‘Baanngguunn wooii baangguunn, atau maau dibangunin malaikat mauutt, Woooiiiiiiiiii!’ Suara alarm smartphone yang di atur sangat berisik untuk membangunkan pemilik smartphone yang terlelap tidur.
“Yaaa ampun, gak berperasaan banget sih alarmnya!” gerutu Beiyin terhadap rekaman suaranya sendiri yang terdengar seperti emak-emak penagih hutang yang sedang mengamuk. Melihat kearah jam yang masih jam 03.00 pagi. Beiyin segera bergegas untuk shalat tahajud, setelah itu membuat adonan aneka macam gorengan seperti risoles, tahu, tempe goreng krispi, dan keripik kentang krispi.
'Beeiiiyyiinnn kue nya udah dikemas? Udah jam 5 pagi woooiiiii, shalat subuh jangan lupa!' alarm Beiyin berteriak lagi, menunjukkan pukul 05.00 pagi. Beiyin dengan buru-buru mem-packing kue-kue nya dan shalat subuh.
Setelah selesai beiyin pun mandi dan mengenakan tunik hijau daun dan rok plisket hitamnya, tepat pukul enam lewat lima belas menit pagi, Beiyin mengayuhkan sepedanya menuju warung-warung untuk menitipkan kue-kuenya. Keripik kentang krispinya ia titipkan di minimarket-minimarket ibu kota, karena keripik kentangnya telah mendapatkan izin edar dan sertifikat halal MUI serta BPOM.
Dengan keringat yang bercucuran, Beiyin mengayuhkan sepedanya, lalu berhenti di sebuah masjid untuk shalat dhuha. Beiyin adalah seorang gadis yang sangat pekerja keras dan juga taat beribadah. Hari-harinya begitu produktif, ia berusaha keras untuk mensejahterakan keluarganya di kampung yang masih terbilang susah. ia merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Ia memiliki 3 adik laki-laki, dan 2 adik perempuan. Beiyin berusia 24 tahun, tapi karena postur tubuhnya yang langsing dan tinggi 150 cm serta wajah imut ditambah lagi kelakuannya yang lucu membuat siapapun yang melihatnya pasti mengira bahwa ia berumur 17 tahun.
Beiyin sedang duduk di taman kota menikmati waktu istirahatnya, helaan napas panjang keluar dari bibirnya, mengungkapkan betapa lelahnya ia. lalu tiba-tiba hp nya berdering, kali ini adalah panggilan dari ibunya di kampung bukan alarm yang biasanya berisik, “Assalamualaikum, Bu. Ada apa?” tanya Beiyin khawatir, karena tidak biasanya ibunya menelpon di jam segini.
“Kak, ini Salsa. Umak dan Ayah udah pergi ke sawah, hp Umak ketinggalan,” terdengar suara pelan dibalik panggilan suara itu membuat Beiyin khawatir.
“Ohh iya ada apa salsa? Jadi Ayah dan Umak sekarang bertani? Sudah bosan berdagang rupanya. Toko siapa yang jaga?” ujar Beiyin dengan rentetan pertanyaan. Bibir nya juga melengkung dan tertawa kecil membayangkan orangtuanya yang rajin sekali bekerja.
“Kak, maaf, Umak tidak mengizinkan aku bercerita ini pada Kakak, karena takut Kakak khawatir. Tapi aku merasa kakak perlu tahu, pinjaman Ayah di bank udah jatuh tempo tiga bulan, dan penagihnya sudah menelpon Ayah, jika tidak bisa dibayar, kemungkinan rumah kita akan di lelang oleh pihak Bank…” suara berat Salsa terdengar seperti menahan tangisnya.
“Lalu Bang Riko, memilih cuti kuliah dan bekerja jadi kuli untuk membantu Ayah,” dengan suara tangis yang tertahan Salsa menjelaskan kepada kakaknya tentang kondisi keluarganya. Di satu sisi ia juga tidak mau menambah beban kakaknya, karena ia tahu betul bagaimana sepak terjang kakaknya.
“Apa? Bagaimana bisa? Kakak mengirim uang setiap bulannya untuk uang kuliah bang Riko dan juga cukup untuk angsuran Bank, bagaimana bisa jatuh tempo tiga bulan, bukannya ayah masih punya tabungan di Bank? Toko kita bagaimana? Apa tidak jualan lagi?” tanya Beiyin yang sangat terkejut.
Keluarga mereka memiliki toko sembako yang cukup untuk biaya hidup mereka, juga bisa untuk membayar hutang Bank. Setiap bulannya uang yang dikirim Beiyin akan di tabung di Bank oleh ayahnya untuk keperluan mendesak suatu saat nanti.
“Kak, tiga bulan lalu ada teman ayah yang minjam uang, karena istrinya mau melahirkan, jadi Ayah memberinya pinjaman sepuluh juta, tapi ketika Ayah menagih, Ayah malah dikasari dan dihina, dan sekarang tau-taunya orang itu lari keluar kota. Ayah gak bisa menuntut karena tidak ada bukti transaksi ataupun saksi…”
“Astagfirullah...” gumam Beiyin
“Terus barang dagangan sama mobil kita dibawa kabur sama karyawan Ayah, Kak. Mobilnya udah ketemu di kota Sibolga tapi orangnya gak ada, kerugiannya sekitar tujuh juta, Kak…” ujar Salsa dengan suara bergetar.
