Mentari pagi bersinar sangat cerah hari itu. Di lapangan Cakrawala group berbaris tenda-tenda payung yang disiapkan oleh peserta bazar. Banyak sekali yang memanfaatkan moment itu untuk menunjukkan kreatifitas dan royalitas diri. Seperti salah satu tenda yang terlihat berkilau dari kejauhan karena lemari Kristal mewah setinggi dua meter, di dalamnya terpampang tas-tas dari merk termahal, seperti Hermes, Prada, Gucci dan lainnya mulai dari yang import hingga yang lokal.
“Wahh ini semua tas koleksian kalian?” tanya Shiren, salah satu pegawai cakrawala group.
Dengan bangga tujuh orang wanita pemilik stand itu berdiri dan tersenyum lebar, “Iyaa dong. Kita mau jual murah saja tas-tas itu, karena udah bosan untuk kita pakai, ya kan, besties?” sahut Yulia, salah satu dari tujuh gadis pemilik stand.
“Jual murah? Berapa?” tanya shiren lagi dengan manik matanya yang tak lepas dari tas hermes mewah yang terpajang di balik lemari Kristal itu.
Ghea dan Ratna yang tidak sengaja lewat, tiba-tiba berhenti. “Sebentar, kita mampir ke sini dulu…” ucap Ghea sambil menarik tangan Ratna. Ghea sangat tertarik dengan tas-tas mewah dengan brand kelas atas.
Melihat Ghea dan Ratna yang juga ikut mampir dan tertarik dengan pajangan mereka, Yulia meyunggingkan senyum, dan bertanya pada Ratna, “Tas mana yang mau kamu tanyakan, Shiren?”
Lalu Shiren menunjuk kea rah tas yang sangat ellegan bewarna gold, “Yang itu, Hermes Kelly Rose Gold…” jawab Shiren dengan ragu.
“Ohh, selera kamu bagus juga…” jawab Yulia sambil tersenyum, Yulia lalu berjalan dengan Anggun dan mengambil tas yang dimaksud dari dalam lemari Kristal.
“Sekarang aku jual dengan harga lima belas miliar saja…” ucap Yulia dengan tersenyum, yang pasti senyum itu bukanlah senyum yang tulus, tapi lebih terlihat meremehkan.
“What? Lima belas miliar? Kamu mau merampok? Tas dari kulit buaya begitu aja dijual miliaran!” protes Ratna, sang kepala OB yang memang tidak tahu menahu tentang tas mewah dari brand ternama.
“Apa? kulit buaya? Hello? Kalau dilihat sekilas mungkin tas ini memang terlihat seperti terbuat dari kulit buaya, tapi faktanya tas ini terbuat dari rose gold dengan emboss yang menyerupai kulit buaya, dipenuhi seribu seratus enam puluh berlian yang berukuran tiga puluh tiga koma Sembilan puluh empat karat, dan ada sebelas ribu berlian di bagian rantainya. Tau nggak?” ketus Yulia.
“Huh kamu yakin jumlah berliannya segitu? Sudah kamu hitung? Kalau hilang satu berliankan rugi, satu berlian bisa senilai puluhan, ratusan juta gitu, iya kan Ghe?” sahut Ratna lagi sambil bertanya pada Ghea yang terpelongo di sampingnya.
“Ehh, buk! Anda tidak mengerti brand terkenalnya? Udah ini aku udah jual murah lima belas miliar, dulu aku belinya dua puluh delapa miliar!” ujar Yulia dengan menekannya setiap kata pada harga tas hermes itu.
“Hemm, udah Ghe, kita pakai totebag ini aja, lima belas ribu, bisa bawa apa aja. Kalau itu cuman muan satu buah handphone aja!” ujar Ratna.
“Hempp, kalau ini sih, memang mahal buk Ratna, perusahaannya cuman memproduksi dua belas tas aja, dan salah satunya ada di depan mata kita ini,” tutur Ghea.
Yulia dan Shiren memicingkan matanya menatap Ghea.
“Dari mana kamu tau?” tanya Shiren dan Yulia hampir bersamaan.
“Yaa aku suka aja mengikuti up date tas brand ternama seperti ini…” jawab Ghea santai.
“Jadi kamu mengoleksi Hermes juga?” tanya Yulia penasaran.
“Ehhh enggak… mana sanggup aku beli! Aku jual ginjal sama semua organ pun, aku tak akan sanggup beli, hanya orang-orang elit yang mampu membelinya…” jawab Ghea.
Mendengar itu Yulia tersenyum penuh kemenangan, “Bagaimana Shiren? Kamu jadi beli?” tanya Yulia pada shiren.
Shiren lalu tersenyum kecut, “Enggah deh Yul, uang aku nggak cukup…”
“Emang uang kamu berapa? Kalau sama kamu, aku jual murah nggak apa-apa deh, sepuluh miliar juga tidak apa-apa…” ujuar Yulia mengelukan Shiren yang bertujuan untuk menjatuhkan dan mempermalukan shiren.
