Hadi di penuhi rasa bersalah pada momminya, dia pernah trauma kehilangan sang nenek yang juga sangat ia cintai. Kematian sang nenek adalah kematian pertama orang terdekat yang dilihat Hadi dalam hidupnya sehingga menimbulkan efek duka yang sangat membekas.
Tomi dan Hadi duduk bersama-sama di kursi tunggu, keduanya menatap kosong lantai keramik rumah sakit. Hati dan pikiran mereka benar-benar di selimuti oleh kegundahan dan kegelisahan.
Suara ruang HCU yang terbukapun membuyarkan lamunan mereka, dengan sigap mereka berdua menghampiri sang dokter.
“Bagaimana keadaan Istri saya, Dok?”
“Bagaimana keadaan Mommy saya, Dok?”
Tanya Hadi dan Tomi hampir bersamaan.
“Begini Pak, Pasien mengalami geger otak ringan, dan kaki sebelah kanannya patah. Jadi untuk sementara ini pasien harus menggunakan alat bantu untuk berjalan. Tapi jangan khawatir, keadaan pasien akan kembali normal dalam beberapa bulan kedepan…” ujar dokter yang menangani Rosa.
Tomi merasa ada sesuatu yang berat menimpa hatinya, meskipun dokter mengatakan keadaan istrinya akan kembali normal, tapi ia tetap tidak sampai hati melihat sang istri manjanya harus terbaring dan berjalan menggunakan alat bantu walaupun hanya untuk sementara.
“Apa kami boleh menemui pasien, Dok?” tanya Tomi pada sang dokter.
“Boleh, Pak. tapi setelah pasien akan kami pindahkan keruangan perawatan, dan pasien jangan di ajak bicara terlalu banyak dulu, biarkan pasien istrirahat…” jawab sang dokter.
“Mommy digigit nyamuk saja aku dendam sampai ke cucu dan cicitnya si nyamuk, apalagi ini, aku tidak akan membiarkan perampok itu hidup dengan tenang…” ucap Hadi kepada sang ayah.
Tak berselang lama, beberapa perawat membawa Rosa pindah ke ruangan, wajah rosa terlihat pucat, ia masih dalam keadaan pingsan.
Setengah jam di dalam ruangan perawatan, akhirnya Rosa menggerakkan tangannya. Hadi yang melihat itu langsung memanggil perawat dengan menekan tombol yang ada di sampingnya,
“Mommy, Mommy tidak apa-apa? mana yang sakit Mommy?” tanya Hadi yang dengan sangat cemas dan panik.
“Sayang, buka matanya pelan-pelan yaa…” ujar Tomi yang melihat istrinya masih kesulitan untuk membuka matanya.
“Mataku berat sekali, Pa…” jawab Rosa.
“Tidak apa-apa, itu mungkin pengaruh obat bius, coba buka pelan-pelan, kalau tidak kamu turuti saya maunya matamu, istrirahat dulu dan tidur dulu…” ujar Tomi dengan lembut dan penuh kasih sayang sambil membelai-belai rambut Rosa.
“Aku ingin melihat kamu dan Hadi…” jawab Rosa lagi.
“Mom, Mommy istirahat saja dulu, nanti kalau mata Mommy udah tidak berat lagi, Mommy bisa lihat aku dan Papa sepuasnya, yaa…” ujar Hadi.
“Ponsel Mommy diambil sama orang itu…” jawab ujar Rosa lagi dengan mata yang masih tertutup.
Hadi dan Tomi saling pandang, lalu Hadi dengan cepat mengatakan, “Mommy, apa karena disitu ada kontak gadis baik-baik? Mommy aku kan sudah bilang, aku bisa mencari sendiri…” ujar Hadi dengan wajah yang memelas.
Mendengar hal itu, Rosa hanya terdiam. Melihat diamnya Rosa, Hadi merasa bersalah dengan raut wajah momminya yang terlihat pasrah.
Sebuah kalimat meluncur dengan bebas dari bibir Hadi tanpa hambatan, “Mommy, Hadi sudah menemukan calon menantu untuk mommy…”
Rosa tiba-tiba terbuka sedikit matanya, terlihat pancaran matanya sangat lemas sekali, Rosa dan Tomi sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Hadi, “Apa? kamu serius?” tanya Rosa menatap tidak percaya putra bungsu kesayangannya itu.
“Hadi?” panggil Tomi yang juga merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Iyaa Mommy, sebenarnya Hadi sudah memilih, malam ini juga Hadi bawakan dia kehadapan Mommy dan Daddy…” ujar Hadi sambil membelai lembut tangan wanita yang sangat ia sayangi itu.
Rosa menghembuskan napas pelan, menatap sendu ke arah Tomy dan Hadi, “Hadi, kalau kamu memilih wanita hanya karena iba atau kasian dengan kondisi Mommy, lebih baik jangan sayang, karena Mommy dan Daddy hanya ingin kamu bahagia...” ujar Rosa.
“Daddy, Mommy, percaya sama Hadi, Hadi tau apa yang terbaik untuk diri Hadi…” jawab Hadi.
