“Cuba hubungi saja dia,” usul Prim. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran mendalam. Saat ingin merogoh ponselnya, suara Jenna memotong. “Tidak usah repot.” Jenna mengangkat ponsel Quin yang terletak rapi di atas meja televisi. “Dia bahkan meninggalkannya di sini.”
Keduanya saling pandang, rasa panik mulai merayap.
Prim dan Jenna sudah mencari Quin di setiap sudut rumah, dari halaman hingga dapur. Namun gadis itu tak menampakkan batang hidungnya. Padahal para pekerja bersumpah, Quinlah yang pulang paling awal siang tadi.
"Aduh, anak itu pergi ke mana?
"Haiss, ini sudah hampir malam lho."
"Ya ampun, Quin... kau di mana sih?" Jenna mengaruk kepalanya. Gadis itu bolak-balik membuat Prim yang melihat sedikit pusing.
"Jenna sebaiknya kita minta bantuan pada penduduk desa. Aku takut kalau Quin melakukan hal yang tidak-tidak."
Sementara itu, yang dikhawatirkan malah sedang berdua-duaan dengan Dixon. Tidak, bukan. Malahan, Quin sudah berusaha mengusir pria itu tapi Dixon tetap bersikeras ingin menghantarnya. Pria itu sempat menawarkan untuk menggendongnya, tapi Quin menolak mentah-mentah. “Kita jalan saja,” katanya.
Hening menemani keduanya. Jalan menurun dari puncak bukit itu sepi, hanya suara dedaunan yang bergesekan ditiup angin sore. Dixon berjalan di sisi Quin, langkahnya disesuaikan dengan ritme pelan si gadis.
"Hei, kau yakin ingin berjalan sendiri seperti itu?" tanya Dixon tak yakin. Hampir dua jam setengah mereka berjalan kaki. Padahal jarak rumahnya dengan rumah Quin hanya sekitar satu kilometer. Tapi karena langkahnya yang seperti siput dan sifat keras kepalanya membuat mereka mengambil waktu yang begitu lama.
"Aku bisa sendiri."
Kalau rumah Dixon terletak di puncak bukit, maka rumah Quin berada di pertengahan—tidak terlalu tinggi, namun juga tidak bisa dikatakan rendah.
Bisa dikatakan rumah mereka berada di bukit, sementara rumah-rumah penduduk desa lainnya terletak di kaki bukit atau di lereng.
“Kalau kau mau, aku bisa menggendongmu,” tawarnya sekali lagi dengan nada santai seperti saat ia menawarkan teh.
Quin langsung menoleh, setengah terkejut untuk tawaran ketiga kalinya itu. Ia menatap pergelangan kakinya yang terbalut perban, kemudian melirik pria di sampingnya. "Tidak perlu," ucapnya gengsi.
Dixon mengangguk tapi senyumnya menyiratkan kalau ia tak akan menyerah begitu saja. Ia ingin bertanggungjawab. Ini sudah tentu. Dan, ia ingin cepat-cepat kembali ke rumah. “Baiklah. Tapi kalau nanti kau tergelincir, jangan salahkan aku kalau terpaksa menggunakan cara dramatis.”
Apa-apaan itu, Quin membatin dengan ekspresi seperti baru saja melihat kotoran. Sungguh, apakah pria ini memang seperti itu? Aneh!
"Kau memang seperti ini ya?"
"Hm? Seperti apa?"
Quin menggeleng, "Tidak jadi."
Dixon mengangguk acuh, "Mau ku gendong?"
"Tidak!"
"Yakin tidak mau?"
"Iya."
"Masa sih? Aku kuat lho. Nggak ingin merasakan punggung tegapku?" Saat bicara seperti itu, Dixon sempat menaik turun kan alisnya berniat menggoda tapi Quin yang melihat malah jijik.
"Hah?!"
Dixon terkekeh melihat ekspresi lucu Quin, "Aku cuma bercanda, haha." Quin melambatkan langkahnya. Sial, kalau saja kakinya tidak terkilir mungkin dia sudah lari.
"Tapi serius, aku bisa menggendongmu!"