“Enggak deh, Yul… enggak jadi…” jawab Shiren sambil tersenyum masam, lalu izin pamit dari tempat itu.
“Heh, aku sudah menduganya tidak aka nada pegawai di sini yang mampu membeli, yaa setidaknya semua orang bisa tau kalau kita punya koleksi tas-tas mewah…” ucap Yulia pada ke enam temannya yang ada di stand bazar.
“Dasar, Yul, Tuyul tukang pamer!” ketus Ratna, dan itu di dengar oleh Yulia.
Ghea dan Ratna pun buru-buru pergi setelah melihat Yulia berpaling ke arah mereka.
Dari kejauhan, Beiyin melihat dua orang rekannya sedang berjalan kea rah stand bazar mereka.
“Kalian dari mana saja? semuanya sudah oke?” tanya Beiyin.
“Kita habis keliling bazar tadi. ada yang jual tas seharga dua puluh miliar…” sahut ratna dengan bola mata yang membulat.
Beiyin juga ikut terkejut mendengarnya, karena beiyinpun tidak pernah tahu menahu dengan brand mahal dan terkenal.
“Ya sudah, kita siapkan saja menu kita. Jadi ini taktik kita. Sebelum kita menjual makanan kita pada orang lain, kita harus memperlihatkan kepada orang-orang betapa lezat dan nikmanya makanan kita!” ujar Beiyin dengan antusias.
“Caranya bagaimana?” tanya Ghea. Lalu Beiyin meminta semua anggotanya berkumpul.
“Begini, kokinya kan, aku, Ghea, dan Riko. Jadi kalian harus menjadi pelanggan pertama stand kita, kalian harus makan dengan lahap setiap porsinya dari menu kita, dan pastikan semua orang melihat itu. nanti setiap orang yang melihat kalian makan dengan lahap dan nikmat, mereka pasti tertarik, penasaran seenak apa sih makanan kita, dan mereka pasti jadi membeli…” ujar Beiyin.
“Aku setuju! Aku ingin makan satu porsi Giant Risoles” ujar Bayu.
Semua mereka mengangguk, “Baiklah kita harus membuat semua orang melihat Risti, Bu Ratna, Bayu, Anto, samsul dan Kristi, makan. Aku punya ide, aku dan salah satu dari kalian akan bermain gitar dan bernyanyi, dan aku juga butuh satu rekan lagi yang agar kehebohan makin tercipta di stand kita…” ucap Ardian.
“Baiklah, Aku akan ikut bernyanyi, habis itu kita gantian, yang lainnya nyanyi, dan aku makan…” sahut Samsul.
“Oke, baiklah, lagu pertama kita, lagu heboh yang membakarkan semangat, we know the way, dari film Moana…”
Gitar dan bunyi gallon air yang dipukulpun mulai terdengar, di lirik pertama mereka, sudah memancing perhatian beberapa orang.
Merasa ada yang memandangi mereka, Ghea dengan skill memasaknya mulai memasak mie goreng dengan api yang menyala hingga ke dalam kualinya. Beiyin dengan cekatan memotong giant risoles yang berisi sayur, daging ayam dan mie. Sedangkan Risti langsung memakan mie rebus yang sudah tersaji di depannya.
Helaian panjang mi rebus yang di seruput Risti membuat beberapa orang menelan ludah, lain halnya dengan bayu, potongan Giant risoles yang berdiameter lima senti meter, langsung ia masukkan kemulutnya membuat mulutnya terlihat penuh.
“Waahhh enak banget, sumpah!” teriak bayu.
“Iyaa, mi rebusnya juga enak! Aku mau coba yang soto, dan mi goreng!” teriak Risti.
“Aku juga mau! Rendang padangnya, bakso, mi ayam!” sahut Ratna, Anto, mereka berempat makan dengan lahap, bahkan samsul yang menyanyipun ikut menelan ludah.
“Aku juga mau coba!” teriak samsul.
Tinggallah Ardian yang menyanyi sendirian, sedangkan teman-temannya yang lain sibuk menampilkan sekaligus memanfaatkan kemampuan mugbang mereka. beberapa penonton jadi tertarik hingga semuanya jadi antri untuk mencoba.
Kehebohan dan antusias setiap orang makin bertambah, karena semua orang menampilkan ekspresi puas mereka saat mencoba menu makanan yang ada di stand bazar yang di pimpin oleh Ratna sang kepala OB dan CS.
Braaakkkk!
Perhatian semua orang yang mengantri dan berdesak-desakan tadi tertuju pada sebuah bunyi gelas pecah dari arah belakang.
“Pak, Maaf, saya tidak sengaja…” tutur seorang pria lainnya yang langsung menunduk.
“Apa ini, bau alkohol? Kamu mabuk?” tanya David pada lain pada pria yang tertunduk itu.
“Pak, david! Tangan anda berdarah, Pak!” teriak Beiyin.