Kedua mata gadis itu membulat mendengar penuturan Hadi yang mengusir mereka.
“Maafkan saya, saya terpancing emosi…” ucap Gracia lirih.
“Maafkan saya juga…” sahut Alice.
“Faisal! Kamu tidak dengar, aku bilang usir mereka!” jawab Hadi dangan suara yang sedikit lantang.
“Baik, Pak!” jawab Faisal singkat.
“Ayo, nona-nona, saya antar kalian keluar,” sahut Faisal pada kedua gadis itu.
“Inilah kenapa aku tidak suka dan bahkan alergi pada wanita. Kebanyakan mereka memang tidak tahu sopan santun!” ujar Hadi tanpa tetap fokus mengaduk kopi pahit yang ada didepannya.
Alice yang mendengar hal itu langsung emosi.
“Heii Bapak Hadi, apa kamu pikir kamu itu orang yang bertata-krama? Mengabaikan orang lain, itu juga tindakan yang tidak sopan! chhhh” balas Alice mencibir lalu keluar dari ruangan dengan menghentakkan langkah kasar.
Gracia juga ikut keluar menyusul Alice tanpa berpamitan atau menoleh kearah Hadi. Diruangan itu tinggallah Faisal, Hadi dan seorang gadis yang sedari tadi hanya diam.
Gadis yang berkulit kuning langsat itu terlihat sangat cantik dengan pipi mulus merona dengan riasan tipis dan natural. Rambunya yang hitam kecoklatan membuat wajahnya jadi semakin terlihat jelas.
Gadis itu melihat Faisal dengan tatapan gusar, ‘Apa yang harus aku lakukan’ gadis itu membatin.
Seakan paham, Faisal memberikan isyarat untuk tetap tenang dengan mengangguk kecil pada gadis itu.
“Siapa namamu?” tanya Hadi pada gadis mungil yang duduk disampingnya dengan jarak yang agak jauh karena setiap orang dudui disetiap sisi dari meja persegi berukuran sedang itu.
‘Apa aku harus mengulurkan tangan? Ohh tidak, dia tidak mengulurkan tangan, itu artinya aku tidak perlu,’ Gadis itu bergumam dalam hatinya.
“Emm nama saya Alicia, Alicia Rahayu…” ucapan gadis itu berhenti karena tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa untuk Hadi.
“Apa kamu sudah memilih pesananmu?” tanya Hadi dengan menatap datar kearah gadis itu.
‘Yaa tuhan, kenapa aku gugup sekali, seperti ditatap penguji saat sidang skripsi saja’ batin wanita itu.
“Hei? Apa kamu tidak bisa bicara?” tanya Hadi pada wanita yang hanya diam membeku menatapnya.
“Emmm, maaf. saya pesan steak saja…” jawab wanita itu gugup.
Hadi langsung menyunggingkan senyum kecutnya, “Kenapa kamu mengatakan mau pesan apa padaku? Apa kamu pikir aku yang pelayannya disini?”
‘Duhh! Salah lagi kan!’ Wanita itu langsung menelan salivanya. Ia memandang wajah Faisal. Faisal sangat mengerti kegusaran wanita itu. Faisal hanya tersenyum kecil menatap gadis itu.
“Maaf…” lirih wanita itu dengan menundukkan kepala, tidak berani menatap pada Hadi.
“Yaa, aku sudah memilih,” jawab wanita itu pelan.
“Faisal, panggilan pelayannya!” Perintah Hadi pada sekretaris pribadinya itu.
“Siap, Pak!” jawab Hadi sambil mengangguk pelan. Lalu menekan tombol di ruang itu untuk memanggil pelayan restoran itu.
“Permisi? Tuan dan Nyonya mau pesan apa?” tanya pelayan perempuan yang cantik dengan rambut pendek ikal sebahu.
“Siapa yang kamu panggil Tuan dan Nyonya?” bantah Hadi dengan menatap tajam pelayan itu.
“Ohh Maaf, saya kira dia istri anda, Tuan. kalian sangat serasi sekali…” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Alicia hanya tersenyum kaku menatap pelayan itu dan menampilkan gigi-gigi putih rapinya yang berbaris rapi. Berbeda halnya dengan Hadi. “Sepertinya manager SDM di sini tidak teliti memilih karyawan. Bagaimana bisa seorang pelayan langsung menilai orang tanpa tahu kebenarannya! Baru duduk disini saja aku sudah di fitnah!” ketus Hadi kesal.
‘Apa? di Fitnah?’ batin karyawan itu. lalu dengan tetap menawarkan senyum terindahnya pelayan itu bertanya lagi, “Maaf, maafkan kesalahan saya. Jadi apa menu pesanannya yang…. Sudah dipilih?” ucapan wanita itu terbata karena ragu dengan sebutan untuk Hadi dan wanita disampingnya.
“Aku pesan, menu special yang paling recommended dari restoran ini saja.” jawab Hadi.
“Oke, kalau mbak…?” tanya pelayan itu yang akhirnya memutuskan untuk memanggil mbak pada gadis cantik bersurai hitam kecoklatan itu.
“Saya pesan steak saja…” tutut gadis itu lembut sambil mengulas sedikit senyum ramahnya.
