“Apa?” mata Beiyin membulat mendengar penuturan Hadi.
Beiyin dan Hadi beradu tatap, seakan bersiap-siap membertahankan kubu masing-masing dari serangan musuh.
Faisal memandang Hadi dan Beiyin secara bergantian, dengan cepat Faisal menunjukkan lima jari setinggi d**a untuk memberi kode pada Hadi.
Hadi mengangguk mengizinkan Faisal untuk bertindak. Faisal berjalan beberapa langkah untuk mendekati Baiyin, pelan Faisal berdehem “Ahm!”
Beiyin sontak saja menoleh kearah Faisal.
“Maaf, Nona Rizani, saya bisa anda ikut saya sebentar?” ucap Faisal dengan lembut.
Beiyin kembali memandang ke arah Hadi yang memandangnya dengan tatapan dingin.
Melihat raut wajah Hadi yang cuek dan angkuh, Beiyin menjadi kesal, Beiyin langsung berdiri dari duduknya, “Baiklah! Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah setuju untuk menikah dengan Bapak! Terserah jika Bapak akan memecat saya. terima kasih, Assalammualaikum…” ujar Beiyin dan langsung berpaling dari Hadi.
Hadi baru saja ingin bicara, Faisal mengangkat lima jarinya menginsyaratkan biar dia yang menangani Beiyin.
Hadi menghembuskan napas kasar, dan mengangguk kepada Faisal yang bearti ia memberikan tugas itu pada Faisal.
Faisal langsung berjalan cepat menyusul Beiyin yang lebih dulu keluar ruangan.
Setelah pintu ruangan itu tertutup, Hadi merasakan emosi yang sangat mendalam, rahangnya terasa mengeras, ia mengepalkan tinjunya, “Arrghh! Lancang sekali wanita itu!” geram Hadi.
- Di luar ruangan -
Faisal mempercepat langkah mengejar Beiyin, “Nona Rizani, tunggu!” ujar Faisal.
Sekretaris Hadi mengintip dengan seksama apa yang terjadi, “Nona? Rizani? mengapa pak Faisal mengejarnya?” gumam sang sekretaris yang bernama Dian Agustin.
Faisal berhasil mempercepat langkah hingga ia berhasil berdiri di depan Beiyin, mereka berdiri tidak jauh dari tempat meja Dian, “Nona, kita harus bicara, beri aku waktu sepuluh menit,” ujar Faisal pada Beiyin.
Beiyin menarik napas pelan, “Maaf Pak Faisal, saya sudah memutuskan dan keputusan saya tidak akan berubah,” ujar Beiyin dengan tegas.
“Tunggu dulu, aku mohon beri aku waktu sepuluh menit, setelah sepuluh menit ini, aku tidak akan mempertanyakan keputusanmu lagi,” ujar Faisal meyakinkan Beiyin.
“Baiklah, katakan!” sahut Beiyin dengan tegas.
Dian memperhatikan dan berusaha menguping pembicaraan mereka, “Wahh wanita c situ kelihatannya berani sekali, gaya bicaranya bebas banget dengan Pak Faisal, siapa sebenarnya perempuan itu?” gumam Dian.
Dian kemudian diam-diam mengambil potret mereka Faisal dan Beiyin.
“Apa yang mau Bapak sampaikan?” ujar Beiyin lagi.
Faisal memandang sekeliling, “Maaf, Nona, tapi tidak disini,” ucap Faisal.
Beiyin juga memperhatikan sekeliling, dan dia melihat Dian yang duduk di ruangan kecil mirip loket yang disediakan Hadi untuknya.
“Baiklah, aku akan ikut dengan Pak Faisal,” jawab Beiyin.
Faisal mengangguk, lalu melangkah lebih dulu dan Beiyin mengikutinya dari belakang.
Dian memanjangkan kepalanya mengintip kearah Faisal dan Beiyin pergi, “Wah mau kemana mereka? gadis itu masuk keruangan Pak Hadi, kemudian keluar dan di hentikan oleh Pak Faisal? Seperti ada sesuatu yang aneh? Ahh biarkan saja…” gumam Dian curiga, namun segera ia menepiskan pikiran-pikirannya.
Faisal membawa Beiyin ke lantai atas, disana ada sebuah ruangan dengan jendela besar dengan nuansa alam penuh dengan bunga-bunga dan tumbuhan rambat hias. Suasana yang terasa sangat asri, ditambah hiasan pohon tetebuya plastik.
“Wahh ruangan ini indah sekali,” ujar Beiyin.
Dinding ruangannya dihiasi dengan wallpaper pegunungan dengan suasana alam lengkap dengan matahari terbit dan air terjunnya.
Didalam ruangan itu, ada ruangan kecil tanpa diniding pemisah, hanya ada meja kecil dan terdapat dua kursi dan terali untuk gantungan tanaman-tanaman hias.
Lantainya juga dihiasi dengan keramik dengan wallpaper air rumput dan sungai mengalir. Ruangan yang benar-benar berbeda, seperti berada di alam liar dengan pemandangan yang asri.
“Ruangan ini khusus dibuatkan oleh Pak Hadi untuk Almarhum neneknya yang sangat ingin tinggal di desa dan liburan di pegunungan,” ujar Faisal tiba-tiba.
“Huh?” sahut Beiyin terkejut karena suara Faisal yang menyadarkan ia dari kekagumannya pada ruangan itu.
“Iyaa, pada saat itu, Neneknya Faisal yang biasa kami panggil dengan Nyonya Besar sedang sakit, beliau mengidap Anemia Aplastic. Tapi Beliau ingin liburan ke pegunungan dan taman bunga. Namun dokter melarang beliau untuk bepergian juga selang infus harus selalu terpasang pada tangan beliau. Pak Tomi melarang Nyonya Besar untuk bepergian karena sangat khawatir dengan kondisinya,” ujar Faisal.
