Faisal menghembuskan napas pelan, “Nona, jika saya mau, saya bisa memaksa Nona untuk menikahi Tuan Hadi dengan cara mengancam Nona, namun saya tidak melakukannya…” tutur Faisal.
“Terima kasih untuk pertimbangan kalian, tapi maaf saya sama sekali tidak bisa menerima tawaranmu tuan,” tutur Beiyin dengan sopan.
“Baiklah kalau itu keputusan Nona,” jawab Faisal.
Disisi lain, wanita yang secantik titisan dewa yunani bernama Ghisella berteriak kecil melihat notifikasi pesan masuk di ponselnya. “Aaa, David! David, coba kamu lihat ini! inikan CS yang kemaren membersihkan ruangan kita?” ujar Ghisella.
David terkejut mendengar kata CS yang di sebut oleh Ghisella, Davidpun berjalan mendekati ponsel Ghisella.
“ini pesan dari Group WA kita, Pak Faisal membawa CS itu keruangan CEO? Apa yang terjadi?” tanya Ghisella.
“Bukankah hal yang wajar kalau dia dibawa keruang CEO?” ucap David dengan raut wajah yang tenang.
“Wajar? Kenapa bisa wajar? Para kepala devisi saja tidak pernah bisa masuk keruangan CEO!” tukas Ghisella lagi.
“Bukannya tadi CEO kita minta risoles yang ia buat dibawakan ke ruangannya? Mungkin saja CEO kita ingin memberikan penghargaan atau bertanya soal risoles jumbo yang ia buat…” ujar David dengan cuek.
Ghisella mengernyitkan keningnya, “Hei! Mr, David! Hanya karena risoles ia dibawa keruangan CEO? Very imposible! Kepala Devisi aja yang prestasinya luar biasa untuk perusahaan tidak pernah dibawa masuk kesana. Ini langsung dijemput dan diantar lagi oleh Pak Faisal!” ujar Ghisella.
“Yaa wajarkan kalau calon pemenang dari bazar ini dibawa keruangan CEO?” tanya Hadi lagi.
“Apa? pemenang bazar? Jadi dia?” tanya Ghisella sambil menutup mulutnya.
Ghisella menambahkan lagi, “Kamu benar, Vid! Ini adalah bazar pertama, dan mungkin dia adalah calon pemenangnya, jadi wajar sekali kalau ia di bawa menuju ruangannya CEO di tambah lagi CEO kita meminta makanannya dibawa keruangan dia! Waaah Deabak!” ujar Ghisella sambil bertepuk tangan pelan.
David tersenyum sambil menggeleng-geleng kecil. Lesung pipi David sungguh sangat menenangkan untuk dilihat. Ghisella diam-diam juga selalu memperhatikan David ketika ia tersenyum. Senyumanan yang sungguh membuat candu.
Faisal kembali ke ruangan Hadi, ruangan CEO dari Cakrawala Group. Di sana terlihat sosok pria yang penuh wibawa sedang berkutat dengan berkas-berkas yang bertumpukan dimejanya.
“Maaf, Tuan.” ucap Faisal.
Hadi berhenti memeriksa berkas-berkas dokumen didepannya, ia mengalihkan pandangannya kearah Faisal.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Hadi.
“Perempuan itu menolak untuk menikah dengan tuan, Dia tidak menginginkan pernikahan yang hanya sekedar formalitas saja,” ujar Faisal.
“Apa? beraninya dia menolakku!” geram Hadi. Gerahamnya seakan mengeras, ia mengepalkan tinjunya.
“Wanita lain datang untuk mengantri jadi istriku, sementara dia menolak ajakanku!” ujar Hadi dengan penuh emosi.
Hadi kemudian mengambil napas dalam, dan menghembuskannya pelan, “Ini tentang harga diriku Faisal. Aku tidak pernah kalah atau ditolak,” ujar Hadi lagi.
