Setelah Momminya pulang, Hadi mengumpulkan para karyawan di hall perusahaan.
Dengan gagahnya Septian Hadi menyampaikan pidatonya. Semua wanita yang ada di aula itu terkagum-kagum melihat sosok CEO mereka. Wajahnya yang tampan dan tegas dengan kulit kuning langsatnya. Matanya yang hitam pekat seiring dengan rambut hitam pekatnya. Tubuhnya yang tinggi dan atletis terbungkus sempurna dibalik jas hitam yang ia kenakan.
“Baiklah, tujuan saya disini mengumpulkan kalian semua disini adalah untuk memberitahukan beberapa pengumuman penting. Yang pertama, Cakrawala Group akan melakukan Bazar kreatifitas selama sehari. semua karyawan termasuk OB dan CS di minta untuk ikut memeriahkan bazar tersebut. Setiap devisi dan stand bazar yang bisa menjual barang dagangan terbanyak akan diberi hadiah, dengan total hadiah seratus juta rupiah untuk juara satu, dua dan tiga…” semua karyawan langsung bertepuk tangan mendengar hal itu.
Hadi langsung mengangkat tangannya, “Hari ini saya akan mengumumkan penghargaan karyawan teladan dari seluruh devisi dengan hadiah jalan-jalan ke spanyol selama satu minggu beserta kepala devisinya…”
Seluruh karyawanpun bertepuk tangan setelah nama-nama karyawan terbaik itu diumumkan.
“Yang ketiga, seluruh karyawan termasuk CS dan OB akan tour ke berbagai daerah seluruh Indonesia sesuai pilihannya masing. Satu orang hanya bisa memilih satu kota wisata saja, selama tujuh hari. Untuk biaya transportasi, penginapan dan pemandu wisata akan di biayai oleh perusahaan!” tegas Hadi.
Seluruh karyawan bersorak. Semua wajah para karyawan terlihat bahagia.
“Wahhh seluruh karwayan di Cakrawala group berjumlah lebih kurang tiga puluh ribu orang, berapa banyak ya uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan?” tanya Gisella pada David.
“Aku tidak salah memilih perusahaan tempat bekerja…” ucap Karwayan yang lain.
“Kamu akan memilih kota mana Sell?” tanya David, ruangan sangat riuh dengan ekspresi bahagia para karyawan.
“Aku ingin ke pulau Weh, di Sumatra, karena aku juga belum pernah ke Sumatra. Atau mungkin Pulau Derawan, atau pulau Maratua atau Taman Nasional Wakatobi…” ujar Gisella penuh semangat setengah berjingkrak.
“Kenapa semua yang kamu pilih adalah pulau-pulau Sell? Apa kamu mau melihat bule-bule tampan atau yang berbiniki?” tanya David sambil tertawa kecil menampilkan lesung pipinya yang indah.
“Ehhh otakmu itu. Aku ingin foto yang estetik di pulau, karena foto di pegunungan atau di taman, di kebun aku udah banyak! Lagian di pulau Weh,mana ada yang berbikini, itukan pulau yang sangat kental dengan budaya sabang dan masih terjaga.” jawab Gisella dengan kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
Setelah selesai memberikan kabar bahagia itu kepada seluruh karyawannya. Hadi turun dari podium yang disertai dengan tepuk tangan yang menggema.
“Para karyawan terlihat bahagia pak…” sahut sekretaris pribadinya yaitu Faisal Febrian.
“Semua itu tidak ada apa-apanya dengan kerja keras mereka untuk Cakrawala Group yang membuat kami tidak akan kehabisan kekayaan hingga tujuh turunan.” ucap Hadi tetap sambil berjalan menuju ruangannya.
Cakrawala Group adalah kolongmerat yang sangat mensejahterakan karyawannya. Mulai gaji yang sangat tinggi hingga hadiah-hadiah yang diberikan kepada pegawai atau karyawan teladan dan hadiah berlibur keseluruh Indonesia setiap setahun sekali, jika omset, aset dan saham perusahaan meningkat. Jika tidak meningkat atau bahkan menurun, maka smeua reward itu di tiadakan. Itulah kebijakan yang dibuat oleh CEO baru mereka yaitu Septian Hadi yang telah memimpin Cakrawala Group selama delapan tahun terakahir.
Hadi langsung duduk di kursi CEO itu. Ia terlihat sangat gagah dan luar biasa berkarisma.
“Faisal, tolong carikan aku wanita baik-baik untuk dijadikan istri kontrakku!” ucap Hadi tegas tanpa memandang kearah Faisal, karena masih fokuc pada dokumen didepannya.
“Ap apa Pak? Istri kontrak?” tanya Faisal yang tergagap karena ucapan bosnya yang tiba-tiba.
“Iyaa, wanita yang bisa diajak bekerja sama untuk membahagiakan kedua orang tuaku, menjaga nama baikku, dan tidak menyusahkan aku!” sahut Hadi.
‘meman itu kan tugas seorang istri’ batin Faisal.
“Satu lagi, yang terpenting dia adalah gadis baik-baik. Tak peduli dia miskin atau kaya, tinggi atau pendek, terserah yang penting dia adalah gadis baik-baik, jelas bebet dan bobotnya dan Bukan w*************a!” ujarnya dengan tegas dan menatap Faisal sang sekretaris dengan tegas.
