"GAWAT! Nona Canna kabur!" seru Chloe panik membawa kabar buruk. Seketika Dion berdiri dari kursinya, langkahnya cepat menghampiri Chloe, tatapannya menusuk langsung ke mata gadis itu.
"Apa maksudmu?!"
"Nona Canna kabur! Orang yang ditugaskan mengawasinya melihat dia pergi sambil menenteng koper," ujar Chloe dengan wajah pucat, suaranya bergetar menahan panik.
"Perempuan bodoh! Bagaimana bisa dia lepas, hah?!" murka Galen, tangannya nyaris mendorong tubuh ringkih Chloe. Untung saja Dion sigap menahan pamannya, berdiri sebagai penghalang di antara keduanya.
"Jaga bicaramu! Di keluarga kita, pria tidak dibenarkan naik tangan pada seorang perempuan," tekan Dion, sorot matanya tajam menahan amarah. Chloe menggigit bibir, tubuhnya bergetar ketakutan. Sementara Galen mendengus keras, merasa harga dirinya dipermalukan oleh keponakannya sendiri.
Dion beralih pada gadis itu, rahangnya mengeras. "Jelaskan kenapa bisa kecolongan?" suaranya dalam, menuntut penjelasan.
Chloe menunduk, jemarinya saling meremas gelisah. "Aku… maksud saya, pihak kita sudah mengawasi kediaman Tuan Olson dengan hati-hati. Tapi nona Canna tetap lolos."
"Saya sudah mengerahkan tim untuk melakukan pengejaran, tapi jejak gadis itu sama sekali tidak ditemukan."
"Konfirmasi terakhir menunjukkan jejaknya di sebuah hotel. Setelah itu, ia lenyap tanpa jejak."
"Saya sudah mengeceknya langsung, tidak ada nama nona Canna dalam daftar tamu hotel."
"Dia benar-benar hilang!"
Dion memejamkan mata, kepalanya berdenyut hebat. Di sebelahnya, Galen menatanya dengan penuh ketidakpuasan.
"Lihat?! Kau lihat! Gara-gara keputusan mu, kita kehilangan penjahatnya!" Hardik Galen penuh amarah.
"Keputusan sepihakmu membuat kita rugi besar, Dion. Bukan hanya kau, perusahaan ini yang menanggung akibatnya! Bagaimana jika para investor kecewa?"
"Aku tahu apa yang sedang aku lakukan!" Dion membalas dengan dingin. “Marah saja tidak akan mengubah apa pun. Kau bilang kita kehilangan dia? Tidak. Aku hanya membiarkan bidak bergerak. Bedanya, aku sudah tahu langkahnya berikutnya…" Ada jeda dalam kalimatnya sebelum Dion kembali melanjutkan.
"Dan kau belum. Atau mungkin… sebenarnya kau lah yang sudah bergerak lebih dulu.”
Mendengar itu, Chloe langsung menatap Dion dengan ekspresi bingung. Keningnya berkerut, hatinya berdegup tak menentu. Apa maksudnya? Apakah ada pengkhianatan yang selama ini tidak ia sadari?
“Apa maksudmu, Dion?” tanyanya ragu namun penuh desakan.
Dion menoleh perlahan, senyum tipisnya tak memberi jawaban jelas. “Kau akan mengerti… ketika waktunya tiba.”
“Siapkan ruang rapat. Panggil seluruh dewan direksi dan komisaris. Sertakan juga para pemegang saham!”
Chloe mengangguk. Dion berjalan lebih dulu meninggalkan ruangannya. Sementara Galen kian mengepalkan tangannya.
Sial.
•
•
•
Lampu kristal besar tergantung di tengah ruang rapat, pantulannya jatuh ke atas meja kayu panjang yang dipenuhi wajah-wajah tegang. Udara terasa berat, nyaris menyesakkan. Para pemegang saham duduk dengan wajah merah padam, sebagian menepuk meja, sebagian lagi berbisik dengan nada marah.
Hudson hanya duduk diam di ujung meja, wajahnya pucat namun rahang terkunci rapat. Chloe di sampingnya sesekali menyentuh lengannya, mencoba menenangkan pria paruh baya itu yang napasnya sudah mulai terengah.
“Paman, ku mohon tenanglah,” bisiknya pelan.
“Bagaimana bisa seorang pegawai, Canna, menggelapkan dana sebesar 20 miliar tanpa sepengetahuan kalian semua?” Salah seorang pemegang saham menepuk meja dengan keras. “Di mana pengawasan direksi dan komisaris?!”
Seorang direksi mencoba menenangkan suasana. “Kami sedang melakukan investigasi internal. Canna sudah ditetapkan sebagai tersangka utama, dan—”
“Investigasi internal?” sahut pemegang saham lain, nada suaranya sinis. “Kerugian sebesar itu tidak bisa hanya ditutup dengan kata investigasi. Kami menuntut pertanggung jawaban dewan direksi dan komisaris yang lalai!”
Ketua komisaris menarik napas panjang, berusaha bersuara tenang. “Kami akui ada kelalaian. Tapi biarkan proses ini berjalan. Kami sudah melibatkan pihak berwajib.”
Hudson tetap diam, tangannya mengepal di atas meja. Chloe meliriknya dengan khawatir. “Paman, tahan dulu. Jangan terbawa amarah,” bisiknya pelan.
Ketegangan makin meningkat ketika seorang pemegang saham menuding ke arah Dion. “Dan kau, Dion! Bukankah kau yang memerintahkan komisaris memberi nona Canna sedikit waktu? Apa maksudmu? Karna kebijakan lunakmu, uang kami melayang!”