“Bagaimana, Tuan? Apaah aku harus memaksanya menerima kontrak itu?” ujar Faisal lagi.
“Apa?” bentak Hadi lagi.
“Faisal! Sudah aku katakan, bahwa ini adalah tentang harga diri! Jangan buat gadis itu besar kepala dengan terus memintanya menerima kontrak itu! dia tidak sespecial itu! Dia tidak seberharga itu sehingga aku harus mengemis padanya!” ucap Hadi dengan penuh tekanan.
“Baik, Tuan. Aku akan mencari gadis lain lagi,” ujar Faisal.
“Oke, tapi kali ini, seleksilah dengan baik, jangan bawa gadis gila, mur*han atau gadis bodoh lagi padaku, bawa padaku jika dia benar-benar layak menurutmu,” sahut Hadi dan langsung dijawab Anggukan oleh Faisal.
“kalau begitu saya permisi, Tuan,” ujar Faisal kemudia keluar dari ruangan itu.
Hadi kemudian melangkah menuju jendela kacanya, menatap kepadatan kota dari jendela itu, “Rizani Daud!” gumam Hadi lalu tersenyum kecut.
Teriknya matahari siang kini sudah berganti dengan hitamnya langit malam. Bulan terlihat sangat anggun di sapa oleh awan-awan yang bergerak pelan sekelilingnya.
“Beiyin, kenapa jendelanya belum ditutup?” ujar Azkia yang tiba-tiba masuk ke kamar.
“Bintang-bintang mala mini terlihat banyak dari biasanya, ya?” jawab Beiyin tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
“Kenapa? Kamu sedang jatuh cinta?” tanya Azkia.
“Huh?” sahut Beiyin terkejut, ia dengan cepat mengalihkan wajahnya pada Azkia.
Azkia tiba-tiba tertawa geli, “Apa? jadi iya kamu jatuh cinta? Cie ciee…” ujar Azkia dengan tersenyum menggoda Beiyin.
“Ahh apaan sih, Kia?” jawab Beiyin sambil mengerucutkan mulutnya.
“Kalau enggak benar, ya biasa aja kali,” sahut Azkia dengan tersenyum geli.
“Senyum kamu itu juga harus biasa aja, Kia! Iiii apaan sih senyum-senyum begitu!” protes Beiyin.
“Laah! Apa yang salah! Cepat tutup jendelanya! Nanti nyamuk masuk!” ujar Azkia.
Beiyin hanya menurut dan menutup jendelanya. Beiyin berbalik dan berjalan dengan langkah gontai kearah Azkia. Beiyin menghembaskan tubuhnya dengan kasar diatas kasur yang lumayan empuk itu.
Azkia melipat baju-baju yang tadi sore ia angkat dari jemuran, Azkia bertanya, Azkia menatap heran pada Beiyin, “Ada apa Rizani Daud alias Beiyin, kamu galau?” tanya Azkia.
“Entahlah, Kia. Aku ragu mau bercerita sama kamu atau tidak…” ujar Beiyin, ia mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal itu.
“Tumben kamu nggak mau cerita, jadi benar kamu lagi jatuh cinta?” tanya Azkia lagi.
Beiyin menepiskan bantal yang menutupi wajahnya, “Enggak! Apaan sih, Kia dari tadi jatuh cinta terus?” sahut Beiyin.
“Terus ada apa, coba?” tanya Azkia lagi.
“Nanti aja, Kia. Ada saatnya nanti aku cerita sama kamu, tapi kalau pikiranku udah nggak kusut lagi!” jawab Beiyin lalu menarik selimutnya, Beiyin menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam selimut.
Azkia menggeleng melihat kelakuan Beiyin, “Terserah kamu aja Beiy, tapi kalau ada apa-apa jangan ragu untuk cerita,” ucap Azkia pelan.
