Beiyin memperhatikan wajah Faisal dengan seksama, “Apa yang kamu inginkan? Apa kamu mau memerasku?” tukas Beiyin dengan keberanian yang dibuat-buat.
“Memeras?” bibir Faisal menggariskan senyuman, lalu ia menatap Beiyin, “Bukan memeras, tapi lebih tepatnya aku ingin menawarkan kerjasama!” ucap Faisal.
“Apa maksudmu?” ucap Beiyin.
“Aku ingin kita…” ucapan Faisal terputus karena ponselnya berdering.
“Hallo Faisal, bawa wanita itu sekarang kerumah sakit!” perintah Hadi dengan suara cemas dari balik panggilan telepon yang dimatikan sepihak olehnya.
Faisal yang mendengarnya menjadi kalang kabut, “Rizani cepat ganti pakaianmu, dan ikut aku sekarang!” perintah Faisal pada Rizani dan dengan cepat ia melangkah ke pintu dan langsung di susul oleh Rizani alias Beiyin.
“Apa? Memangnya kita mau kemana?” tanya Beiyin.
Faisal segera menutup pintu setelah ia dan Beiyin keluar dari ruangan, Faisal dengan serius menatap Beiyin dan berkata, “Nyawa seseorang dalam bahaya, tolong percepat langkahmu, aku akan menyiapkan mobil!” perintah Faisal lalu mempercepat langkahnya menuju lift khusus CEO yang bisa ia pakai.
Beiyin memberi hormat pada sekretaris kedua yang ia temui tadi, Sang sekretaris kedua dengan heran menatap langkah Faisal yang terburu-buru dan Beiyin yang setengah berlari untuk menyeimbangi langkah Faisal.
Faisal telah sampai di parkiran mobil, ia hanya menunggu kurang dari lima menit, dan melihat Beiyin sudah berjalan dengan terburu-buru ke arahnya.
“Wah cepat juga kamu bersiap-siapnya!” ujar Faisal.
“Yaa jelas cepat, aku ganti bajunya aja kalang kabut gitu…” jawab Beiyin lalu memasang sabuk pengamannya.
Faisal tertawa kecil, lalu ia melajukan mobil menuju rumah sakit tempat dimana mommy Hadi di rawat.
Di sisi lain, Hadi duduk di samping momminya, ia menatap tajam seorang wanita cantik yang menggenggam lembut tangan momminya.
“Semoga tante cepat sembuh yaa,” ujar wanita cantik yang bernama Ajeng.
Rosa tersenyum lembut, “Makasi sayang, kamu baik sekali…”
Lalu tiba-tiba Hadi berdehem, “Ahhm, Mommy, hari ini wanita pilihanku mungkin akan ke sini...” ujar Hadi.
Ajeng seketika membeku begitupun dengan Rosa, mereka seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Apa Hadi? Kamu… tidak bercandakan?” tanya Rosa lalu melirik ke arah Ajeng, ia merasa tidak enak hati melihat raut wajah Ajeng yang tiba-tiba menunduk.
“Aku tidak bercanda Mommy…” tegas Hadi lagi.
Ajeng yang merasa serba salah dengan hati yang terhenyut, ia berniat pamit undur diri, “Tante, aku pulang dulu yaa…”
“Kenapa cepat sekali sayang,” sahut Rosa dengan ekspresi yang sulit diartikan, yang jelas ia merasa bersalah dengan situasi sekarang.
“Lain kali aku akan menjenguk tante lagi, aku lupa tadi ada janji sama teman aku tante…” ujar Ajeng dengan senyum kakunya.
“Ohh baiklah, maafin tante, kamu hati-hati…. “ ucap Rosa dengan menggenggam tangan Ajeng.
“Iyaa tante, aku pamit!” ucap Ajeng setelah mengelus pundak tangan rosa beberapa kali, lalu ia melangkah keluar tanpa melirik Hadi yang berdiri di ujung kaki Rosa.
Setelah Ajeng keluar, Rosa dengan cepat melempar bantalnya kepada Hadi, beruntung Hadi yang tanpa persiapan berhasil menangkap bantal itu, “Hadi! Kamu apa-apaan sih, kalau kamu tidak menyukai Ajeng, ya tidak harus begitu juga. Dia pasti sakit hati!”
