Hadi memicingan matanya menatap ke arah Faisal, “Dia pernah ikut seleksi?” tanya Hadi.
“Tidak, Pak. saya hanya pernah bertemu dengan dia beberapa kali…” jawab Faisal dengan mengangkat alisnya meminta kepastian pada Beiyin.
“Saya ikut seleksi dulu kok, Pak. di interview juga?” jawab Beiyin.
“Haa? Kapan? Saya tidak ingat kalau saya pernah menginterview kamu…” ketus Hadi menatap tajam kearah Beiyin.
“Iyaa, Pak. karena kemaren yang menginterview dan mengetes saya itu kepada CS dan OB, buk Ratna…” jawab Beiyin.
“Huh?” sahut Hadi tak pecaya, Ratna lalu mengangguk pelan dengan senyum terpaksa.
“Jadi kamu membicarakan interview dan seleksi jadi CS?” tanya Hadi.
“Iy ya, Pak. memangnya maksud Bapak seleksi dan Interview yang mana?” tanya Beiyin heran dan bergantian memandang bu Ratna, Faisal dan Hadi.
“Tidak! Tidak ada…” jawab Hadi, lalu ia menatap tajam kearah Faisal, lalu melangkah menuju stand bazar yang lain.
Setelah Hadi dan rombongan meninggalkan stand bazas CS, David kembali mendatangi Beiyin.
“Silahkan mampir, Pak, mau pesan apa?” tanya Ratna dengan senyum ramahnya.
David tersenyum manis memamerkan lesung pipinya, “Aku sudah masih kenyang, Buk. Tadi udah makan disini…”
“Ohhh, lalu…” dengan kikuk ucapan Ratna terputus.
“Aku kesini hanya ingin melihat talenta koki-koki kalian…” jawab David tersenyum lagi.
Ghea, Beiyin dan Riko sama-sama melirik dan tersenyum kaku ke arah David.
“Bapak perfect banget sih, udah tampan, tajir, sangat murah senyum lagi…” ucap Kristi sambil tersenyum simpul.
Beiyin mengabaikan keberadaan David dan tetap terus memasak. Keberadaan david disitu menambah daya tarik pembeli, karena David mengambil gitar dan menyanyi, sesekali ia membantu mengangkat air minum dan makanan membantu Ratna dan Anggota.
Acara bazar pada hari itu berjalan lancer, Beiyin dan kawan-kawan mendapatkan keuntungan dan semua menu terjual habis.
Hadi kembali masuk keruangannya dan meregangkan dasinya, “Huft panas sekali,” gerutu Hadi.
Telepon Hadipun berdering, “Halo, Pi? Apa? Okay, Hadi langsung ke sana!” wajah Hadi langsung berubah seketika menjadi tegang, kecemasan langsung tergambar di wajahnya.
“Ada apa, Pak?” tanya Faisal penasaran yang melihat Hadi langsung menyambar jas yag tadi ia letakkan di sandaran kursi kebesarannya.
“Mommiku kecelakaan, Aku harus pergi sekarang. Aku titip perusahaan ya!” jawab Hadi terburu-buru dan langsung melangkah lebar kearah pintu tanpa memandang Faisal.
“Baik, Pak…” jawab Faisal dengan cepat.
Hadi dengan cepat menelpon sang sopir, “Nang, siapkan mobil kita harus pergi sekarang!”
Ia keluar menggunakan lift khusus CEO dan langsung ke area parkir VVIP.
“Cepat, ke rumah sakit Ewangsa Tama! Mommiku kekecalakaan.”
Bagi Hadi, orangtuanya adalah seluruh dunianya, terutama Momminya. Jika saja ia punya sayap, mungkin ia akan terbang karena tidak sabar dengan keadaan macet seperti sekarang.
“Apaan ini udah tiga menit mobil belum bergerak juga!” ketus Hadi sambil mencengkam erat rambutnya.
“Sabar, Pak. ini mungkin butuh waktu paling cepat lima belas menit…” ujar Nanang.
“Memangnya seberapa jauh lagi rumah sakit Ewangsa Tama, Nang?” tanya Hadi lagi.
“Dua kilo meter dari sini, Pak…” jawab Nanang singkat.
“Arahnya?” tanya Hadi singkat.
“Lurus dari sini, nanti ada perempatan, Lurus lagi, terus belok kiri, lalu lurus…” jawab Nanang sambil mengingat arah kerumah sakit yang dimaksud.
“Baiklah, ini sudah lima menit,” gumam Hadi. Tak sabar menunggu, Hadi langsung membuka pintu mobil dan berlari kearah trotoar.
“Pak, mau kemana?” teriak Faisal.
“Saya duluan…” jawab Hadi.
Hadi berlari dengan sekuat tenaga, semua orang melihat ke sosok Hadi yang berlari tergesa-gesa. Ia mengayunkan langkah besar, deru napas yang sangat berpacu laju berlomba dengan detak jantungnya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahi Hadi.
Langkah Hadi terhenti, “Huh Huh Huufft…” desah Hadi dengan napas naik turun, ia memegang perut bagian kanannya yang terasa sakit.
