Setelah malam yang sangat berat, Beiyin kembali tersadar karena alarm berisiknya, semuanya berjalan seperti biasanya, Beiyin tetap membuat kue dan mengantarnya pagi-pagi ke warung-warung langganannnya.
Beiyin berkeliling kota dengan sepedanya, mencari pekerjaan tambahan yang mengisi waktu luangnya, lalu ia melihat sebuah pesan di group lowongan pekerjaan whatsappnya, ia langsung bergegas menyiapkan lamaran pekerjaan dan menuju alamat kantor yang di tuju.
Cakrawala Group sebuah perusahaan bidang interior dan real estat ternama di Jakarta. Setelah mengikuti beberapa proses akhirnya beiyin diterima menjadi office girl, perasaannya sangat bahagia sekali, ia bertugas mengepel kantor di lantai satu dan dua. Beiyin akan mulai bekerja keesokan harinya.
‘Baanngguunn wooii baangguunn, atau maau dibangunin malaikat mauutt, Woooiiiiiiiiii!’
‘Baanngguunn wooii baangguunn, atau maau dibangunin malaikat mauutt, Woooiiiiiiiiii!’
“Huaaahhh…” Beiying memaksa membuka matanya yang masih terkunci kuat.
“Hhh baiklah, mulai hari ini, waktu istirahatku jadi tujuh jam sehari. Tidak masalah, Aku masih kuat, itu belum seberapa…” ujarnya sambil menguatkan diri.
Beiyin sampai dikantor tepat jam delapan pagi, karena ia tidak ingin terlambat terutama di hari pertamanya bekerja.
Beiyin langsung membersihkan ruangan-ruangan yang ada di lantai satu. Untuk bagian luar, sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan shift malam.
“OB baru ya?” tanya salah satu karyawan lelaki yang ada disana.
‘Bukannya aku ini Cleaning servis, ya?’ jawabnya dalam hati. “Iya..” jawab Beiyin singkat dan menundukkan kepalanya tanda hormat pada karyawan itu.
‘lebih baik jawab iya saja biar cepat urusanku selesai’ batinnya.
“Baru tamat SMA?” tanya karyawan itu lagi.
Beiyin lalu menoleh kearah sumber suara, lalu “Tidak pak, sudah enam tahun yang lalu,” lalu dengan cepat ia kembali memfokuskan dirinya untuk membersihkan meja diruangan itu.
Pria itu tersenyum kecil melihat Beiyin yang mengabaikannya.
“Nanti buatkan aku kopi ya…” perintah karyawan itu.
“Baik pak,” jawab Beiyin yang langsung menganggukkan kepalanya. Selama membersihkan ruangan, ia tidak berbicara sama sekali.
Ia juga mengabaikan para karyawan yang mulai masuk ke ruangan satu persatu membuat lantai yang tadi di pel oleh Beiyin menjadi kotor lagi.
“Jangan di pel dengan pel basah, pakai kain pel yang kering itu…” ujar Pria yang tadi sambil menyerahkan pel kering pada Beiyin.
“Terima kasih, Pak…” jawab Beiyin singkat.
“Jangan mulai menggoda deh, Vid. Masih pagi…” jawab seorang karyawan wanita yang terlihat anggun dan pintar itu.
“Menggoda apanya? Aku hanya memberikan kain pel saja kok..” balas David, pria yang memberikan kain pel tadi,
Gisella adalah wanita yang tadi menegur David. Gisella yang berambut panjang bergelombang dengan blazer putihnya dan rok panjang selututnya membuat ia terlihat begitu berkarisma Kulit sawo matang dengan tinggi dan langsing terlihat seperti model.
Gisella hanya tersenyum simpul melihat raut wajah Beiyin yang seakan mengabaikan tapi pipinya memerah.
“Hari ini, CEO kita meminta semua karyawan berkumpul, ada apa ya?” tanya Gisella dengan memiringkan kepalanya menatap kearah David.
“Mungkin memilih karyawan wanita yang mau dijadikan istri,” jawab David singkat tanpa menoleh.
“Serius kamu, Vid?” tanya Gisella dengan raut wajah terkejut tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Seperti ini barita baru saja,” David yang menggeleng melihat reaksi Gisella.
“Yaa memang tidak sih, tapi aku kira Pak Hadi, CEO kita yang tampan membahana itu sudah memilih, ternyata belum… Awww,” ucap Gisella dengan berteriak sedikit gemas sehingga membuat David dan Beiyin melihat kearahnya.
Gisella yang menangkupkan kedua tangannya yang terkepan di bawah dagunya jadi tersenyum cengengesan menyadari David dan Beiyin menatapnya.
Beiyin langsung membuang pandangan dan lanjut membersihkan ruangan itu.
“Kamu juga bisa loh, umm siapa namamu CS baru?” tanya Gisella pada Beiyin.
Beiyin langsung menoleh dan menjawab dengan sopan, “Rizani Daud, itu nama saya buk,” jawabnya singkat.
“Ohh, kamu juga bisa berpartisipasi loh, Rizani. Mana tahu selera CEO adalah wanita sederhana yang berhijab. Karena semua wanita sosialita telah di tolak mentah-mentah oleh Pak Hadi,” ujar Gisella serius dengan wajahnya yang cantik itu.
Beiyin yang memiliki nama asli Rizani Daud itu tersenyum kecil, “Tidak buk, saya merasa tidak pantas…” jawab nya singkat.