"Iya, tahu. Tapi aku masih bisa jalan sendiri," balas Quin masih saja keras kepala. Dixon berhenti, tatapannya beralih pada kaki Quin.
"Dengan kaki yang seperti itu?"
Quin terdiam beberapa detik lalu, "Kau pulang aja. Aku bisa sendiri. Lagian di sini nggak ada orang jahat."
"Aduh, nona… dengar, aku tidak khawatir soal penjahat atau apa, tapi kau… yang sampai seperti ini, itu karena aku." Ada jeda sejenak dalam ucapan Dixon.
"Aku hanya sedang berusaha bertanggungjawab," lanjutnya menatap dalam mata hazel milik gadis itu.
Langkah Quin dan Dixon terhenti, mereka saling menatap beberapa detik, tak menyadari bahwa keduanya sudah hampir sampai di rumah Quin.
Dari kaki lima rumah Quin, Jenna yang berdiri di beranda menangkap sosok Dixon dengan seorang gadis mungil di sisinya. Matanya langsung membulat. "Prim!" serunya.
Prim datang tergesa-gesa. "Ada apa?"
"Yang di sebelah dokter Dixon itu.. Quin bukan sih?" tunjuk Jenna pada sosok di sebelah Dixon.
"Hah? Mana?" Prim ikut memandang. Begitu melihat Quin berjalan bersama Dixon, keduanya segera menuruni tangga rumah dan menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Prim cemas saat pandangannya tertuju pada kaki Quin yang diperban.
Quin melirik Dixon sambil berkata dengan nada setengah menyindir, “Tanya saja pada penyebabnya.”
Jenna memindahkan tatapannya pada Dixon, lalu tersenyum tipis. “Dokter, kapan sampai? Kok nggak dikasih tahu sih?
Quin terhenti. Dokter? gumamnya dalam hati. Jadi pria aneh ini seorang dokter? Wah, ia sama sekali tidak menyangka.
Pantas saja ia sangat ahli dalam mengobati dan membalut kakinya dengan rapi ternyata seorang dokter toh.
Saat Jenna mulai berbincang santai dengan Dixon, Quin pamit. "Permisi, dan makasih karena sudah menghantarku."
"Ayo biar aku bantu." Prim segera menolongnya menaiki tangga tapi langkahnya sedikit canggung karena harus menopang beban Quin.
"Jenna, jangan lupa mengganti perban di kakinya, ya. Lalu oleskan obat baru."
"Baik dokter."
"Hm, ku serahkan dia pada kalian. Kalian temannya?" Jenna mengangguk pelan. "Iya. Kami sudah berteman dari kecil"
"Ah, begitu ya..."
Belum sempat Jenna menjawab atau bertanya lebih lanjut, Dixon sudah mendahuluinya, "Sepertinya Prim agak kesulitan. Kau tidak ingin membantu?"
Melihat itu, Jenna mengurungkan niatnya untuk menggoda Dixon dan ikut membantu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan, dokter."
Tak ada balasan dari Dixon, ia hanya berdiri di bawah, memperhatikan ketiganya sampai pintu rumah tertutup. Begitu sosok Quin benar-benar menghilang dari pandangannya, sebuah kata lirih lolos dari bibirnya.
“Canna Nyx Quintessa... ternyata kau ada di sini."
•
•
BEBERAPA HARI SEBELUMNYA.
Rabu, 23 Maret.
Nara turun membawa koper. Ayahnya muncul dari ruang tamu, menatapnya tajam. “Pergi ke mana kau?” tanyanya.
“Aku mau pergi,” jawab Nara tegas. Pandangannya sama sekali tidak terarah pada ayahnya. Pegangan pada kopernya semakin kuat.
Pria paruh baya itu menahan langkahnya. “Tidak! Kau tidak boleh pergi. Kalau Tuan Dion tahu bagaimana?! Kau ingin dia menyerang perusahaan keluarga kita?"
"Dia tidak akan melakukan itu!"
"Kau!"
"Apa?" Nara menantang, dagunya sedikit terangkat menatap tajam pria di depannya. "Bukannya mereka sudah membawa Quin? Jadi aku sudah bebas kan!"