“Mungkin tubuhku terkejut karena tidak pernah aku latih untuk berlari, maafkan aku ya tubuh, jantung, udah membuat kalian lelah. Biasanyakan otak yang selalu bekerja, hari ini kalian gantian…” Hadi bermonolog sambil memegang dadanya untuk mengatur napasnya yang memburu naik turun.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Hadi melihat seseorang dengan sepeda, “Ternyata otakku selalu setia padaku…” Hadi dengan cepat berlari ke arah sepeda itu.
“Maaf, Bang. Boleh saya beli sepedanya?” tanya Hadi dengan napas yang terpenggal-penggal.
“Apa Mas? Beli?” tanya sang pemilik sepeda tidak percaya dan memperhatikan penampilan Hadi dari atas hingga bawah.
“Iyaa beli. Memangnya kalau saya bilang pinjam kamu mau ngasi? Kamu percaya?” tanya Hadi lagi.
“Iyaa sih… tapi ini sepeda saya satu-satunya Mas…” jawab sang pemilik sepeda.
“Nih, ambil satu juta dulu, kalau kurang nanti kamu hubungi nomer ini!” jawab Hadi seraya menyerahkan sebuah kartu nama.
“Faisal? Jadi kenapa Pak Faisal mau beli sepeda aku?” tanya lelaki itu sambil meneliti wajah Hadi yang dibasahi keringat.
“Itu nama sekretarisku, Jadi sini sepedanya!” perintah Hadi sambil memengang sepeda yang ada di depannya.
“Gini aja Pak, bapak tambah satu juta lagi, sepeda ini jadi milik Bapak? Setuju?” tawar sang pemilik sepeda yang masih remaja.
“Okay! Ini satu juta lagi!” jawab Hadi sambil menyodorkan uang satu juta lagi.
Dengan cepat Hadi menyambar helm dan sepeda yang di serahkan oleh remaja lelaki sang pemilik sepeda. Hadi mengayuhkan sepeda dengan cepat seperti sedang berada dalam sebuah balapan sepeda.
“Mommy… Aku harap Mommy tidak kenapa-kenapa… Aku harap Mommy baik-baik saja, Yaa Allah, Ampuni dosaku, ampuni dosa Mommiku, jangan ambil Mommiku dulu ya Allah…” mulut Hadi berkomat-kamit melafalkan doa terbaik untuk Mommy tersayangnya.
Hampir setengah jam ia mengayuh sepeda, sebuah mobil mewah melambat dan mendekat kearahnya, “Pak, naik mobil saja! di depan udah tidak macet lagi!”
“Oke!” jawab Hadi lalu menghentikan sepedanya. Ia membuka pintu mobil dan membawa serta sepeda itu masuk.
“Kenapa tak ditinggal aja sih Pak sepedanya…” ujar Nanang yang melihat Hadi memasukkan sepeda kedalam mobil.
“Enak aja! Saya membelinya pakai duit Nang, diluar saya ada yang kerja sebulan full baru bisa dapat duit satu juta, masa mau dibuang gitu aja,” sahut Hadi.
Nanangpun melajukan mobilnya menuju rumah sakit Ewang Tama, salah satu rumah sakit swasta terelit di Indonesia.
Di depan ruang HCU, Tomi berdiri tepat di depan pintu ruangan. Matanya tidak beralih sedikitpun, satu tangannya menempel pada kaca persegi panjang berukuran sekitar tiga puluh centimeter yang menjadi hiasan pintu itu, “Selamatkan Istri tercintaku ya Allah…” gumam Tomi.
“Daddy…” teriak Hadi yang melihat Tomi terpaku di pintu HCU. Tomi lalu menoleh ke arah Hadi yang semakin mendekat.
“Kenapa Mommy bisa kecelakaan, Dad?” tanya Hadi penasaran.
“Mommimu tadi baru selesai belanja di Mol bersama temannya. Tiba-tiba seorang pencopet menjambret tas Mommy, dan Mommimu mengejarnya. Pencopet itu berlari ke arah temannya yang udah siap siaga untuk lari dengan motor mereka. Saat motor itu mau jalan, mommimu menarik tasnya, jadi dia ikut terseret dengan motor itu, lalu jatuh, kepalanya terpentur aspal dan kakinya berdarah…”
“Sialan!” sahut Hadi yang tersulut emosi.
“Daddy udah memerintahkan orang untuk melacak motor itu!” ujar Tomi lagi.
“Lagian Mommy juga, kenapa harus mengejar pencopet itu sih. Aku bisa beli puluhan bahkan ratusan tas yang sama atau lebih mahal dari itu. Kenapa malah nekat seperti ini!” gerutu Hadi yang terbawa emosi.
“Hmm sebenarnya mommimu bilang, disitu ada nomer wanita yang baik untuk di jadikan calon istrimu…” jawab Tomi.
Deg! Jantung Hadi seperti berhenti berdetak. ‘Sekuat itukah keinginan Mommy untuk melihat aku menikah? Maafkan hadi miii….’ sesal Hadi di dalam hati.
“Jadi bagaimana keadaan Mommy sekarang Di?” tanya Hadi pada Daddinya yang terlihat sangat gusar.
“Tadi masih pingsan, dokter masih memeriksa keadaan Mommimu…” jawab Tomi.
‘Mi… Mommy harus kuat, Mommy harus sadar! Hadi janji, begitu Mommy sadar, Hadi akan bawa calon istri Hadi di depan Mommy. Hadi akan bawa hari ini juga! Meskipun ia adalah istri kontrak’ gumam Hadi di dalam Hatinya.