MALAM itu lampu meja kerja Dixon masih menyala meski jarum jam sudah melewati angka sebelas. Gelas kopi di sudut meja tinggal separuh, uapnya pun sudah hilang. Ia bersandar di kursi sambil menatap layar laptop dengan mata yang mulai lelah.
Sebuah email baru dari Chloe masuk setengah jam lalu. Subjeknya sederhana, “Data Canna & Calla."
Klik!
Dixon membuka dua berkas yang dikirim Chloe, lalu menaruhnya berdampingan di layar.
Nama Lengkap: Canna Nyx Quintessa
Tanggal Lahir: 26 Juli 2002
Alamat: Jl. Lavender No. 7, Kota D.
Riwayat Pendidikan: Universitas Eterna, Fakultas Ekonomi, lulus 2023.
Catatan Medis: Sehat, tanpa riwayat penyakit berat.
Catatan Perusahaan: Bergabung pada Oktober 2023 sebagai Kepala Keuangan.
Ia menelan ludah, kemudian menggeser kursor ke berkas berikutnya.
Nama Lengkap: Calla Nyx Quintessa
Tanggal Lahir: 26 Juli 2002
Alamat: Jl. Lavender No. 7, Kota D.
Riwayat Pendidikan: Universitas Eterna, Fakultas Ekonomi, lulus 2023.
Catatan Medis: Sehat, tanpa riwayat penyakit berat.
Catatan Perusahaan: Tidak ada catatan resmi.
Dixon mengerutkan dahi. Semua data identik, seolah-olah kedua nama itu hanyalah salinan.
“Mustahil…” gumamnya pelan. “Kalau benar mereka kembar... lalu siapa yang selama ini ada di perusahaan? Quin atau Calla?”
Tangannya mengepal di atas meja. Setahun setengah terakhir, seseorang duduk di kursi kepala keuangan. Seseorang yang menandatangani laporan, hadir dalam rapat, bahkan bersitegang dengannya lebih dari sekali. Tapi kalau data ini benar ada kemungkinan bukan Quin yang ia kenal selama ini.
"Gadis itu juga nggak menggenalku sama sekali. Iya sih, aku menyamar sebagai Dion tapi... kami juga kembar!" gumam Dixon bersandar ke belakang, melepas kacamata dari wajahnya.
"Apakah situasi kami sama? Apa salah satu diantara mereka sedang menyamar?"
Kedua matanya terasa berat, urat di pelipis menegang. Dengan gerakan frustrasi, ia membuka dua kancing teratas kemejanya, mencoba memberi ruang pada dadanya yang sesak.
Bayangan wajah Quin atau Nara berkelebat di benaknya. Senyum samar, tatapan dingin, tutur kata yang rapi. Semua sama. Terlalu sama untuk dibedakan.
“Apa selama ini aku berhadapan dengan orang yang salah…?” bisiknya lirih.
Rasa bingung itu menekan dadanya. Ia ingin menuduh tapi tanpa bukti siapa yang benar-benar ada di balik kursi itu, ia tak bisa leluasa bergerak. Korupsi terbesar perusahaan 15 tahun yang lalu mungkin saja berakar dari rahasia kembar ini. Tapi kejadian itu sudah lama. Bagaimana mungkin?
Dixon menunduk, menatap layar yang masih menampilkan dua berkas identik itu. Huruf-huruf terasa kabur, membuat matanya semakin lelah. Ia mengusap wajah lalu menutup laptop dengan hentakan pelan.
Hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar menusuk telinga. Ia berdiri perlahan, melangkah ke jendela besar kamarnya. Menatap rumah Quin yang sudah gelap.
“Quintessa atau Quinnara… siapa di antara kalian yang sebenarnya aku hadapi selama ini?”
Bayangan senyum samar itu kembali terlintas di benaknya, membuatnya semakin sulit memejamkan mata malam ini.
•
•
•
KEESOKAN HARINYA.
Jarum jam baru melewati angka enam. Quin membuka mata perlahan, masih terasa berat setelah semalaman tubuhnya letih.
"Ssshhhh..."
Udara dingin langsung menyentuh kulitnya, membuatnya segera bangkit menuju kamar mandi. Usai membasuh wajah dengan air yang menusuk dingin kulitnya, ia meraih cardigan dari gantungan. Satu-satunya pelindung tipis dari hawa pagi desa Nunuk.
"Aduhh... sakitnya. Ini semua gara-gara anjing si aneh itu."
"Kalau begini, bagaimana aku bisa bekerja?" Quin menggerutu pelan. Ia turun ke bawah dengan langkah tertatih-tatih, masih agak berat karena kakinya belum pulih sepenuhnya dari terkilir. Tapi rasa ingin menikmati pagi lebih kuat daripada rasa sakit itu
"Huhh.. harus kuat Quin!"
Dari serambi, ia menatap kebun mininya. Ada deretan sayur-sayuran segar—kol yang baru merekah, wortel dengan daunnya yang hijau, serta daun bawang yang masih basah oleh embun. Sementara di sisi lain, ada hamparan bunga sederhana yang berwarna lembut.
"Indahnya," ucapnya tersenyum tipis. Namun, senyumannya perlahan memudar. "Seandainya ibu masih ada. Pasti lebih bahagia. Aku ingin menghabiskan seharian untuk memeluk mu bu."
"Maaf... semoga ibu bahagia di sana. Aku menyayangi mu," lirihnya menghapus air matanya yang ingin jatuh.
"Baiklah, mari mulakan pagi ini dengan penuh semangat. Aku harus mengumpulkan uang, lalu menyewa seorang hacker.. ah tidak itu terlalu berlebihan. Aku harus membayar 20 miliar itu. Waktu sudah tidak banyak."
