersorak dalam hatinya.
“Baiklah Mommy, Ayo Ajeng kita kerumah sakit!” jawab Hadi.
Rosa yang sudah terbiasa dengan seribu ponolakan dari putra bungsunya itu, tiba-tiba terkejut dan menatap heran putranya. ‘Apa? dia penurut sekali? Apa akhirnya dia mengalah? Atau jangan-jangan dia…’
“Tunggu!” tiba-tiba Rosa menghentikan Hadi dan Ajeng yang baru akan melangkah.
“Ada apa tante?”
“Ada apa Jeng Rosa?”Tanya Ajeng dan mamanya menilah wajah Rosa yang tiba-tiba berubah menjadi gusar.
“Ini… tante saja yang bawakan Hadi kerumah sakit, karena… karena... Tante sangat khawatir! Iyaa! Tante sangat khawatir…” ucap Rosa yang terlihat gugup.
Ajeng dan Lasti saling pandang, melihat tingkah Rosa.
“Maaf ya, AJeng, Jeng Lasti… tante tinggal dulu. Mungkin lain kali kita bisa makan siang atau dinner lagi..” tutur Rosa dengan senyum kaku yang dibuat-buat.
Lasti dan Ajeng saling pandang. Lasti lalu berdiri dari duduknya, “Iyaa, Jeng. Tidak apa-apa… yang terpenting adalah kesehatan Hadi. Kami juga mau pamit undur diri ya Jeng…”
“Haduhh, jadi enggak enak nih, maaf ya Jeng Lasti…” tutur Rosa dengan senyum yang sangat kaku.
“Cepat sembuh ya, Hadi…” imbuh Ajeng yang tersenyum lalu pergi meninggalkan kediaman Rahadi.
Rosa lalu berbalik ke arah Hadi dan mencubit lengan anaknya itu.
“Hahaha, Aduhh Mommy, sakit! Kenapa? Apa Mommy takut?” tanya Hadi tersenyum penuh kemenangan pada Momminya.
“Apa yang kamu rencanakan sebenarnya, ha?”