Hadi lalu melangkah ke arah Momminya, ia meletakkan kembali bantal tadi di sandaran sang mommy, “Mom, Hadi sudah bilangkan sama Mommy, biarkan Hadi yang memilih calon menantu untuk Mommy, Hadi bicara jujur, wanita pilihan Hadi memang akan datang hari ini…” sahut Hadi dengan lembut.
Rosa menatap tajam ke arah anak bungsunya itu, “Tapi tidak harus di depan Ajeng juga, kan kasihan dia…” sahut Rosa.
“Itu bukan urusan Hadi, siapa suruh dia datang ke sini,” jawab Hadi lagi.
Perhatian Hadi dan Rosa teralihkan karena suara ketukan pintu, “Permisi tuan, boleh saya masuk?” terdengar suara Faisal dibalik pintu, lalu Hadi mempersilakan Faisal untuk masuk.
Dari balik pintu terlihat Faisal datang dengan sebuket buah-buahan, dan seorang gadis dengan pakaian yang sangat biasa saja muncul dari belakangnya.
Faisal berjalan di dekat Rosa dan meletakkan sebuket buah-buahan tadi yang ia bawa, “Bagaimana kabarnya Nyonya?” tanya Faisal sopan.
Rosa tersenyum lembut, “Yaa sudah jauh lebih baik, makasi untuk buah-buahannya, saya memang lagi mau makann buah anggur” jawab Rosa.
Dengan sigap, Faisal menyerahkan buah Anggur kepada Rosa, “Ini dari nona Rizani, Nyonya. Pak Hadi yang meminta saya mengajaknya kemari, untuk di kenalkan dengan Nyonya…” ucap Faisal dengan tenang.
“Huh?” ucap Hadi dan Rosa hampir serentak, lalu dengan cepat Hadi mengontrol dirinya.
“Faisal lalu memberi kode kepada Hadi dengan mengangguk kecil beberapa kali, Hadi yang tidak percaya langsung dengan pilihan Faisal langsung menautkan alisnya,
“Apa benar ini pilihanmu, Hadi…” suara Rosa tiba-tiba mengalihkan perhatian Hadi dari Faisal.
“Huh? Ini… iyaa Mommy, dia wanita pilihanku…” sahut Hadi.
Beiyin langsung melotot ke arah Hadi, “Wanita pilihan? Apa maksudnya?” tanya Beiyin yang tidak mengerti dengan situasinya.
Hadi lalu mendekat ke arah Rizani, membelakangi Momminya, “Tolong jawab iya saja semua perkataanku, atau ku habisi kau nanti!” ujar Hadi mengancam Beiyin.
Mendengar hal itu, seketika Beiyin merinding menatap tatapan Hadi yang seakan siap mencabik-cabik hidupnya.
Lalu Hadi berbalik lagi dan menarik tangan Beiyin dengan lembut mendekati momminya, “Mommy, dia adalah wanita pilihanku, aku ingin dia yang menjadi menantu mommy…” tukas Hadi yang lansung membuat Beiyin terkejut, bola matanya seakan keluar menatap Hadi setelah mendengarkan pernyataan itu.
“Apa benar dia wanita pilihanmu?” tanya Rosa yang masih tidak percaya, ia menatap Rizani yang terlihat bingung.
“Iyaa Mommy, bukannya Mommy sudah bilang, Mommy tidak peduli tentang status sosial, miskin atau kaya, yang penting dia perempuan baik-baik yang jelas bibit dan bobotnya…” ucap Hadi lagi.
Hadi mengerti dengan ekspresi dari wajah Rosa yang terlihat masih tidak mempercayainya, “Rizani ini adalah CS di perusahaan pusat Carkarala Group, aku menyukainya karena ia sangat mandiri, pintar memasak, dan juga perempuan baik-baik yang tidak tersentuhkan!” ujar Hadi.
“Sudah berapa lama kamu mengenal Hadi?” tanya Rosa kepada Beiyin.
“Umm aku, baru beberapa hari ini….” jawab Beiyin dengan terbata.
Melihat tanggapan Beiyin, keraguan Rosa semakin kuat.