“Apaaa?” Ya Allah, jadi toko gimana sekarang?” tanya Beiyin sangat terkejut mendengar cerita adiknya. Bagaimana tidak, ia tahu betul bahwa modal toko mereka hanya sekitar sepuluh jutaan hasil pinjaman KUR dari bank
“Terus toko kita kemalingan sampai tiga kali...”
“Ya Allah...” hanya satu kata yang keluar dari mulut Beiyin, ia diselimuti rasa kesal, terkejut, dan sesak didadanya. Ia tidak bisa membayangkan semua yang dialami keluarganya di kampung, dan ia tidak tahu sama sekali, ia langsung teringat pada ayahnya yang mengidap tekanan darah tinggi.
“Ayah juga pernah ditipu tujuh juta, Kak, karena Ayah tidak bisa menyetir, dan Ayah belum bisa mencari pengganti karyawan yang membawa lari mobil kita dulu, jadi Ayah memesan sayur-sayur, bawang dan lainnya pada temannya sesama pedagang yang ingin belanja ke Sibolga. Tapi saat uangnya sudah ditransfer, barangnya enggak dikirim, jadi toko kita benar-benar gak ada stock barang. uang direkening habis semua. Uang yang Kakak kirim dipakai untuk biaya hidup sehari-hari, Kak,” Salsa mulai menangis dengan suara tersendu-sendu.
Mata Salsa terasa memanas dan seluruh aliran darah terasa terpusat kewajahnya. Wajahnya yang memerah menahan tangis yang akhirnya tak bisa terbendungkan lagi. Dengan terisak ia berkata “Hampir tiga bulan ini Ayah, Umak, Bang Riko dan Bang Agung bekerja keras, Kak. Mereka mengambil upah untuk menanam padi orang, menanam sawit orang dan pulang dengan wajah pucat pasi dengan baju dan rambut yang basah oleh keringat…”
“Kenapa tidak dilaporkan pada polisi, Sal? lalu bagaimana kondisi ayah sekarang?” tanya Beiyin sambil menangis dan memijat pelipis nya, ia benar-benar seperti dihantam oleh beban berat, seperti sudah jatuh dan tertimpa tangga pula.
Salsa tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan melanjutkan ceritanya , "Jadi Bang Ricko sekarang cuti kuliah dan akan bekerja untuk biaya sekolah kami bertiga, lalu mobil kita sudah dijual, karena Ayah tidak sanggup lagi membayar kredit bulanannya. Penghasilan kita saat ini cuma pada sawah. Uang yang Kakak kirim itu syukur bisa memenuhi kebutuhan makan dan minum setiap hari.”
Mendengar cerita adiknya, Beiyin menghempaskan nafasnya, cobaan seakan-akan datang bertubi-tubi. Ia sangat kesal, karena orang tuanya tidak memberi tahunya sejak awal, mungkin jika diberi tahu ia bisa bekerja lebih keras dan hutang di bank tidak akan jatuh tempo hingga tiga bulan. Mendengar adiknya yang menangis dibalik telepon, Beiyin berusaha tenang, “Nggak apa-apa, kamu tenang ya, nanti Kakak hubungi lagi,” ucap Beiyin lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.
Kepala beiyin seperti menyimpan BOM yang akan meledak, ia menundukkan kepalanya dan memijat pelipisnya, “Ya Allah, Aku yakin Engkau maha tahu batas dan kemampuanku. Jika kau beri musibah seperti ini, artinya aku orang yang bisa mengatasinya, tapi ya Allah, aku mohon beri spasi atau tanda koma dalam masalahnya, atau tanda titik juga tidak apa-apa, aku sangat lelah ya Allah, aku tidak bermaksud mengeluh, yaa Walaupun aku mengeluh, tapi akuu… hmmm yaa sudahlah, aku ralat ya Allah…” Beiyin berbicara sendirian sambil melamun. ia beranjak dari tempat duduk nya dan mengambil sepedanya.
Sesampainya ditempat parkir, ia melihat sepedanya kempes, dan benar-benar rata dengan aspal jalanan.
“Astagfirullah…” ia sangat terkejut dan bingung, karena ia tidak tau dimana tempat tambal ban. Ini adalah kali pertamanya ban sepedanya bocor, biasanya masalah kerusakan sepeda di handle oleh teman satu kosnya yang sebelumnya tinggal lebih lama di Jakarta, tapi saat ini, teman nya itu sedang pulang kampung beberapa hari.
Beiyin bertanya kepada tukang parkir “ Permisi, bengkel yang bisa untuk menambal ban ada gak? Disekitar sini?”
“Setahu saya sih gak ada mbak, mungkin kalau di area Y ada, tapi dua kilo meter dari sini.”
Mendengar jawaban si tukang parkir, wajahnya cemberut, tubuh dan pikirannya benar-benar sangat lelah. “ Ya Allah, sekuat itukah Aku?” ia mendorong sepeda dan tubuh lelahnya dan mencari tempat tambal ban.
Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi Beiyin. Begitu sampai dirumah ia menghempas kasar tubuhnya di atas kasur sederhananya. Ia terlelap tidur dan melewatkan makan siangnya. Biasanya jam dua hingga jam delapan malam, ia mengisi kelas bimbel sebagai guru yang professional, tapi ia juga melewatkan kelas bimbelnya hari ini. ia benar-benar merasa sangat lelah dan runtuh. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Untuk kali pertama nya ia ketiduran hingga malam melewatkan makan siang dan makan malamnya.