Suasana hening sesaat. Semua mata beralih pada Dion. Ia menyandarkan punggung, membuka suara dengan nada tenang tapi tegas.
“Saya membuat rapat ini bukan hanya untuk menjelaskan situasi Nona Canna,” ucap Dion, tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Saya ingin menegaskan sesuatu kepada kalian semua: apa pun yang terjadi, saya akan bertanggung jawab penuh atas keputusan yang saya ambil terkait kasus ini. Kalau salah, salahku. Kalau benar, proses akan membuktikan semuanya. Dan saya siap menanggung konsekuensinya bukan kalian.”
Beberapa orang terdiam, menyadari keteguhan Dion. Pemegang saham tadi menepuk meja lagi. “Sementara kau memberi pilihan, kerugian semakin besar! Bagaimana kami menjelaskan ini kepada publik?!”
Dion menatap tajam. “Apakah kalian lebih suka menuduh tanpa bukti? Kalau begitu, jangan sebut ini perusahaan tapi pengadilan jalanan.”
Hudson menarik napas panjang, matanya terpejam sejenak. Chloe makin cemas, takut tekanan darahnya naik.
“Kasus ini sangat serius, 20 miliar bukan angka kecil. Saya mengerti kemarahan kalian. Tapi keputusan memberi sedikit waktu pada nona Canna adalah keputusanku, dan saya yang akan bertanggung jawab,” Dion menegaskan kembali. “Kalau salah, salahku. Kalau benar, proses akan membuktikan semuanya.”
Sebagian direktur saling bertukar pandang, perlahan ada yang mulai mengangguk setuju.
Hudson tetap diam, wajahnya tegang. Suaranya yang serak akhirnya terdengar. “Dion… kau sadar risiko dari pengakuan itu?”
“Aku lebih suka menanggung risiko dengan namaku sendiri, daripada membiarkan keputusan itu menyeret kalian semua,” jawab Dion.
Hening sesaat. Lalu, tiba-tiba suara berat dan dingin menyahut dari ujung meja. “Saya tidak setuju.”
Semua mata beralih pada tuan Harland, pemegang saham senior yang keras kepala dan berpengaruh. Ia menyilangkan tangan, menatap Dion dengan sorot tajam.
“Perusahaan sudah dipermalukan di depan publik. Nilai saham jatuh, reputasi hancur. Dan kau masih duduk tenang di kursi CEO seolah-olah bukan salahmu?!”
Dion menarik napas dalam, menahan diri. “Saya sudah katakan, saya bertanggung jawab penuh. Keputusan ini saya ambil agar proses berjalan adil dan bukti bisa muncul jelas. Kita akan tahu apakah tuduhan ini benar atau salah melalui proses itu—bukan dengan terburu-buru mengambil keputusan.”
Harland mengetuk meja keras. “Proses? Investor kehilangan kepercayaan dan solusimu hanyalah menunggu? Itu omong kosong. Satu-satunya cara menyelamatkan nama baik perusahaan ini adalah mencopotmu sekarang juga!”
Suasana ruangan membeku. Beberapa pemegang saham saling pandang. Ada yang ragu, ada yang terlihat setuju dengan Harland.
Harland berdiri, menatap seluruh ruangan. “Saya menuntut voting segera. Apakah kita masih ingin mempertahankan Dion sebagai CEO, atau memilih pemimpin baru yang lebih layak?”
Dion mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu inilah ujian sebenarnya. Bukan hanya soal nama baik tapi juga tentang kepercayaan semua orang yang kini bergantung pada keputusannya. Dan ia siap menanggung semua konsekuensi itu.
Sementara itu.
Kediaman Olson tampak semakin dijaga ketat. Para pria berjas hitam silih berganti berpatroli, membuat suasana begitu menegangkan hingga nyonya Olson pun enggan keluar dari rumah.
Mereka seperti terkurung, tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu, menahan napas di tengah ketidakpastian.
"Nyonya bagaimana ini?"
Wanita itu melirik sinis. “Diamlah,” ujarnya sambil menggigit kukunya. Si pelayan segera menundukkan kepalanya takut. Sementara itu, Olson yang duduk di sofa memijat kepalanya, terlihat jelas pusing dan lelah.
“Dalea, seharian ini apa saja yang kau lakukan? Kenapa Nara bisa keluar?! Apakah kau benar-benar menjalankan perintahku?” Olson menatap istri mudanya dengan tatapan menuntut jawaban.
“Sudah, tapi aku tidak menyangka bisa kecolongan begini,” jawab Dalea dengan suara bergetar. “Nara tiba-tiba pamit saat kami makan siang bersama. Aku pikir dia kembali ke kamarnya.”
Olson mengerutkan kening, amarahnya meningkat. “Anak itu benar-benar membuatku malu! Rasanya hanya menyusahkan, membesarkan gadis bodoh seperti dia!”
Dalea menunduk, tidak berani menatap suaminya. Sementara itu, ketegangan di kediaman semakin terasa. Para pengawal berpatroli lebih sering dan semakin bertambah dari waktu ke waktu. Pandangan mereka tampak waspada dan setiap langkah terasa berat.
Mereka semua seperti sudah ditangkap oleh keadaan yang tak bisa melakukan apa pun selain menunggu apa yang akan terjadi.
Di tengah semua itu, tak seorang pun menyadari bahwa setiap kejadian telah direncanakan oleh seseorang yang berada di balik layar.
•
•
•