Faisal lalu menambahkan, “Iyaa bu, Pak Hadi sudah lama meminta saya untuk mengawasi nona Rizani tanpa sepengetahuan nona Rizan. Saat saya mengatakan Pak Hadi ingin melamarnya, ia tidak pecaya karena baginya tidak mungkin seorang CEO dari Cakrawala Group ingin menikahi seorang CS, ia takut di bohongi, untuk itu atas perintah Pak Hadi, saya membawanya ke sini agar dia mempercayai keseriusan Pak Hadi…” ucap Faisal dengan mantap.
Argumen yang disampaikan Faisal sangat jelas, dan mampu membuat Rosa percaya padanya, Hadi dan Beiyin juga mengangguk-angguk kecil. Beiyin sekarang sangat paham situasinya, tapi ia juga tidak ingin di paksakan sepihak.
“Siapa tadi namamu?” tanya Rosa dengan lembut pada Rizani.
“Rizani Daud, Nyonya…” jawab Beiyin singkat.
“Nama yang bagus, seperti orangnya…” ujar Rosa dengan senyuman.
Mendengar hal itu Hadi juga ikut tersenyum, artinya rencananya berhasil.
Lalu Rosa melihat Hadi tersenyum, “Rizani, sepertinya putraku memang benar-benar menyukaimu. Selama ini aku tidak pernah melihatnya tersenyum ketika aku dekat dengan seorang gadis…” ujar Rosa.
Hadi seketika terkejut mendengar penuturan Rosa, lalu dengan secepat kilat ia tersenyum kaku, karena takut Momminya curiga.
“Rizani, saat Putraku telah memilih seseorang, itu artinya ia benar-benar telah memilih. Itu artinya kamu memang benar-benar special. Selama ini tante sudah berusaha menjodohkan dia dengan semua putri dari teman-teman tante, tapi semuanya di tolak oleh Hadi, tidak ada yang cocok. Tante sudah frustasi untuk menacarikan dia calon istri. Jadi saat ini tante bahagia sekali karena ia telah memilih seseorang. Percaya sama tante, Hadi tidak akan mempermainkanmu…” ujar Rosa.
Beiyin hanya diam seribu bahasa, mimpi apa dia semalam sehingga menghadapi situasi random seperti ini.
“Rizani?” panggil Rosa yang seketika langsung membuyarkan lamunan Beiyin.
“Maaf sebelumnya, apa jangan-jangan kamu sudah punya pacar atau punya pilihan juga?” tanya Rosa.
Hadi, Faisal dan Beiyin sama-sama terkejut mendengar pertanyaan Rosa.
“Tidak, Nyonya. Hanya saja saya bingung harus bagaimana. Semua ini terjadi secara tiba-tiba…” jawab Beiyin.
“Panggil saya tante saja, atau Mommy juga boleh…” ujar Rosa dengan lembut.
Mata Hadi melotot mendengarnya, “Apa-apaan…” gumam Hadi pelan.
“Sekarang, kamu mau atau enggak jadi istri Hadi?” tanya Rosa lagi.
Beiyin mengangkat kepalanya, memandang Rosa, lalu beralih ke Hadi, setelah itu ia menunduk kembali, “Begini Nyoya, ehh Tante. Untuk urusan pernikahan, saya tidak bisa memutuskan sendiri dengan siapa dan kapan saya akan menikah, saya ingin kedua orang tua saya merestui pernikahan saya, jika orangtua saya tidak merestui, maka saya akan tunduk patuh pada keputusan mereka…” jawab Beiyin dengan suara yang sedikit parau antara takut dan nekat.
“Apa?” sahut Hadi tiba-tiba, bola matanya bahkan hampir keluar mendengar pernyataan Beiyin.
“Mommy setuju dengan Rizani, ini yang membuktikan kalau kamu gadis baik-baik dan sangat berbakti pada kedua orangtua, orangtuamu pasti bangga sekali memiliki anak seperti kamu, kamu memang tidak salah pilih Hadi…” ujar Rosa dengan lengkungan indah di bibirnya.
Hadi seketika terdiam, lalu ia berkata lagi, “Selama Mommy menyukainya, Hadi akan berusaha mendapatkan restu dari orangtuanya, Secepatnya hadi akan menemui kedua orang tuanya dan mendapatkan restu mereka…” jawab Hadi dengan mantap.
Rosa kembali tersenyum bahagia melihat Hadi dan Beiyin, Hadi lalu mendekati Momminya, mencium kening Momminya dan berkata, “Doakan Hadi ya Mom…”