"Jadi dia ada di sini?" tanyanya pada diri sendiri. Saat mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya, ia langsung mengecek.
Melihat isi dari pesan itu, helaan nafas berat langsung terdengar memecah kesunyian. Dixon memijat pangkal hidung lalu mula menggerakkan jari-jemarinya yang panjang untuk membalas pesan tersebut.
"Aku sudah menemukannya."
Begitu isi pesannya.
Dixon bangkit dari kursi di teras rumahnya, melangkah keluar lalu berhenti di bawah pohon pinus besar yang menjulang di halaman.
Pandangannya tertuju pada rumah kayu besar yang berjarak sekitar satu kilometer itu. Lampu-lampu di rumah itu tampak masih menyala, menandakan ada aktivitas di dalam, tapi ia tidak bisa melihat detail siapa yang berada di teras.
Namun begitu ia sangat yakin, orang itu adalah Quin. Kenapa? Jawapannya simple, di rumah itu hanya ada Quin satu-satunya. Jadi Dixon bisa dengan yakin menyimpulkan bahwa itu adalah Quin.
"Nona Canna... ah, haruskah aku memanggilmu Quin?" Tatapannya menajam sedangkan tangan kirinya mencengkram batang pohon itu kuat.
Lagi-lagi helaan nafas terdengar darinya lalu ia menutup matanya sejenak, membiarkan ingatannya melayang ke ruang rapat beberapa hari sebelumnya.
Suasana tegang masih terasa di pikirannya, seakan setiap detik dalam ruangan itu berdenyut.
Ruang rapat hening sejenak. Harland menatap tajam Dion, bibirnya mengepal. “Bagaimana bisa kau tetap tenang? Kerugian sudah puluhan miliar, reputasi perusahaan kembali hancur, dan kau masih duduk di sana seolah tidak terjadi apa-apa!”
Dion menatapnya lurus. “Saya sudah katakan, saya bertanggung jawab. Menuduh tanpa bukti tidak akan menyelesaikan masalah. Proses harus berjalan dengan adil, dan aku yang akan menanggung konsekuensinya."
Suara ketukan meja terdengar keras. “Kalau begitu, kita lakukan voting seperti yang diusulkan tuan Harland!” seru seorang pemegang saham.
Tiga tangan sudah terangkat sebelumnya, menuntut Dion dicopot. Mata semua orang tertuju pada Dion. Hudson berdiri di sampingnya dengan wajah memerah. “Tidak! Kalian tidak bisa begitu saja memaksa anakku turun jabatan. Tanpa Dion, perusahaan ini bisa hancur lebih cepat!”
Galen bersuara menepis argumen itu. “Keluarga atau bukan, tanggung jawab CEO adalah prioritas utama. Kesalahan sebesar ini harus ada konsekuensi! Dan kehilangan nona Canna adalah keputusan sepihak dari Dion yang tidak mendiskusikan hal ini pada kita semua!” Beberapa orang mengangguk setuju dengan ucapan Galen.
"Benar. Perkara ini seharusnya diberitahu kan pada kami lebih dulu," ujar Harland menimpali. Dua orang itu saling pandang, mengangguk seolah-olah saling menyapa.
Dion menarik napas panjang. “Kalian menuntut keputusan cepat karena marah dan takut, bukan karena fakta. Aku paham kekhawatiran kalian. Tapi tanpa langkah yang terukur, MyHealthPuls bisa runtuh. Dan ingat, tanpa dukungan pemegang saham, perusahaan ini tidak akan berdiri sampai sekarang. Saya akui tanpa kalian saya tidak bisa menjadi yang sekarang tapi perlu ku tekankan sekali lagi, kasus ini sayalah yang akan bertanggung jawab! Semua keputusan sayalah yang memutuskan, suka atau tidak kalian harus menerimanya.”
Dion kembali berucap, "Dan… apakah kalian ingin kasus 15 tahun lalu terulang kembali? Tanpa penyelidikan, lalu langsung menjatuhkan hukuman pada orang yang sama sekali tidak bersalah? Apakah kalian ingin menjadikan perusahaan ini sarang kejahatan? Bahkan orang yang melakukan korupsi paling besar, 15 tahun lalu pun kita tidak tahu siapa dia. Bisa saja orang itu adalah dalang di balik semua ini! Jika bukan orang itu, maka ada orang lain yang ingin menjatuhkanku!"
"Musuhku banyak. Saya sudah mengorbankan hidupku selama ini hanya untuk perusahaan ini! Saya akan membangkitkannya kembali menjadi perusahaan nomor satu!"
"Maka pikirkan baik-baik. Kalian tetap ingin menurunkan ku dari jabatan, saya tidak masalah tapi biarkan saya menyelesaikan semuanya hingga ke akar-akarnya."
"Cukup ayahku saja yang melakukan kesalahan tapi saya tidak. Jadi pikirkan baik-baik," ujarnya mengakhiri setelah berucap panjang lebar.
Beberapa pemegang saham mulai ragu. Suara-suara kecil muncul, mereka saling berbisik, menimbang kata-kata Dion.
Hudson menatap mereka dengan tegas, seakan mengingatkan posisi mereka, "Kita semua tahu Dion-lah yang membawa perusahaan ini sampai di titik ini. Jangan biarkan emosi menghancurkan apa yang sudah kita bangun.”
Harland mengepalkan tangan, kerutan di dahinya menandakan ketegangan mulai terasa. Dion tetap diam, menunggu, membiarkan fakta dan logika bekerja.