"Justru karena itu aku menyuruh mu jangan keluar! Kau tau, mereka membebaskan adikmu untuk sementara. Dan adikmu tiba-tiba menghilangkan diri!"
Nara melotot, "Mana bisa begitu! Dia kabur ke mana? Aku.... aku tidak ingin dipenjara. Ayah, ayahhh... ku mohon bantu aku," ucapnya dengan nada bergetar. Jantungnya berdetak kencang, panik menyerang bahkan koper yang ia gengam dengan erat tadi sudah jatuh di lantai.
"Cih, selain menyusahkan. Kau benar-benar membuatku malu Quinnara! Ambil kopermu dan masuk ke kamar, sekarang! Selagi tidak ada perintah dari ku... kau tidak boleh keluar!"
Nara memungut kopernya. Ia langsung menaiki tangga tanpa mengatakan sepatah kata, wajahnya menyiratkan rasa takut yang mendalam.
Olson menatap putri sulungnya dengan tatapan tak bersahabat. Jika saja Nara tidak membuat kekacauan, dia tidak akan kehilangan sebagian dari investors di perusahaannya. Gara-gara kejadian yang menimpa perusahaan MyHealthPuls, perusahaan kecilnya ikut terkena dampaknya.
Karna apa? Karna nama Quin sudah menjadi terkenal disebabkan oleh kasus penggelap dana senilai 20 miliar.
Nama bahkan foto Nara—Quin yang orang-orang tahu—tercatat di mana-mana media. Bahkan ada reporter yang menggunggah foto keluarga Olson membuat reputasi perusahaannya anjlok ke titik bawah. Olson bisa bangkrut kapan saja jika kasus ini tak di tangani sesegera mungkin.
Tidak ada yang tahu kalau Olson memiliki putri kembar. Dan foto keluarga yang trending di media sosial hanya bertiga. Dan Nara lah yang menjadi topik hangat namun dengan nama Quin sebagai gantinya.
Olson berdecak melihat satu persatu, rakan bisnisnya mengajukan pembatalan kontrak. Bahkan ada yang langsung menarik sahamnya dan pergi.
"Sial, kalau terus-terusan seperti ini aku bisa saja jadi gelandangan."
"Anak itu benar-benar membuatku emosi. Bahkan mengakuinya sebagai putriku, aku tidak sudi!"
Ia berbicara tentang Nara. Dan perbuatan gadis itu membuat semuanya dirugikan. 20 miliar bukan angka yang sedikit. Dia tidak sanggup mengeluarkan uang sebanyak itu untuk anak yang tidak tahu diri.
Lalu, alasannya lain adalah Olson tidak mampu! Mendengar nominalnya saja sudah membuat ia hampir sesak nafas. Untungnya ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika ya maka sudah dipastikan ia berada di dalam tanah saat ini.
Di tempat lain. Tepatnya perusahaan MyHealthPuls.
Dion meletakkan ponselnya saat melihat kedatangannya pamannya. Galen, pria paruh baya itu datang dengan wajah tak bersahabat.
"Ada apa?"
"Mengapa kau memberikan kebebasan pada nona Canna?"
Dion terkekeh, "Aku tidak membebaskannya hanya memberinya sedikit waktu," ujarnya datar mengoreksi pertanyaan sang paman.
"Kau tidak takut kalau dia kabur hah?!"
"Tentu saja takut tapi aku perlu memastikan sesuatu," balasnya tanpa menatap Galen.
Galen menatapnya curiga. Dion yang selama ini dikenal tegas dan tanpa kompromi. Biasanya Dion langsung menghukum jika ada kesalahan tanpa usul siasat, tapi kali ini sikapnya tak seperti biasanya. Ada yang beda dan itu aneh.
Dion yang ia kenal tidak akan pernah mengabaikannya, apalagi bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya. Pria itu sangat menghormatinya, tapi mengapa yang ada di depannya sekarang tampak seperti membencinya?
Hening sesaat.
Dion menoleh dan bertanya, “Kenapa kau begitu marah? Apakah kau takut ketahuan?”
Melihat perubahan ekspresi pamannya, Dion tersenyum tipis.
Brak!
"Gawat! Nona Canna kabur." Chloe datang dengan berita buruk.