Tomi mengusap pundak anak bungsunya yang sekarang sudah sangat dewasa dengan segudang prestasi yang sangat membanggakan.
Setelah hampir satu jam Hadi menemani Momminya, ia pamit untuk kembali ke kantor.
Hadi berjalan menuju parkiran sambil mengambil ponsel dari saku celananya, jarinya berselancar bebas dan menemukan nama Faisal.
“Halo, Faisal, coba kamu tanya Aurelia, atau siapapun itu yang bisa menjadi istri kontrakku, malam ini juga aku mau membawanya menemui Mommiku…” ujar Hadi.
“Apa tuan? Malam ini?” tanya Faisal.
“Iyaaa, bagaimanapun cerita dan caranya mereka harus setuju!” jawab Hadi lalu mematikan teleponnya sepihak.
Di sisi lain, Faisal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Bagaimana ini? dalam waktu beberapa jam bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan wanita baik-baik yang mau di ajak nikah kontrak?” ucap Faisal bermonolog.
“Aurelia tidak mungkin mau, sudahku pastikan gadis itu akan menolak. Aku harus mencari orang yang bisa di intimidasi, merasa iba, dan kasihan pada orang lain. Tapi bukan wanita bodoh dan juga wanita baik-baik, siapa ya?” Faisal berpikir keras sambil memijit pelipisnya.
Terlintas sebuah nama di pikiran Faisal, “Rizani, si CS itu! aku rasa dia adalah gadis baik-baik. Dia akan menurut kalau sedikit di ancam, yaaa. Baiklah, tapi ancaman apa yang cocok untuk gadis itu?” Faisal mulai mencari tahu tentang kehidupan Rizani alias Beiyin.
Hampir setengah jam ia berkutat dengan telepon dan laptopnya, dengan koneksi dan jejaring yang luas, ia dengan mudah mendapatkan info tentang Rizani, “Binggo!” ucap Faisal dengan senang.
Di sisi lain, Ratna sang kepala OB dan CS dengan wajah bahagianya setelah menerima panggilan dari Faisal.
“Rizani! Kamu di panggil oleh pak Faisal untuk ke ruangannya sekarang! Woah, ini petanda bahwa kita yang akan memenangkan acara bazar ini…” teriak Ratna yang sangat antusias sambil mengcengkram bahu Beiyin dengan gemasnya.
“Apa? apa ibu yakin? Bukannya laporan hasil jual beli kita masih belum diserahkan ke panita bazar ya?” tanya Beiyin yang sedikit bingung.
“Halah Beiyin, jarang-jarang loh kalau pak Faisal itu memanggil seseorang keruangannya, karena dia adalah sekretaris pribadi CEO kita, yang dipanggil sama dia pasti keluar dengan berita gembira. Ayolah cepat kamu pergi ke ruangannya!” sahut Risti dengan tak kalah antusiasnya dengan Ratna.
“Iyaa Rizani, jangan lupa bawa nama kami juga ya! Semangat!” sahut teman-teman Beiyin yang lainnya.
Lalu Beiyin dengan ragu melangkahkan kakinya menuju ruangan Faisal, “Apa benar yang di katakan teman-temanku, tapi perasaan aku kenapa tidak enak begini ya?” gumam Beiyin sambil memegang tengkuknya.
“Maaf mau bertemu siapa mbak?” sapa sekretaris kedua dari Hadi yang ruangannya berada di luar ruangan Hadi dan Faisal,
‘Apa ini loket pendaftarannya?’ gumam Beiyin yang memang tidak tau siapa wanita yang menyapanya.
“Maaf tadi kepala CS kami dapat telpon katanya Pak Faisal memanggil saya…” jawab Beiyin.
“Baiklah, tunggu di sini sebentar,” ucap sekretaris itu dengan ramah.
“Mbak Rizani, Pak Faisal sudah menunggu anda di ruangannya, silahkan masuk!” ujar wanita itu lagi.
“Terima kasih, Mbak…” jawab Beiyin sambil mengangguk kecil.
Tok tok tok “Permisi, boleh saya masuk…” ucap Beiyin di depan pintu ruangan Faisal.
“Masuk…” sahut Faisal.
Beiyin membuka pintu ruangan itu dengan pelan, matanya langsung menyusuri setiap sudut ruangan, tidak ada siapapun yang terlihat, kecuali seseorang yang sedang berdiri di depan jendela kaca, mungkin sedang menikmati pemadangan ibu kota dari gedung gedung ini.
“Rizani Daud, silakan duduk,” ucap Faisal, lalu membalikkan badannya menghadap Beiyin.
“Maaf Pak, ada apa memanggil saya?” tanya Rizani dengan gugup.
“Coba kamu periksa berkas yang ada di hadapanmu itu…” ujar Faisal.
Beiyin dengan ragu membuka beberapa berkas yang ada di hadapannya, lalu tiba-tiba Beiyin melotot, reflek ia langsung menutup mulutnya menggunakan tangannya.
“Iniii?”
“jangan ditanya dimana saya mendapatkan semua itu, tapi untuk saat ini saya punya sebuah penawaran yang bagus untukmu…”