Seluruh tubuh Beiyin terasa membeku, tungkai kakinya seakan goyah jika dihembus angin, pikirannya bergelut dengan sejuta tanya, bola matanya bergantian menatap Hadi dan Rosa.
“Semangat untuk perjuangannya, Sayang! Pergilah! Temui orangtuanya!” ujar Rosa dengan mengusap lembut pipi Hadi.
Hadi mengangguk lembut, Hadi pamit ingin kembali ke kantor, “Mom, Hadi ke kantor lagi ya, sekalian mengatur jadwal Hadi untuk menemui Orang tua Rizani…”
Rosa tersenyum, lalu beralih memandang Beiyin, “Rizani, bantu Hadi juga ya! semoga urusan kalian berdua lancar…” ujar Rosa.
Beiyin hanya mengangguk sopan dan tersenyum kaku, lalu Hadi berbalik ke arah Beiyin, “Ayo kita kembali ke kantor!” ajak Hadi pada Beiyin.
Beiyin tersentak lalu mengangguk kaku, ia juga sedikit menundukkan kepalanya untuk izin pamit kepada Rosa, dan dibalas dengan senyuman hangat oleh Rosa.
Hadi melangkah keluar, Faisal mepersilakan Beiyin untuk melangkah lebih dulu, lalu ia mengikuti Beiyin dari belakang.
Beiyin merasa sungguh kaku berada di antara dua lelaki yang sangat berkharisma, terutama lelaki yang saat ini berjalan di depannya. Auranya sangat mendominasi sekali, dari pundak yang gagah, tinggi, terlihat sangat berwibawa. “Yaa Allah, sosok seperti ini yang akan menjadi suamiku, ini mimpi atau kenyataan…” gumam Beiyin.
Hadi tersenyum kecut mendengar gumaman Beiyin, “Kamu pikir aku tidak mendengarnya!” ujar Hadi sambil berjalan tanpa menoleh kebelakang, yang seketika langsung membuat Beiyin tersentak.
Beiyin lalu tertunduk malu, lalu merutuki dirinya sendiri dalam diam.
Faisal heran mendengar penuturan Hadi.
Sesampainya di mobil, Faisal lalu mebukakan pintu belakang mobil untuk Hadi, lalu Beiyin membuka pintu belakang untuk dirinya sendiri.
“Heii! kamu duduk di depan!, jangan duduk di sampingku!” tukas Hadi dengan nada kesal sambil menghalangi pintu mobilnya terbuka.
“Huh?” ucap Beiyin terkejut, alisnya bertaut melihat tangan Hadi yang menahan pintu mobil agar tidak terbuka sempurna. Beiyin memutar bola matanya, sekitika wajahnya berubah menjadi wajah malas dan gaya tubuhnya yang menjadi lesu, “Ya sudah!” ucapnya cuek lalu membuka pintu depan mobil.
Beiyin menghempaskan tubuhnya dengan kasar dikursi mobil, “Ehh bisa nggak duduknya baik-baik! nanti kalau pinggangmu patah siapa yang mau tanggung jawab?” ketus Hadi.
Beiyin menghembuskan napas kasar, “Maaf, Pak. Makasi perhatiannya…” jawab Beiyin Acuh tak acuh sambil menunduk kecil.
“Apa? perhatian? Itu bukan perhatian, tapi sindiran, lebih tepatnya peringatan!” ketus Hadi dari belakang.
Beiyin menoleh kearah Hadi, “Terima kasih atas sindiran dan peringatannya, Pak…” jawab Beiyin, dan kembali memandang ke depan.
“Apa? kamu tu ngeselin banget sih! Faisal! Kenapa wanita seperti ini yang kamu bawa! Kerjaan kamu akhir-akhir memang nggak ada yang benar. Ahh! Cari wanita lain!” ketus Hadi.
“Tapi Nyonya sudah tau tentang Rizani, Tuan. Nanti Nyonya malah curiga kalau tiba-tiba kita bawa wanita lain, terus tiba-tiba ganti lagi!” jawab Faisal.
“Ahhh! kamu sih, sembarangan bawa orang!” sahut Hadi dengan kesal sambil memijat alisnya. Faisal hanya menghembuskan napas pelan menanggapi sikap bosnya.
Di dalam mobil, mereka hanya diam seribu bahasa, mereka kelut di dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya mobil tiba di parkiran VVIP khusus untuk petinggi perusahaan.
“Faisal, minta dia ke ruanganku!” ucap Hadi kepada Faisal ketika ia keluar dari mobilnya. Faisal yang paham maksud ucapan Hadi, langsung mengangguk siap. Hadi lalu melangkah meninggalkan Faisal dan Beiyin lebih dulu.
“Rizani, kamu harus ikut dengan kami sekarang!” ujar Faisal.
Rizani yang merasa terlalu lelah hati dan pikirannya, hanya memilih untuk mengangguk pasrah. “Inikan kantor, mana mungkin mereka melakukan yang tidak-tidak. Lagi pula aku sudah tau ujung-ujungnya pasti berdiskusi masalah pernikahan tadi!” gumam Beiyin, lalu ia mengikuti langkah Faisal yang lebih dulu berjalan beberapa langkah.
Beiyin akhirnya sampai di ruangan Hadi, sekali lagi Beiyin terpesona dengan suasana di ruangan Hadi, tapi belum sempat ia membuka mulut, suara Hadi telah mengalihkan perhatiannya, “Kamu! Cepat duduk di sini!” perintah Hadi pada Beiyin seraya menunjuk ke arah kursi didepannya.