"Ehh, tapi... antara keduanya yang mana lebih bagus?"
Quin menarik napas panjang malas memikirkan masalah itu untuk saat ini. "Hummm... wanginya." Harum bunga berpadu dengan aroma yang datang dari dapur-dapur rumah sekitar seperti bau nasi goreng yang baru siap di masak, kopi hitam yang mengepul, juga wangi tumisan yang melayang lewat jendela kayu. Udara desa memang punya cara tersendiri untuk membuat hatinya terasa damai.
Namun, semua aroma itu justru membuat perutnya keroncong. Quin terkekeh kecil, mengusap perutnya sendiri. “Aku jadi laper,” gumamnya lirih. Ia pun berbalik, melangkah perlahan menuju dapur.
Setiap langkahnya masih tertahan tapi ia terus berjalan. Meski tertatih, ada kepuasan kecil yang menghangatkan bahwa pagi ini ia akan menyambut harinya dengan sarapan buatannya sendiri.
Ah, sudah lama aku tidak memasak ya, pikirnya.
Di sisi lain, tepatnya di puncak bukit.
Ruang kerja Dixon tampak redup. Tirai masih tertutup rapat, hanya celah tipis yang membiarkan seberkas cahaya menyelinap masuk. Asap rokok tipis melayang di udara, menempel di dinding kayu yang dingin.
Di meja, laptopnya masih tertutup, berdampingan dengan map lusuh dan secangkir kopi baru yang uapnya belum hilang.
Namun Dixon tak menatap semua itu. Ia berdiri di depan jendela, kedua tangannya diselipkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras. Malam tadi, nama Quin dan Nara berputar tanpa henti di kepalanya dan kini, kebingungan itu hanya berubah menjadi sakit kepala.
“Kalau memang ada permainan kembar di sini…” suaranya serak, nyaris tak terdengar, “…Maka seseorang pasti tengah menyembunyikan sesuatu.”
Langkah sepatunya berderap pelan di lantai kayu. Ia kembali duduk, membuka map berisi laporan keuangan lama. Jarinya menelusuri tanda tangan di setiap halaman, memperhatikan setiap goresan pena. Ada perbedaan tipis, nyaris tak terlihat seperti dua orang yang berusaha meniru tulisan satu sama lain.
Dixon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kepalanya sedikit menengadah, mata menatap langit-langit ruangan yang kusam. Sesaat ia terdiam, lalu sebuah senyum miring muncul di wajahnya.
“Kalau benar mereka menipuku… akan aku buat salah satu dari mereka mengaku. Tapi sebelumnya aku harus mendekati gadis itu."
Ketukan pintu memecah kesunyian. Dixon menoleh sekilas, matanya kembali dingin.
“Masuk,” ucapnya datar.
Pintu berderit. Seorang pria dengan kemeja abu-abu melangkah masuk, ia tersenyum melihat Dixon yang seperti mayat hidup. “Ya ampun, ada apa dengan wajahmu," kekehnya mengambil tempat di kursi kosong depan meja kerja Dixon.
"Ada apa?"
"Nih, ku bawakan sarapan untukmu."
Dixon menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar pria itu meletakkan bungkusan kresek itu di atas meja.
"Kau kenapa sih?"
"Tidak ada hanya sedikit lelah..."
"Masih memikirkan masalah adikmu? Dia belum sadarkan diri?"
Dixon menggelengkan kepala, helaan nafasnya terdengar berat, "Ini sudah hampir setengah tahun, Lo... tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda ia akan sadar."
Arlo Dirgantara, sahabat sekaligus rakan sekerja Dixon. Mereka berada di satu universiti dulu dan sama-sama mengambil jurusan yang sama, jurusan kedoktoran.
Arlo adalah orang yang paling Dixon percayai. Semua rahasia atau masalah pria itu, Arlo tahu. Satu-satunya tempat curhat Dixon ketika masalah datang silih berganti dalam hidupnya. Dan orang yang menemani hari-hari terpuruknya saat ia kehilangan ibunya, lima tahun yang lalu.
Arlo menghela nafas pelan, "Ya sudah, jangan dipikirkan dulu. Noh, isi perutmu. Aku tebak kau tidak makan kan semalam?"
Dixon berdehem. Arlo menggelengkan kepalanya. "Kau itu dokter lho harusnya jaga pemakanan mu dong! Lalu tidurmu juga... jangan kebiasaan begadang!"
"Iya, iya pak Arlo. Tahu tidak kau mirip seperti istri yang tengah marah-marah ke suaminya," ledek Dixon membuat Arlo berdecak sebal.
"Halah, siapa juga yang mau jadi istrimu."
"Lho, aku gak bilang mau jadi suami mu," tawa Dixon meledak melihat ekspresi masam sahabatnya itu.
Namun tawa itu perlahan memudar, di gantikan dengan raut wajah cemberut. "Kenapa? Kau punya masalah," tanya Arlo yang peka melihat perubahan Dixon.
"Entahlah. Masalah baru datang lagi."
"Ah, itu sebabnya kau tidak tidur semalaman?" Dixon mengangguk pelan, tangannya mengaduk-aduk bubur pemberian Arlo. Pikirannya kacau saat ini. Rencana sudah ada tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Ia menatap Arlo lama membuat pria itu mengangkat alisnya, "Ada apa? Butuh bantuan?"
Dixon mengangkat sudut bibirnya. Aih, sahabatnya yang satu ini benar-benar peka. Harus diberikan hadiah apa ya?
"Bantu aku mendekati gadis."
•
•
•