Mendengar teriakan Beiyin, David melihat kearah lengannya, “Oh! Ini bukan darah, ini tinta printer tadi yang tak sengaja mengenai tanganku,” ujar David.
Ghisella yang sejak tadi bersama David memicingkan matanya, dan mendekat pada laki-laki yang tidak sengaja berbenturan dengan David hingga gelasnya pecah.
“Ehh kamu mabuk ya?” tanya Ghisella.
Lelaki itu hanya tertunduk, dia hanya setengah mabuk, tapi aroma alkohol jelas sangat tercium di hidung Ghisella.
“Security! Cepat stand bazar para OB dan CS, ada pria yang sedang mabuk disini!” sahut David dari balik telepon.
“Cepat pergi dari sini sebelum kamu membuat kekacauan lagi!” perintah David. Lelaki yang dalam keadaan sedikit sempoyongan pergi meninggalkan stand bazar OB itu.
“Kamu tidak apa-apa, Vid?” tanya Ghisella khawatir. David hanya mengangguk kecil dan tersenyum menampilkan lesung pipinya.
Stand bazar yang di pimpin oleh Ratna itu masih saja dikerumuni banyak orang. Hari itu Beiyin dan teman-temannya mendapat keuntungan tiga kali lebih banyak. Pasalnya risoles biasa yang dijual seribu per buah mereka buat tiga ribu perbuah. Itu bukannya tanpa alasan, karena mereka juga harus membayar biaya tenda, gas, minyak dan lain-lain.
“Aku mau seblaknya dong!” ujar Ghisella pada Riko.
“Iyaa, mbak!” ucap Riko dengan gugup. Riko sudah sangat lama sekali terposona dengan kecantikan dan keanggunan Ghisella, tapi ia sadar karena ia hanya OB dan tidak sebanding dengan Ghisella. Di tambah lagi David yang terbilang sebagai salah satu karyawan tertampan di perusahaan itu selalu berada di sekitar Ghisella. Mereka berdua persis seperti titisan Dewa dan Dewi yunani yang membuat siapapun terkesima.
“Aku mau kerak telor dan kebab sayurnya ya! minumnya air mineral saja,” ujar David.
Ratna dan Risti yang sudah kembali ke posisi masing-masing untuk melayani pembeli, segera menyiapkan pesanan David.
Di sisi lain, Hadi bersiap-siap ingin mengunjungi bazar yang di adakan perusahaan mereka.
“Faisal, berapa banyak karyawan yang ikut dalam bazar ini?” tanya Hadi.
“Total ada dua puluh stand, Pak. masing-masing terdiri dari tujuh hingga dua puluh orang!” jawab Faisal.
“Bagaimana dengan sistem penilaian?” tanya Hadi lagi.
“Para penjaga stand akan menyerahkan laporan penjualan mereka, dan bukti pendapatan, dan juga penilaian elektronik yang bisa di isi setiap pengunjung atau pembeli di mesin penilaian yang di letakkan di pangkal dan di ujung bazar!” jawab Faisal lagi.
“Okay, bagus. Kalau bisa besok sebelum perusahaan di liburkan seminggu, pemenang sudah harus di umumkan!” ujar Hadi.
Faisal lalu mengangguk paham, Hadi berdiri dan melangkah keluar ruangan menuju ke lokasi bazar.
“Itu CEO kita!”
“Itu Pak Hadi!”
“Cepat bersihkan ini, mungkin Pak Hadi akan ke sini!”
Para pemilik stand mulai sibuk mempersiapkan hal terbaik untuk menyambut CEO mereka.
Hadi mampir di stand bazar pertama, “Apa yang kalian jual?” tanya Hadi.
“Ini Pak, kami mengumpulkan bahan-bahan bekas di sekitar perusahaan seperti sampah plastik, botol-botol minuman, dan lainnya lalu di jadikan tas, pernak-pernik dan aksesoris seperti ini…”
“Sangat kreatif, hasilnya juga terlihat bagus!” puji Hadi, yang berhasil membuat pemilik stand tersenyum.
“Tadi kalian mengatakan bahan-bahan bekas di sekitar kantor? Apa maksudmu di area perushaan itu di dalam? Atau di luar lingkungan perusahaan?” tanya Hadi lagi dengan memicingkan matanya.
“Emm, di dalam dan di luar perusahaan, Pak!” jawab sang pemilik stand dengan senyum terpaksa karena gugup.
“Ini artinya para CS dan petugas kebersihan tidak bekerja secara maksimal! Bagaimana mungkin masih ada sampah sebanyak ini di area sekitar perusahaan!” ujar Hadi.
Deg! Jantung pemilik stand mulai deg-degan! Ia merasa seperti telah melakukan sebuah kesalahan.
“Faisal, nanti panggil seluruh CS dan orang ini di mintai sebagai saksi! Saya mau minta keterangan dari mereka!” ujar Hadi lalu meninggalkan stand iu menuju stand lainnya.
“Yaa Tuhan, apakah ini akan jadi masalah besar?” pemilik stand itu bergumam pelan.
“Apa yang kamu jual?” tanya Hadi.
“Kami menjual ukiran-ukiran dan lukisan, Pak!” jawab salah satu penjaga stand.
“Siapa yang melukisnya?” tanya Hadi lagi.
“Bukan saya, Pak! kami hanya membantu memasarkan karya pedagang lukisan, dan pemahat di luar sana, Pak!” jawab sang pemilik stand.
“Berapa yang sudah laku?” tanya Hadi lagi.
“Baru tiga, Pak!” jawab karyawan itu dengan senyum.
“Lukisan dan lainnya masih banyak, bagaimana jika tidak laku? Bukankah kalian sudah berinvestasi banyak di sini?” tanya Hadi.