“Baik, Pak!” jawab Faisal singkat.
Beiyin bersiap-siap untuk pulang kantor, ia menggunakan cardigan panjangnya yang bewarna hitam untuk menutupi seragam yang ia pakai. Dengan semangat empat lima ia mengayuhkan sepedanya ke kosannya.
“Baiklah, sekarang sudah jam satu siang, satu jam untuk makan dan istirahat. Aku bisa, aku kuat..” ucap Beiyin menguatkan dirinya.
Ttttttttttt Ttttttttttt Ttttttttt getar ponsel Beiyin berbunyi.
“Kiaa? Kapan kamu ke Jakarta lagi, aku kerepotan ini…” curhat Beiyin yang langsung berkeluh kesah ketika melihat sahabat dan partner kerjanya itu menelpon.
“Kaan, baru kamu tau bagaimana rasanya hidup tanpa aku!” jawab Azkia sambil terkekeh.
“Iyaaa nih, aku baru sadar. Oh ya orang tuamu bagaimana kabar mereka?” tanya Beiyin dengan suara yang masih merengek manja.
“Alhamdulillah, mereka baik-baik saja, Yin. Besok aku akan langsung ke Jakarta, urusanku disini sudah selesai. Kamu sudah shalat dzuhur?” tanya Azkia mengingatkan sahabat yang ia anggap sebagai adik kecilnya itu, walaupun usia mereka sama hanya azkia berbeda beberapa bulan saja dari Beiyin.
“Sudah, tadi shalat di kantor.”
“Di kantor? Jadi sekarang kamu bekerja di kantor?” terdengar suara Azkia yang sangat bersemangat di balik panggilan itu.
“Iyaaa, jadi cs…” jawab Beiyin memelas, karena lelah membayangkan besok ia harus bekerja lagi.
“Wah bagus lah… Semangat Bestii!” sahut Azkia yang begitu gembira.
Beiyin menelpon Azkia selama beberapa menit dan langsung di tutup oleh Azkia karena ia sangat hapal jadwal Beiyin ditambah lagi Beiyin yang belum makan.
Disisi lain, Hadi telah memulai menyeleksi para wanita yang dicari oleh Faisal dan anak buahnya.
Disebuah restoran bintang lima di Jakarta, ada tiga gadis yang sekarang duduk di meja dengan ruangan khusus yang telah di pesan oleh Faisal untuk kelancaran acara seleksi calon istri Bos besarnya itu.
“Silahkan pesan makanan kalian!” ujar Hadi singkat dengan menatap sekilas ketiga gadis itu.
‘Apa dia ingin menilai cara kami makan?’
‘Apa dia ingin mengetahui selera kami?
‘Apa makan siang ini akan masuk kepenilaian?’
Ketiga gadis itu bertanya di dalam hati mereka.
“Emm, maaf…. Pak Hadi kalau boleh tahu apa makanan kesukaan Bapak?” tanya gadis berambut hitam lurus dengan poni yang juga lurus dengan kulit putih bersih dan mata kecoklatannya. Ia tersenyum manis pada Hadi.
Hadi langsung menatap tajam gadis itu, “Siapa namamu?”
“Kenalkan, nama saya Gracia, Pak…” jawab gadis itu dengan tersenyum ramah dan mengibaskan rambut panjangnya yang hitam dan lurus itu.
“Itu yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum menanyakan makan favorit orang asing!” tangkas Hadi dengan tatapan tajam yang sangat mengintimidasi.
Gracia langsung membeku, senyum di wajah cantiknya langsung menghilang. Tatapan tidak suka yang di tampilkan Hadi membuatnya tidak berani bersuara lagi.
Faisal yang berdiri di belakang tuannya beberapa langkah langsung mengusap hidungnya berpura-pura tidak peka pada apa yang terjadi.
“Perkenalkan nama saya Alice, Tuan. Alice parker,” jawab wanita berkulit sawo matang yang eksotis dengan sangat percaya diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Yang satu memanggil saya Bapak, seolah-olah dia adalah karyawan saya, dan satunya memanggil saya Tuan, seolah-olah dia adalah pembantu saya…” tutur Hadi yang mengabaikan uluran tangan Alice.
Alice akhirnya menggenggam tangannya yang menggantung di udara dan menariknya kembali.
Faisal lagi-lagi mengucap hidungnya dan berkata dalam hati, ‘Aku sepertinya harus mencari lagi.’
“Umm saya memanggil emm kam.. and… maksud saya Pak Hadi, untuk menghormati Bapak, karena saya tahu Bapak adalah CEO dari cakrawala Group,” jawab Gracia membela dirinya.
“Saya, karena memanggil dengan sebutan Tuan juga sebagai rasa hormat, dan untuk lebih akrab, karena sebutan Bapak itu terlalu tua dan kaku untuk pertemuan santai ini…” ucap Alice yang juga membela diri.
Mata Gracia langsung melotot kearah Alice, “Maksud kamu apa?” tanya Gracia yang merasa di pojokkan.
“Apa aku salah? Memang benarkan apa yang ak..”
“Diaaaammm!” Hadi membentak meja, Alice dan Gracia langsung terdiam melihat kemarahan Hadi.
Tangan Hadi mengepal, “Kalian benar-benar tidak sopan! usir mereka dari disini!”