Karena ia telah selesai bersih-bersih Beiyin pun pamit keluar ruangan. “Permisi Pak, Buk..”
David yang memperhatikan Beiyin pun ikut tersenyum.
“Kenapa kamu, Vid? Senyam senyum begitu? Jatuh cinta lagi, dasar playboy…” cecar Gisella sambil menyunggingkan senyum kecutnya kearah david.
“Kenapa? Kamu cemburu?” David tertawa kecil memamerkan senyum manisnya yang mampu meluluhkan hati wanita.
“Yaa enggak lah, kalau dulu iya, tapi karena aku tahu kamu perhatian nggak Cuma ke aku saja, aku jadi tahu, itu bukan perhatian tapi kemanusiaan yang berlebihan…” jawab Gisella dengan lagi lagi menyunggingkan senyum kecutnya.
“Kamu imut banget kalau marah gitu Sell!” ucap David sambil tersenyum.
“Aku memang imut!” jawab Gisella sambil menjulurkan lidahnya, lalu kembali menatap komputer didepannya.
David pun tersenyum, senyum yang sangat meneduhkan dan sangat menentramkan mata dan hati. David pun kembali bekerja.
Beiyin yang selesai membersihkan ruangan di lantai satu selama satu setengah jam, ia berhenti sebentar untuk shalat dhuha.
“Wahh bahkan mushalla perusahaan ini sangat bersih dan indah…” ujar Beiyin.
Setelah shalat ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Rizani, hanya tiga ruangan saja yang belum ku bersihkan, aku belum sarapan, apa kamu mau membantuku?” tanya wanita yang lebih muda dari Beiyin itu.
“Ohhh baiklah, biar aku saja yang membersihkan…” jawab Beiyin.
Untuk lantai satu dan dua, ada lima orang petugas kebersihan disana, tapi hari ini yang datang hanya dua orang sehingga membuat Beiyin dan wanita tadi kewalahan.
“Perusahaan ini besar sekali. Berapa ya total CS dan OB yang ada disini? Belum lagi para karyawan-karyawannya…” ucap Beiyin sambil melihat lorong panjang ruangan yang ada di lantai dua.
Cakrawala Group adalah salah satu kolongmerat terbesar di Indonesia yang di pimpin oleh Septian Hadi yaitu putra bungsu dari Tomi Riadi dan Rosa Lestari. Dua orang kakaknya memilih menjalani hidup masing-masing dengan profesi dan hobi yang mereka sukai.
Tomi dan Rosa tidak pernah memaksa putra putri mereka untuk menjadi CEO atau meneruskan bisnis keluarga. Menurut mereka, kekayaan mereka hanya untuk kebahagiaan putra putri mereka. Jika mereka tidak bahagia, maka kekayaan itu akan sia-sia.
“Ayah, Aku ingin jadi CEO dari Cakrawala Group. Aku ingin menjadi pebisnis yang lebih hebat dari ayah maupun Almarhum Kakek. Aku akan meneruskan usaha dan kerja keras kakek dan ayah selama ini.”
Ucapan putra bungsu mereka itu membuat Tomi dan Rosa bahagia, karena mereka juga mengkhawatirkan nasib para pegawai dan perusahaan mereka jika mereka tidak menemukan penurus dari Tomi.
Satu-satunya hal yang membuat khawatir pasangan suami istri itu adalah, Putra bungsu mereka yang sampai saat ini belum juga menikah bahkan belum pernah terdengar kabar memiliki pacar atau dekat dengan wanita manapun.
“Sudahlah mommy, aku tidak mau dengan gadis itu. lipstick merahnya yang menyala membuat ku jijik. Bagaimana ia bisa makan dengan lipstick setebal itu di bibirnya? Apa dia menelan semua lipstick itu?” jawab Hadi dengan kesal ke ibu kandungnya, Rosa Lestari.
“Lalu wanita seperti apa yang kamu inginkan? Semua pilihan mommy kamu tolak. Karena hak tinggi mirip kaki belalang kayu lah, pipi merah seperti badut lah. Baju terbuka seperti produk gagal lah. Sekarang jijik dengan lipstick tebal lah. Mommy pusing menghadapi kamu Hadiii…” ujar Rosa sambil berkacak pinggang.
“Yaa sudah. Mommy tidak perlu repot-repot. Hadi juga belum mau menikah mommy. Masih banyak cita-cita Hadi yang belum tercapai..” jawab Hadi yang memelas menatap momminya.
“Hmm Mommy tidak ingin apapun lagi, Hadi. Kamu sudah cukup membuat mommy bangga dengan prestasi kamu. Satu-satunya hal yang mommy inginkan adalah melihat kamu menikah. Mommy ingin kamu menikah sebelum mommy mening…”
ucapan Rosa terputus karena Hadi langsung memeluknya.
“Mommy tidak mempermasalahkan apakah dia orang miskin, atau kaya, fisiknya sempurna atau tidak, mommy tidak mempermasalahkan status sosial, asalkan dia adalah gadis baik-baik. Jadi kamu jangan ragu untuk memilih wanitamu dan memperkenalkannya pada Mommy..”
“Mommy… maafkan hadi, karena belum bisa membahagiakan Mommy. Hadi tidak akan melakukan kesalahan yang sama ketika nenek meniggal. Berikan Hadi waktu enam bulan lagi ya, Hadi akan membawakan menantu untuk Mommy…” ucap Hadi dengan memelas memperhatikan manik mata kecoklatan momminya.