-Di rumah sakit-
Tok tok tok, bunyi ketukan pintu mengalihkan perhatian Tomi dan Rosa, “Masuk!” sahut Tomi.
“Mommy!” sahut seorang wanita cantik dengan rambut yang bergelombang, dibelakangnya ada dua gadis kembar berumur empat tahun yang mengikutinya.
“Via!” sahut Rosa dan Tomi hampir bersamaan.
“Wahh cucu-cucu oma ada disini?” tanya Rosa pada kedua cucu kembarnya yang bernama Kim Areum Amelia atau biasa di panggil Arum oleh Rosa, dan Kim Ailee Amelia atau yang biasa di panggil Aili.
Oktavia Riadi atau biasa dipanggil Via adalah anak kedua dari Rosa dan Tomi, Via menikah berprofesi sebagai dokter di korea selatan, karena ia bersekolah disana, dan juga mendapatkan suami orang korea selatan bernama Kim Min Jae yang bekerja sebagai jaksa.
Via dan Min Jae memberi nama anak mereka dengan perpaduan korea dan Indonesia. Nama korea yang juga bisa terdengar seperti nama Indonesia jika disebutkan oleh orang Indonesia. Min Jae meminta nama Amelia ditambahkan di belakang nama anaknya untuk membuat nama anaknya berbeda dengan nama orang korea pada umumnya, karena mendapatkan istri seperti Via merupakan sebuah anugerah bagi Min Jae sehingga Min Jae mencintai semua aspek dalam diri Via termasuk negaranya.
“Nenek, Apa nenek baik-baik saja?” ujar Aerum dalam bahasa Indonesia namun dengan logat korea.
“Nenek merasa semakin sehat setelah melihat dua malaikat kecil nenek,” ujar Rosa sambil mencium pipi cucu kembarnya.
“Daddy Apa kabar?” sapa Min Jae pada Tomi dalam bahasa inggris, karena Min Jae tidak bisa berbahasa Indonesia.
“Daddy Okay, kenapa tidak berkabar dulu untuk datang kesini?” tanya Tomi pada Min Jae.
“Pengawal pribadi Hadi tadi memberitahu aku dan Via kalau Mommy kecelakaan, jadi kami langsung menjemput Aerum dan Ailee dan terbang ke Indonesia,” jawab Min Jae.
“Mommy bagaimana ini bisa terjadi? Mana hasil pemeriksaan Mommy? Via mau lihat…” ujar Via khawatir.
“Via, jangan khawatir, Mommy baik-baik aja, karena ada kalian dan ada berita baik yang dibawa adikmu Hadi…” ujar Rosa sambil tersenyum.
Via mengernyitkan alisnya, “Hadi? Ada berita baik apa?” tanya Via.
Tok tok tok, “Daddy, Mommy, ini Hadi…” panggil Hadi dari luar.
“Masuk Hadi!” sahut Tomi. Semua mata tertuju pada daun pintu yang terbuka.
“Ahjushi!” teriak Aerum dan Ailee saat melihat Hadi.
“Ehh ada keponakan Om yang cantic-cantik…” sahut Hadi lalu menggendong kedua ponakannya di lengan kanan dan kirinya.
Via, Min Jae, dan Rossa juga tersenyum hangat melihat kedatangan Hadi.
“Panjang umur sekali kamu, Nak, baru aja dibicarakan…” ujar Rossa pada Hadi.
“Kakak sama Kak Min Jae kapan sampai ke Jakarta?” tanya Hadi pada Via dan Min Jae.
“Barusan, Oh ya ngomong-ngomong kabar baik apa yang Hadi bawa untuk Mommy tadi?” tanya Via lagi dan memandang Hadi dan Rossa bergantian.
“Hadi lagi berjuang mengejar restu dari orangtua seorang gadis, Via…” sahut Rossa.
“Huh?” sahut semua orang hampir bersamaan, semua orang termasuk Tomi juga terkejut mendengar penuturan Rossa.