Akhirnya, satu per satu tangan mulai menurunkan diri. Voting berlangsung ketat tapi keteguhan Dion membuat sebagian besar pemegang saham mengalah. Harland menatap Dion dengan dingin tetapi tidak bisa berbuat banyak.
Sialan.
Dion menegakkan tubuhnya. “Saya tetap CEO sampai semuanya menemukan titik terang. Dan saya akan menanggung tanggung jawab penuh atas semua keputusan yang diambil. Siapa pun yang ingin membantu, mari bekerja bersama. Siapa yang ingin menghancurkan, silakan lihat sendiri akibatnya.”
Suasana sedikit lega, tapi ketegangan masih terasa di udara. Hudson menarik napas lega, menepuk bahu Dion. "Kerja bagus.”
Dion hanya tersenyum tipis. Untuk pertama kali ia senang mendengar pujian dari ayahnya.
Rapat sudah dibubarkan, tapi ruang kerja Hudson masih terasa seperti sarang ketegangan. Suara langkah kaki Chloe terdengar ringan saat ia menutup pintu, ia berjalan mendekati Dion yang tengah menatap pemandangan di bawah.
“Bagaimana dengan Nona Canna?” tanyanya menatap Dion dari samping, wajahnya jelas terlihat cemas.
Dion menatap lurus, mata hitam legam itu tampak tajam menatap gedung-gedung tinggi di sekitar gedung perusahaannya. “Aku sendiri yang akan mencarinya.” Nada suaranya rendah tapi terdengar tegas dan tak ada keraguan di dalamnya.
Ia menoleh ke arah Chloe. “Aku butuh semua data tentang Nona Canna. Identitas, alamat, kontak, apa pun yang bisa membantuku.”
Chloe mengangguk cepat lalu bergegas ke ruang HR untuk mengambil data itu. Dion dan Hudson tetap di ruangan. Saling berdiam diri, masing-masing menimbang langkah berikutnya.
Hudson menatap putranya, “Dion tidak maksudku... Dixon, kau sadar kan, satu langkah salah, semuanya bisa ketahuan. Lebih parah lagi, jika mereka tahu kau bukanlah Dion yang sebenarnya… dan jangan sampai ini menyusahkan adikmu yang sedang koma.”
Dixon terkekeh, rahangnya mengeras menunjukkan ia sedang marah. Ia menoleh menatap pria paruh baya itu tajam. “Lalu suruhanmu sebelumnya.. menyuruhku menyamar menjadinya, pura-pura… itu tidak menyusahkan? Aku juga punya pekerja tahu?!”
Hudson menunduk, menekan bibirnya. “Maaf,” katanya pelan, suaranya serak. Dixon berdecak kesal, satu tangannya masuk ke saku. Urat di leher dan pelipisnya menonjol, menandakan betapa ia menahan amarahnya. Jika saja pria yang sedang duduk di sofa itu bukan ayahnya, maka sudah dipastikan ia akan menghajarnya habis-habisan.
"Dixon..." Dixon menoleh.
Ruangan itu hening. Lama mereka hanya saling menatap, tanpa sepatah kata. Hanya detak jam dan napas mereka yang terdengar.
"Aku tahu kau sangat membenciku, tapi ku mohon, pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan. Jangan sampai hal itu merugikanmu."
Dion atau bisa kita sebut sebagai Dixon, sosok yang berdiri di depan Hudson saat ini hanya diam tanpa menjawab.
Pintu ruangan terbuka.
Chloe kembali, membawa map tebal berisi data Quin. Dixon menerimanya, membuka lembar demi lembar, matanya bergerak cepat meneliti isi dokumen itu. Setiap nama, alamat, dan kontak ia cermati seakan menimbang setiap kemungkinan.
“Aku akan membawa ini bersamaku... dan aku ingin pulang ke desa sebentar,” katanya seraya menutup map tersebut. "Setelahnya, aku akan mencari Nona Canna. Semua urusan di sini, aku serahkan padamu.”
Hudson menatapnya, ragu. “Bagaimana dengan keadaan di sini? Kau bilang kau akan bertanggung jawab!”
Dixon menatap ayahnya datar, “Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sendiri yang akan mengurus masalah Nona Canna. Tapi sebelum itu, biarkan aku kembali ke desa..." jedanya lalu menatap Hudson lama. "Apa, bahkan kau tidak mengizinkanku melihat kuburan ibuku?"
"Kau?!" Hudson menatap putra sulungnya itu dengan tatapan tidak senang. Ia hanya bisa mengangguk. Tak ada kata lagi yang bisa mengubah keputusan itu.
Pandangan Dixon jatuh pada Chloe yang berdiri di sebelahnya, “Aku akan berangkat nanti malam. Ah, tidak mungkin sore. Lalu kau, bantu pria tua itu. Jangan sampai darah tingginya kambuh."
"Bai—" Ingatan itu berhenti. Dixon di kagetkan dengan deringan ponselnya yang tiba-tiba.
Chloe. Nama si pemanggil tertera di layar ponsel. Dahinya mengerut heran. Mengapa gadis itu menghubunginya? Apakah tidak cukup hanya berbalas pesan?
"Halo."
"Kau sedang sibuk?"
Dixon tidak menjawab, pria itu langsung ke intinya. Ia malas basa-basi. "Ada apa?"
"Begini... seperti dugaan mu sebelumnya..." Ada jeda dalam kalimat Chloe. Gadis itu tengah membolak balik data di tangannya.
"Tuan Olson memiliki dua putri."
"Lalu?"
"Mereka kembar." Dixon menyeringai. Tanpa mengatakan apapun, ia menutup panggilannya.