“Kami tidak akan rugi apapun, Pak! kami membuat perjanjian tertulis dengan pedagang itu. jika semua karya seni ini laku terjual, maka keuntungan akan di bagi dua, lalu jika tidak laku terjual, maka semua karya seni ini, akan kami kembalikan!” jawab karywan itu.
“Ohh, baiklah, Strategi yang bagus!” jawab Hadi lalu berlalu ke stand berikutnya.
Hadi mampir hampir ke seluruh stand, semua kritik dan saran ia berikan. Beberapa juga mendapat pujian dari Hadi.
Hadi melihat sebuah stand yang agak mencolok, beberapa orang antri di sana.
“Apa yang kalian jual?” tanya Hadi.
Ratna yang kepala CS dan OB dan sebagai ketua dari team itu langsung datang menghampiri Hadi, “Kami menjual beberapa menu makanan, Pak. mulai dari cemilan hingga menu makan siang. Ada giant risoles, risoles biasa, kerak telor, kebab, bakso, keripik, seblak, soto, mi goreng, nasi goreng, mi rebus, ayam panggang, rendang padang, mi aceh, asam pedas melayu riau, cilok, keripik, dan mi ayam pak. juga berbagai aneka minuman seperti kopi, teh, dan lainnya, Pak!” ucap Ratna panjang lebar.
“Apa kalian memasaknya sendiri?” tanya Hadi.
“Iya, Pak. koki utama kami, ada Rizani, Riko dan Ghea,” jawab Ratna.
“Berapa modal kalian untuk membuat semua ini?” tanya hadi lagi, karena ia melihat banyak sekali menu makanan yang tersedia.
“Modal kami dua juta tiga ratus Sembilan puluh lima ribu, Pak!” jawab Ratna.
“Apa modal kalian sudah kembali?”
“Alhamdulillah, Pak. modal kami sudah kembali. Ini adalah kotak untuk modal, dan ini kotak keuntungan…” jawab Ratna.
“Hem… ide yang bagus! Siapa yang memberi ide untuk memisahkan kotak modal dan keuntungan?” tanya Hadi lagi.
“Ummm, Rizani, Pak!” jawab Ratna sambil menunjuk kearah Rizani yang masih sibuk menggoreng giant risoles diatas Teflon dengan minyak yang sedikit dan api yang kecil.
“Hei, Rizani? Kenapa kamu menggorengnya di situ? Kenapa tidak di kuali yang lebih besar?” tanya Hadi.
Rizani langsung terperanjat saat Ghea menepuk pundaknya, “Maaf apa pak?” tanya Rizani.
“Kenapa kamu tidak memasaknya di kuali?” tanya Hadi lagi sambil menunjuk kuali ukuran besar yang di gunakan Riko untuk menggoreng ayam.
“Ohhh, begini, Pak. kalau saya menggunakan wajan yang lebih besar dan menggunakan minyak, maka risoles ini jadi tidak sehat untuk di konsumsi, karena ukurannya yang lima kali lebih besar dari ukuran risoles biasa. Minyak goreng akan mengendap di bagian dalam risoles dan menjadi lemak jenuh yang tidak baik bagi kesehatan. Nah jika digoreng seperti ini, itu akan menghemat penggunaan minyak dan juga baik untuk kesehatan!” jawab Beiyin.
“Apa risolesnya mateng sampai kedalam?” tanya Hadi lagi yang melihat ukuran risoles itu.
“Tenang aja pak, isinya adalah sayuran, daging dan mi yang sebelumnya sudah di masak. Kulitnya risolesnya juga sudah di masak, jadi kami menggoreng seperti ini hanya untuk memasak tepung panir dan membuat tampilannya jadi lebih menarik,” jawab Beiyin lagi.
Beiyin lalu memotong giant risoles yang sudah matang, lalu menyajikannya pada Hadi. “Ini kalau Bapak mau coba,” ujar Beiyin.
Semua teman-temannya dan juga beberapa pembeli menatap tidak percaya pada Beiyin, “Berani sekali anak itu menyodorkan makanan kelas bawah ini pada, Pak Hadi!” ucap Anto pada Riko.
“Dia menawarkan Pak Hadi untuk memakan risolesnya?” guman salah satu pembeli.
Beiyin yang merasa setiap orang menatapnya, ia menjadi merasa ada yang salah, tapi ia tidak tahu di mana kesalahannya.
“Jiwa marketingmu bagus juga!” puji Hadi, lalu memakan sepotong risoles itu.
“Umm, lumayan! Berapa sepotongnya?” tanya Hadi.
“Tiga ribu, Pak! untuk satu buah giant risoles harganya tiga puluh delapan ribu!” ujar beiyin.
“Diameter sekitar lima centi meter dan panjang tiga puluh centi meter, Satu potong hanya dua centi meter. Artinya, perpotong anda akan untung tujuh ribu?” sahut Hadi sambil memperhatikan isi dari risoles yang ada di garpunya.
“Iya, Pak!” jawab Beiyin.
“Rasa yang sangat enak dan harga yang sangat murah! Berikan aku satu buah giant risoles, nanti antar ke ruanganku!” ujar Hadi.
“Baik, Pak. Terima kasih!” jawab beiyin dengan sigap. Sontak wajah-wajah kebahagian terpancar dari wajah team Beiyin. Mereka tersenyum sumringah penuh kebahagian. Gelar juara sudah di depan mata mereka.
Faisal yang sedari tadi memandang dan memperhatikan Beiyin, ia seperti pernah melihat Beiyin, lalu ia bertanya “Rizani, kamu CS yang kemarenkan? Yang tidak tersentuhkan?” tanya Faisal.
“Huh?” Hadi dan Beiyin sama-sama memandang ke arah Faisal yang tiba-tiba angkat suara.