Faisal melangkah keruangan kecil yang ada kursi dan meja itu, Beiyinpun mengikutinya. Lalu Faisal melanjutkan lagi ceritanya, “Singkat cerita, Tuan Hadi sangat menyayangi Neneknya, ia meminta sang nenek untuk bercerita pada arsitek dan designer ternama tentang bagaimana tempat yang ingin dikunjungi oleh neneknya, dan pakaian apa yang diinginkan oleh Nyonya Besar,” ujar Hadi.
Beiyin mendengarkannya dengan seksama, lalu Faisal berujar lagi, “Setelah itu Hadi memodifikasi ruangan ini seperti yang diinginkan neneknya, suasana pegunungan dan alam yang segar, taman bunga seperti yang bisa kamu lihat di ruangan kecil ini. Saat itu Nyonya Besar sangat bahagia sekali, ia memeluk Hadi dengan erat, dan tiba-tiba Nyonya Besar tidak sadarkan diri dan meninggal dipelukan Hadi,” ujar Faisal.
“Huh? Nyonya Besar langsung meninggal?” ujar Beiyin tidak percaya.
“Iyaa, setelah itu, Tuan Hadi tidak pernah berkunjung keruangan ini lagi,” tukas Faisal.
“Pak Hadi pasti sangat sedih,” sahut Beiyin dengan nada sendu.
Faisal tersenyum kecil, “Nona Riani, Aku menghormati dan menyayangi Tuan Hadi bukan hanya sebagai Tuan dan Pesuruhnya, tapi aku sangat tulus, karena Tuan Hadi pada dasarnya adalah pria sangat baik, walaupun ia angkuh dan selalu berterus terang tanpa pertimbangan,” tukas Faisal.
“Namun itu tidak akan mengubah pikiranku Pak Faisal, aku tidak akan menikah kontrak hanya karena aku merasa iba atau kasian karena cerita sedihnya,” tukas Beiyin dengan nada lembut namun penuh ketegasan.
Faisal menghembuskan napas kasar, “Nona, apa yang membuat Nona tidak setuju dengan pernikahan ini? apa karena kontraknya?” tanya Fasial lagi dengan menatap dalam pada Beiyin.
Beiyin mengangguk kecil.
“Nona, lelaki mana yang bisa memberi kepastian bahwa dia tidak akan berkhianat atau berselingkuh dari Nona?” tanya Faisal pada Beiyin.
Beiyin terdiam beberapa saat mencerna ucapan Faisal.
Faisal menambahkan lagi, “Tidak ada laki-laki yang sanggup memberi kepastian seperti itu, namun Tuan Hadi, ia berani dan bertekat memberi kepastian seperti itu dalam bentuk kontrak. Apakah itu sesuatu yang salah, Nona? Harusnya Nona bangga dan bersyukur akan memiliki suami yang mampu untuk setia seumur hidup dengan Nona,” ujar Faisal dengan menekankan kata setia dalam kalimatnya.
“Apa Nona bisa menemukan lelaki yang sanggup berjanji akan menjaga nama baik Nona dan keluarga Nona? Saya berani taruhan tidak akan laki-laki yang sanggup berjanji dengan memberikan konsekuensi yang setimpal, namun Tuan Hadi berani menjanjikan hal itu bahkan dalam bentu kontrak,” kata Faisal lagi.
Kemudian Faisal menambahkan lagi, “Nona, kalau hanya sekedar berjanji, banyak laki-laki bisa melakukannya, namun tidak banyak atau tidak aka nada yang bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Tuan kami. Kontrak yang ia buat sama sekali tidak merugikan Nona dan tidak akan menyakiti Nona. Aku jamin Tuan Hadi adalah orang baik yang tidak akan mengkhianati kata-katanya dan tidak akan menyakiti Nona dan keluarga Nona.”
Beiyin masih terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Faisal.
“Nona…” ujar Faisal menyadarkan Beiyin dari lamunannya.
“Huh, Maaf…” jawab Beiyin dengan cepat.
“Bagaimana apa nona mau menikah dengan Tuan kami?” tanya Faisal lagi.
“Maaf, Pak, Aku akui bahwa aku berundung bisa menikahi pria hebat seperti Pak Hadi. Tapi pernikahan yang aku inginkan bukanlah pernikah yang seperti itu. aku memimpikan pernikahan yang bukan hanya saling menghormati, tapi juga saling menyayangi, punya anak dan berjuang bersama. Bukan menikah hanya untuk sekedar pajangan atau status menikah,” ucap Beiyin.
“Ohh, jadi masalahnya pada point tidak boleh tidur bersama?” ujar Faisal.
Mata Beiyin membulat mendengar ucapan Faisal, “Bukan pada point tidak bisa tidur bersamanya, Pak..” jawab Beiyin dengan wajah memerah karena malu.
Beiyin menambahkan lagi, “Pernikahan yang diinginkan oleh Pak Hadi hanya sekedar formalitas, terlihat baik-baik saja di mata setiap orang, tapi terasa hambar bagi pasangan yang menjalaninya. Hambar dari rasa sayang, cinta, dan rasa untuk membina hakikat rumah tangga yang sesungguhnya. Aku juga manusia biasa Pak Faisal, aku tidak tau sampai kapan aku akan sanggup sabar dengan formalitas seperti itu,” jawab Beiyin.
“Jadi, maaf Pak Faisal, aku menolak untuk menikah kontrak dengan pak Hadi,” tukas Beiyin dengan wajah yang tertunduk.