“Jadi, Alicia, berapa umurmu?” tanya Hadi yang mengalihkan pandangannya pada Alice.
“Umur saya dua puluh tiga tahun… maaf, saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?” tanya Alicia dengan gugup.
“Panggil saya Pak Hadi saja!” jawab Hadi dengan santainya masih tetap menilai gerak-gerik wanita itu.
“Baik, Pak” jawab Alicia dengan tersenyum kaku. ‘Tadi bukannya dia marah dipanggil bapak? Ahh sudah lah’ batin Alicia.
“Apa kamu asli dari Jakarta?” tanya hadi lagi.
“Tidak, Pak. Ayah saya asli jawa barat sedangkan ibu saya asli jeju, korea selatan,” jawab wanita itu tersenyum.
“Jadi ke Jakarta kerja atau kuliah?” tanya Hadi lagi.
“Saya kerja, Pak. Saya bekerja di Perusahaan GC Advertising,” sahut wanita itu.
“GC Advertising? Aku belum pernah mendengar nama perusahaan itu,” jawab Hadi.
“Iyaa, Pak. GC Advertising baru berusia dua tahun,” jawab gadis itu yang sekarang sudah berani membalas tatapan Hadi.
“Setelah itu, apa kegiatanmu setiap harinya?” tanya Hadi lagi.
‘Ini seperti wawancara kerja saja’ batin wanita itu.
“Saya hanya kerja, pulang dari kantor langsung tidur, Pak.” jawab gadis itu dengan garis melengkung di bibirnya yang terlihat begitu manis.
“Bagaimana dengan diner atau pesta dimalam hari?” tanya Hadi lagi dengan raut wajah yang menyelidik.
“Kalau diner, saya makan di café langganan saya, Pak. Untuk pesta di malam hari itu jarang sekali, kecuali rekan-rekan sekantor yang mengadakan acaranya,” jawab Alicia.
“Oh ya, kamu sudah tahukan tujuan kamu disini untu apa?” tanya Hadi lagi.
“Ta tahu, Pak. untuk diseleksi menjadi istri …” ucapan Alicia langsung dipotong oleh Hadi.
“Jadi, kenapa kamu mau menjadi Istri kontrak saya?” tanya Hadi.
“Karena saya juga butuh status itu, Pak. Saya rasa itu tidak akan merugikan pihak manapun,” jawab Alicia.
“Butuh Status? Apa kamu sedang hamil di luar nikah sekarang?” tanya Hadi dengan alis mata yang bertaut.
“Ahhh tidak, Pak. Bukan begitu maksud saya. Mmm saya ingin menikah dan mengakhiri masa lajang saya. menjadi istri bapak rasanya sebuah kehormatan bagi saya,” jawab wanita itu.
Hadi mengangguk pelan. “Baiklah, saya rasa kamu gadis yang cukup baik,” jawab Hadi yang membuat gadis itu tersenyum bahagia sambil menatap kearah Hadi.
“Jadi, apakah kamu sudah setuju untuk menjadi istri kontrakku?” tanya Hadi.
“Iya pak, saya bersedia…” Senyum merekah di bibir wanita itu terlihat jelas. Siapa yang tidak ingin menikah dengan crazy rich yang super duper tampan seperti Septian Hadi.
“Faisal, berikan kontraknya pada Alicia!” perintah Hadi dan langsung dibalas anggukan oleh Faisal.
“Nona, tolong baca point utama ini dengan benar sebelum menandatanganinya,” ucap Hadi.
Alicia langsung mengangguk. Mata Alicia membulat membaca point pertama dalam perjanjian kontrak itu.
“Pihak satu dan dua tidak boleh tidur di ranjang yang sama, apabila salah satu melakukan kesalahan maka pihak yang melanggar wajib dikenai denda banyak sepuluh juta untuk setiap kali melakukan kesalahan…” tutur Alicia yang dibalas anggukan oleh Hadi.
‘Baiklah, kalau begitu tidak masalah, Aku tidak akan melakukan kesalahan. Tapi kalau dia yang melakukan, maka itu tidak akan merugikan aku,’ batin Alicia.
“Masing-masing pihak dilarang untuk berselingkuh. Jika ketahuan berselingkuh maka akan di proses sesuai aturan yang ada di pemerintah.”
“Jika salah satu pihak jatuh cinta pada orang lain, maka pihak tersebut tidak boleh berselingkuh, menggugat cerai, atau membatalkan kontrak secara sepihak. Kecuali pihak lainnya juga mendapatkan pasangannya sendiri.”
“Jadi kita tidak boleh mengugat cerai, membatalkan sepihak? Berselingkuh? Ataupun tidur dengan suami?” tanya Alicia kembali pada Hadi.
“Iyaa, tidak melakukan hubungan suami-istri saat dikamar, tapi tetap saling menjaga nama baik diluar. Selama pernikahan, dan kamu harus tahu aku tidak akan menceraikanmu dengan mudah karena orang tuaku sangat membenci perceraian. Begitu juga aku! Jadi harap pikirkan perjanjian ini baik-baik. Besok jam Sembilan pagi, aku tunggu keputusanmu!”