Beiyin langsung bergegas duduk di kursi yang di maksud.
“Faisal, keluarkan dokumen kontraknya!” perintah Hadi.
Faisal mengangguk, dengan sigap ia keluar ruangan dan mengambil dokumen kontrak yang di maksud Hadi.
Beiyin menelan ludahnya seketika. suasana terasa sangat kaku dan dingin. Di ruangan Hadi yang mewah, mereka hanya berdua, tanpa suara, tidak saling memandang, saling tidak menganggap keberadaan satu sama lain. Hadi tidak menoleh kearahnya sedikitpun, ia hanya memperhatikan ponsel pintarnya. Sedangkan Beiyin, ia hanya melihat ke arah ujung sepatunya tanpa berkedip.
Tok tok tok, suara ketukan pintu mengejutkan mereka berdua, dan itu adalah Faisal yang kembali dengan dokumen perjanjian nikah kontrak yang di inginkan oleh Hadi.
“Ini, Pak…” ujar Faisal.
Hadi mengambil dokumen itu dan meletakkannya di hadapan Beiyin, “Silakan dibaca!” perintah Hadi.
Beiyin mengambil berkas yang ada di hadapannya, “Perjanjian Nikah Kontrak?” ucap Beiyin langsung menatap ke arah Hadi.
Namun Hadi sudah terbiasa melihat respon yang seperti itu, karena gadis-gadis sebelumnya juga memberikan respon yang sama.
“Dengar ya! Aku tidak ingin menikah kontrak! Pernikahan itu bukan permainan yang bisa diatur dalam kontrak seperti ini! pernikahan itu sakral, suci, ibadah terpanjang dalam hidup manusia!” celoteh Beiyin tanpa menghiraukan ekspresi datar Hadi.
“Jadi salahnya dimana?” jawab Hadi singkat.
“Salahnya dimana? Ya jelas salah lah! Pernikahan yang tujuannya menyakiti atau mendzalimi kedua belah pihak atau salah satu pihak saja itu hukumnya haram! Dosa kalau dilakukan!” jawab Beiyin dengan tegas.
“Nikah kontrak tapi tidak boleh bercerai? Kenapa tidak nikah beneran aja?” tanya Beiyin dengan suara meninggi pada Hadi.
Hadi tersenyum kecut, “Kalau hanya pernikahan biasa, orang-orang yang tidak beretika dan murahan bakalan sembarangan meninggalkan aku, asal bosan langsung main tinggal. Aku tidak mau mencoreng nama baik keluarga kami dengan sebuah perceraian,” ujar Hadi.
“Iyaa juga sih, tapi pernikahan kontrak ini tidak dibolehkan, sekali lagi aku ulang ya pak, nikah dengan tujuan menyakiti pasangan, itu hukumnya haram, nikah kontrak atau dalam kurun waktu tertentu itu hukumnya juga haram.” Tegas Beiyin dengan intonasi nada yang rendah, seperti dia mengajari muridnya dengan sabar.
“Hei, Nona, dengarnya, Aku tidak menikah untuk menyakiti, itu bukan tujuanku. Tujuanku untuk membahagiakan orang tuaku, dan juga memenuhi semua permintaan istriku, sebagai hadiah karena telah mau menikah denganku, dan juga aku tidak menikah kontrak untuk rentang waktu tertentu, tapi untuk seumur hidup! Lalu dimana salahnya?” tegas Hadi memandang tajam kearah Beiyin.
“Iyaa juga sih, Tapi kalau seperti itu kenapa harus ada kontrak?” tanya Beiyin tidak paham.
“Ih! Ngeyel ya kamu! Kan sudah aku bilang tadi alasannya! Otak kamu itu low respon atau low quality?” tanya Hadi dengan tersenyum kecut.
“Huh?” Beiyin terperangah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hadi.
“Belum apa-apa aku sudah dihina seperti ini! apalagi kalau aku menjadi istri kontrak bapak!” Protes Beiyin tidak terima dihina oleh Hadi.
“Nah! Itu gunanya kontrak dalam pernikahan, di dalam kontrak kita dilarang menghina dan menyinggung satu sama lain dengan sengaja, dan dendan atau hukumannya juga tertera dengan jelas di perjanjian kontrak!” jawab Hadi lagi lagi dengan menyunggingkan senyum kecutnya.
Beiyin segera mengambil membuka dokumen perjanjian nikah kontrak yang ada di depannya. Beiyin membuka lembar-lembar dokumen tersebut untuk mencari isi perjanjian yang dimaksud.
“Ohh Iyaa, ada di point ke empat,” gumam Beiyin dengan meneliti setiap point yang ada di dokumen itu,
“Tapi…..”
Baru saja beiyin mau bersuara, namun Hadi langsung memotong ucapan Beiyin, “Tidak ada tapi-tapian! Kamu hanya punya dua pilihan setuju atau terpaksa setuju!” tegas Hadi.
“Apa?” sahut beiyin dengan mata yang membulat.
“Tidak bisa seperti itu dong! Negara kita ini negara demokrasi, semua orang berhak bebas memilih dan punya hak asasi masing-masing!” bantah Beiyin lagi.
Faisal yang menyaksikan kejadian itupun geleng-geleng kepala, “Sepertinya Tuan Hadi sudah menemukan lawan yang pas, mereka memang pasangan yang cocok!” gumam Faisal.
Hadi lalu tertawa kecil, bulu tengkuk Beiyin merinding melihatnya.
Hadi menatap Beiyin dengan tatapan tajam, “Hak asasi apapun aku tidak peduli, jika aku sudah memutuskan!” jawab Hadi.